Naomi Akiara, wanita cantik berusia 18 tahun itu memilih meninggalkan ibu kota demi menghindari orang-orang terdekatnya setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Gedeon Aiden Wijaya atau biasa dipanggil Deon.
Dan Semarang, adalah kota yang dipilih oleh Ayumi, kakak dari Naomi. Ayumi memilih kota Semarang karena letaknya yang cukup jauh dengan ibukota sehingga Deon dan keluarganya akan kesulitan mencari keberadaan Naomi. Hanya satu keinginan Ayumi, yaitu melihat adiknya bahagia karena sejak kecil Naomi tinggal di Panti Asuhan dan sudah melewati banyak kemalangan hidup.
Berharap tidak bertemu orang-orang yang berhubungan dengan Deon, namun siapa sangka, di Semarang-lah Naomi bertemu kembali dengan lelaki bernama Kaisar Bramantya, lelaki yang keluarganya masih berhubungan dengan keluarga Deon.
Naomi takut jika Kaisar akan membocorkan keberadaannya saat ini pada keluarga Deon. Tapi di luar dugaan, Kaisar yang usianya 5 tahun lebih tua dari Naomi, justru jatuh hati pada Naomi dan berniat mengejar cinta Naomi, sang Calon Janda Muda...
Dan disaat hati Naomi sudah bisa sedikit membuka hatinya untuk Kaisar, justru Deon menemukan tempat persembunyiannya.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Deon setelah menemukan istrinya?
Apakah Kaisar berhasil merebut cinta Naomi?
Dan apakah Deon akan melepaskan Naomi untuk Kaisar atau justru Deon akan menyeret kembali Naomi dalam kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kanjeng_galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
6. Awal Kehancuran
Empat pasang mata itu menatap Deon dan Renata dengan tajam, apalagi tangan Deon memegang pergelangan tangan Renata. Perasaan Geva tidak enak. Geva harap tadi yang ia dengar dari mulut Renata tentang perutnya yang sudah membesar adalah halusinasi. Tapi, mata Geva menangkap perut Renata membuncit. Sebuah buncit yang Geva yakini berisi janin, bukan bola basket.
"Ada apa ini?" Tanya Papa Arsa dengan tegas.
"Aku hamil om! Dan aku mau Deon segera menikahi aku Om! aku gak mau anak aku lahir tanpa bapak!" Jawab Renata dengan tegas.
Dyar!
Kediaman Wijaya beserta para penghuninya dibuat terkejut dengan pengakuan Renata dan semuanya seperti disambar petir. Deon hanya memejamkan matanya menetralkan emosinya.
“Ta, kita bicara di luar dulu! Jangan gila kamu Ta, atau kamu akan menyesal nantinya!” Ucap Deon dengan nada pelan tapi tangannya justru mencengkram tangan Renata dengan kuat. Rasanya Deon ingin sekali menyeret wanita hamil tersebut untuk keluar dari kediaman kedua orang tuanya.
Tapi Deon masih memiliki hati nurani, tidak mungkin dia tega bersikap kasar pada Renata yang tengah mengandung anak…...
ah rasa bersalah Deon pada Renata justru semakin membuat dadanya sesak mengingat kejadian malam itu. Seandainya malam itu Deon tidak mabuk,
Apalagi kini Deon melihat sorot mata Renata yang dipenuhi air mata, sungguh Deon tidak sanggup. Bagaimana pun Renata adalah wanita yang pernah dia cintai dalam waktu yang sangat lama hingga akhirnya, Deon mengendurkan genggamannya dari tangan Renata.
“Aku udah minta kamu buat bertanggung jawab secara baik-baik Yon! Tapi kamu justru menolakku! Kamu sendiri yang berjanji akan menikahi ku dan merawat anak kita dengan baik jika sampai aku hamil.” Ucap Renata dengan nada cukup tinggi.
"Lelucon macam apa ini?" Tanya Mama Rachel dengan wajah yang merah padam.
Mama Rachel tahu jika saat ini Renata tidak bohong mengenai kehamilannya karena perutnya sudah terlihat sedikit
membuncit dengan dress yang sangat ketat itu. Wajah Renata juga sangat pucat dan lebih tirus. Tapi satu hal yang Mama Rachel tidak percaya, yaitu Renata hamil anaknya Deon karena selama ini Mama Rachel mendidik Deon dengan baik dan memberikan pemahaman sejak dini mengenai dampak buruk dari pergaulan bebas.
Renata juga terlihat cukup stress dan tidak memperhatikan kesehatannya. Sangat jauh dengan Renata si angkuh yang sering bertemu dengan Mama Rachel dulu.
"Dasar wanita pembohong! kamu bohong kan! Apa tujuan kamu ha?" Tanya Geva yang langsung tersulut emosi. Terlebih, Geva memang memiliki masalah pribadi dengan Renata yang dulu selalu mengejar Bhumi.
Baik Renata maupun Deon keduanya bungkam.
"Sabar bee.. kita dengar dulu.. jangan ikut campur dulu." Bisik Bhumi mengusap punggung sang istri. Bagi Bhumi, ini adalah masalah internal keluarga istrinya jadi dia tidak memiliki hak untuk ikut campur sebelum yang bersangkutan memintanya untuk mengambil peran dari masalah rumit tersebut.
"Wanita itu pasti bohong kan Deon?" Tanya Mama Rachel dengan suara bergetar karena menahan sesak di dadanya.
"Jawab mama Deon!" Wanita paruh baya itu pun akhirnya berteriak kemudian menangis tersedu-sedu. Karena diam-nya Deon adalah jawaban yang jelas tentang semua yang terjadi malam ini.
"Deon!" Bentak Mama Rachel lagi yang ingin mendengar langsung dari putra yang sangat ia cintai.
"Renata hamil karena kesalahan aku ma.. dan aku akan bertanggung jawab pada Renata!" Kata Deon sangat lirih dan masih bisa didengar oleh semua orang yang ada disana. Dan saat Deon mengucapkan hal tersebut, seseorang yang hendak memasuki ruang keluarga itupun diam mematung dengan dada yang naik turun tidak beraturan.
Rasanya, dunia Papa Arsa dan Mama Rachel benar-benar runtuh malam itu juga. Renata adalah wanita yang paling mereka hindari untuk dijadikan menantu. Selain karena mereka tahu bahwa Renata tidak mencintai Deon, sosok ibu dari Renata adalah alasan utama mereka melarang Deon menjalin hubungan dengan Renata, begitu juga Bhumi yang mendapat larangan keras dari keluarganya. Apalagi memang Bhumi tidak pernah menganggap Renata lebih dari teman.
Berteman boleh, pacaran? No!
"Anak kurang ajar!" Teriak Papa Arsa penuh emosi.
"Ma.." Teriak Bhumi dan Geva bersamaan melihat mama Rachel yang langsung jatuh pingsan.
Bhumi segera menolong mertuanya itu dan Geva sudah menangis tersedu-sedu menyadari semuanya menjadi berantakan hanya dalam hitungan menit karena pagi tadi mereka masih ngobrol dan bercanda bersama saat sarapan.
"Ma.." Ucap Deon yang terkejut melihat Mama Rachel yang jatuh pingsan.
"Berhenti kamu! jangan sentuh istri saya!" Kata Papa Arsa menunjuk Deon dengan penuh amarah.
Tatapan tajam Papa Arsa dan rahang Papa Arsa yang mengepal adalah bukti bahwa lelaki paruh baya itu sangat emosi akibat perbuatan anak lelakinya yang sekarang sudah beristri.
"Maafin aku pa.. aku harus bertanggung jawab pada Renata." Ucap Deon lirih dengan menunduk dan sudah mengeluarkan air mata.
Rasanya, dada Deon seperti dihantam batu besar melihat kesedihan kedua orang tuanya dan juga membayangkan bagaimana perasaan Naomi jika mengetahui ini semua.
"Aku gak pernah mendidik anak brengseeek seperti kamu! aku gak sudi memiliki menantu seperti dia! wanita
murahan keturunan iblis!" Tunjuk papa Arsa pada Renata. Sementara Bhumi dan Geva sibuk mengurusi mama Rachel dan membaringkan mama Rachel di atas sofa panjang.
"Jaga mulut anda om! semua salah Geva karena dia yang menyerang aku saat di Club malam waktu itu. Jika malam itu
Geva tidak menyerang ku, tidak mungkin Deon mengantarkan aku pulang dalam keadaan mabuk dan semua ini terjadi!" Kata Renata tersenyum sinis pada Geva.
Geva menatap tajam Renata dengan tangan yang mengepal. Dan mata Geva menangkap Renata yang sedang membisikkan Deon sesuatu.
"Pa... aku akan menikahi Renata hanya sampai anak ini lahir pa. Nanti aku akan jelaskan sama papa semuanya." Ucap Deon lirih.
"Anak kurang ajar! pergi kamu dari sini! aaahh...," Papa Arsa memegang dadanya yang terasa sangat sakit mengingat menantunya Naomi, bagaimana nanti nasib gadis cantik dan baik itu.
"Ahh.."
"Pa.." Teriak Geva.
"Kak tolongin papa." Perintah Geva pada Bhumi. Bhumi segera berlari menangkap tubuh mertuanya yang tumbang seperti terkena serangan jantung.
"Jaaaalaaanggg!" Teriak Geva.
Plak!
Geva menampar Renata dengan penuh emosi, dalam hati Renata tersenyum puas meskipun pipinya terasa panas dan kebas.. Akhirnya dia bisa membuat istri Bhumi Bramantya terlihat se-berantakan itu. Dan Renata juga tidak sanggup melihat bagiamana hancurnya hati Naomi.
"Kurang ajar kamu ya.. kamu buat keluarga aku kacau!" Teriak Geva yang kini menjambak rambut Renata dan menarik Renata dengan kuat.
"Ibu dan anak sama-sama iblis!" Teriak Geva lagi yang mengingat segala cerita tentang ibu kandung Renata yang bernama Sisil, anak panti asuhan yang diangkat keluarga Bramantya dan dulu selalu iri pada mertua Geva, Mami Naya.
"Auuw... Yon... aihh... tolong yonnn perut aku sakit banget!" Teriak Renata mengiba pada Deon sambil menahan sakit akibat tarikan Geva yang kasar. Renata meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Ge.. lepas Ge. Renata lagi hamil." Deon yang membantu Bhumi memapah papa Arsa langsung berlari menolong Renata. Deon tahu seberapa bar-barnya seorang Gevania.
"Menjauh kak! gue benci laki-laki bancii kayak elu! gimana dengan Naomi? Ha? gue benci elu kak! otak elu dimana. biar dia mati sekalian, biar semuanya selesai." Teriak Geva dengan penuh emosi.
Sementara Bhumi berlari ke belakang untuk memanggil para asisten rumah tangga dan semua orang yang bekerja disana agar segera membawa mertuanya ke rumah sakit. Para asisten rumah tangga disana tidak ada yang berani mendekat mendengar perang dunia di kediaman Wijaya untuk pertama kalinya itu.
"Lepas Ge! Please, dengerin kakak Ge… lepasin Renata!"
"Nggak! gue gak punya kakak bancii kayak elu. dia harus diberi pelajaran!" Ucap Geva. Deon berusaha melepas cengkraman Geva pada Renata yang sangat erat. Tanpa sengaja, Deon mendorong tubuh adiknya dengan kuat hingga Geva terjatuh dan kepalanya terbentuk pojok meja.
"Awwwww." Teriak Geva memegang kepalanya yang langsung mengeluarkan darah segar akibat benturan yang cukup keras.
Saat Bhumi kembali dari belakang, Bhumi melihat Kepala Geva yang terluka membuat amarah Bhumi langsung memuncak begitu saja. Sedari tadi Bhumi diam karena tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga orang lain, namun jika sudah menyakiti istrinya Bhumi tidak akan tinggal diam.
"Baaaajiiingan;" Teriak Bhumi langsung berlari dan menghajar Deon habis-habisan.
"Gak pernah gue punya sahabat bancii kayak elu!" Geva menatap kakaknya yang dihajar oleh Bhumi tanpa berniat menghentikan aksi suaminya.
Sedangkan Renata, meskipun sakit dia tersenyum.. keluarga Wijaya selalu merendahkan dirinya dan melarang Deon berhubungan dengan dirinya dari dulu.
"Gue gak akan segan habisi elu kalau elu berani sakiti istri gue Yon! Meskipun elu kakak kandung Geva!" Umpat Bhumi terus memukul Deon.
Tanpa ada yang menyadari,
Semua keributan yang terjadi tidak lepas dari sepasang mata gadis cantik yang berlinang air mata. Tidak ada yang
terlewat sedikitpun sejak Deon mengatakan bahwa Renata hamil karena kesalahannya dan Deon berniat menikahi Renata. Gadis itu adalah Naomi yang baru datang dari panti asuhan menggunakan taksi online. Taksi online yang Naomi tumpangi berjarak tidak terlalu jauh di belakang taksi yang ditumpangi oleh Renata untuk mengikuti mobil Deon.
"Nom.." Kata Geva lirih menatap sahabatnya dengan perasaan yang juga hancur.
BERSAMBUNG.
LIKE
KOMENTAR
VOTE
HADIAH
EH BHUMI DAN GEVA JUGA SUDAH UPDATE LOH..
aku menunggu thor