Asyifa Az-Zahra, berusia 17 tahun. Seorang gadis nan cantik yang selalu menutupi kecantikan dengan kain hitam di wajahnya.
Asyifa gadis yatim pintu, yang dibesarkan oleh neneknya, yang sangat menyayanginya. Mereka tinggal bersama dipondok pesantren An-Nur milik Ustadz Khairul.
Namun diusia Asyifa yang masih belia, ia sudah menyandang status sebagai seorang Istri, Atas permintaan terakhir dari sang nenek. Dan akhirnya ia pun terpaksa menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenali.
Bagaimanakah kisah rumah tangga Asyifa?
Apakah akan tumbuh Cinta dihatinya?
Yuk ikutin ceritaku, Jangan lupa berikan dukungannya ya? Bintangin ya guys, kasih juga, Like, Vote, Hadiah, serta komentarnya. Oke 😉.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prinsip Wanita Bercadar.
Sesampainya di rumah sakit, dengan cepat Wira menggendong Asyifa dan membawanya ke ruang UGD. Ardiyan sama Anisah hanya saling pandang saja, mereka tidak bisa mencegah Wira untuk tidak menyentuh Asyifa.
"Mengapa kita membiarkan Wira menggendong Asyifa?, Padahal para perawat sudah menyiapkan brankar" ucap Ardiyan setelah menyadari kediaman mereka.
"Mau gimana lagi situasi dia sekarang lagi panikan?, Jadi kita juga nggak bisa cegah jugakan Hubby" bales Anisah pasrah.
"Ya sudahlah sayang,, sebaiknya sekarang kita lihat keadaan Syifa dulu, yuk.." ucapnya lagi sambil menggandeng tangan istrinya, menuju ruang tunggu depan UGD, dan di sana sudah ada Wiraxsana yang sudah duduk.
"Apakah dokter sudah menanganinya,?" Tanya Ardiyan sambil duduk di sebelah Wira,
"Iya dokter baru saja datang,"Balesny lesu "haah.. semoga tak terjadi apa-apa dengannya ya Allah.. " lanjutnya lagi khawatir.
" Segitu khawatir Lo ma dia, apa Lo benar-benar sudah jatuh hati padanya?" Tanya Ardiyan penasaran.
"Entahlah, gue juga nggak tahu, cuma saat dia seperti ini kenapa hati gue terasa sakit" bales Wira lesu.
" Baiklah, gue dah paham, tuk sekarang Lo berdoa saja, semoga dia tak terjadi apa-apa dengannya, dan untuk selanjutnya kita pikirkan nanti" ujar Ardiyan lagi sambil menepuk pundak Wira. Dan Wira hanya mengangguk pasrah.
Tuk berapa saat mereka terdiam, namun tak berapa lama pintu ruang UGD terbuka, dan keluarlah dokter yang menangani Asyifa.
Wira yang melihat dokter keluar, ia pun langsung menghampirinya, dan di susul oleh Ardiyan dan Anisah.
"Gimana keadaan dia dok?" Tanyanya masih cemas.
"Pasien mengalami retak di bagian kaki kanannya, dan luka di bagian pinggangnya, tapi syukurlah pasien sudah melewati masa kritisnya, jadi dia bisa di pindahkan ke ruang inap pasien," bales sang dokter membuat Wira tambah sedih.
"Lalu akan berapa lama kakinya kembali normal dok" tanya Anisah.
"Bila pasien mengikuti prosedur pengobatan dari pihak rumah sakit, kemungkinan penyembuhan tidak akan lama, itu semua juga tergantung pasien itu sendiri" jelas dokter lagi.
"Baiklah dok, apa sekarang kami boleh menjenguknya,?" Tanya Anisah lagi.
"Silakan Bu, pak, kalau begitu saya permisi" ucap dokter tersebut, lalu ia pun pergi.
Setelah kepergian dokter mereka pun pergi ke ruangan tempat Asyifa di rawat, sesampainya di depan ruangan tampak Anisah meragu.
"Ada apa sayang?" Tanya Ardiyan yang melihat istrinya yang tiba-tiba berhenti.
"Apa sebaiknya kalian menunggu saja di luar?" Jawab Anisah ragu.
"Kenapa Nisah? Aku ingin melihat keadaannya" ucap Wira antusias.
" Maaf bang, mungkin saat ini Syifa lagi tidak memakai cadar, hm, Nisah harap Abang paham, Abang bukan mahramnya, tentunya Abang belum di izinkan untuk melihatnya" jelas Anisah, membuat Wira terdiam dan sedih,
"Tapi nis, dokter tadi boleh melihatnya, kenapa aku tidak boleh" ucap Wira lesuh.
"Bang itu keadaan terjepit, dan lagian itu berurusan dengan nyawa tidak mungkin juga kita berkeras mengharuskan mendapatkan dokter wanitakan,?" Tambah Anisah lagi,
"Hmm, ya sudah kalau gitu, aku akan menunggu di sini" ucap Wira pasrah lalu ia pun berjalan menuju tempat duduk di depan ruangan Asyifa. Sedangkan Anisah masuk keruangan Asyifa seorang diri.
"Sabarlah wir, Lo harus menghargai prinsip mereka, seperti itulah Prinsip Wanita Bercadar, bagi mereka tubuh, suara dan wajah adalah sesuatu yang harus di jaga, untuk mahram mereka kelak, jadi bagi yang bukan mahramnya, jangan pernah bermimpi untuk melihatnya." ucap Ardiyan menjelaskan.
"Suara juga?.. Ar.. jangan-jangan Asyifa kecelakaan gara-gara gue lagi.." ucap Wira panik.
"Maksud Lo?" tanya Ardiyan bingung.
"Tadi di lapangan rumput itu, Asyifa lagi menghapal Al-Qur'an, suaranya sangat indah, makanya gue terus ingin mendengarkannya, Namun saat ia melihat gue dia begitu terkejut dan langsung menaiki kudanya dengan cepat" ucap Wira menceritakan kejadian sebelum Asiyfa jatuh.
"Astagfirullah, bisa jadi seperti itu"
"lalu gue harus bagaimana sekarang?" tanyanya lirih, penuh penyesalan.
"Tenanglah, nanti kita tanyakan pada Anisah saja" bales Ardiyan,
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, 🙏