Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: DMAM
Aisyah menarik napas dengan sangat panjang karena menahan rasa risih yang mendera. Tapi ia memilih tetap bergeming di posisinya, dan membiarkan lengan Dimas tetap menempel pada arm bahunya.
Aisyah hanya menundukkan kepalanya lebih dalam, dan mencoba menyembunyikan rona merah samar yang mulai menjalar di kedua pipinya.
Melihat Aisyah tidak menghindar atau memprotes gerakannya, hati Dimas bersorak gembira! Kemenangan kecil itu membuat keberanian anak mami ini melambung tinggi.
"Syah... AC mobilnya ketebalan ya? Dingin banget," rengek Dimas dengan nada suara yang sengaja dibikin serak-serak manja.
Dimas kemudian bergerak lagi. Kali ini ia memiringkan seluruh badannya menghadap Aisyah. Lalu, tangan kirinya terangkat, dan berpura-pura hendak meraih sandaran kepala di belakang tempat duduk Aisyah, namun posisinya membuat lengannya seolah-olah sedang merangkul bahu Aisyah dari belakang. Dengan jarak wajah mereka yang kini hanya terpaut belasan sentimeter.
Dimas kini memiringkan kepalanya, dan mencoba mengintip ekspresi Aisyah dari bawah jilbabnya.
"Kamu kok diam aja dari tadi? Marah ya sama aku gara-gara hal tadi subuh?" bisik Dimas tepat di samping telinga Aisyah, diiringi hembusan napas hangat yang membuat Aisyah makin merinding.
"T-tidak, Mas... Aisyah tidak marah," jawab Aisyah terbata-bata, jemarinya makin erat meremas kain gamisnya. "Aisyah cuma... cuma masih teringat Ibu di rumah."
"Kan nanti kita bisa main ke sana lagi kata Ibu," sahut Dimas dan makin memajukan badannya. Siku tangannya kini menempel di pinggang Aisyah, dan tubuhnya yang tinggi besar hampir memeluk penuh tubuh istrinya dari samping.
Sementara pergerakan manja dan tak tau malu itu berlangsung di kursi belakang, Pak Dudung yang sedang mengemudikan mobil melirik ke arah kaca spion tengah.
Dari sudut pandang Pak Dudung, pemandangan itu sungguh menggelikan sekaligus menggelitik hati. Ia melihat bagaimana tuan muda Dimas yang biasanya hanya bisa mengadu dan merengek pada Bu Rosma jika ada masalah, kini bertingkah seperti anak kucing yang sedang mencari perhatian pada induknya.
Gerakan Dimas yang berpura-pura meregangkan badan demi bisa menempel pada Aisyah terlihat begitu transparan dan kekanak-kanakan.
Pak Dudung tak sanggup menahan senyumnya. Kumis tipisnya pun bergetar pelan saat bibirnya mengukir tawa tanpa suara.
"Halah, Den Dimas... Den Dimas... Sekarang sudah sah, nempelnya kayak prangko gak mau lepas," batin Pak Dudung terkekeh dalam hati.
"Ekhm." Pak Dudung berdeham pelan untuk menyamarkan tawanya, dan sengaja melirik spion tengah sekali lagi.
Saat pandangannya tak sengaja bertabrakan dengan mata Dimas yang mendadak mendongak, Dimas langsung melotot kaget.
Dengan cepat Dimas menarik kembali lengannya dari bahu Aisyah, dan duduk tegak secara mendadak sambil membetulkan kerah kemejanya dengan raut wajah yang serba salah dan memerah karena panik.
"Pak Dudung! Fokus menyetir saja, jangan lihat-lihat ke belakang!" tegur Dimas dengan nada suara yang dipertegas, dan berusaha mempertahankan wibawanya sebagai majikan muda.
"Eh, nggih, Den Dimas... Maaf, Den. Ini jalanan di depan agak berlubang," jawab Pak Dudung dengan nada suara ramah yang masih menyisakan nada geli.
Aisyah yang melihat interaksi itu tak sanggup lagi menahan rasa malunya. Ia lalu menutupi bibirnya dengan ujung jilbabnya, dan terkekeh pelan tanpa suara.
Melihat Aisyah terkekeh manis, kekesalan Dimas pada Pak Dudung pun lenyap seketika, berganti dengan rasa hangat yang memenuhi seluruh hatinya. "Dia cantik sekali saat tertawa."
**
Perjalanan satu setengah jam itu akhirnya mendekati akhir saat mobil memasuki kawasan perumahan elite di pinggiran kota.
Deretan rumah-rumah megah berarsitektur modern dengan pagar besi menjulang tinggi dan taman-taman asri mulai menggantikan pemandangan pepohonan desa.
Dimas yang tadinya bersikap manja dan ceria, perlahan kembali terdiam. Senyum di wajahnya luntur saat bayangan sosok Bu Rosma kembali menari-nari di pikirannya.
Ia membayangkan raut wajah ibunya yang pasti sedang menyilangkan tangan di dada, dan siap meledakkan amarah atas insiden "tertidur di mobil" dan pemandangan di kamar subuh tadi.
Dimas kemudian melirik ke arah Aisyah. Jemari Aisyah yang tadinya rileks kini kembali meremas gamisnya dengan erat.
Ketenangan yang sempat terbangun selama perjalanan seolah buyar dihantam kenyataan bahwa mereka akan segera melangkah masuk ke dalam "istana" milik sang penguasa tunggal keluarga Wiraguna.
Hingga....
Mobil sedan hitam itu melambat, dan memutar memasuki sebuah jalan utama beraspal mulus, lalu berhenti tepat di depan gerbang besi tempa berwarna hitam mengkilap bertuliskan Keluarga Wiraguna.
Tak lama, dua orang satpam berseragam lengkap dengan cepat membuka pintu gerbang besar tersebut. Sedan meluncur masuk melintasi pekarangan luas berbatu koral yang dihiasi air mancur patung marmer di tengahnya.
Di ujung jalan masuk, berdiri sebuah rumah bertingkat dua berarsitektur mediterania yang sangat megah. Pilar-pilar beton besar menyangga teras depan, dan dinding kaca tinggi memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.
Sret... Sedan berhenti tepat di bawah kanopi teras depan.
Pak Dudung segera mematikan mesin mobil, lalu keluar untuk membukakan pintu belakang.
"Sudah sampai, Den Dimas, Neng Aisyah..." ujar Pak Dudung sopan.
Dimas menarik napas, lalu menoleh menatap Aisyah yang duduk mematung di sampingnya.
"Syah..." panggil Dimas. "Kita... kita udah sampai di rumah Mami."
Aisyah menatap suaminya. Melihat raut keyakinan yang terpancar dari mata Dimas, Aisyah memberanikan diri mengulurkan tangannya, dan menyentuh jemari tangan Dimas yang terasa dingin.
"Bismillah.... apapun yang terjadi di dalam nanti, aku hadapi," batin Aisyah.
Dimas menatap genggaman tangan Aisyah di jemarinya. Sentuhan kecil itu seolah menyuntikkan keberanian baru ke dalam dadanya. Dimas tersenyum lalu meremas pelan jemari Aisyah.
Dimas kemudian mendorong pintu mobil dan melangkah keluar, diikuti oleh Aisyah. Sementara Pak Dudung bergegas menurunkan koper tua berwarna coklat milik Aisyah dari bagasi belakang.
Tepat saat kaki Aisyah menapak di lantai marmer teras rumah mewah itu, pintu utama kayu jati berukir yang sangat besar perlahan terdorong terbuka dari dalam, dan munculah sosok Bu Rosma yang melangkah keluar.
Wanita paruh baya itu mengenakan gaun sutra rumahan yang anggun, rambutnya tersanggul rapi, dan wajahnya dipoles riasan yanga agak tipis. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah Dimas dan Aisyah yang berdiri berdampingan di bawah teras.
"Pengantin baru kita baru datang rupanya."
Bersambung...