Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Ruang pemeriksaan VIP itu mendadak terasa begitu sempit. Udara di dalamnya seolah berhenti mengalir, menyisakan keheningan yang mencekik di antara Dr. Emmeline Valerio dan pria di depannya.
Detak jantung Emmeline berpacu liar, berhantaman dengan dinding dadanya bagai genderang perang.
Pria misterius yang selama ini hanya hidup dalam kilasan memori malam gelap di paviliun, pria yang identitasnya sengaja dia kubur dalam-dalam demi menjalani pernikahan formalitas yang hambar, kini nyata.
Bukan sebagai hantu masa lalu, melainkan sebagai seorang pasien nyata yang berada di bawah otoritas medisnya.
Namun, darah Valerio yang mengalir di dalam tubuhnya menolak untuk membiarkan dirinya terlihat lemah, apalagi di depan pria yang baru saja menjungkirbalikkan poros dunianya dalam satu kalimat singkat.
Emmeline memaksakan sebuah tawa hambar, sebuah tawa meremehkan yang biasa dia gunakan saat meruntuhkan nyali lawan-lawannya di masa universitas.
Dia menegakkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Kyle dengan pandangan mata yang sengaja dibuat sedingin es.
"Tuan Stone," ucap Emmeline, suaranya terdengar begitu angkuh, datar, dan sarat akan penolakan.
"Saya rasa Anda salah orang. Nama saya memang Emmeline, tapi saya sama sekali tidak mengenal siapa itu 'K'. Dan jika ini adalah salah satu trik murahan Anda untuk menggoda dokter yang sedang bertugas, saya sarankan Anda mencari rumah sakit lain."
Kyle tidak bergerak setapak pun. Pria itu justru melonggarkan postur tubuhnya, bersandar pada tepi meja periksa baja dengan santai.
Sepasang matanya yang sewarna elang menatap tajam, menelanjangi setiap ekspresi defensif yang sedang Emmeline bangun sebagai benteng pertahanan.
Dia tahu wanita di depannya ini sedang berbohong; dia bisa melihat bagaimana urat nadi di leher jenjang Emmeline berdenyut kencang, sebuah respons fisiologis yang tidak bisa dimanipulasi oleh keangkuhan verbal.
Emmeline yang merasa terintimidasi oleh tatapan itu segera mengalihkan pandangannya. Dia berjalan cepat menuju meja kerjanya, meraih papan klip berisi berkas rekam medis milik Kyle, dan berpura-pura membacanya dengan sangat serius.
Jarinya membolak-balik kertas dengan kasar, mencoba mengalihkan gemuruh di dalam dadanya.
"Mari kita kembali pada urusan medis, Tuan Stone," kata Emmeline, mencoba menstabilkan nada suaranya agar terdengar profesional. "Di sini tertulis Anda memiliki riwayat cedera akibat... latihan fisik berat. Di bagian mana Anda merasa sakit?"
Kyle membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, sebelum akhirnya dia bersuara, "Apa malam itu tidak pernah ada kehidupan lain yang tercipta, Emme?"
Deg.
Pertanyaan itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya seperti hantaman bom atom di dalam kepala Emmeline.
Jemarinya yang memegang kertas medis mendadak kaku. Pertanyaan tentang 'kehidupan lain'—sebuah kode retoris tentang kehamilan yang sempat pemuda itu sebutkan enam tahun lalu sebelum mereka berpisah.
Emmeline menolak untuk menatap Kyle. Dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan, gerakan yang sangat minimalis namun tegas, seolah sedang membuang jauh-jauh sisa memori kelam yang mencoba merayap naik.
Dia menolak mengakui bahwa dia sempat ketakutan setengah mati selama berminggu-minggu setelah malam itu, mengira rahimnya akan mengandung benih dari seorang asing.
Tetap profesional, Emmeline. Kau adalah Dr. Valerio. Pria ini hanya seorang pasien bernama Kingdom Kyle Stone, batinnya, mencoba merapalkan mantra penenang di dalam kepalanya yang mulai berdenyut.
"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan," dusta Emmeline, matanya tetap terpaku pada tulisan di berkas, meskipun huruf-huruf di sana sudah kabur dan tidak bisa lagi dicerna oleh otaknya.
"Keluhan Anda, Tuan Stone. Fokus pada pertanyaan saya. Jika Anda tidak kooperatif, saya akan meminta dokter lain untuk menggantikan saya."
Kyle melihat bagaimana Emmeline berusaha keras mempertahankan topeng angkuhnya.
Bukannya marah, pria itu justru menyunggingkan senyum samar yang sangat tipis. Dia bisa merasakan keputusasaan di balik ketegaran wanita itu.
"Enam tahun ini aku berada di luar negeri," ujar Kyle tiba-tiba, mengganti topik pembicaraan namun tetap membiarkan suaranya yang berat dan bariton menguasai atmosfer ruangan.
Emmeline mendengus pelan, matanya masih berpura-pura membaca berkas tanpa menoleh sedikit pun.
"Kuliah?" tanyanya dengan nada meremehkan yang dipaksakan. "Mengambil gelar master atau doktor untuk justifikasi tubuh kekar mu itu?"
Kyle tidak menjawabnya. Sebuah senyuman miring yang sangat tipis, samar, dan sarat akan makna hiburan terukir di wajah maskulinnya yang tegas.
Kyle mengerti betul apa yang sedang dilakukan Emmeline; wanita itu sedang membangun benteng pertahanan, sebuah topeng angkuh untuk melindungi dirinya dari kenyataan yang terlalu tiba-tiba.
Bagi seorang mantan agen taktis yang terlatih membaca-ekspresi, kepura-puraan Emmeline justru terlihat begitu menggemaskan.
"Tuan Stone," ucap Emmeline, suaranya kini terdengar sangat datar, formal, dan profesional, sepenuhnya memangkas jarak intim yang sempat tercipta beberapa detik lalu. "Di dalam berkas Anda, tidak ada riwayat rujukan yang jelas dari dokter umum. Keluhan utama Anda tertulis... trauma fisik akibat latihan berat. Bisa Anda jelaskan di bagian mana Anda merasa sakit?"
Kyle tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah perlahan menuju ranjang periksa baja, lalu mendudukkan tubuh masifnya di tepi ranjang.
Gerakannya begitu tenang, santai, namun memancarkan otoritas yang kuat. "Di bagian dada, Dokter. Terkadang rasanya sesak, terutama saat memori lama tiba-tiba kembali muncul," jawab Kyle, nadanya terdengar biasa namun setiap katanya sengaja diarahkan untuk memancing reaksi Emmeline.
Emmeline mengabaikan sindiran halus itu. Dia meletakkan papan klipnya di atas meja, lalu berjalan mendekati ranjang periksa dengan memegang stetoskop di tangan kanannya. "Mari kita mulai pemeriksaan fisiknya. Silakan lepaskan pakaian atas Anda, Tuan Stone."
Kyle menatap lurus ke dalam manik mata Emmeline saat tangan besarnya bergerak naik, meraih ujung kaus oblong hitam ketat yang dikenakannya, lalu menariknya ke atas dalam satu gerakan mudah.
Pakaian itu terlepas, menampilkan bagian atas tubuh Kyle yang telanjang bulat di bawah siraman lampu neon yang terang.
Saat itulah, profesionalitas Emmeline sebagai seorang dokter bedah kembali diuji secara ekstrem. Namun, kali ini bukan karena ketampanan atau bentuk dada bidang Kyle yang atletis sempurna, melainkan karena apa yang terukir di atas kulit kecokelatan pria itu.
Emmeline menahan napasnya sesaat, matanya melebar secara minimalis saat melangkah mendekat.
Apa ini? Kenapa banyak sekali bekas luka? batin Emmeline lirih, dadanya berdenyut oleh rasa terkejut yang mendalam.
Di atas permukaan dada bidang, perut yang berbentuk kotak-kotak sempurna, hingga ke lengan kekar Kyle, bertaburan berbagai macam bekas luka yang mengerikan.
Ada bekas luka bakar yang meluas secara samar di bahu kirinya, bekas jahitan kasar yang memanjang di rusuk kanan seolah pernah robek oleh benda tajam, dan beberapa bekas luka bulat kecil yang sangat Emmeline kenali bentuknya dari buku teks kedokteran forensik—bekas luka tembakan peluru yang telah mengering dan menyatu dengan jaringan otot.
Tubuh pria ini tidak seperti tubuh pengusaha atau pria sosialita kelas atas yang biasa Emmeline temui di pesta-pesta.
Ini adalah tubuh seorang Prajurit atau mungkin Penjahat, seorang pria yang telah melewati ratusan pertempuran hidup dan mati di tempat yang paling berbahaya di belahan bumi ini.
Apa pekerjaannya yang sebenarnya? Mengapa dia memiliki tubuh yang hancur namun tetap berdiri sekokoh ini? batin Emmeline kembali bertanya-tanya, rasa penasaran yang besar sebagai dokter dan sebagai wanita mulai mengikis dinding pengabaiannya.
Kyle menahan napasnya secara refleks saat jemari kecil Emmeline yang memakai sarung tangan medis lateks tipis mulai menyentuh permukaan kulit dadanya.
Sentuhan itu terasa begitu hangat, lembut, dan sangat kontras dengan permukaan kulit Kyle yang kasar. Ketika ujung stetoskop yang dingin menempel di dadanya, Kyle bisa merasakan bagaimana detak jantungnya sendiri mendadak berpacu lebih cepat, berhantaman dengan dinding dadanya bukan karena penyakit, melainkan karena kedekatan intim yang telah dia dambakan selama enam tahun penuh.
Emmeline berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus pada suara detak jantung di dalam stetoskopnya.
Dia menggeser instrumen medis itu ke beberapa titik di dada Kyle, mendengarkan dengan saksama ritme paru-paru dan jantung pria itu. Namun, aroma maskulin bercampur wangi sabun yang maskulin yang menguar dari tubuh Kyle terus-menerus menyusup ke dalam indra penciumannya, mengacaukan konsentrasi otaknya.
Setiap kali jari Emmeline tidak sengaja bergesekan dengan salah satu bekas luka bakar atau luka tembak di dada Kyle, dia bisa merasakan otot-otot perut pria itu mengeras, memberikan respons fisiologis atas kehadirannya.
Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, hanya diiringi oleh suara napas Kyle yang berat dan teratur.
Emmeline menarik stetoskopnya kembali, berniat untuk melangkah mundur dan mencatat hasil pemeriksaan fisik yang sebenarnya sangat normal tersebut.
Dia ingin segera mengakhiri interaksi berbahaya ini dan meminta dokter residen lain untuk mengambil alih tugasnya.
Namun, sebelum Emmeline sempat mengambil satu langkah mundur, sebuah gerakan yang sangat cepat dan tak terduga terjadi.
Tangan besar Kyle yang hangat dan dipenuhi kapalan tipis bergerak maju, mencengkeram
lembut namun sangat kokoh pergelangan tangan kanan Emmeline yang sedang memegang stetoskop.
Cencangan itu tidak menyakitkan, namun memiliki kekuatan mutlak yang mengunci seluruh pergerakan Emmeline, menahan wanita itu untuk tetap berdiri sangat dekat di antara kedua paha masifnya.
"Lepaskan saya, Tuan Stone," desis Emmeline, matanya langsung terangkat, menatap tajam ke arah Kyle dengan kilatan amarah yang dipaksakan untuk menutupi rasa paniknya.
"Sesi pemeriksaan fisik sudah selesai. Tindakan Anda ini sudah melanggar batas kenyamanan dokter yang bertugas!"
Kyle tidak melepaskan genggamannya. Pria itu justru sedikit menundukkan kepalanya, mengunci manik mata Emmeline dengan sepasang mata elangnya yang kini tidak lagi memancarkan senyuman main-main, melainkan sebuah binar intensitas murni yang begitu pekat dan menghanyutkan.
"Aku merindukanmu, Emmeline," ucap Kyle, suaranya yang berat, bariton, dan serak bergetar rendah langsung di depan wajah Emmeline.
Kata-kata itu meluncur dengan begitu tulus, penuh dengan beban rindu yang teramat sangat berat yang telah dia pendam sendirian selama enam tahun di balik kegelapan medan perang hitam di luar negeri.
Sentuhan tangannya di pergelangan tangan Emmeline seolah menyalurkan sengatan listrik panas yang seketika membakar seluruh kebohongan, topeng profesional, dan pengabaian yang sejak tadi berusaha Emmeline bangun dengan susah payah.
Benteng pertahanan Dr. Valerio runtuh tak bersisa hanya dalam satu kalimat jujur dari pria yang memegang inisial K.K. tersebut.
"Aku kemari untukmu, Emmeline," bisik Kyle, sepasang mata elangnya mengunci manik mata Emmeline tanpa celah. Nada suaranya tidak lagi menyiratkan misteri, melainkan sebuah kepastian yang mutlak. "Aku pulang ke kota ini hanya untuk menemuimu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Emmeline. Kata-kata Kyle bergaung di kepalanya, meruntuhkan sebagian besar benteng pertahanan yang sudah dia bangun sejak pagi tadi.
Dia kembali untukku? Setelah enam tahun? Pria ini menguntitku?
Rasa terkejut itu segera digantikan oleh kilasan wajah Edward Snowden dan pesan-pesan dari Niyna Boo yang dia baca semalam.
Rasa sakit hati akibat pengkhianatan suaminya mendadak bercampur aduk dengan kehadiran Kyle, menciptakan sebuah ledakan emosi yang membuat Emmeline merasa muak pada takdirnya sendiri.
Emmeline menarik dirinya dengan sentakan kasar, melepaskan diri dari cengkeraman tangan Kyle. Dia bangkit berdiri dari kursi kerjanya, menatap Kyle dengan tatapan yang kini penuh dengan kilatan amarah dan luka yang mendalam.
"Jangan membual, Tuan Stone!" desis Emmeline, suaranya bergetar hebat. Dia mengangkat tangan kirinya ke udara, memposisikannya tepat di depan wajah Kyle, dengan sengaja memamerkan sebuah cincin emas putih bermata berlian besar yang melingkar di jari manisnya.
"Saya sudah menikah! Saya bukan gadis yang bisa Anda datangi dan Anda permainkan sesuka hati Anda!"
Melihat kilau cincin pernikahan di jari manis Emmeline, tubuh kekar Kyle mendadak membeku.
Sepasang mata elang yang biasanya tenang dan mematikan itu melebar sesaat. Binar kerinduan yang tadi memancar di matanya mendadak meredup, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Informasi ini seperti hantaman peluru kendali yang menembus baju besi antipelurunya.
Selama dua tahun berada di medan perang hitam tanpa sinyal, ini adalah kenyataan paling brutal yang harus dia hadapi.
Gadisnya... sudah menjadi milik orang lain.
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam selama beberapa detik. Atmosfer di sekitar Kyle mendadak berubah menjadi sangat pekat dan berbahaya, aura seorang predator yang dunianya baru saja diusik.
"Kapan?" tanya Kyle, suaranya kini berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan bergetar karena emosi yang dia tahan sekuat tenaga di dalam dadanya.
Emmeline menurunkan tangannya, dagunya terangkat tinggi, kembali menampilkan senyum angkuhnya yang palsu untuk menutupi rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Empat bulan yang lalu. Saya menikah dengan Edward Snowden. Jadi, simpan semua kata-kata manismu, K. Kau terlambat. Sangat terlambat."
Kata 'empat bulan' itu berputar di kepala Kyle seperti melodi yang sumbang. Empat bulan. Waktu yang sangat singkat, namun cukup untuk mengubah seluruh kepemilikannya.
Kyle menatap cincin di jari Emmeline, lalu beralih pada mata wanita itu.
Sebagai mantan agen CIA yang terlatih membaca mikro-ekspresi manusia, Kyle menangkap sesuatu yang janggal. Tidak ada binar kebahagiaan seorang pengantin baru di mata Emmeline. Yang ada hanya luka yang mendalam, amarah yang membara, dan rasa lelah yang luar biasa.
Kyle tahu, ada yang tidak beres dengan pernikahan ini. Dan dia tidak akan membiarkan pria lain menyakiti wanita yang selama enam tahun ini menjadi satu-satunya alasan dia tetap hidup di medan perang.
"Edward Snowden..." Kyle menggumamkan nama itu dengan nada merendahkan. Pria itu melangkah maju lagi, kali ini memotong seluruh jarak yang tersisa di antara mereka hingga tubuh tegapnya hampir bersentuhan dengan tubuh Emmeline.
"Mundur, Tuan Stone!" perintah Emmeline, melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin ruang pemeriksaan. Dia terjebak. Tubuh Kyle mengatup sepenuhnya, menghalangi cahaya lampu dan menciptakan bayangan besar yang mengurung Emmeline.
"Kau tidak bahagia dengannya, Emme," ucap Kyle, bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan mutlak.
Suaranya kembali terdengar dalam dan penuh dominasi. Kedua tangan besarnya bergerak naik, bertumpu pada dinding di sisi kiri dan kanan kepala Emmeline, mengunci wanita itu di dalam ruang pribadinya.
"Itu bukan urusanmu! Keluar dari ruangan saya!" jerit Emmeline panik. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Kyle bisa mendengarnya.
Kedekatan ini terlalu berbahaya. Hawa panas yang menguar dari tubuh Kyle mulai mengacaukan akal sehatnya, memicu kembali memori tentang sentuhan lembut dan kecupan kening enam tahun lalu yang semalam baru saja dia rindukan.
"Kau berbohong pada dirimu sendiri, dan kau berbohong padaku," bisik Kyle, wajahnya menunduk, mendekat hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa senti.
Napas hangat Kyle yang beraroma mint menerpa bibir Emmeline, membuat tubuh wanita itu gemetar. "Kau mengingatku, Emmeline Valerio. Sama seperti aku yang tidak pernah bisa melupakannya."
"Hentikan..." lirih Emmeline, pertahanan angkuhnya mulai runtuh. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya.
Mengapa takdir begitu kejam padanya? Di saat suaminya berselingkuh dan mengatainya tidak suci, pria yang merenggut kesuciannya justru muncul kembali dan mengurungnya seperti ini.
"Kau adalah milikku, Emme. Bahkan sebelum pria itu menyentuhmu," kata Kyle dengan nada posesif yang sangat pekat.
Mendengar kata 'menyentuh', ingatan Emmeline tentang ucapan Edward semalam bahwa dia adalah 'porselen mahal yang tidak pernah disentuh' mendadak memicu ledakan emosi di dalam dirinya.
Rasa sakit, dendam pada Edward, dan gairah yang selama empat bulan ini terkunci rapat mendadak melebur menjadi satu cairan berbahaya yang siap meledak.
Emmeline menatap lurus ke dalam mata elang Kyle. "Dia bahkan tidak pernah menyentuhku," bisik Emmeline tanpa sadar, sebuah pengakuan jujur yang lolos karena rasa sakit yang teramat sangat.
Mendengar kalimat itu, kilatan berbahaya muncul di mata Kyle. Ego lelakinya dan insting predatornya bangkit sepenuhnya.
Jika Edward Snowden tidak pernah menyentuh Emmeline, maka wanita ini masih sepenuhnya menjadi miliknya, suci seperti malam enam tahun lalu di dalam ingatannya.
"Kalau begitu... biarkan aku mengingatkanmu kembali bagaimana rasanya disentuh, Emme," bisik Kyle, suaranya berubah menjadi serak penuh gairah.
Sebelum Emmeline sempat mencerna kata-kata itu, Kyle menundukkan kepalanya dan membungkam bibir Emmeline dengan sebuah ciuman.
Cup.
Emmeline membelalakkan matanya. Sentuhan pertama itu terasa seperti ledakan dinamit.
Bibir Kyle yang hangat dan tegas menempel di bibirnya, memberikan sensasi sensual yang hanya pernah Emmeline rasakan enam tahun lalu di hidupnya.
Ciuman itu tidak dimulai dengan kelembutan; itu adalah ciuman penuh tuntutan, sebuah klaim kepemilikan dari seorang pria yang telah menahan rindu selama enam tahun di medan perang.
Emmeline mencoba memberontak. Tangan kecilnya memukul dada bidang Kyle yang sekeras baja, mencoba mendorong tubuh raksasa itu menjauh. Namun, usaha Emmeline sia-sia.
Kyle sama sekali tidak bergeser satu senti pun. Pria itu justru mempererat kunciannya. Salah satu tangan besar Kyle beralih dari dinding, bergerak naik ke belakang kepala Emmeline, jemarinya menyusup di antara rambut wanita itu dan mencengkeramnya dengan lembut namun kokoh, menahan kepala Emmeline agar tidak bisa menghindar.
Ciuman itu semakin dalam, berubah menjadi pagutan panas yang membakar.
Kyle melumat bibir manis Emmeline dengan ritme yang memabukkan, menuntut balasan. Lidahnya dengan lihai menyusup masuk saat Emmeline mendesah panik, menjelajahi rongga mulut wanita itu dan mengajaknya ke dalam tarian gairah yang liar.
Tangan Kyle yang lain turun ke pinggang Emmeline, mencengkeram lekuk tubuh ramping itu dan menariknya hingga perut dan dada mereka menempel sempurna tanpa jarak. Emmeline bisa merasakan detak jantung Kyle yang bergemuruh kuat, selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Sensasi panas menjalar dari bibir menuju seluruh urat saraf Emmeline. Otak bedah yang biasanya rasional kini lumpuh sepenuhnya.
Sentuhan Kyle begitu mendominasi, begitu jantan, dan begitu penuh dengan gairah yang tulus—sangat kontras dengan penolakan dingin yang dia terima dari Edward selama empat bulan ini.
Rasa sakit hati dan dendamnya pada Edward semalam mendadak menguap, digantikan oleh rasa lapar akan sentuhan yang selama ini dia dambakan sebagai seorang wanita.
Tanpa sadar, pukulan tangan Emmeline di dada Kyle perlahan melemah. Jemarinya yang gemetar mulai mencengkeram kaus oblong hitam Kyle, meremas kain itu erat-erat sebagai pegangan agar tubuhnya tidak merosot ke lantai karena lututnya yang mendadak lemas.
Emmeline kalah. Dia menyerah pada instingnya sendiri.
Dia mulai membalas ciuman panas Kyle, membuka bibirnya lebih lebar dan membiarkan dirinya terseret ke dalam pusaran gairah yang Kyle ciptakan.
Desahan pelan lolos dari tenggorokan Emmeline di sela-sela ciuman mereka, suara yang semakin membakar gairah Kyle. Pagutan mereka menjadi semakin intens, saling memburu dan menghisap, menciptakan melodi sensual yang memenuhi ruang pemeriksaan yang kedap suara itu.
Di bawah lampu neon rumah sakit, di dalam ruangan yang seharusnya menjadi tempat profesional, Dr. Emmeline Valerio sedang mengkhianati statusnya sebagai seorang istri.
Porselen mahal itu tidak lagi retak, melainkan sedang dilelehkan oleh api gairah yang dibawa oleh Kingdom Kyle Stone. Ciuman panas itu seolah menjadi gerbang pembuka dari neraka baru yang semalam Emmeline tantang, dan kali ini, dia tidak lagi peduli apakah dia akan terbakar di dalamnya atau tidak.