NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5:Sang Tangan Kanan dan Awal Perjalanan Sang Jenius

Tentu, ini draf Bab 5:

Bab 5: Warisan Sang Tangan Kanan dan Awal Perjalanan Sang Jenius

Percakapan di kafe yang tenang itu terasa seperti sebuah terapi bagi Ibu Ratna. Mendengar pengakuan Pak Wijaya, melihat kebenaran di balik kebohongan yang selama ini menyelimuti hidup mereka, memberinya kekuatan baru. Rasa sakit dan kehilangan yang selama ini ia pendam perlahan tergantikan oleh tekad yang membara. Ia kini tahu siapa musuhnya, dan ia tahu bahwa putranya, Theo, adalah kunci untuk mengungkap kebenaran dan memulihkan nama baik Baskara.

Pak Wijaya, melihat perubahan di wajah Ibu Ratna, tersenyum lega. Ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah menyampaikan pesan terakhir dari sahabatnya, dan ia telah menyerahkan tanggung jawab besar ini kepada orang yang tepat.

"Ibu, saya tahu ini adalah beban yang sangat berat," ujar Pak Wijaya, suaranya lembut namun tegas. "Tetapi saya percaya pada Theo. Dan saya percaya pada Ibu. Baskara telah mempersiapkan ini untuk kalian."

Sebelum berpamitan, Pak Wijaya mengeluarkan sebuah kartu ATM dan buku rekening dari dompetnya. Ia menyerahkannya kepada Ibu Ratna. "Ini," katanya. "Ini adalah seluruh sisa aset yang berhasil saya selamatkan dari Rendra. Semuanya sudah saya transfer ke rekening atas nama Theo. Baskara yang memintanya. Pesan terakhirnya adalah agar aku membuatkan rekening ini untuk Theo, dan menyerahkannya saat waktunya tepat."

Ibu Ratna menerima kartu ATM dan buku rekening itu dengan tangan gemetar. Ia melihat nama Theo tertera di sana, bersama dengan jumlah yang terpampang di buku rekening itu membuatnya terkesiap. Jumlahnya jauh melebihi apa yang pernah ia bayangkan, sebuah kekayaan yang luar biasa, terutama mengingat kondisi mereka sebelumnya. Ini adalah bukti nyata dari kecerdasan dan kerja keras Baskara, sebuah warisan yang tak ternilai harganya.

"Ini... ini terlalu banyak, Pak," ucap Ibu Ratna, suaranya tercekat. "Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih."

"Tidak perlu berterima kasih, Bu," jawab Pak Wijaya.

...****************...

... "Ini adalah amanah dari Baskara," Pak Wijaya melanjutkan, "dan juga harapan saya. Gunakan ini dengan bijak. Jangan biarkan kekayaan ini membutakan kalian, tetapi jadikanlah ini sebagai alat untuk mencapai keadilan dan memulihkan nama baik Baskara. Theo memiliki kecerdasan yang luar biasa, dan dengan bekal ini, ia bisa belajar dan berkembang lebih jauh lagi. Saya yakin, ia akan melampaui ayahnya."

Ibu Ratna menatap kartu ATM dan buku rekening di tangannya. Seratus juta rupiah. Jumlah yang sangat besar, terutama bagi mereka yang selama ini hidup dalam kekurangan. Ia tahu, ini bukan sekadar uang. Ini adalah harapan, ini adalah kesempatan, dan ini adalah tanggung jawab.

"Dan ini belum semuanya, Bu," tambah Pak Wijaya, seolah membaca pikiran Ibu Ratna. "Baskara adalah orang yang sangat cerdas dan berhati-hati. Ia telah mengantisipasi kemungkinan terburuk. Ada aset-aset lain yang ia sembunyikan, yang hanya bisa diakses dengan petunjuk yang ada di buku catatan itu. Rendra tidak akan pernah menemukannya, karena ia tidak memahami cara berpikir Baskara."

Mata Theo, yang sedari tadi mendengarkan dengan penuh perhatian dari balik meja, berbinar mendengar perkataan Pak Wijaya. Ia merasakan ada koneksi yang kuat dengan ayahnya melalui buku dan cerita ini. Ia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang besar.

"Saya harus pergi sekarang, Bu," kata Pak Wijaya, berdiri dari kursinya. "Rendra dan anak buahnya mungkin masih mencariku. Saya akan terus memantau dari jauh. Jika Ibu atau Theo membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk mencari cara menghubungi saya. Saya akan selalu ada."

Pak Wijaya memberikan senyum terakhir kepada Ibu Ratna dan Theo, lalu bergegas keluar dari kafe, menghilang di antara keramaian jalan.

...****************...

... Ibu Ratna memegang erat kartu ATM dan buku rekening itu, sebuah beban sekaligus anugerah yang tak terduga. Ia tahu, hidup mereka akan berubah drastis. Namun, ia juga tahu, ia harus berhati-hati. Rendra masih berkeliaran di luar sana, dan buku catatan ayahnya serta aset yang baru saja ia terima adalah target utama pria itu.

Setelah berpamitan dengan Pak Wijaya, di benak Ibu Ratna sudah berputar rencana baru. Pasar tradisional yang ramai tadi memberinya ide. Ia membutuhkan tempat yang lebih aman, tempat yang lebih tersembunyi, di mana ia bisa merencanakan langkah selanjutnya tanpa terdeteksi.

Sesampainya di rumah, Ibu Ratna segera meminta Theo untuk fokus mempelajari buku peninggalan ayahnya. Ia memberinya semangat, mengingatkannya tentang pesan-pesan Baskara, dan meyakinkannya bahwa ia sedang melakukan hal yang sangat penting. Theo, dengan antusiasme yang tak terbendung, segera kembali tenggelam dalam dunia strategi dan prediksi ayahnya.

Sementara Theo sibuk, Ibu Ratna mengambil buku rekening dan kartu ATM itu. Ia menyimpannya di tempat yang paling aman yang bisa ia pikirkan, tersembunyi di balik tumpukan barang-barang lama di lemari. Ia memutuskan untuk merahasiakan keberadaan rekening dan ATM ini dari Theo untuk sementara waktu. Bukan karena ia tidak percaya pada putranya, tetapi karena ia ingin Theo fokus sepenuhnya pada pembelajaran dari buku ayahnya. Ia tidak ingin Theo terbebani oleh tanggung jawab finansial yang besar di usianya yang masih muda. Ia ingin Theo tumbuh menjadi seorang jenius sejati, yang didorong oleh kecerdasan dan keingintahuan, bukan oleh kekayaan.

Keesokan harinya, dengan Theo yang asyik belajar di rumah, Ibu Ratna pergi ke pusat kota. Ia menyusuri jalan-jalan yang ramai, mencari tempat yang cocok. Ia tidak mencari kemewahan, tetapi kesederhanaan dan keamanan. Ia akhirnya menemukan sebuah apartemen kecil yang..

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!