NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05 : Tumbal selanjutnya

"Nina... Dekk... Kamu dimana??"

Rosa yang masih kecil mencari-cari keberadaan adiknya yang tidak tahu dimana.

Tek.. Tekk.. Tek..

Terdengar suara yang sedang memotong di dapur membuat Rosa melangkah kesana.

"ADEK!??!!" Jerit Rosa melihat tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa.

-

Rosa terbangun dari mimpinya. Mimpi itu lagi. Rosa melirik ke sampingnya dimana Naya sedang tertidur nyenyak.

__

Jam 07.15, alarm hp Naya bunyi. Badannya remuk. Membuatnya bangun, Naya menyadari jika Rosa tidak ada tidur disampingnya.

Naya pun keluar dari kamar dengan mulut menguap.

Mendengar suara masak, dan aroma mie goreng Naya masuk ke dapur. Di sana dia mendapati Intan yang sedang memasak mie, mungkin untuk sarapan.

"Teh, Mbak Abel udah gimana?" Tanya Naya.

"Abelnya nggak mau makan. Cuma minum air putih, terus balik rebahan, ngadep tembok." Jawab Intan menghidangkan mie itu di atas piring lalu meletakkannya di atas meja.

"Kalau mau makan mie juga, masak sendiri ya." Ujar Intan.

"Mau langsung berangkat kerja ajalah." Jawab Naya beranjak pergi dari dapur.

"Na, biar teteh yang temenin Abel. Kalau Bapak nanya, bilang aja ke Pak Dermawan kalau Abelnya lagi sakit dan Teh Intan yang jagain Abel." Ujar Intan kepada Naya.

Naya ngangguk. Naya mengambil handuk dan mandi. Setelah selesai mandi balik ke kamar memakai kemejanya karna Naya belum di kasih seragam rumah makan.

Setelah selesai. Naya menghampiri Intan yang sedang bermain hp disofa.

"Teh, Rosa masih libur atau kemana?" Tanya Naya.

"Rosa berangkat subuh, katanya ada shift pagi di cabang Bintaro bareng Gian. Gian yang jemput tadi pagi mereka udah berangkat bareng." Jelas Intan.

Naya ngangguk.

"Aku berangkat dulu teh, assalamualaikum."

"Iya." Jawab Intan.

Jam 07.55, Naya sampe rumah makan. Sepi. Cuma Agus yang lagi ngepel.

Melihat Naya yang sudah sampai Agus berhenti ngepel, dan bertanya, "Naya, tadi Intan WA, katanya Abel sakit? Sakit kenapa?"

"Demam." Jawab Naya.

"Apa nanti siang mampir dulu ya?" Tanya Agus pada dirinya sendiri, tersirat rasa peduli dari dalam hatinya.

Naya meletakkan tas, pandangannya tertuju pada lemari triplek yang terbuka sedikit. Name tag Sari tak ada disana. Membuat Naya sedikit mengingat percakapan mereka semalam yang ada menyinggung tentang nametag.

"Gak mungkin. Pasti kebetulan." Jawab Naya tidak mau berpikir banyak.

Naya Nyalain komputer, mesin kasir, dan printer. Colokannya ada di bawah meja, deket kaki kanan. Kabelnya disolasi hitam karena digigit tikus. Naya pun menekan tombol power yang ada di CPU di bawah meja.

Setelah komputer hidup, Naya men'tes mesin print dulu dengan memencet tombol ' FEED ' dan keluar struk kosong. Kalau nggak keluar, berarti kertasnya kejepit. Naya mengingat semua ajaran Abel kepadanya.

Tak lama Pak Dermawan dateng bawa rantang lagi dan melihat Naya sendirian di kasir, alisnya naik.

"Abel mana?"

"Sakit, Pak. Kata Teh Intan," jawab Naya pelan.

Pak Dermawan diem sebentar.

"Kamu udah bisa kasir?" Tanya Pak Dermawan.

"Insyaallah Pak." Jawab Naya.

"Kasir itu gampang, asal jangan bikin saya tekor aja." Balas Pak Dermawan tegas.

"Siap, Pak." Jawab Naya.

"Ya udah. Kamu handle dulu. Rifki bantuin kalau rame. Zuan, Nesya juga ada di dapurkan?"

"Iya, Pak."

Pak Dermawan masuk dapur. Nggak nanya lagi. Nggak khawatir. Kayak udah tau Abel bakal nggak masuk.

Naya pun men-cek kas awal di laci ada nampan plastik merah. Isinya: uang logam 500-an 30 biji, 1000-an 20 biji, uang kertas 2000-an 10 lembar, 5000-an 10 lembar, 10.000-an 5 lembar. Total 170 ribu. Harus pas.

Naya pun mencatat di buku kas.

'Modal awal 09/09: Rp170.000. Naya.'

Buku kasnya buku tulis biasa, sampulnya udah lecek. Di halaman paling belakang ada tulisan.

 'Buku kas Sari'

"Mau pesen."

Naya menatap pada bapak-bapak ojol, helm di tangan. Dengan jaket hijau yang sudah umum terlihat.

"Pagi, Pak. Mau pesan apa?" Tanya Naya dengan ramah.

"Nasi satu. Ayamnya paha atas ya, Neng. Sama teh tawar. Makan disini ya." Ujar Bapak ojol itu.

Naya mencatat pesanan di note.

"Teh tawar anget."

"Silahkan duduk dulu ya, Pak. Nanti di antar ke meja bapak." Balas Naya.

Bapak itu mencari tempat duduk.

Naya membuka pintu dapur, "Ayam paha atas ada, Mbak?"

Nesya dan Zuan yang awalnya asyik ngobrol menatap Naya.

"Ada, Naya." Jawab Nesya.

"Ini Mbak,"

" Pesanannya apa?" Tanya Nesya berdiri.

Sembari memberikan selembar note di tangannya," Nasi satu, ayam paha atas satu, sama teh tawar anget yang biasa. Bapak-bapak ojol yg pesan jaketnya ijo di depan." Jelas Naya sekedar.

Zuan tertawa," Ijo apa Naya. Sebut nomor mejanya."

"Belum hafal." Jawab Naya tersenyum kikuk.

"Oke, ini mau diantar." Jelas Zuan.

Naya pun kembali ke meja kasirnya. Karna pelanggan lain yang sudah mulai mengantri memesan.

Rumah makan mulai rame. Naya nggak sempet minum. Tangannya otomatis, menanyakan pesanan sembari menulis dinote, mengetik di komputer, sobek struk, ambil duit, balikin kembalian, senyum.

Rifki nyamperin bawa satu gelas teh tawar. Naruh satu di meja kasir.

"Minum. Nanti dehidrasi," Ujar Rifki. Sementara matanya nggak ke Naya, tapi ke laci kasir.

Naya ngambil gelas, "Makasih."

"Abel nggak WA lu?" tanya Rifki pelan.

Naya geleng. "Nggak ada."

Rifki tersenyum lega, "Bagus."

"Emang kenapa?" Tanya Naya.

Rifki nggak jawab. Dia nunduk, ngeliat paku tanggal di tembok. Paku tanggal. Kunci laci masih nyantol di sana.

"Lu liat kunci?" tanya Rifki.

"Iya," jawab Naya.

"Jangan sampe lu yg nurunin," ujar Rifki. "Pokoknya kalau ada yg nyuruh lu buka laci sendirian, apalagi jam setengah 1, jangan mau. Ngerti?"

Naya ngangguk. Tangan dia basah keringet padahal megang gelas dingin.

Zuan keluar bawa piring kotor yang ada di atas meja.

"Na, udah jam 12. Makan dulu gih. Gantian sama gue. Gue yang jaga kasir." Ujar Zuan.

Naya ngangguk, jalan ke dapur. Nesya nampak sibuk memasak pesanan.

Pandangan Naya tertuju kepada Zuan yang mengumpulkan semua sisa makanan di dalam satu ember hitam. Naya bingung, kenapa tidak di buang saja sisa makanannya? Maksudnya itu sisa makanan orang, jadi kenapa harus di kumpulkan jadi satu semua?

Naya makan namun enggak abis. Nasi sisa setengah, ayam sisa dikit. Dengan sengaja Naya mau buang ke tempat sampah.

"Eh," Nesya menahan tangannya dengan cepat, "Lupa ya? Taroh aja di meja. Nanti Zuan yang urus."

Naya kaget. "Tapi kan..."

"Ada apa, Mbak?" Tanya Zuan yang tidak tahu apa-apa.

"Nggak apa-apa." Jawab Nesya yang tidak memberitahu Zuan.

"Udah. Ini aturan, jangan ceroboh!" Gertak Nesya. Nadanya nggak becanda.

Naya nurut. Ninggalin piring di meja dapur. Nasi sama ayam yang sisa.

Siang hari pembeli sepi lagi. Naya balik ke kasir. Rifki sedang istirahat. Agus sedang mengantarkan pesanan.

Naya duduk di bangku plastik lipet. Matanya ke laci. Laci ketutup. Kunci masih tergantung di paku tanggal.

Pak Dermawan menghampiri Naya, "Naya, kamu pulang jam 7 ya hari ini."

"Iya, Pak," jawab Naya.

"Nanti biar Rifki yg gantiin kamu kasir kalau dia udah kelar istirahat." lanjut Pak Dermawan.

Naya mengangguk.

Sementara Pak Dermawan balik lagi ke dapur.

Tak lama Rifki yang sudah kelar menghampiri Naya, "Lu istirahat."

Naya ngangguk. Namun saat akan berlangkah pergi.

Bug!

Pelan. Dari arah kasir.

Naya reflek noleh. Rifki lagi ngitung duit receh, laci kebuka dikit. Kunci udah nggak di paku. Ada di tangan Rifki.

"Kak?" panggil Naya.

Rifki ngangkat jari ke bibir. "Sstt. Jangan kenceng-kenceng."

Bug! Bug!

Dari dalem laci. Padahal Rifki nggak ngapa-ngapain.

Muka Rifki pucet. Dia buru-buru tutup laci. KLIK. Terus gantung kunci lagi ke paku tanggal.

"Lu denger?" bisik Rifki.

Naya ngangguk.

"Itu dia," ujar Rifki. "Dia laper. Jam 3 lewat. Biasanya kalau sorean gini, berarti malemnya... rame."

"Malemnya kenapa?" Tanya Naya yang sama sekali tidak mengerti.

Rifki nggak jawab. Dia malah nunjuk ke lantai, di bawah kasir. Ada tetesan. Merah. Kayak sirup. Netes dari kolong laci ke ubin. Satu. Dua. Tiga.

Padahal di laci nggak ada apa-apa selain duit.

Rifki lap tetesan itu pake kain lap yg ada noda coklat. Noda merah ketemu noda coklat, jadi item.

"Udah. Anggep nggak liat," bisik Rifki. "Nanti jam 7 lu langsung pulang. Jangan mampir-mampir." Tegas Rifki.

Naya mau nanya, tapi pintu dapur kebuka. Nesya keluar.

"Rif, udah jam setengah 4. Siapa yg mau anter setoran ke Pak Dermawan?" tanya Nesya.

"Gue aja," jawab Rifki cepet. Dia ambil plastik item dari laci, isinya uang gepokan. "Naya, jagain kasir. Jangan buka laci."

"Iya, Kak," jawab Naya. Padahal tangan dia gemeter.

Rifki pergi lewat pintu belakang. Ninggalin Naya sendirian di kasir.

Sore hari rumah makan kosong. Lampu kuning di atas kasir nyala. Tapi kedip. Sekali.

Bug!

'Naya.'

Dari laci. Pelan. Kayak manggil nama. Bulu kuduk Naya berdiri semua. Bukan merinding biasa. Kayak ada jari dingin ngurut tengkuknya dari belakang.

Naya nelen ludah. Di kaca etalase, bayangan dia sendiri. Di belakang bayangan dia, ada bayangan lain. Duduk. Nunduk di kursi. Pake seragam hijau rumah makan. Rambut panjang di ikat satu ke belakang.

Naya noleh cepet. Nggak ada siapa-siapa.

Noleh lagi ke kaca. Bayangan itu masih ada. Naya reflek berdiri takut.

KLIK!

Laci kebuka sendiri. Setengah senti.

Dari dalem, kecium bau kapur barus kecampur anyir. Sama kayak di kamar mess.

Di dasar laci, di bawah duit receh, ada nametag 'Sari_Kasir' Naya reflek ingat jika itu adalah nametag yang harusnya ada di lantai atas di ruang karyawan yang tergantung dilemari.

Terdengar suara bisikan halus di telinga Naya, "Tutup.. Jangan... Buka..."

Naya yang gemetar reflek mundur namun malah nabrak meja. Gelas teh tawar yang di berikan Rifki pada jatuh, dan pecah.

Zuan yang mendengar suara pecahan segera keluar dari dapur. "Woi, kenapa?"

Naya nunduk ke laci. Laci udah ketutup. Rapet. Kunci masih di paku tanggal. Nametag nggak ada. Hanya ada uang receh aja.

"Ke... Kesenggol, Kak," jawab Naya. Suara bergetar.

Zuan nyapu beling. "Hati-hati. Beling bawa sial."

Jam 5 sore, Naya cabut naik ke atas mengambil tasnya. Lari kecil menuruni tangga dan pulang ke mess.

Sampe mess, gerbang kebuka. Teh Intan ternyata sedang nyapu halaman.

"Mbak Abel mana?" tanya Naya napas tergesa-gesa karna dia lari.

"Di kamar. Tidur dari siang. Panasnya udah turun," jawab Intan. "Loh, kamu kenapa? Pucet amat."

Naya mau cerita, tapi inget omongan Rifki. Jangan cerita ke siapa-siapa. Termasuk Teh Intan.

"Nggak apa-apa, Mbak. Capek aja," jawab Naya.

Naya menghampiri di kamarnya. Ingin melihat langsung kondisinya.

"Mbak."

Abel tidak menjawab dan hanya duduk diam di tepi kasur. Natap pintu.

Naya mendekat lalu menempelkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu badan Abel.

"Alhamdulillah sudah mendingan." Ujar Naya lega.

Abel nggak ngomong sama sekali.

"Mbak?" bisik Naya risau.

Abel noleh. Air mata netes. Dia nyodorin hp ke Naya. Ada chat dari nomor nggak dikenal.

'Giliran kamu. Kamu yang akan mati. Abel.'

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!