Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.
Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.
Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.
Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vero
Pagi harinya seperti biasa, selesai bersiap-siap aku langsung keluar kamar dan sarapan.
“Del, kamu sama kakakmu ya ke sekolahnya," ucap ayah tiba-tiba.
“Sama maksudnya?” tanyaku heran.
“Iya barenglah, gue mau bawa motor lo jadi biar sekalian gue antar lo ke sekolah, tapi pulang ya lo pikirin saja sendiri,” sambung kakakku tiba-tiba sambil mengunyah makanannya.
Jujur saja sebenarnya aku jengkel, “ya udah kalau begitu. Tapi nanti aku mau langsung pulang gak ke tempat mama.”
“Iya, biar Papa kasih uang lebih buat ongkos kamu pulang."
“Mmm, terima kasih Pa,” jawabku sambil mengunyah gigitan roti terakhir.
Selesai sarapan aku dan kakakku langsung berangkat ke sekolah bersama, tentu saja dia yang bawa motornya.
“Lo jangan lupa cari tahu tentang cowok gue nanti,” kata kakakku memulai pembicaraan.
“Iya tenang saja, nanti aku cari tahu kok,” aku pun memasang ekspresi malas yang tak terlihat olehnya.
“Begitu dapat berita yang aneh-aneh tentang dia, langsung kasih tahu gue!”
“Berarti kalau dapat berita yang gak aneh gak usah kasih tahu kakak?”
“Lo kasih tahu saja semua tentang dia yang lo dapat di sekolah! Pokoknya lo jangan sampai lupa!” oceh kakakku dengan nada sedikit emosi. Untung saja dia kakakku dan aku kenal baik karakternya, kalau gak mungkin di atas motor kami sudah cakar-cakaran karena bicara pakai emosian.
Kami pun sampai di depan gerbang sekolah, lalu aku pun turun dengan santai layaknya putri raja dari kerajaan antah-berantah.
“Jangan lupa lo ya!” tekan kakakku untuk yang kesekian kalinya.
“Iya! Tenang saja,” balasku untuk kesekian kalinya juga.
Dalam hatiku sebenarnya, “cerewet banget sih! Kayak gak ada cowok lain saja,” tapi gak bisa kukatakan.
Lalu kakak pergi meninggalkanku, sedangkan aku pun masuk ke kelas sendirian. Ya iyalah sendiri, mau sama siapa lagi.
Pelajaran pertama pun sudah selesai dan di pelajaran kedua aku memilih tidur-tiduran karena gurunya gak datang. Tapi kami diberi tugas oleh guru pengganti. Begitu selesai kasih tugas, gurunya gak tahu entah pergi ke mana.
Aku sudah selesai mengerjakan tugas karena soalnya gampang. Masih ada sekitar satu jam lagi waktu yang tersisa sampai bel istirahat berbunyi.
Di saat sedang tidur-tiduran merebahkan kepala menikmati hidup, aku pun tersentak kaget karena tiba-tiba teringat ocehan kakakku yang tadi pagi.
Spontan aku langsung bangun dan menepuk pelan Ria yang duduk di depan sambil membaca komik cinta-cintanya itu.
“Ri! Ri! Ada yang mau aku tanyakan nih!”
“Apa?!” balas Ria pelan tanpa menoleh.
“Balik dulu ke belakang Ri! Ini penting banget!” sahutku sambil terus memukul pundaknya pelan.
Dia pun berbalik, “ada apa?”
“Ri! Kemarin senior Brahman kan minta nomor hp kamu, jadi ada dihubungi gak kamunya sama dia?” tanyaku instan tanpa basa-basi.
“Hmm,” jawabnya singkat. Ia pun perlahan tersenyum.
Jujur saja, senyumannya sangat tidak manis, karena mulai memunculkan firasat buruk untukku.
“Ri! Ketawa saja kamu, ada atau gak?!” sekarang firasatku benar-benar buruk.
“Heheheh ... Rahasia!” balasnya sambil tersenyum malu-malu atau memalukan.
“Ri, aku serius! Ada atau gak?! Ini penting banget buat kita Ri!”
“Penting buat kita maksudnya?!” Ria malah balik bertanya.
Gak ada gunanya kalau aku gak bicara langsung padanya, Ria itu otaknya kayak berjamur lain ditanya lain jawabnya.
“Ri, senior Brahman itu sudah punya pacar loh Ri!”
“Hah?! Kata siapa! Orangnya saja bilang jomblo kok!” balas Ria dengan ketus padaku.
“Ri, aku serius! Si Vero temannya yang kasih tahu aku.”
“Vero?! Yang kemarin chat aku minta nomor kamu bukan?!" balas Ria, terlihat jika ekspresinya sedikit berubah.
“Iya."
“Apaan sih si Vero! Sudah aku tolongin juga kasih nomor hp kamu ke dia, tapi bisa-bisanya dia fitnah kak Brahman! Gak tahu terima kasih tuh cowok!” gerutu Ria bernada kesal.
“Ri! Bukan itu masalahnya."
“Terus apa?! Kamu percaya juga kalau kak Brahman sudah punya pacar?! Kalian kok sibuk ikut campur aku sama kak Brahman sih! Urus saja urusan kalian berdua!” Sekarang terlihat jelas jika Ria sangat jengkel padaku dari nada bicaranya.
"Sialan itu senior memang gak bener, bisa-bisanya pacaran sama kakakku terus goda si Ria! Awas kau ya!" umpat hatiku.
“Ri! Memang kak Brahman bilang apa ke kamu?! Sampai segitunya kamu percaya sama dia!”
“Iya dia bilang kalau dia sudah tertarik sama aku sejak pandangan pertama! Aku juga. Makanya dia minta nomorku sekalian bantu temannya buat dapat nomor hp kamu. Dia sendiri kok yang bilang belum punya pacar!”
“Terus kamu percaya?!” tanyaku seolah tak percaya dengan apa yang barusan kudengar.
“Iyalah! Ada bukti screenshot dari hp-nya kok! Gak ada tuh yang chat atau berhubungan sama dia kecuali temannya!” jelas Ria sambil menutup buku komik yang dibacanya.
“Dengar ya Ri! Yang kasih tahu aku kalau kak Brahman itu sudah punya pacar bukan Vero saja, tapi ada orang lain juga!”
“Siapa?!”
Saat aku hendak menjawabnya, bel istirahat malah berbunyi. “Sebentar ya Ri, aku kumpulin tugas dulu."
“Iya, titip punyaku juga,” Ria pun menyodorkan buku tugasnya. Padahal tadi dia emosian, tapi sekarang kayak gak ada apa-apa.
Seharusnya dia yang tolong kumpulin tugas aku ke depan, toh posisinya dia lebih dekat ke meja guru dari pada aku yang paling belakang.
“Ri! Ke kantin yuk!” ajakku pada Ria. Seperti biasa aku, Ria dan si kembar kopi susu Rere, Riri ke kantin bersama-sama.
Di kantin terlihat Ria makan secepat kilat, aku pun bisa memahaminya. Karena pembicaraan kami tadi terputus begitu saja.
Dia pasti penasaran tentang kak Brahman, terlebih lagi tidak ada satu pun di antara kami berdua yang membahasnya di depan si kembar kopi susu. Kalau tidak, sudah jelas bakalan jadi bahan gosip sampai pulang oleh mereka berdua.
Bel pun berbunyi, menandakan jam istirahat sudah habis. Pelajaran dimulai, lalu sampai jam pelajaran terakhir aku dan Ria masih belum membahas satu pun lanjutan cerita yang tadi.
Tapi begitu kami bersiap-siap akan pulang Ria lalu menoleh padaku, “Del! Jadi siapa yang bilang kalau senior itu sudah punya pacar?!” terlihat jelas dia sangat penasaran padahal kami masih di dalam kelas.
“Pacarnya sendiri yang bilang sama aku!”
“Pacarnya senior Brahman?! Memang kamu tahu siapa pacarnya?!” tanya Ria seolah tak percaya.
“Tahulah! Orang aku tinggal serumah kok sama pacarnya!” sahutku dengan bangga.
“Hah?! Kamu bercanda?! Ngawur juga ada batasnya Del!” Ria menampilkan tatapan jengkel.
“Dengar ya Ri! Pacar kak Brahman itu kakakku sendiri! Kakakku! Kakak kandungku, Ria sayang!"
“Hah!! Serius kamu Del!” mata Ria pun terbelalak mendengarnya.
“Iya Ri, aku saja awalnya gak tahu, sampai kakakku sendiri cerita tadi malam tentang cowoknya yang gak bisa dihubungi seharian.
Dan yang parahnya ternyata cowok kakakku itu senior kita di sekolah namanya Brahman! Anak basket yang lumayan populer di sekolah."
"Lah! Jadi siapa lagi anak basket yang namanya Brahman kalau bukan si senior yang minta nomor kamu?!” tukasku panjang lebar pada Ria agar dia cepat mengerti.
“Iya juga sih! Tapi kalau gak bisa dihubungi itu nomornya aktif kok! Kan aku chattingan sama dia, kok bisa?!”
“Itu yang aku gak tahu, mungkin saja dia pakai nomor baru buat ganggu kamu! Lagi pula temannya sendiri juga bilang sudah punya pacar. Itu bukti chat temannya masih ada sama aku."
“Mungkin juga sih, terus kata kakak kamu apa Del?!” tanya Ria penasaran.
“Kalau ketahuan selingkuh ya, senior Brahman sama selingkuhannya bakal dilabrak kakakku ke sekolah!”
“Masa iya kakakmu segitunya Del?!” Ria seolah tak percaya dengan omonganku.
“Lagi pula mereka sudah pacaran dua tahun dan kakakku memang orangnya gak pandang bulu apalagi malu Ri!”
“Segitunya ya kakakmu Del.”
“Makanya aku kasih tahu ke kamu sebelum terlalu jauh, nanti daripada ketahuan sama kakakku apalagi kita berteman, bisa habislah kita berdua!” ocehku sambil menghela napas kasar.
“Iya Del, aku gak bakalan dekat-dekat sama kak Brahman apalagi balas chatnya.”
“Iya memang kayak begitu seharusnya.”
Tampaknya Ria sudah paham dengan ceritaku, jadi sekarang hatiku sudah sedikit lebih lega.
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜