Kisah seorang gadis yang cuek akan belajar agama kini berubah drastis di karenakan seorang ustadz mulai masuk ke pesantren itu.. kira kira ada apa ya?? Kenapa bisa berubah begitu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razi Maulidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Batasan Seorang Ustadz
Bab 5. Batasan Seorang Ustadz
"Ustadz Farhan, apakah saya bisa meminta waktu sebentar?" Suara Tina terdengar hati-hati, berusaha terdengar seperti santri yang meminta koreksi atas hafalannya, bukan seperti seorang gadis yang menyimpan harapan untuk tatapan yang lebih lama.
Ustadz Farhan, yang baru saja menutup kitab tafsirnya, mendongak. Aroma kertas tua dan wangi kayu cendana yang selalu melekat di ruangan kerjanya terasa mencekik sore itu. Ia melihat Tina berdiri di ambang pintu, hijabnya rapi, mata penuh permohonan yang tidak boleh ia layani.
"Tina," jawab Farhan, suaranya datar, lebih dingin dari biasanya. Ia merasakan getaran aneh di dadanya, sebuah penolakan yang ia paksakan pada dirinya sendiri. "Maaf, waktu Ustadz sudah terisi dengan persiapan materi untuk besok."
Tina mengerjap, seolah kata-kata itu adalah pukulan yang tak terduga. "Tapi ini hanya sebentar, Ustadz. Mengenai kesulitan saya memahami logika pada bab ushul fiqh semalam..."
"Saya sudah meminta Ustadzah Hanifah untuk menangani sesi bimbingan khusus santriwati mulai sore ini," potong Farhan, bahkan tanpa menoleh pada buku catatannya. Ia harus bertindak cepat, tegas. Jika ia menatap mata Tina lebih lama dari tiga detik, benteng pertahanannya akan runtuh. "Dia akan menjadwalkanmu. Temui dia di ruang pengajian dekat asrama putri."
Keheningan menggantung tebal. Tina menelan ludah. Di matanya, muncul kilatan yang sangat ia kenali—tatapan seorang yang merasa ditinggalkan. Itu bukan lagi sekadar kekecewaan akademis. Itu adalah kesakitan yang lebih personal.
"Baik, Ustadz," bisik Tina, suaranya kini rapuh, berbeda jauh dari nada percaya dirinya saat memberikan setoran di kelas. Ia membungkuk canggung, lalu berbalik. Langkah kakinya terdengar tergesa saat menjauhi pintu.
Ustadz Farhan menahan napas hingga suara langkah itu hilang sepenuhnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena lega, melainkan karena rasa bersalah yang menggerogoti. Keputusan yang benar, Ustadz Farhan. Ini demi menjaga amanah. Namun, keputusannya terasa seperti mengoyak bagian penting dari jiwanya.
Ia bangkit, berjalan ke jendela. Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga muram. Ia melihat Tina berjalan menjauh di pelataran, langkahnya tidak lagi ringan seperti biasa. Tina berjalan menunduk, bahunya sedikit merosot. Farhan tahu, Tina pasti mengira ia telah melakukan kesalahan besar, bahwa Ustadz-nya kini mencemooh atau, lebih buruk lagi, membencinya.
Aku tidak membencimu, Tina. Aku... aku takut.
Ketakutan itu adalah fakta yang baru ia akui sore itu juga. Ketika Tina berdiri di ambang pintu, memohon waktu, Farhan melihat bukan lagi seorang santri, melainkan cahaya yang tiba-tiba menerangi kekosongan hidupnya selama ini. Kelembutan Tina dalam berdiskusi, semangatnya yang tulus dalam mencari ilmu, dan bahkan senyum kecilnya saat berhasil menangkap inti pelajaran semua itu telah mengukir tempat yang seharusnya steril dalam hatinya.
Ia menarik napas dalam, memaksakan diri untuk kembali duduk. Hari itu, ia harus mengajar dengan jarak yang terukur. Setiap kali ia melihat Tina, ia harus memalingkan pandangan secepat mungkin. Ia harus menjadi dinding batu, tidak boleh ada celah bagi siapa pun, terutama untuk perasaan haram yang ia rasakan sendiri.
Sore itu berganti malam, dan malam menjadi larut. Setelah semua santri dan ustadz beristirahat, Ustadz Farhan tetap terjaga. Ia mengambil air wudu, menggigil di udara malam pondok yang dingin. Ia melangkah ke masjid kecil di samping kantornya, hanya diterangi lampu remang-remang.
Ia bersujud, menempelkan keningnya pada lantai dingin. Sujudnya berbeda malam itu; lebih lama, lebih emosional. Ia tidak hanya memohon ampun atas kelalaiannya dalam mengajar, tetapi juga memohon petunjuk atas gejolak batin yang mengancam seluruh pondasi hidupnya.
"Ya Allah," bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan. "Jika ini adalah ujian, kuatkanlah aku untuk menjauhinya, untuk melindungi kehormatan agama-Mu dan institusi ini."
Ia diam sejenak, merasakan air mata panas membasahi sajadahnya yang kasar. Keikhlasan untuk menjauh itu nyata, tetapi ada dorongan lain yang lebih kuat, seperti gravitasi yang tak bisa ia lawan.
"Namun," lanjutnya dengan nada yang lebih tegas, sebuah pengakuan yang ia bisikkan hanya untuk Sang Maha Mendengar, "jika ini bukan ujian, melainkan petunjuk atas jalan yang Kau ridhai... jika Engkau telah menanamkan rasa ini sebagai benih kebaikan yang hanya perlu disucikan dengan cara yang benar..."
Ustadz Farhan mengangkat kepalanya sedikit, matanya menatap kosong pada cahaya lilin yang redup. Keputusasaan yang melingkupinya beberapa jam sebelumnya perlahan berganti menjadi kejelasan yang menakutkan. Batasan yang ia ciptakan dengan susah payah, penolakan yang ia paksakan, semua itu hanyalah upaya sia-sia untuk menahan badai.
Ia menarik napas panjang, udara dingin menusuk paru-parunya. Di dalam relung hatinya yang paling rahasia, sebuah kebenaran yang ia tolak sejak awal kini terucap tanpa ragu, menjadi penutup malamnya yang panjang.
Aku mencintainya.