GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Nyanyian Badai, Pukulan Maut, dan Kurir yang Terguncang.
Drop-ship pengangkut itu meluncur menembus lapisan awan kelabu Planet Gun'Mar. Mesin pendorongnya meraung melawan tekanan atmosfer yang padat. Badan pesawat berguncang keras diterpa arus udara badai, diiringi kilatan petir ungu yang menyambar di balik gulungan awan pekat.
Di kursi belakang, Harry mendekap erat kotak VIP di dadanya. Pemuda plontos dari ras Zennor itu tampak pucat pasi. Jemarinya menggenggam paket begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Aturan perusahaan terus berputar di kepalanya: Paket VIP tidak boleh lecet, tidak boleh basah, dan kalau gagal... potong gaji.
Namun, kepanikan Harry terasa kontras dengan pemandangan di kursi depan.
Suasana kokpit drop-ship itu kelewat santai. Tangan kiri Pipi mengendalikan tuas kemudi, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk dasbor. Di tengah gemuruh badai, gadis Grovax itu malah asyik bernyanyi.
"I've got doodles I'd undo..."
"And doodles I'd unmake..."
Harry perlahan membuka sebelah mata, menatap heran ke arah punggung kapten keamanannya.
"...Hah?"
Di kursi kopilot, Razor, pria ras Reptola bersisik biru, duduk bersendekap. Ekor tebalnya melingkar rapi di bawah kursi. Tiba-tiba, cakar telunjuk Razor mulai mengetuk pelan senapan laras panjang di pahanya.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan ritmis itu secara ajaib mengiringi nyanyian Pipi dengan pas. Razor kemudian membuka mulutnya. Dengan suara bariton yang berat dan serak layaknya penyanyi jazz gaek, pria kadal itu menyambung bait berikutnya dengan pelafalan sempurna.
"When the road is passing you..."
"Oh, there's nothing I won't break..."
Kontras suaranya kelewat gila. Pipi dengan nada tingginya yang melengking, disambar vokal berat Razor. Padahal dua-duanya cuma prajurit barbar yang lagi kelewat iseng di tengah penerbangan maut.
Karena saluran radio pesawat disetel pada mode siar, duet dadakan itu mengudara jelas hingga kokpit utama GPS Andromeda di stratosfer.
YUI langsung mendekatkan mulutnya ke mikrofon radio.
"Boots-tss. Boots-tss. Brr-tss. Tss-ka."
Beatbox mekanis si robot gotik langsung menyambar masuk, mengiringi lagu Pipi dan Razor.
Di kursi kapten, Arka hanya menggeleng kecil sambil menatap layar CCTV drop-ship.
"Biarkan saja," gumamnya pelan.
Tiba-tiba...
RRRRRRRROOOOOOOOOAAAAAAAAARRRRR!!!
Raungan memekakkan telinga mengguncang seluruh langit Planet Gun'Mar.
Lampu peringatan kabin drop-ship mendadak berkedip merah. Harry menjerit tertahan, meringkuk layaknya udang rebus memeluk paketnya.
"A-apa itu?!" teriak Harry panik menatap ke luar jendela.
Di layar kamera belakang, tampak seekor kadal terbang raksasa bersisik hitam membelah badai. Sayapnya membentang puluhan meter, mengejar drop-ship dengan rahang menganga lebar yang dipenuhi taring setajam pedang.
Raungan monster sama sekali tidak membuat Pipi berhenti bernyanyi.
Tanpa memutus nadanya, ia melepaskan sebelah tangan dari kemudi lalu menunjuk kursi kopilot.
"Razor."
Razor langsung mengangguk dan mengambil alih kendali pesawat.
Sementara itu, Pipi menekan tuas sabuk pengamannya. Gadis mungil itu berdiri, berjalan santai melewati Harry yang melongo pucat, lalu menekan tombol hijau di dinding palka belakang.
HISSH...
Pintu hidrolik terbuka ke bawah. Perisai tekanan di ambang palka langsung aktif, menjaga atmosfer kabin tetap stabil. Sementara itu, angin badai yang membekukan mengamuk di luar, mengacak-acak seragam mereka.
Monster kadal raksasa itu kini hanya berjarak beberapa meter. Matanya menyala merah, bersiap menelan buritan pesawat utuh-utuh. Dan tepat saat deretan taringnya nyaris mengoyak lantai kabin...
Pipi melompat.
Gadis mungil itu melesat lurus menerjang badai, langsung menyongsong rahang raksasa itu.
BUMM!!
Pukulan Pipi mendarat telak di tengah jidat sang monster.
Suara gemeretak tengkorak remuk bergema keras menembus badai. Gelombang kejut dari tinjuan itu menyapu bersih awan di sekitar mereka, menyisakan lubang kawah hampa udara di langit Gun'Mar. Suara brutal itu bahkan terdengar jelas menembus radio kapal induk. Arka spontan mengangkat kepalanya, sementara Lyra, Brakkor, dan Eiden serentak menoleh kaget. YUI pun langsung menghentikan beatbox-nya.
Di bawah sana, bangkai monster raksasa itu kehilangan kesadaran seketika, jatuh berputar-putar menuju hutan lebat Gun'Mar.
Hanya dalam sepersekian detik usai memukul, Pipi memanfaatkan hempasan tubuh monster itu sebagai pijakan di udara. Ia memutar tubuhnya dan melayang mulus kembali masuk ke dalam buritan drop-ship.
Pintu hidrolik otomatis tertutup rapat.
Seolah tidak terjadi apa-apa, Pipi berjalan kembali ke kursinya, menarik sabuk pengaman hingga berbunyi klik, lalu berdeham pelan.
Tepat saat pesawat kembali stabil, Pipi dan Razor menyelesaikan sisa harmoni penutup lagu mereka secara bersamaan.
"There is no knowing what I'll take..."
Lagu pun berakhir dengan sempurna.
Di kursi belakang, Harry mematung kaku. Matanya berkedip lambat. Ia menunduk menatap kotak VIP di pelukannya untuk memastikan ujungnya tidak penyok, lalu menoleh perlahan ke arah pintu palka belakang yang sudah tertutup rapat.
"..."
Napas Harry bergetar pelan.
"Aku..." gumam kurir malang itu dengan tatapan hampa, logikanya resmi menyerah pada realita. "...haaa... ya sudahlah. Yang penting paketnya aman."