Impian yang dibangun Luna selama bertahun-tahun bersama kekasihnya harus kandas.
Kekasihnya itu pamit tanpa memberikan alasan yang dapat dimengerti.
Luna hancur, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan mengenalkannya pada keluarga besar sang kekasih, setelah ia lulus kuliah.
Tapi malang tak dapat ditolak, kekasihnya itu membatalkan janji dan sumpahnya, tepat sebulan sebelum kelulusan Luna.
Setelah beberapa tahun berlalu, pria yang dulu membuat Luna patah hati kembali datang ke hidupnya.
Luna muak dan semakin membenci pria tersebut.
Akankah cinta Luna tumbuh kembali?
Atau Luna salah mengerti kenyataan? Karena ini adalah cinta yang baru.
Follow ig @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratapan
Luna tiba di kamarnya, dia letakkan piagam yang ia dapatkan di acara wisuda tadi di atas nakas, lalu mengambil photo mendiang Mommynya yang ada di sana.
"Ya ... Tuhan. Mengapa keluargaku menjadi seperti ini? Andai Mommy masih ada, semua ini pasti tidak akan terjadi," lirih Luna sembari mengusap wajah wajah Mommynya yang sedang tersenyum di balik bingkai kaca.
"Mom, hari ini Luna lulus kuliah. Luna akan wujudkan keinginan Mommy, Luna akan jadi desainer hebat. Luna juga jadi lulusan terbaik, Mom," imbuh Luna.
Luna hendak mengambil piagam perhargaan miliknya di atas meja nakas, dia ingin memperlihatkan piagam itu kepada mommynya. Ya, berharap photo sang mommy dapat melihat kesuksesannya.
Tangan Luna yang hendak meraih penghargaan itu berhenti, karena ponselnya berdering tepat di sebelah piagam tersebut.
"Rara ...." Luna melihat nama yang tertera di layar ponselnya, lalu segera menggeser tombol hijau.
"Lun ...." Suara parau yang diiringi tangisan langsung pecah. Saat Luna menjawab telpon tersebut.
"Rara ... kamu kenapa?" tanya Luna khawatir.
Sahabatnya itu tidak menjawab, dia malah menangis tersedu. Luna menghela napas panjang, dia dapat memahami sesuatu yang buruk sedang menimpa sahabatnya itu, meskipun Rara belum menceritakan apapun.
"Yang tenang, Ra ...! Kamu nangis aja sepuasnya, aku bakal dengerin, kok! Setelah itu baru cerita," ujar Luna mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Dia ... Lun! Harusnya aku percaya kalau dia itu bajingan," ucap Rara yang masih diiringi tangisan.
"Yang sabar ya, Ra! Yang penting sekarang, kamu sudah tahu yang sebenarnya. Aku yakin, kamu pasti bisa melewati ini semua! Percaya deh." Luna terus berusaha menyemangati Rara.
"Kamu bisa ke sini nggak, Lun! Aku butuh kamu di sini," pinta Rara penuh harap.
"Maafin aku, Ra! Bukan aku nggak mau ada, pas kamu butuh. Tapi aku sedang ada masalah keluarga, Ra!" sahut Luna dengan perasaan bersalah.
Sebenarnya Luna sangat ingin berada di samping Rara saat ini, untuk menghibur sahabat itu. Tapi apa daya, dia juga sedang menghadapi masalah yang sangat pelik di saat bersamaan.
Luna hanya bisa menghibur Rara lewat telpon. Mereka saling menceritakan keluh kesah masing-masing. Setelah puas berbagi cerita, meraka pun memutuskan sambungan telpon.
Luna meletakkan ponselnya di atas meja, dia kembali hendak meraih piagam miliknya. Namun, uluran tangan itu kembali terhenti saat melihat photo Geo, yang juga ada di atas nakas.
"Jangan lihat!" sungut Luna seraya menelungkupkan bingkai photo tersebut.
Meski hatinya masih sakit dan kecewa karena ditinggal tanpa sebab yang jelas. Tapi Luna tidak bisa sepenuhnya membenci Geo. Dia juga tidak membuang barang-barang pemberian Geo, bahkan cincin pemberian Geo masih tersimpan di laci nakasnya.
***
Mansion Morelli.
"Apa Gio tidak mau ikut makan malam?" tanya Mommy Delia.
"Tidak Onty, biar nanti aku bawakan makan malamnya ke kamar," sahut Sean. Dia sudah berusaha membujuk sepupunya itu, tapi belum juga berhasil. Karena Gio masih terus meratapi kepergian kakak kembarnya.
"Tolong nanti kau bujuk dia lagi, Nak. Coba ajak dia untuk jalan-jalan, atau apa pun itu yang dapat menghibur hatinya. Uncle sedih melihat dia terus meratap seperti itu," timpal Daddy Lucas.
"Iya, Uncle. Aku akan mencobanya lagi nanti," jawab Sean.
Lalu mereka pun lanjut dengan makan malamnya.
"Bu, apa besok kita jadi pulang ke Indonesia?" tanya Sean setelah mereka selesai makan malam. Dia kini sedang mengambilkan makanan untuk Gio.
Ibu Lidya menganggukkan kepala. "Iya, Nak. Karena waktu persalinan kakakmu sudah dekat. Jadi mau tidak mau kita harus pulang lebih cepat."
"Baiklah," sahut Sean. Setelah itu dia meninggalkan ruang makan, dia menuju kamar Gio dengan membawa makanan untuk sepupunya itu.
Sean menghela napas berat saat mendapati sepupunya itu masih terduduk lemah di ranjang tidurnya.
"Makanlah, aku membawakannya untukmu," ujar Sean.
Gio hanya mengganguk lesu, dia meraih makanan yang dibawa Sean. Lalu mulai menyantapnya meski hanya beberapa suap saja.
"Ah, iya. Besok kami sudah harus pulang ke Indonesia. Karena Kak Rania akan melahirkan. Jadi bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang malam ini," tawar Sean.
"Tidak Sean, kau saja yang pergi. Aku tidak ingin ke mana-mana," tolak Gio.
"Ayolah, Gi. Kau perlu sedikit hiburan. Sampai kapan kau akan meratap seperti ini?" bujuk Sean lagi.
"Sean, kalau kau butuh hiburan, pergi saja sendiri! Sekarang tolong keluar dari kamarku, aku butuh privasi!" seru Gio meninggikan suara, seraya menunjuk pintu kamarnya.
Sean menggaruk kepalanya, dia terpaksa harus meninggalkan sepupunya itu sendiri. Sean sadar kalau sepupunya itu tidak bisa dipaksa. Dan mungkin ini masih terlalu cepat bagi Gio, untuk merelakan kepergian Geovanni.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.
Sementara sblm geovani meninggal blm sempet kasih tau siapa cewek yg harus di jaga gio
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu