NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Tirta melangkah menuju kamar Marchel. Sampai sekarang ia masih tidak habis pikir dengan sikap pria yang katanya sudah dewasa, tetapi bertingkah layaknya anak kecil. Padahal pagi itu ia melihat sendiri Marchel keluar dari kamarnya. Saat itu Tirta yakin kondisi pria itu sudah jauh membaik.

Lalu apa yang baru saja ia dengar? Marchel kembali mengamuk. Apa pria itu berhenti meminum obatnya lagi? Seperti biasa, tanpa mengetuk pintu dan dengan segala ketidaksopanannya, Tirta membuka pintu kamar itu perlahan.

Ceklek...

Pandangan matanya langsung tertuju pada Marchel yang sedang duduk menunduk di kursi rodanya. Sebuah gelas berisi alkohol masih menggantung di tangannya. Aroma alkohol yang menyengat langsung memenuhi indra penciuman Tirta. Tanpa berpikir panjang, gadis itu segera menghampiri.

"Marchel..." Ia berjongkok tepat di hadapan pria itu.

"Kamu minum dari kemarin? Kamu tidak tidur?" Tangan Tirta menepuk pelan pipi Marchel, berharap pria itu kembali sadar. Namun bukannya menjawab, tubuh Marchel justru limbung ke depan.

"Hati-hati!" Refleks Tirta langsung memeluk tubuh pria itu agar tidak jatuh dari kursi roda. Gelas yang masih digenggam Marchel segera ia ambil dan hendak ia letakkan di lantai.

Aneh...

Tubuh pria itu hampir ambruk, tetapi jemarinya tadi masih menggenggam gelas dengan begitu erat. Belum sempat Tirta memikirkan keanehan itu, tubuhnya mendadak membeku. Marchel yang bersandar di bahunya perlahan memiringkan wajah. Napas hangat pria itu menerpa leher jenjangnya. Seketika bulu kuduk Tirta berdiri.

"Kak! Kak Arga!" Panggilnya panik.

"KAK ARGA!"

Di luar kamar, Arga yang mendengar teriakan itu segera menghampiri. Namun baru saja ia tiba di ambang pintu... Tatapan tajam Marchel lebih dulu menghujamnya. Saat itu Tirta membelakangi pintu sambil menopang tubuh pria tersebut, sehingga sama sekali tidak menyadari keberadaan Arga. Hanya dengan satu tatapan, Arga langsung mengerti.

Dia...

Harus pergi.

Bahkan ketika Tirta hendak menoleh ke belakang, Marchel sengaja semakin mendekatkan wajahnya. Ujung hidung pria itu nyaris menempel di leher Tirta. Diam-diam ia menghirup pelan aroma parfum yang dikenakan gadis itu. Tirta semakin panik.

"KAK ARGA! BANTU AKU SEBENTAR! KAK ARGA!" Teriaknya berkali-kali. Suara nyaring itu bahkan membuat telinga Marchel sedikit berdengung. Namun pria itu tetap tidak bergeming.

Di luar kamar, Arga hanya bisa tersenyum masam. Melihat semua kemodusan sepupunya membuatnya ingin tertawa sekaligus mengelus dada. Akhirnya ia memilih keluar rumah dan duduk di teras depan.

Ia hanya akan membantu jika keadaan benar-benar sudah tidak bisa ditangani Tirta. Karena merasa tak kunjung ada yang datang, Tirta akhirnya menyerah.

Ia meletakkan gelas tadi di lantai, lalu perlahan membenarkan posisi duduk Marchel. Dengan napas yang mulai memburu, Tirta berpindah ke belakang kursi roda. Salah satu tangannya menahan dada Marchel agar tubuh pria itu tidak terjatuh ke depan, sementara tangan satunya mendorong kursi roda menuju sisi ranjang.

Tidak mudah.

Tubuh Marchel jauh lebih besar daripada dirinya. Keringat mulai membasahi pelipis Tirta. Jantungnya pun berdegup semakin cepat. Sesekali ia melirik ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Berharap Arga tiba-tiba muncul dan membantunya.

Namun...

Tak ada siapa pun.

Mau tidak mau, Tirta menyelipkan kedua tangannya ke bawah ketiak Marchel.

"Ayo..." Dengan sisa tenaganya, ia menarik tubuh pria itu agar berdiri. Namun perbedaan tenaga mereka terlalu jauh. Keseimbangan Tirta langsung goyah.

Bruk!

Keduanya terjatuh ke atas ranjang. Marchel otomatis memeluk tubuh Tirta. Kepalanya kembali bersandar di bahu gadis itu. Tirta memejamkan mata beberapa saat. Tenaganya benar-benar habis.

"Argh..." Ia mengembuskan napas panjang.

"Sudahlah... tidur saja seperti ini." Kesalnya sambil membiarkan pria itu memeluknya. Tanpa disadari Tirta, senyum tipis muncul di sudut bibir Marchel. Diam-diam pria itu menarik selimut dan menutup bagian paha Tirta yang sedikit terbuka karena rok yang dikenakannya.

Setelah itu, pelukannya justru semakin erat.

Semakin dekat.

"Kucing ini benar-benar masuk ke dalam jebakan... persis seperti yang kuinginkan." Batinnya sambil tersenyum puas.

Ah, Marchel... Tanpa sadar, semua sandiwara yang kamu lakukan justru membuat dirimu sendiri semakin terikat pada gadis itu.

Sekitar satu jam kemudian... Tirta perlahan membuka matanya. Pelukan yang sejak tadi mengurung tubuhnya kini mulai mengendur. Seperti yang sudah diduganya. Marchel benar-benar tertidur pulas. Napasnya terdengar pelan dan teratur.

Dengan tenaga yang sudah kembali, Tirta perlahan melepaskan pelukan pria itu. Ia membenarkan posisi tidur Marchel hingga terasa lebih nyaman, lalu menyelimuti tubuhnya. Setelah membereskan kekacauan di dalam kamar, Tirta akhirnya keluar.

Barulah ia sadar hari sudah menjelang siang. Padahal tadi ia sempat berniat mengecek perkembangan renovasi kontrakannya. Namun mengingat waktu yang sudah terlalu siang, ia mengurungkan niat itu.

Setelah beristirahat hingga pukul dua siang, Tirta menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Menu hari itu sangat sederhana. Nasi putih hangat ditemani telur ceplok yang dicampur irisan daun bawang, bawang merah, dan cabai. Selesai makan, Tirta berjalan menuju pintu depan. Seperti biasa, sebuah kotak makan siang sudah terletak rapi di sana.

Makanan untuk Marchel selalu terlihat bergizi. Tirta sering bertanya-tanya. Mengapa pria itu tidak meminta Ibu Arga memasakkan makanan saja?

Atau...

Bukankah rumah sebesar ini seharusnya memiliki koki? Apa hanya orang-orang kaya di novel yang selalu memiliki koki pribadi?

Tok...

Tok...

Setelah mengetuk pintu, Tirta membuka kamar itu perlahan. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada ranjang. Marchel masih terlihat tertidur. Ia berjalan mendekat dan meletakkan kotak makanan di atas nakas. Tanpa sadar, Tirta duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pria itu cukup lama.

"Kalau sedang tidur begini... aura menyeramkanmu benar-benar hilang." Gumamnya pelan.

"Lihat dirimu. Jarang makan, tapi postur tubuhmu masih bagus." Iseng, Tirta mulai mencolek pelan pipi Marchel.

Sementara itu...

Pria yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi hanya bisa menahan senyum. Ia menikmati setiap tingkah gadis itu dengan mata tetap terpejam.

"Hidungnya mancung..."

"Alisnya tebal..."

"Rahangnya juga tegas..."

"Lalu bibirnya..." Ucapan Tirta mendadak terhenti. Matanya membulat. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya.

Astaga...

Dirinya sudah terlalu jauh. Sebelum Tirta sempat kabur, Marchel pura-pura membuka mata.

"Sedang apa kamu di sini?" Tanyanya dengan wajah datar seolah baru bangun tidur.

"Aku dengar kamu belum makan." Tirta buru-buru menunjuk kotak makanan di atas nakas.

"Jadi aku membawakannya." Marchel tidak menoleh ke arah makanan itu. Tatapannya tetap tertuju pada Tirta.

"Kenapa kamu peduli?" Pertanyaan itu membuat Tirta terdiam.

"Hmm..."

Ia berpikir sejenak.

"Sebagai ucapan terima kasih."

"Karena kamu sudah mengizinkan aku tinggal di sini."

"Jadi menurutku wajar kalau aku melakukan semua ini."

Jawaban itu terdengar ragu. Bahkan Tirta sendiri merasa alasan tersebut belum sepenuhnya benar.

Entah sejak kapan...

Rasa pedulinya kepada Marchel tidak lagi terasa seperti sekadar balas budi. Jika hanya karena kasihan, seharusnya ia sudah berhenti sejak lama.

Namun nyatanya...

Setiap hari ia selalu ingin memastikan pria itu baik-baik saja.

Dan pertanyaan itu...

Masih belum mampu ia jawab sendiri.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!