NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Retakan Pertama di Topeng

Pagi di SMA Wijaya terasa seperti biasa.

Terlalu biasa.

Langit cerah, murid-murid tertawa, dan suara sepatu beradu di koridor seperti ritme yang sudah dihafal sekolah itu sejak lama.

Namun bagi Anya Clarissa, tidak ada yang benar-benar “biasa” lagi.

Sejak kemarin, Arsen mulai berubah.

Bukan berubah secara mencolok.

Justru itu masalahnya.

Perubahan kecil lebih berbahaya daripada perubahan besar.

Anya berjalan pelan menuju kelas, buku sosiologi dipeluk seperti biasa. Kacamata bulatnya kembali terpasang. Kepalanya sedikit tertunduk.

Topengnya sempurna.

Tapi matanya tidak pernah benar-benar tenang.

Di ujung koridor, Arsen Rafardhan berdiri.

Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Hanya menunggu.

Beberapa murid yang lewat otomatis menurunkan suara, bahkan tanpa tahu alasannya. Kehadiran Arsen seperti tekanan udara yang tidak terlihat.

Dan saat Anya muncul—

tatapan itu langsung terkunci.

Bukan sekadar melihat.

Tapi mengamati.

Seperti sedang menghitung sesuatu.

Anya berhenti sepersekian detik.

Lalu melanjutkan langkah.

Namun Arsen bergerak.

“Anya.”

Langkah Anya berhenti lagi.

Kali ini lebih jelas.

Ia menoleh perlahan.

“Iya, Kak?”

Arsen mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Jarak terlalu dekat untuk sekadar percakapan biasa.

“Aku butuh bantuan untuk kegiatan OSIS,” kata Arsen datar.

Beberapa murid di sekitar langsung berbisik pelan.

Anya berkedip.

“Maaf?”

Arsen tidak mengulang.

“Ruang arsip. Sekarang.”

Dan tanpa menunggu jawaban, ia berbalik.

Ruang arsip OSIS jarang dipakai.

Bahkan lebih sering terkunci.

Debu tipis terlihat di beberapa rak, dan cahaya dari jendela kecil membuat ruangan itu terasa lebih sempit dari sebenarnya.

Anya masuk terakhir.

Pintu tertutup.

Klik.

Sunyi.

Arsen berdiri di dekat meja, tangan di saku.

“Bantu aku mencari file kegiatan lama OSIS,” katanya.

Anya mengangguk pelan.

“Tentu, Kak.”

Ia mulai bergerak di antara rak.

Namun yang tidak ia sadari—

kamera kecil di sudut ruangan sudah menyala.

Dan itu bukan kamera biasa.

Di sisi lain kota.

Gedung Rafardhan Group.

Baskoro menatap layar monitor.

“Semua feed aktif, Tuan,” katanya.

Arsen duduk di kursinya, mata tertuju pada layar utama.

Di sana—

Anya Clarissa.

Sendirian di ruang arsip.

“Reaksi?” tanya Arsen pelan.

“Normal. Tidak ada tanda panik,” jawab Baskoro.

Arsen mengangguk kecil.

“Terlalu normal.”

Di ruang arsip.

Anya berhenti sejenak di depan rak ketiga.

Ada sesuatu yang tidak nyaman.

Bukan ruangan.

Bukan debu.

Tapi—

udara.

Seperti ada sesuatu yang mengawasi.

Ia melirik sekilas ke sudut ruangan.

Lalu kembali ke rak.

Tulus di komunikator kecil di telinganya berbisik pelan:

“Queen, kita sedang dipantau.”

Anya tidak menjawab langsung.

Tangannya tetap bergerak di antara file.

“Dari mana?” bisiknya akhirnya.

“Tidak jelas. Sinyal lokal. Kemungkinan internal sekolah.”

Anya berhenti.

Internal.

Artinya seseorang di dekat sini.

Dan hanya satu nama yang masuk akal.

Arsen.

Di luar ruang arsip.

Arsen berdiri di depan pintu, menatap layar kecil di tangannya.

“Perubahan detak jantung?” tanya Arsen.

“Stabil,” jawab Baskoro.

Arsen menyipit.

“Tidak mungkin.”

Ia melangkah.

Masuk.

Saat pintu terbuka, Anya sedang berdiri di depan rak.

Tangannya memegang satu map.

Arsen menatapnya.

Sekilas saja.

Tapi cukup lama untuk membuat ruangan itu terasa lebih dingin.

“Sudah dapat?” tanya Arsen.

Anya mengangguk kecil.

“Ya, Kak.”

Arsen berjalan mendekat.

Satu langkah.

Lalu berhenti tepat di belakangnya.

Terlalu dekat.

Anya tidak bergerak.

Namun pikirannya mulai menghitung.

Jarak.

Sudut pandang.

Kemungkinan kamera.

Dan kemungkinan jebakan.

“Anya,” suara Arsen pelan.

“Iya?”

Diam.

Arsen tidak langsung menjawab.

Sebaliknya—

ia melihat map di tangan Anya.

“Boleh aku lihat?”

Anya menyerahkan tanpa ragu.

Terlalu cepat.

Terlalu halus.

Arsen membuka map itu.

Kosong.

Hanya lembaran file lama yang tidak penting.

Tidak ada yang mencurigakan.

Namun matanya tidak fokus ke isi map.

Tapi ke tangan Anya.

Ada sedikit noda tinta di ujung jarinya.

Tinta jenis industri.

Bukan tinta sekolah.

Arsen menatapnya lebih lama.

“Kenapa tanganmu kotor?” tanya Arsen akhirnya.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Anya mengangkat tangan sedikit.

“Oh… tadi habis pegang file lama, Kak.”

Jawaban cepat.

Terlalu cepat.

Arsen menutup map.

Lalu tiba-tiba—

kamera di sudut ruangan berbunyi pelan.

klik.

Anya dan Arsen sama-sama mendengar itu.

Namun hanya Anya yang langsung menyadari artinya.

Mereka sedang direkam.

Arsen sengaja.

Di layar monitor gedung Rafardhan Group.

Baskoro menatap hasil feed.

“Dia sadar kamera,” katanya.

Arsen tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Tujuan Anda apa sebenarnya, Tuan?” tanya Baskoro hati-hati.

Arsen tidak langsung menjawab.

Matanya masih menatap layar Anya.

“Kalau dia benar hanya gadis biasa,” katanya pelan, “dia tidak akan bereaksi terhadap hal sekecil ini.”

Ia berdiri.

“Kalau dia bukan…”

Ia berhenti.

“…maka dia akan mulai retak.”

Kembali ke ruang arsip.

Anya melangkah mundur sedikit.

Tangannya perlahan merapikan posisi kacamata.

Tanda kecil yang hanya Tulus yang bisa pahami:

mode siaga aktif.

Arsen masih berdiri di depannya.

Namun sekarang—

tatapannya tidak lagi sekadar curiga.

Tapi menekan.

“Mungkin aku terlalu banyak berpikir,” kata Arsen akhirnya.

Anya mengangguk kecil.

“Iya, Kak.”

Tapi di dalam dirinya—

alarm sudah menyala.

Saat Anya keluar dari ruang arsip, Arsen masih berdiri di dalam.

Sendirian.

Ia menatap kamera di sudut ruangan.

“Dia hampir bereaksi,” gumamnya pelan.

Lalu tersenyum tipis.

“Sedikit lagi.”

Di luar, langkah Anya menjauh.

Dan untuk pertama kalinya—

topeng itu tidak terasa seaman sebelumnya.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!