Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05 | Orion Grimm
"Papah!" seru Luna kaget.
Pria baruh baya itu berjalan mendekat sambil membawa secangkir kopi di tangannya. Tatapannya langsung tertuju pada Kawasaki Ninja yang sedang dipandangi putrinya.
"Aku belum ngomong apa-apa loh, pah," bela Luna sambil nyengir.
"Tapi papah tau pikiran kamu. Pasti kamu mau naik motor, kan?" sahut papahnya tenang seolah bisa membaca pikiran putrinya.
Senyum di wajah Luna langsung berubah menjadi senyum bersalah. "E-ehehe..."
"Engga. Pokoknya ngga."
"Loh, kenapa pah?" protes Luna.
Papah Luna menghembuskan napas pelan. "Karena papah belum lupa siapa yang pernah jatuh dari motor terus nangis sambil jerit-jerit kalo kakinya mau putus."
Luna berdeham pelan lalu memalingkan wajahnya. Ia malu mengingat kejadian itu. "I-itu kan kecelakaan kecil..." gumamnya pelan.
"Kecil?" ulang papahnya sambil mengangkat satu alis. "Kecil yang sampai harus dijahit tujuh jahitan?"
"Ng..."
"Kecil sampai papah hampir pingsan waktu liat kaki kamu penuh darah?"
Luna menggigit bibir bawahnya. Papahnya ini benar-benar mengingat kejadian memalukan itu. "Itu kan udah lama, pah..." sahutnya sambil menautkan kedua tangan.
"Justru karena pernah terjadi, papah ngga mau itu terjadi lagi," ujar papahnya lembut namun tegas. Untuk sesaat Luna terdiam. Pria itu kemudian mengulurkan tangan yang langsung dihadiahi tatapan bingung putrinya.
"Kunci motornya."
"Hah?"
"Kuncinya, Rellunae."
Luna menatap papahnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dengan wajah pasrah, ia menyerahkan kunci motor tersebut.
"Nah, sekarang ambil kunci mobil."
"Tapi, pah..."
"Mobil."
Hanya satu kata namun cukup untuk membuat Luna tau bahwa keputusan itu tidak bisa diganggu gugat. Ia mengangguk lemas lalu buru-buru masuk kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci mobil. Setelah mengambil kunci, Luna langsung menghampiri papahnya yang masih stand by di depan motor Kawasakinya.
Melihat ekspresi putrinya, papahnya tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Luna. "Papah cuma ngga mau anak perempuan papah kenapa-kenapa," ujarnya lembut.
Kalimat sederhana itu sukses membuat Luna kehilangan sisa protesnya. "Iya, pah... Luna tau kok," jawabnya lirih.
"Bagus. Sekarang berangkat biar ngga telat."
Luna mengangguk pelan lalu berpamitan pada papahnya. Setelahnya ia berjalan menuju mobilnya. Sesaat sebelum masuk, dirinya masih sempat melirik Kawasaki Ninja kesayangannya. "Jangan ngambek ya..." ucapnya pelan.
Tentu saja motor itu tidak menjawab. Namun, entah kenapa, Luna merasa tatapan lampu depannya penuh kekecewaan. Dengan perasaan bersalah yang tidak masuk akal, ia akhirnya masuk ke dalam mobil.
☆☆☆
"LUNA!"
Baru saja Luna melangkahkan kaki memasuki lobi Rumah Sakit Jiwa Silver Oak, Maya sudah berlari menghampirinya. Wajah wanita itu tampak panik. "May? Kenapa?"
"Ngga ada waktu. Ikut aku!"
Tanpa menunggu jawaban, Maya langsung menarik pergelangan tangan Luna. Keduanya berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Perasaan Luna mendadak tidak enak. Semoga saja firasatnya salah.
"Memangnya siapa yang gelud, May?" tanya Luna berusaha menyamai langkah sahabatnya yang kelewat cepat.
"Pasien pertamamu, Lun," jawab Maya sedikit terbata karena ia sudah mulai ngos-ngosan.
Orion Grimm. Nama itu kembali terngiang di kepalanya. Pasien yang dipindahkan dari enam rumah sakit berbeda. Pasien yang bahkan membuat sebagian besar dokter di Silver Oak enggan menanganinya. Dan sekarang, bahkan sebelum ia sempat bertemu atau berbicara dengannya, pria itu sudah terlibat perkelahian.
Jujur saja, Luna tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Takut? Tidak. Panik? Mungkin sedikit. Namun, yang paling dominan justru rasa penasaran. Penasaran seperti apa sosok pria yang selama ini hanya ia kenal lewat tumpukan rekam medis dan cerita dari orang lain.
Tanpa sadar, langkah Luna melambat sesaat. Bagaimana jika semua orang benar? Bagaimana jika Orion Grimm memang berbahaya? Namun, pertanyaan itu segera ia tepis jauh-jauh. Ia adalah seorang psikiater. Dan sebagai seorang psikiater, tugasnya bukan menilai pasien dari ketakutan orang lain.
Suara gaduh itu semakin jelas terdengar seiring langkah mereka mendekati area observasi khusus.
"Pegang dia!"
"Jangan dekat-dekat!"
Berbagai suara bersahutan memenuhi koridor. Begitu tiba di depan ruang observasi, langkah Luna seketika terhenti. Beberapa petugas keamanan dan perawat tampak berdiri siaga. Di lantai, seorang pasien pria tengah duduk sambil memegangi bagian wajahnya. Seorang perawat berjongkok di sampingnya, berusaha menghentikan perdarahan ringan yang berasal dari hidungnya.
Namun, perhatian Luna langsung tertuju pada sosok lain. Seorang pria bertubuh jangkung berdiri beberapa meter dari sana. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, sementara napasnya terdengar berat. Kemeja yang dikenakannya tampak sedikit kusut akibat keributan yang baru saja terjadi.
Luna kemudian menoleh ke arah pasien yang masih terduduk di lantai. Dadanya terasa sesak. Instingnya sebagai dokter menyuruhnya untuk membantu. Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, dirinya merasa ada sepasang mata yang menatapnya. Luna menoleh dan firasatnya benar. Orion sedang menatapnya. Tatapan itu membuat Luna membeku.
Luna menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Dirinya saat ini sudah berada di ruangannya. Entah mengapa meski keributan di area observasi sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu, detak jantungnya masih belum sepenuhnya kembali normal.
Luna kemudian menyalakan layar komputer. Beberapa detik kemudian, sistem rekam medis Rumah Sakit Jiwa Silver Oak kembali terpampang di hadapannya. Jarinya bergerak membuka data pasien. Data milik Orion Grimm. Matanya terus bergerak membaca setiap baris informasi yang tertera. Riwayat perpindahan rumah sakit, catatan observasi, evaluasi psikiater sebelumnya dan masih banyak lagi.
Seketika sesuatu berputar di kepala Luna. Tatapan saat Orion menoleh dan menatapnya untuk pertama kali. Luna bersandar pada kursinya. Ia sudah bertemu berbagai macam pasien selama bertahun-tahun bekerja. Pasien yang menangis, berteriak, mengamuk, bahkan pasien yang menatapnya dengan kebencian.
Tapi tatapan Orion berbeda. Tatapannya terlalu dalam, seolah-olah ditengah semua keributan tadi, pria itu tidak melihat siapa pun selain dirinya. Tanpa sadar, bulu kuduk Luna meremang. Ia masih mengingat jelas bagaimana Orion perlahan mengangkat kepalanya, lalu menatap lurus ke arahnya.
Bukan tatapan marah dan bukan pula tatapan kosong. Melainkan tatapan yang membuat Luna merasa seolah sedang diamati, diperhatikan, dan mungkin seperti diburu. "Ngga ngga, aku ngga boleh mikir gitu," gumamnya pelan.
Tok tok tok!
Lamunan Luna langsung buyar begitu ada seseorang yang mengetuk pintu. Luna mengembuskan napas pelan lalu mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Masuk," sahutnya sambil sedikit berdeham.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang perawat muncul di baliknya. "Maaf mengganggu, dok. Pasien pertama dokter sudah siap."
Luna mengangguk. "Silahkan masuk."
Perawat itu sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah ke samping. Dan disitulah Luna melihatnya, pasien pertamanya. Pria itu berdiri diambang pintu dengan tubuh tegap. Matanya melihat sekeliling seolah sedang menilai ruangan Luna. Detik berikutnya, pandangannya berhenti pada satu arah. Tatapan seperti tadi, dalam dan seperti memburu.
Luna menelan ludah lalu langsung menyunggingkan senyum terbaiknya pagi ini. "Silahkan duduk."
Orion akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dan duduk dihadapan wanita bergelar Sp.KJ itu. Hening. Luna merasakan tenggorokannya tiba-tiba mengering. Padahal selama bertahun-tahun bekerja sebagai psikiater, ia sudah bertemu dengan berbagai macam pasien. Untuk pertama kalinya, ia justru merasa gugup menghadapi seseorang yang saat ini tengah menatap dirinya.
Luna diam-diam mengamati pria di hadapannya. Rambut hitamnya lumayan panjang dan berantakan. Rahangnya tegas dan ada satu tahi lalat kecil di dekat bibir bawahnya. Tunggu... tahi lalat itu... Luna seperti pernah melihatnya disuatu tempat. Otaknya langsung berputar mencari kepingan memori.
Jantungnya mendadak berdegup cepat begitu menyadari bahwa orang yang kemarin ia tabrak hingga lututnya berdarah juga memiliki tahi lalat di dekat bibir bawahnya. Mungkinkah itu... Orion? Luna buru-buru mengalihkan pandangan ke layar komputer.
"Selamat pagi, Tuan Orion," sapanya berusaha terdengar profesional. "Perkenalkan, saya dokter Rellunae Keller. Mulai hari ini, saya yang akan menangani anda."
Yang ditanya hanya terdiam. Mulutnya tertutup tapi matanya seolah berbicara pada Luna. "Apakah Anda merasa lebih tenang sekarang?" tanyanya lagi.
Orion tetap tidak bersuara sementara batin Luna sudah berisik. Ingin sekali rasanya ia bernada tinggi dihadapan Orion tapi ia urungkan. Seorang psikiater tidak boleh seperti itu. Luna akhirnya melakukan terapi pernapasan agar rasa kesalnya sedikit berkurang.
"Anda tidak perlu khawatir. Disini, rahasia anda aman bersama saya. Jadi... tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur," jelas Luna dengan nada profesional.
"Di berkas tertulis bahwa anda sudah berpindah dari enam rumah sakit berbeda," lanjutnya sambil berpura-pura fokus membaca data di layar. "Boleh saya tau bagaimana perasaan anda selama menjalani perawatan di sana?"
Dan hening. Orion tetap tidak mau membuka mulutnya. Luna tetap memaksakan senyum manisnya sampai pria dihadapannya mau bersuara. Lima menit berlalu dan Luna belum mendapatkan informasi apapun.
"Pengen gue gampar sumpah."
♡♡♡
Nihh buat yang penasaran sama sosok Luna dan Orion
dr. Rellunae Keller Sp.KJ
Orion Grimm