Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Setan Malah Jadi Setan!
Ryuji dan Yuka pun pergi menuju wahana rumah hantu.
Sambil jalan, Yuka bertanya pada Ryuji tanpa menoleh, "Memangnya kita boleh ikut menakut-nakuti pengunjung?"
"Aku tidak tau," jawab Ryuji santai, kedua tangannya menopang kepalanya, "Tapi kita bisa tanya ke penjaganya."
Saat mereka sedang menuju ke wahana itu, Ryuji melihat Moiro dan Mika sedang berada di salah satu stand tak jauh dari mereka.
"Yuka, sembunyi!"
Ryuji menarik Yuka ke samping sebuah stand, bersembunyi dengan cepat.
Yuka menoleh ke belakang, masih sedikit terkejut karena tiba-tiba ditarik ke suatu tempat, "Kenapa kamu..."
Pundaknya ditekan Ryuji, membuatnya sedikit terbungkuk.
Ryuji mendekatkan wajahnya lalu mengangkat jari ke depan mulut Yuka. Wajahnya menoleh ke arah Moiro dan Mika, memantau mereka, "Ssstt...!"
"Terlalu dekat...!" jerit Yuka dalam hatinya. Wajahnya memerah.
Tabok aja kalo kedekatan.
Ryuji mengangkat kepala dan muncul dari tempat persembunyian, melihat ke arah Moiro dan Mika lebih jelas.
Di bawahnya, kepala Yuka juga keluar, ikut menatap keduanya.
Yuka berbisik pelan pada Ryuji, "Kenapa kita harus sembunyi sih?"
"Ssstt! Jangan berisik. Nanti kita ketahuan...!" bisik Ryuji nyaring.
Kayaknya kau yang bakal bikin ketahuan.
Ruji kembali menekan pundak Yuka yang sedang menjongkok dan membuatnya semakin terdorong ke bawah. Kacamatanya sempat melorot namun langsung diperbaikinya.
Mereka menatap keduanya lagi dari balik stand.
Ryuji menoleh ke bawah, berbisik, "Yuka, kita ambil jalan memutar."
"Kenapa gak jalan depan aja? Kita kan udah ketahuan juga," balas Yuka pelan sambil menatap ke atas.
"Kau ini payah atau apa?!" bisik Ryuji nyaring.
"Kamu bilang aku payah?!" bentak Yuka kesal padanya.
Moiro dan Mika sontak menoleh ke asal suara. Ekspresi heran terpampang jelas di wajah mereka.
Tapi Ryuji dan Yuka sudah kembali bersembunyi dengan cepat.
"Kita hampir ketahuan, payah!" seru Ryuji dengan berbisik.
Alis Yuka mengerut, lalu berucap pelan, "Jadi kamu beneran bilang aku ini payah?"
"Bukan begitu!" jelas Ryuji berbisik, "Maksudku, kalau kita lewat depan, nanti kita ketahuan kalau ingin pergi ke rumah hantu. Kalau kita tidak bisa menakuti mereka, bagaimana?!"
Yuka hanya diam menatapnya. Memang benar, kalau mereka ketahuan mau ke sana, ada beberapa kemungkinan selain Moiro dan Mika akan ikut, yaitu tidak jadi pergi.
Ryuji memegang tangan Yuka tiba-tiba.
Yuka terkejut menatap tangannya. Wajahnya kembali memerah.
Ryuji berbalik lalu berbisik sambil menariknya pelan, "Sudahlah, ikuti aku aja."
Yuka menelan ludah, lalu mengikuti Ryuji yang mulai berlari.
Sementara itu, Moiro dan Mika masih menatap ke arah suara sebelumya berasal.
"Kau dengar juga, Sano?" tanya Moiro tanpa menoleh.
Mika mengangguk pelan di sebelahnya, "Aku mendengarnya samar."
Wajah Moiro berubah kesal dan mencekam.
"Itu pasti Yamaguchi..." ucapnya pelan, nadanya sedikit lebih berat.
Mika tersenyum kaku di sampingnya, menatap pada Moiro, "Tapi yang kudengar seperti suara perempuan, jadi mungkin bukan Yamaguchi..."
Moiro menghela napas, kembali menghadap ke depan, "Itu berarti, dia pasti Ketua kelas."
Mika masih tersenyum kaku di sampingnya. Satu tangannya diangkat dan digoyangkan pelan, "Sepertinya ketua kelas tidak mungkin melakukan itu."
"Mungkin kau benar. Maaf, aku terlalu berlebihan berprasangka."
"Tidak, tidak. Sesekali tidak masalah seharusnya."
Kalo udah kepincut ya gini. Semuanya tidak dipermasalahkan.
Di depan mereka, seorang wanita menggenggam dua tangan, "Jadi..."
Moiro dan Mika menoleh bersamaan.
"Apa adik-adik mau beli bando kucing ini?" tanya penjual wanita itu ramah. Wajahnya penuh senyuman merayu.
Telunjuknya diangkat, "Ada diskon menarik khusus pasangan, loh. Kalian mau?"
Moiro mengangkat satu tangannya, "Tidak, kami hanya melihat—"
"Aku mau!" sahut Mika cepat. Wajahnya terlihat penuh tekad.
Moiro menoleh bingung ke arahnya.
Mika ikut menoleh perlahan, menatap Moiro singkat. Kedua tangannya mengepal ringan di depan.
Tatapannya menunduk setelahnya, pipinya sedikit memerah saat berkata pelan, "Maaf, tapi izinkan aku egois untuk kali ini..."
Melihat itu, Moiro tersenyum tipis.
Melihat Mika yang seperti itu entah mengapa mengingatkan saat dirinya masih kecil. Dirinya yang selalu dimanja dan disayang orang tuanya sebelum mereka pergi meninggalkannya untuk selamanya. Itu sebuah kenangan yang terasa hangat dan manis baginya.
Tangannya diangkat perlahan dan tanpa sadar mengusap kepala Mika dengan lembut.
"Kamu manis banget," ucap Moiro pelan.
Suasana berubah hangat seketika.
Mendengar itu, wajah Mika seketika memanas dan memerah padam karena malu. Dia berkedip pelan, tak percaya dan bingung, "A-Asahi...?"
Moiro pun tersadar. Tangannya berhenti mengusap dan diturunkannya perlahan, "Eh, maaf. Aku kelepasan."
"Laaah?! Ngapain aku ngomong itu tiba-tiba?!" teriak batinnya pada diri sendiri, sedikit berkeringat dingin, "Harusnya aku ngomong 'tidak masalah' padanya...!"
Matanya melirik perlahan pada tangan yang sebelumnya mengusap kepala Mika, "Lagipula, tanganku. Kau gak bisa diem apa?!"
Salah sendiri! Tapi aku suka sama adegan tadi, mwehehe.
Perasaan canggung seketika menyelimuti suasana antara keduanya.
Mika menunduk malu, wajahnya merah padam, alisnya terangkat. Bibirnya nampak bergelombang, menahan malu dalam dirinya.
Moiro berkeringat dingin, pipinya sedikit memerah karena malu atas hal yang diperbuatnya barusan.
"Wah, kalian ini pasangan yang romantis ya?" ucap pedangan di sana.
Keduanya tersentak dan menoleh bersamaan.
Pedagang itu menepuk tangannya sekali dan terus tersenyum, "Karena hari ini kalian sudah membuat hatiku senang, kukasih bonus khusus untuk kalian!"
"Bonus...?" pikir keduanya. Wajah mereka masih tampak merah dengan ekspresi kebingungan.
.........
Keduanya pun meninggalkan kios itu setelah berbelanja dengan diskon khusus pasangan dan mendapatkan bonus.
Pedagang itu melambai pada mereka sambil tersenyum gembira, "Selamat bersenang-senang! Semoga hubungan kalian awet dan semakin dekat, yaa...!"
Mendengar seruan penjual itu tentu membuat keduanya makin merasa malu, dan malah canggung untuk saling menatap.
Mika masih menunduk sementara Moiro menoleh ke samping dengan pipi yang memerah pada keduanya.
Mereka kini memakai bando lucu dengan hiasan telinga kucing di atasnya yang nampak serasi, beserta masing-masing diberi sebuah gelang yang dipasang di pergelangan tangan—gelang yang berhiaskan manik-manik lucu dengan salah satu bagian khusus memiliki inisial nama pasangan—sebagai bonus dari penjual tadi.
Moiro menggunakan gelang berinisial “Mi” untuk Mika, sementara Mika menggunakan gelang berinisial “Mo” untuk Moiro.
Keduanya kini berjalan berdampingan dengan perasaan canggung dan malu, karena mereka semakin terlihat seperti sepasang kekasih.
Waw... Kalian sangat cocok. Mantap!
Beberapa orang menatap mereka dengan senyuman. Beberapa juga ada yang berbisik.
"Lihat deh mereka. Manis banget, ya?"
"Mereka keliatan serasi."
Moiro dan Mika mendengar semua bisik-bisik itu, dan semakin membuat keduanya merasa malu.
...***...
Sementara itu, Ryuji dan Yuka akhirnya sampai lebih dulu ke Rumah Hantu setelah mengambil jalan yang sedikit memutar.
Nah, balik lagi ke pov duo ini.
Keduanya terpaku menatap bangunan wahana itu.
Besar dan luas. Itulah yang pertama kali muncul di benak mereka—bukan seram, karena tampilan luar tak seseram bagian dalam.
Keduanya dipanggil oleh seorang petugas laki-laki wahana itu. Dia terlihat masih muda dengan sebuah topi berwarna kuning di bagian kepalanya.
Mereka tersadar, lalu mendatangi petugas laki-laki yang menyapa mereka tadi.
Laki-laki itu berkacak pinggang saat keduanya berada di hadapannya. Dia kemudian melipat tangannya saat menatap Ryuji dan Yuka sekilas, lalu berkata, "Kalian mau masuk ke wahana ini bersama? Tapi maaf, harganya akan tetap sama karena kami tidak memberi diskon khusus pasangan."
Ryuji dan Yuka saling tatap, dan baru tersadar kalau sedari tadi mereka terus berpegangan tangan.
Keduanya melepas secara bersamaan dengan cepat lalu memalingkan wajah. Pipi keduanya memerah.
Yuka memegang tangannya yang berpegangan dengan Ryuji sedari tadi dengan wajah memerah.
Aaargh...! Yang ini gak kalah manis!
Sementara itu, Ryuji, dengan cepat menggelengkan kepalanya dan kembali ke topik yang ingin dibicarakannya.
Dia menatap petugas itu, "Paman!"
Petugas itu mengerutkan kening, "Apa aku terlihat seperti om-om di matamu...?!"
Ryuji seketika terdiam, "Benar juga. Aku salah sebut."
Bloon.
Ryuji kembali menatap ke arah petugas itu lalu kembali berkata, "Abang! Kami ingin bertanya sesuatu!"
Petugas itu tersenyum, "Nah, itu lebih baik."
"Kalian ingin tanya apa?" tanyanya kemudian, sambil sedikit mendekatkan wajahnya.
Ryuji dengan percaya diri tersenyum lebar ketika berkata nyaring, "Aku dan Yuka ingin menjadi hantu di sini! Apakah kami diperbolehkan?!"
Petugas itu terdiam. Ini pertama kalinya dia mendapat pertanyaan semacam itu.
Telunjuknya mengarah pada Ryuji, "Maksudmu, kalian ingin ikut menakut-nakuti pengunjung?"
Ryuji mengangguk mantap, "Benar!"
Petugas itu memegang kepala sambil memejamkan mata ringan, "Ya ampun, aku gak habis pikir sama kalian..."
"Kenapa kalian ingin melakukannya?" lanjutnya bertanya sambil menatap mereka. Tangannya diturunkan.
"Kami ingin menakuti teman kami. Itu pasti menyenangkan!" jawab Ryuji, terlihat meyakinkan, ditambah dengan senyuman lebar penuh rencana di wajahnya.
Ryuji menarik tangan Yuka lagi lalu menunjuknya yang seketika kebingungan dan terkejut, "Aku dan dia akan menakuti mereka, jadi kami perlu pakaian hantu dari kalian!"
Petugas itu menatap dalam keduanya, matanya sedikit menyipit. Kepalanya mendekat saat melakukannya.
Ryuji dan Yuka hanya diam saat ditatap seperti itu olehnya.
Petugas itu kembali berdiri tegak, tak merasa ada hal mencurigakan, "Ya sudahlah. Asalkan kalian tidak sampai melukai pengunjung."
Ryuji dan Yuka saling tatap sambil tersenyum khas masing-masing.
"Tapi," lanjut petugas itu cepat, "Kami tidak akan memberi kalian upah. Mengerti?"
Ryuji mengangkat tangan lalu hormat padanya, "Baik, Bang!"
Keduanya pun mendapat izin untuk menggunakan kostum hantu dan bisa ikut menakut-nakuti pengunjung yang masuk ke wahana itu.
Meski mereka tidak diupah, hal itu tidak masalah. Tujuan utama mereka memang bukan hal itu. Bagi Ryuji, mendapatkan izin dan kostum hantu sudah lebih dari cukup, sementara Yuka hanya ikut-ikutan.
Ngikut doang dia ini.
Keduanya masuk ke ruang petugas dan melihat beberapa orang yang mengenakan kostum hantu yang menyeramkan dan terlihat nyata.
Yuka sempat bergidik saat melihat itu, tapi Ryuji dengan berani langsung mendekati mereka dengan tatapan berbinar penuh rasa kagum.
Setelah mendapat penjelasan, keduanya akhirnya dibantu mengenakan kostum hantu oleh para petugas. Dan kini, mereka tinggal menunggu Moiro dan Mika menjadi korban dari keduanya.