Haloo... ini novel pertamaku..
yg di judul sebelumnya aku tamatin karna ada kesalahan. So, aku pindah ke judul ini aja..
Enjoy reading...
- - - -
Bagaimana rasanya kalau calon suami tercinta tertangkap basah sedang berkhianat??
belum sembuh luka hati, tiba-tiba...
"menikahlah dengan mas Bara, dek!"
Kata-kata itu yang sekarang membuat Nadia dilema. Menikah dengan kakak ipar sendiri??? Are you serious!??
Pengkhianatan, Kekecewaan, lalu pernikahan dadakan...
Sanggupkah Nadia melalui semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
BAB 6
“menikahlah dengan Nadia!”
Seketika ruangan itu menjadi sunyi setelah Safira mengungkapkan permintaannya. Semua yang ada di ruangan itu syok dan terkejut mendengar ucapan Safira, tidak terkecuali Bara dan Nadia.
“kak, apa maksudmu?!” tanya Nadia yang tidak habis pikir denggan permintaan konyol sang kakak.
“nak, apa maksudmu. Jangan bermain-main dengan pernikahan sayang. Tidak baik.” Ucap mel menasehati putrinya.
“ma, Saf tidak main-main. Saf ingin mas Bara menikahi Nadia dan menjadikan Nadia ibu sambung untuk putriku. Aku tidak mau putriku diasuh oleh orang lain, aku hanya ingin putriku diasuh dan dirawat oleh Nadia” jelas Safira yang membuat mereka semua semakin bingung.
“sayang, aku tidak mau menikah dengan orang lain, kau istriku. Aku tidak akan menikah dengan orang lain lagi, aku sangat mencintaimu dan putri kita. Kita yang akan merawatnya bersama. Tidak perlu menitipkan pada orang lain.” Ucap Bara yang mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
Semua diam seakan membenarkan ucapan Bara. Tiba-tiba safira merasakan dadanya sesak dan amat sakit. Nafasnya pun tersengal-sengal, bunyi monitor pendeteksi detak jantung pun terdengar cepat menandakan pasien dalam keadaan gawat.
Papa segera berlari keluar memanggil dokter. Semua orang diruangan itu semakin menangis melihat keadaan Safira.
“sayang, kumohon bertahanlah. Demi aku, demi anak kita”
“m-mas Bara.. N-nadiaa.. A-ku mo-hon. La-ku-kan per-mintaanku.” SAfira mencoba menarik nafas dalam agar bisa melanjutkan ucapannya.
“Ka-lian meni-kahlah. Ini permin-taan ter-akhir-ku. Aku.. mohon..” ucap Safira dengan susah payah karna menahan sakit.
“mas…” Safira sekali lagi memanggil suaminya itu berharap mau menuruti permintaannya.
“iya.. mas akan menikahi Nadia sayang. Ku mohon bertahanlah” ucaap Bara yang membuat Nadia dan Melia terkejut
“Nad-diaa..” kali ini nama adiknya yang dipanggil. Masih dengan harapan yang sama, mau menuruti permintaannya
“kak….” Nadia memejamkan matanya untuk sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya.
“iya kak, Nadia akan menuruti permintaan kakak. Nadia juga akan merawat putri kakak dengan baik..”
“Te-rima ka-sih..” ucap Safira sambil mengehmbuskan nafas terakhirnya..
Tiiiiiiittttt……….
Bunyi monitor disamping Safira terdengar begitu melengking dan itu adalah nada yang sangat menyakitkan bagi semua orang yang ada di ruangan itu.
“Safiraaa…” teriak sang papa yang baru saja kembali setelah memanggil dokter.
“safira bangun, nak. Putri papa, bangun sayang. Jangan tinggalkan papa nak…” runtuhlah pertahanan sang papa yang dari tadi mencoba untuk menahan tangisnya. Sekarang air mata telah membasahi wajah paruh baya yang tengah menangisi kepergian anak sulungnya itu.
“sayang… kenapa kamu pergi meninggalkan aku dan putri kita. Kamu bahkan belum sempat melihat wajah cantik putri kita, Saf. Kenapa kamu pergi sayang…hiks hiks hiks”
Semua orang menangis pilu di dalam ruangan itu, meratapi kepergian dari orang tersayang mereka. Dokter yang tadi dipanggil oleh Johan pun ikut meneteskan air matanya kala melihat kepergian dari pasiennya itu. Bahkan Nadia sampai pingsan karna tidak kuat melihat kepergian sang kakak yang sangat disayanginya itu.
- - - -
Sore ini adalah sore kelabu bagi keluarga Wijaya karena mereka sore ini mereka harus mengantarkan salah satu putri tercinta mereka ke tempat peristirahatan yang abadi.
*Haloo halooooo, terima kasih buat yg udah mampir. Happy reading, semoga bisa terhibur dengan ceritanya.... love love
Terimakasih