Sequel "Dua Suami"
Hiatus
Mencintai seorang janda mungkin sudah menjadi sebuah kutukan untukku. Setelah ditinggal istri dan anaknya yang masih dalam kandungan membuatku menutup hatiku rapat-rapat.
Hingga pertemuan dengan wanita hamil tanpa suami membuatku teringat dengan mantan istriku yang sudah meninggal membuatku ingin sekali berada di sisinya untuk menjaganya.
Namun lambat laut bukan perasaan ingin melindungi, tapi mencintainya membuatku mampu membuka hatiku yang telah lama tertutup rapat.
Namun aku harus dengan rela melepaskan saat bayi yang ada di dalam kandungannya membuatku harus rela menyerahkan pada suaminya yang ternyata adalah sepupuku sendiri. Oh tidak, dunia itu ternyata begitu sempit.
Saat diriku ingin sekali menutup hatiku rapat-rapat lagi. Wajah yang sama namun orang yang berbeda membuat kami dekat. Apalagi dia juga seorang janda dengan satu putra.
Apakah aku bisa membuka hatiku untuknya? Meski sifat dan wataknya yang berbeda, namun wajahnya membuatku ingat dengannya?
Maaf semuanya, sementara Hiatus dulu. Aku sedang menyelesaikan karyaku yang lain. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Lena." panggil Bram saat melihat Lena menggandeng mesra lengan Ken saat keduanya hendak menuju tempat parkir.
Bram berlari kecil mendekati mereka dengan tugas-tugas yang hendak dikumpulkannya.
"Ya?" jawab Lena mengernyit.
"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Bram sambil melirik Ken yang terlihat tak suka melihat keakraban kekasihnya dengan sahabatnya.
Begitulah Lena memperkenalkan Bram pada Ken. Namun bagi Ken melihat kekasihnya akrab dengan seorang pria meski itu dengan dalih merupakan sahabat. Ken tetap tak suka. Oh ayolah, dimana seorang pria dan seorang gadis bersahabat tanpa perasaan pada salah satunya.
Dan Ken yakin bulan Lena yang berubah menyukai diantara kedua sahabat itu. Dan Ken yakin, mungkin saja Bram memiliki perasaan lain pada kekasihnya.
Ken pun terpaksa mengangguk mengiyakan kedua sahabat itu berbincang meninggalkan dirinya. Berdiri agak jauh darinya. Ken memutuskan untuk menunggu di mobilnya sementara kekasihnya berbincang dengan Bram.
"Aku tunggu di parkiran." ucap Ken setelah mengiyakan Lena berbincang dengan Bram entah membahas apa.
***
Ken tampak cemberut dan kesal melirik jam tangannya sudah lewat setengah jam Lena belum juga muncul di parkiran. Dia semakin kesal saja karena ponselnya tak bergeming tanda Lena menghubunginya, mungkin membatalkan janjinya dan mementingkan sahabatnya itu mungkin.
***
"Apakah harus sekarang melakukannya?" tanya Lena yang tampak gelisah setelah lebih dari setengah jam dirinya berbincang dengan Bram.
Dia tak mau membuat kekasihnya itu menunggu lebih lama. Mereka sudah janjian untuk kencan setelah kuliah siang.
"Tinggal tiga hari lagi presentasi. Semuanya sudah siap di tempat kelompok." jawab Bram.
"Sebentar. Aku akan menghubungi kekasihku untuk membatalkannya." ucap Lena mengambil ponselnya untuk menghubungi Ken.
"Aku menunggu disana dengan kelompok kita." Bram menunjuk tempat dengan beberapa teman, ada pria dan perempuan juga.
" Ok." Lena mengacungkan jempol tangannya sambil menunggu panggilannya diterima.
Dalam percakapan ponsel :
Ken :"Ya?" jawabnya sambil cemberut.
Dia sudah mengira apa yang akan dikatakan kekasihnya ini setelah berbincang dengan sahabatnya. Tak hanya kali ini, ini sudah berkali-kali.
Meski Lena sudah menjelaskan ada teman lain bukan hanya dengan Bram saja. Tapi Ken seolah menutup mata. Bukan teman lainnya yang dicemaskan tapi Bram lah yang malah dicemaskannya.
Lena :"Maaf sayang, aku harus mengerjakan tugas kelompok kami." jelasnya dengan nada menyesal.
Belum ada jawaban dari Ken. Ketara sekali. Kekasihnya itu tengah merajuk karena kencannya lagi-lagi harus dibatalkan lagi. Mungkin ini yang ketiga kalinya.
Lena :"Please baby..." rayunya memelas dengan merendahkan suaranya lebih mesra dan genit.
Ken :"Ok... baiklah." jawabnya tegas.
Dia memang tak bisa lebih lama kesal pada kekasihnya. Dia hanya kesal pada Bram membuat kekasihnya terpaksa membatalkan kencannya lagi-lagi.
Kalau saja Bram bukan sahabat Lena, Ken pasti akan meminta Bram menjauhi Lena. Ken sudah menyingkirkan semua pria yang berusaha mengganggu kencannya.
Lena :"Thanks baby... muach..." Lena menutup ponselnya setelah terdengar helaan nafas makhlum kekasihnya.
Lena pun menghampiri Bram yang menunggu dengan teman lainnya.
"Ayo!"
"Kau tak masalah kan?" tanya Bram sedikit cemas. Karena saat melihat tampang Ken yang tidak mengenakkan.
Bram terlihat merasa bersalah. Namun bagaimana pun juga mereka harus mengerjakan tugas kelompok mereka, karena hanya tinggal beberapa waktu mereka harus skripsi, sidang dan sebentar lagi wisuda.
Dirinya tak sulit itu, tapi teman yang lain sulit untuk mendapatkan nilai yang memuaskan seperti dirinya. Hanya dirinya yang dipercaya menghampiri Lena karena teman lainnya sudah mendapat ancaman dari Ken jika berani menghampiri dirinya saat berdua dengan Lena.
"Gak papa kok, kami bisa kencan lain kali." mungkin itu terdengar tak masalah bagi Lena, namun Bram tahu dari tatapan mata Ken tadi, Ken kesal saat dihampiri olehnya tadi.
Bram hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.
TBC
lanjuuut