NovelToon NovelToon
Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:893.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: tompealla kriweall

Seosen 1

"Aku yang pertama, tapi bukan yang utama." Anjani Ashita.

"Aku cinta pertamanya, tapi bukan satu-satunya." Adhisti Andriani.

"Mereka berdua, adalah istri pertama bagiku, dan tidak ada yang kedua." Elang Samudra.

Seosen 2

Anak-anak Anjani, sudah beranjak dewasa. Banyak lika-liku kehidupan, yang harus dilalui.

Ara dengan rasa cintanya, yang diam-diam, dan tidak tahu untuk siapa.

Begitu juga dengan perasaannya Nanda.

Ara ada dalam kebimbangan, antara cowok yang dekat dan memiliki perasaan terhadap dirinya.

Lalu, bagaimana Ara akan menyikapi hal ini?

Bagaimana Anjani dan Abimanyu, memberikan nasehat kepada Ara?

Karena Anggi juga sudah menjadi remaja.

Dan permasalahan akan terus ada, seiring waktu dan bertambahnya permasalahan anak-anak mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Usul Ke Korea

Pagi hari, saat dokter memeriksa Anjani, dokter mengatakan jika pasien sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Anjani, tentu merasa sangat senang dengan kebebasannya kali ini, sebab, berada di rumah sakit itu ibarat sebuah penjara bagi pasien.

"Selamat ya Nyonya. Anda bisa melewati masa-masa kritis selama koma dan bisa kembali sehat. Lukanya juga sudah mengering semua. Tinggal latihan berjalan yang harus tetap di perhatikan. Jangan lupa untuk tetap bersabar."

Dokter memberikan beberapa pesan dan nasehat. Anjani dan Elang, mendengar dan memperhatikan dengan baik, apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.

"Terima kasih banyak Dok," kata Anjani dengan wajah cerah. Dia juga tersenyum, meskipun tampak tidak terlihat baik.

"Terima kasih Dok, atas perawatan istri Saya selama ini."

"Sama-sama Tuan. Jika ada kendala dan keluhan, apapun itu, jangan sungkan untuk bertanya dan berkonsultasi kemari," kata dokter sambil mengangguk dan tersenyum.

Setelah itu, dokter dan perawat yang mengikutinya, keluar dari ruangan pasien Anjani.

"Mas. Aku sudah boleh pulang."

"Ya. Kamu bisa pulang dan beristirahat di rumah." Elang tersenyum, menangapi perkataan istrinya, Anjani.

"Aku pulang ke rumahku sendiri ya Mas. Aku ingin di sana," kata Anjani meminta pada Elang.

"Tidak. Kamu pulang ke rumah yang sudah Aku persiapkan. Kamu masih masa penyembuhan. Harus ada yang menemani dan membantumu untuk mengerjakan segala sesuatunya. Kamu tahu sendiri, Aku tidak mungkin bisa menemani Kamu terus menerus. Aku kerja, ada Adhisti juga di rumah yang lain. Dia juga sedang hamil muda. Aku tidak mungkin bisa membagi waktu jika harus ke Bogor untuk menemani dirimu."

Anjani lupa, jika statusnya sebagai istri hanyalah istri siri dan bukan yang resmi. Kini dia hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya, saat Elang selesai berbicara mengenai kesibukan dan istrinya yang lain.

"Maaf Mas." Anjani hanya bisa meminta maaf dengan menunduk.

Beberapa saat kemudian, Elang sudah selesai mengemas barang-barang yang ada. Dia mengajak Anjani untuk segera pulang ke rumah. "Ayok! Aku sudah meminta kepada asisten rumah tangga yang akan menemani dirimu, untuk membersihkan rumah dari kemarin. Dia sudah menuggu kita bersama dengan Adhisti juga di rumahmu."

Anjani merasa cemas. Dia takut jika bertemu dengan Adhisti, yang belum pernah dia temui selama ini.

Adhisti, sudah pernah menjenguknya beberapa kali, tapi saat itu, Anjani masih dalam keadaan koma, jadi dia tidak tahu. Dan saat dia sudah sadar, Adhisti sedang mengandung, sehingga dilarang Elang untuk pergi-pergi, apalagi ke rumah sakit.

"Aku takut Mas," kata Anjani jujur, mengatakan perasaannya saat ini.

"Takut kenapa?" tanya Elang bingung.

"Aku takut, mbak Adhisti akan marah dan cemburu, karena Aku pulang ke rumah, dan rumah itu ada di depan rumahnya juga."

"Oh, tidak apa-apa. Justru dia sendiri yang menyarankan agar Aku membeli rumah itu untukmu. Di tidak mau jika Aku kerepotan dan capek jika harus pergi dan pulang dalam jarak yang terlalu jauh. Mama dan papa juga tidak melarang," kata Elang menjelaskan.

"Mama dan papa mas Elang tahu, jika mas Elang punya istri lain, selain mbak Adhisti?" tanya Anjani dengan wajah terkejut.

"Tahu. Mereka juga pernah ikut datang menjengukmu. Tapi waktu itu, Kamu masih koma. Sekarang, mereka belum sempat menjengukmu lagi. Mungkin besok-besok mereka akan datang untuk menjenguk di rumah. Biar nanti Aku kabari mereka berdua."

Anjani, merasa senang karena ternyata, Elang tidak menutup-nutupi hubungannya pada mama dan papanya. Itu berarti, Anjani tidak akan di salahkan dan di tuduh sebagai pelakor.

"Ayo masuk."

Elang, membuka pintu mobil dan meminta pada Anjani untuk masuk ke dalam, kemudian dia sendiri memutar dan masuk melalui pintu yang lain.

"Aku tidak bawa supir, jika ke rumah sakit. Biar mereka beristirahat. Lagian ngapain supir di rumah sakit, kasihan juga jika hanya diam di dalam mobil atau tidur di luar."

Elang, menjelaskan pada Anjani, karena dia yang tidak pernah membawa supir jika ke rumah sakit. Padahal, kadang-kadang, Elang bercerita jika ke kantor atau ke tempat lain, bersama dengan supirnya.

"Mas Elang pasti capek, selama Aku ada di rumah sakit. Kasihan dia," kata Anjani dalam hati.

Selama perjalanan, Anjani hanya bisa diam dan memikirkan tentang banyak hal. Dia tidak tahu, bagaimana reaksi kedua orang tuanya Elang, saat nanti berkunjung, atau bagaimana sikap Adhisti saat dia sudah berada di dekat rumahnya nanti. Anjani jadi merasa cemas dan takut sendiri.

"Tidurlah, jika merasa capek," kata Elang, membuyarkan lamunan Anjani.

Anjani menurut. Dia mengatur posisi sandaran kursinya dan mencoba membuat dirinya senyaman mungkin saat duduk, agar bisa tertidur.

*****

Anjani tidak tahu, berapa lama perjalanan yang dia lakukan bersama Elang untuk pulang ke rumah. Yang dia tahu, tiba-tiba Elang sudah membangunkannya.

"Anjani, bangun. Kita sudah sampai," kata elang dengan menepuk-nepuk pundak Anjani.

"Eh, emhhh... sudah sampai ya?"

Ternyata, sekarang mereka sudah sampai di halaman depan rumah, yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil juga.

"Ini rumah yang akan Aku tempati?" tanya Anjani, dengan melihat ke sekeliling, begitu dia turun dari mobil.

"Iya," jawab elang pendek.

"Wah... selamat datang Anjani. Semoga betah ya di rumah ini."

Dari dalam rumah, saat pintu terbuka, tampak beberapa orang keluar dan menyapa Anjani dengan akrabnya.

Anjani bingung harus menjawab apa, karena dia memang belum mengenal mereka semua. Tapi, dari penampilan fisiknya, Anjani bisa menebak, siapa saja mereka itu.

"Mama mertua, Papa mertua dan mbak Adhisti?" tebak Anjani, dengan menunjuk mereka semua sambil tersenyum, meskipun dia tahu jika senyumnya itu, tidak akan bisa menutupi wajah buruknya.

"Wah... benar sekali tebakan Kamu Anjani."

Mama mertuanya, memuji Anjani yang benar saat menebak mereka bertiga.

"Ayo masuk-masuk!" ajak papa mertua dengan wajah sumringah.

Bibi yang membantu di rumah Anjani, sedang sibuk mempersiapkan makan siang.

Sekarang mereka semua, berbincang-bincang dan saling mengakrabkan diri.

"Aku pergi mandi dulu ya," pamit Elang pada semua.

"Aku siapkan dulu Mas," kata Adhisti, hampir berdiri. Dia mengira, Elang akan pulang ke rumahnya dan mandi di sana.

"Tidak usah Sayang. Aku mandi di sini saja. Ada baju gantinya kok," jawab Elang, menolak tawaran Adhisti.

Akhirnya, Adhisti duduk kembali dengan tersenyum tipis. Dia merasa canggung karena ditolak oleh suaminya sendiri. Apalagi dia juga melihat, bagaimana Elang begitu telaten melayani Anjani tadi. Adhisti merasa cemburu dan terabaikan.

*****

Saat makan siang, mama mertua mengusulkan agar Elang membawa Anjani ke Korea untuk operasi pada wajahnya.

"Elang, bawa Anjani ke Korea untuk operasi wajah. Kayak artis-artis itu. Mereka banyak kok yang berhasil. Siapa tahu, Anjani bisa kembali seperti dulu lagi."

Usul dari mama mertua di setujui oleh suaminya, dan Elang hanya mengangguk setuju saja.

Anjani hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.

Sedangkan Adhisti, merasa jika dia telah terlupakan oleh suaminya sendiri.

1
Jessa Jeje
semangat berkarya
Jamilatul Fauziah
thor cerita nya kok diluar ekspektasi sih,dari awal cerita gk ada sinyal" Adisti wanita rakus and matre loh, kenapa jadi alurnya begini
TK: plot twist itu, kak 🙏
total 1 replies
Jamilatul Fauziah
lanjut dong thor 💪
Jamilatul Fauziah
apa sebenarnya elang sudah mulai ada rasa sm anjani,kok aku jadi kasihan sm Adisti🥺, kalau benar sprti itu mending kamu minta cerai aja dis, karena semua wanita pasti tidak mau berbagi suami 😤
Darmanita Djohan
Luar biasa
TK: terima kasih untuk apresiasinya 🙏🙏
total 1 replies
sasip
orang serakah memang susah untuk merasa bahagia yak? 🤔 kaga bakalan bisa menerima hidup apa adanya.. selalu saja ada yg kurang, karena kata "cukup" ga ada dlm kamus kehidupannya.. 😩🤨
TK: Hemmm, begitulah
total 1 replies
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
TK: silahkan Kak 🙏
total 1 replies
👑Gre_rr
Awas aja Elang sampai pisah sama Adhisyi!!!! ancaman ini Thor
Erni Sari
Emang benar, kalau sih hujan air mah. gpp atuh
Kar Genjreng
lage baca sinopsis eh merinding bagus yo... emang cerita Mu apik ko Author Ella..
Kar Genjreng: Ell opo ono neh Novel Mu sing nyar...iki wis Tamat to opo gung
total 4 replies
Kar Genjreng
terusane enek ga Anggi bi Ahmed ketoe lucu😂😂😋😋
TK: aamiin 🤲
total 3 replies
Kar Genjreng
oh wisentek yo... selamat yo Othor Ella duwe Anak he he he 🤭🤭🤭
TK: matur suwun 😍🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
wawn beneran jadi orang baik ya... Anggi senengnya usil. he he he
TK: 😂😂😂🙏🙏🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
ternyata menjadi orang baik juga tidak semulus jalan tol yo mas wawan... lah si mami piye kui waduh apa sido duda.. neh wis to mas mas apes tenan di gae bi Author.. he he he😁😁😁
TK: wkwkwk 😂
total 1 replies
Kar Genjreng
Ayah Abi kena jebakan Batman... gara-gara Cucunya.. supaya balik jakarta..... Wawan ternyata benar-benar sudah baik.. shukur deh... sudah insaf... semoga istrinya baik ya Mas. 😗😗
TK: kan bumil harus dituruti
apalagi ini yang Bumil anaknya sendiri 🤗
total 1 replies
Kar Genjreng
hua hua hua🤗🤗 menantu Ayah Abi benar-benar jempol koyo sing nulis
TK: 😂😂🤫🤫🤫
total 1 replies
Kar Genjreng
kasih sayang orang tua sepanjang masa... kasih ayah sepanjang galah.. kasih ibu sepanjang jalan... tapi Kita lahir juga dari tulang rusuk Ayah juga... 🤣🤣🤣🤣maaf bukan menggurui yo thor sepurane🙏🙏
TK: yeee 👏👏
total 1 replies
Kar Genjreng
miko pokonya kita kocak ya
TK: ok Tante 😂
total 1 replies
Kar Genjreng
baik banget awan dan 4 orang yang pernah dika sakiti kecuali Nanda.. 🤭🤭🤭🤭
Kar Genjreng
hidup di desa enak menurutku ada enaknya ada ga nya😞😞..
TK: ya di mana2 ya ngono
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!