NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

(Flashback H-49 sebelumnya)

Pagi menjelang siang memenuhi kamarku dengan cahaya yang lembut. Tirai tipis di jendela membiarkan sinar matahari merembes masuk, menumpahkan warna keemasan ke lantai kayu dan meja rias di sudut ruangan. Udara terasa ringan, hampir seperti sebuah awal yang baru.

Di atas meja rias terdapat beberapa benda yang sejak pagi tadi menemaniku bersiap, antara lain kotak rias yang terbuka, seikat bunga kecil yang Ibu letakkan pagi-pagi tadi, dan gaun kelulusan yang sudah kugantung rapi di dekat lemari.

Saat ini, aku tengah berdiri di depan cermin. Untuk beberapa saat, aku hanya menatap bayanganku sendiri. Rambutku sudah tertata, riasan tipis membingkai wajahku, dan gaun sederhana berwarna pastel yang lembut jatuh rapi di tubuhku.

Hari ini adalah hari kelulusanku. Empat tahun yang terasa panjang akhirnya sampai pada titik ini. Empat tahun tugas yang tak terhitung jumlahnya, malam-malam yang habis oleh buku, dan segala kecemasan kecil yang menyertai perjalanan menjadi seseorang yang lebih dewasa.

Seharusnya aku hanya gugup karena wisuda. Aku merapikan sehelai rambut yang jatuh di dekat pelipis. Namun jantungku tetap berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Rasanya sungguh aneh.

Aku pun menarik napas perlahan. Entah mengapa rasa gugup ini terasa berbeda. Bukan hanya tentang panggung, m pidato, atau tentang orang-orang yang akan menatapku saat namaku dipanggil nanti. Namun, ada sesuatu yang lain, yaitu kehadiran seseorang.

Aku menatap diriku sendiri di cermin lebih lama. Apakah karena hari ini aku akan bertemu Mason Roux? Nama itu melintas di kepalaku seperti bisikan yang tidak mau pergi.

Aku menghela napas kecil lalu tersenyum tipis pada bayanganku. 'Tenanglah, Hazel. Ini hanya pertemuan pertama.' batinku, berusaha menenangkan diri sendiri.

Hingga akhirnya, suara ketukan lembut di pintu membuatku menoleh. “Masuk saja,” kataku.

Pintu kamarku terbuka perlahan dan kulihat sosok Ibu berdiri di baliknya, lalu ia masuk ke dalam kamar. Ia berhenti beberapa langkah dari pintu, lalu menatapku seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang sangat berharga.

Ekspresinya berubah hangat dalam sekejap. “Lihatlah dirimu, Sayang.”

Aku tersenyum dan menoleh sepenuhnya. “Ibu.”

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depanku. Tangannya yang hangat menyentuh pipiku dengan lembut. “Putriku sudah benar-benar dewasa.”

Aku tidak tahu mengapa kalimat itu membuat dadaku terasa sedikit sesak. Hingga, aku pun tersenyum kecil.

Ibu menatapku dengan mata yang penuh kebanggaan. “Cantik sekali.”

Aku menggeleng pelan, sedikit malu. “Ibu selalu mengatakan itu.”

Ibu tertawa pelan, suara tawanya lembut seperti biasanya. “Karena memang begitu, Sayang.”

Kami pun berdiri di depan cermin bersama. Untuk beberapa saat kami hanya menatap bayangan kami berdua, seolah mencoba mengabadikan momen kecil ini di dalam ingatan.

“Aku masih sulit percaya,” kata Ibu kemudian, “anak kecil yang dulu menangis hanya karena jarum jahit sekarang lulus sebagai mahasiswa terbaik.”

Aku tertawa kecil. “Aku masih takut jarum, Ibu.”

Ia menggeleng sambil tersenyum. “Aku tahu.”

Pintu kamar kembali terbuka sebelum percakapan kami sempat berlanjut. Lalu, Ayah masuk dengan langkah santai. Ia berhenti begitu melihat kami berdua, lalu tersenyum. “Apakah dua wanita paling cantik di rumah ini sudah siap?”

Aku tertawa pelan. “Sudah.”

Ayah mendekat beberapa langkah dan menatapku dari atas hingga bawah dengan pandangan yang sulit kujelaskan. Ada perasaan bangga, hangat, dan sedikit terharu.

“Kau membuat Ayah bangga,” katanya.

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku terasa sedikit kering.

“Terima kasih, Ayah.”

Ia lalu menepuk bahuku dengan ringan.

“Kalau kita tidak berangkat sekarang, kita akan terlambat di acara kelulusanmu sendiri.”

Ibu sontak tertawa kecil. Dan beberapa menit kemudian kami sudah berjalan keluar rumah bersama. Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk kami bisa sampai di kampus.

Aula universitas hari ini dipenuhi oleh suara dan warna. Keluarga, mahasiswa, dosen, semuanya memenuhi ruangan besar itu. Suasana terasa meriah sekaligus formal. Dan toga hitam terlihat di mana-mana seperti lautan kecil yang bergerak perlahan.

Aku berjalan bersama Ayah dan Ibu sampai ke pintu masuk. Setelah itu kami harus berpisah. Mereka menuju podium di belakang, sementara aku berjalan ke barisan kursi mahasiswa yang disediakan di depan panggung.

Aku segera menemukan tiga wajah yang sangat kukenal. Linda, Amber, dan Brie. Begitu aku duduk di samping mereka, Brie langsung mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan ekspresi dramatis. “Di mana dia?”

Aku mengerutkan kening. “Siapa?”

Amber memutar mata seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang sangat bodoh. “Mason Roux tentu saja.”

Linda bahkan sudah menoleh ke belakang, mencoba memindai seluruh ruangan. “Aku belum melihat pria setampan di foto semalam.”

Aku pun ikut menoleh ke arah podium di belakang kami. Mataku menyusuri deretan wajah yang duduk di sana. Namun tidak ada sosok yang kucari.

'Mungkin dia tidak datang.' , batinku.

Brie kembali berbisik. “Hazel, kau yakin dia akan datang?”

Aku mengangguk pelan. “Ayah bilang dia akan datang.”

Amber menyilangkan tangan. “Kalau dia tidak datang, aku akan langsung memberinya nilai minus sepuluh.”

Aku tertawa kecil, tapi kegelisahan kecil mulai merambat di dalam dadaku. Hingga akhirnya, acara pun dimulai. Rektor naik ke atas panggung dan memberikan sambutan panjang tentang perjalanan akademik, masa depan, dan segala hal yang biasanya terdengar sangat resmi.

Aku berusaha mendengarkan, tetapi pikiranku sesekali melayang. Lalu suara pembawa acara menggema melalui pengeras suara. “Perwakilan mahasiswa terbaik tahun ini, Hazel Frost.”

Brie langsung menoleh padaku. “Itu kau!”

Aku menarik napas panjang dan berdiri. Langkahku terasa sedikit ringan saat berjalan menuju podium. Lampu panggung terasa terang, dan ratusan pasang mata tertuju padaku. Namun anehnya, ketenangan perlahan datang.

Aku menatap ke arah para tamu dan mulai berbicara. “Empat tahun lalu kami datang ke tempat ini membawa mimpi yang masih mentah…”

Suara tepuk tangan kecil terdengar di antara kalimatku. “Dan hari ini kami berdiri di sini dengan mimpi yang sedikit lebih nyata.”

Pidatoku tidak panjang, sebab aku tidak pernah menyukai kata-kata yang terlalu berlebihan. Namun ketika aku selesai, suara tepuk tangan langsung mengisi aula itu dengan hangat.

Setelah itu acara berlanjut dengan penyerahan ijazah. Satu per satu nama mahasiswa dipanggil. Dan akhirnya...

“Hazel Frost.”

Aku naik ke panggung sekali lagi. Ijazah itu diberikan kepadaku. Setelah itu, kami berfoto singkat, lalu aku turun dengan senyum yang tidak bisa kusembunyikan.

Dan kini, acara pun selesai. Aula yang tadi tampak tertib kini berubah menjadi lautan orang yang bergerak ke segala arah. Aku langsung mencari Ayah dan Ibu. Dan ketika menemukannya, aku berjalan cepat ke arah mereka.

Ibu memelukku erat begitu aku sampai. “Aku sangat bangga padamu, Sayang.”

Lalu, Ayah menepuk bahuku. “Kau luar biasa, Hazel.”

Aku tersenyum, merasa hangat sekaligus ringan. Namun belum sempat kami berbicara lebih lama, dua orang mendekat dari sisi lain.

Ayah langsung tersenyum lebar. “Rowan!”

Pria yang dipanggilnya itu tertawa hangat. “Sudah lama sekali.”, balasnya.

Mereka berjabat tangan seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali. Di sampingnya berdiri seorang wanita elegan dengan senyum lembut. “Jadi ini Hazel?” katanya sambil menatapku.

Aku sontak merasa sedikit gugup. Dan kulihat Rowan tersenyum hangat kepadaku. “Kau lebih cantik daripada yang kami bayangkan.”

Wanita itu, yang baru saja kuketahui bernama Sarah Roux, langsung memelukku dengan hangat. “Selamat atas kelulusanmu, Hazel.”

“Terima kasih.”, balasku, seraya tersenyum.

Kami berbincang sebentar. Namun tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung. Suara mesin yang halus membuat beberapa orang menoleh. Begitu pun denganku, yang juga ikut menoleh.

Pintu mobil itu tampak terbuka, dan seorang pria keluar dari dalamnya. Pria itu tampak tinggi, tubuhnya tegap, dengan setelan jas rapi yang membingkai bahunya dengan sempurna, juga kacamata hitam yang menutupi matanya. Dan entah mengapa, aku langsung tahu, bahwa itu pasti dia.

Jantungku sontak berdegup lebih keras. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tenang, hampir terlalu tenang. Dan ketika ia melepas kacamata hitamnya, dunia di sekitarku seolah melambat. Ternyata, wajahnya lebih menawan daripada foto mana pun yang pernah kulihat.

Ia berhenti di depan kami. “Tuan Frost. Nyonya Frost.”, sapanya. Suaranya terdengar rendah dan tenang.

Ayah pun langsung tersenyum menyambutnya. “Mason, akhirnya kita bertemu.”

Rowan lalu berkata dengan nada santai. “Mason, ini Hazel.”

Aku pun langsung menatapnya. Dan untuk sesaat dunia benar-benar terasa berhenti. Mason menatapku balik, dengan ekspresinya yang tampak tidak dingin, namun juga tidak hangat.

“Selamat atas kelulusanmu.”, katanya.

Dan aku hampir saja lupa menjawab, karena terlalu terpesona menatapnya. “Terima kasih.” , balasku, akhirnya.

Setelah beberapa percakapan singkat, Rowan akhirnya berkata, “Kami sudah menyiapkan makan siang untuk merayakan ini.”

Ayah tampak langsung setuju, dengan anggukan kepala yang diberikannya.

"Maaf, bolehkah saya berpamitan dengan teman-teman saya dulu?", tanyaku, sedikit ragu.

Rowan pun langsung menatap Mason, dan tersenyum hangat. “Tentu saja, Hazel. Kalau begitu, kami akan berangkat dulu. Dan, Mason! Kau tunggu Hazel di sini. Jadi, kalian bisa berangkat bersama nanti.”

“Baik.”, jawab Mason singkat.

"Kalau begitu, aku permisi sebentar.", kataku pada Mason, begitu kedua orangtua kamis sudah menghilang dari pandangan.

"Tentu.", balasnya, dengan nada datar.

Aku pun langsung menghamburkan langkahku menuju ketiga sahabatku yang berdiri tidak jauh dari tempat kami. Begitu aku sampai, Brie hampir menjerit. “Ya Tuhan!”

Amber terus menatap ke arah Mason dari kejauhan. “Dia lebih tampan dari foto.”

Sementara Linda sontak tertawa. “Kali ini, aku setuju denganmu, Amber.”

Brie lalu mendekat padaku dan berbisik, “Hazel, kau akan menikah dengan pria itu.”

Pipiku pun mendadak terasa panas, mengingat fakta bahwa pria yang sedang menantiku di sana kelak akan menjadi suamiku.

Tidak lama setelah itu, kami mengambil beberapa foto bersama dan tertawa seperti biasanya. Namun setelah beberapa saat aku berkata, “Aku harus pergi.”

“Tentu saja,” kata Brie sambil menyeringai. “Calon suamimu sudah menunggu sedari tadi.”

Amber pun tertawa. “Jangan lupa ceritakan semuanya nanti.”

Sementara itu, Linda langsung memelukku. “Semoga makan siangnya menyenangkan.”

Setelah itu, aku akhirnya kembali berjalan ke arah Mason. Ia masih berdiri di dekat mobil, seolah tidak terganggu oleh tatapan orang-orang di sekitarnya.

Aku berhenti di depannya. “Kita bisa berangkat sekarang.”

Ia mengangguk. “Baik.”

Sebelum masuk ke mobil hitamnya, aku menarik napas kecil. Aku mencoba menenangkan jantungku yang terus berdetak cepat sejak tadi. Namun perasaan itu tidak kunjung hilang.

Aku baru saja bertemu Mason Roux. Dan entah mengapa, aku sudah jatuh hati padanya. Mobil perlahan meninggalkan halaman universitas. Dan tanpa aku sadari, hidupku baru saja berubah.

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!