Hampir tiga tahun menjalani rumah tangga bersama Lucas Ethan Harrington sang mafia penguasa berbahaya hingga Liora Grace percaya bahwa cintanya akhirnya berlabuh dengan tenang. Namun keyakinan itu runtuh ketika masa lalu Lucas kembali hadir seorang wanita yang pernah mengisi hatinya sebelum Liora.
namun , siapa sangka jika sebenarnya Liora lah orang yang paling berbahaya dan kejam hingga hampir seluruh dunia begitu memburu dan mengharapkan kematiannya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Liora ?
bagaimana jika hal yang sebenarnya adalah Liora telah mengulang waktu ? atau adakah seseorang yang sengaja membangkitkan jiwanya?
yukssss baca kelanjutannya 💃🏻🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertahan atau melepaskan
Liora pulang dengan langkah gontai yang terasa berat di tiap langkah kaki nya . namun pikirannya terasa penuh. Jalanan yang ia lewati tampak sama, rumah-rumah berdiri di tempatnya, suara kota tetap berjalan seperti biasa. Hanya dirinya yang terasa sedikit bergeser seolah ada sesuatu di dalam dada yang retak tanpa suara.
Pertemuannya dengan Evelyn terus berulang di kepalanya seperti potongan potongan memory yang seolah-olah berputar.
Nada suara itu ~
Tatapan yang tidak menantang namun tidak pula mengalah ~
Ketenangan yang tidak berusaha membuktikan apa pun.
Liora menutup pintu rumah perlahan. Lampu ruang tamu masih mati. Rumah itu sunyi bahkan sunyi yang terlalu dikenalnya. Ia melepas sepatu, menaruh tas, lalu berdiri sejenak tanpa tujuan, seperti seseorang yang baru kembali dari perjalanan jauh padahal jaraknya terbilang cukup dekat.
Lucas belum pulang.
Ia duduk di sofa, tangannya terlipat di pangkuan. Biasanya ia akan menyalakan televisi atau membuka ponsel, mengalihkan pikirannya dari rasa sepi yang menggantung. Namun kali ini ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk, membiarkan pikirannya menelusuri satu kalimat yang terus terngiang-ngiang.
'Aku sudah tidak menunggu.'
Kalimat itu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, Liora merasa kalah telak.
Pintu terbuka menjelang malam. Lucas masuk dengan langkah tenang, jas masih rapi, wajah tanpa ekspresi. Ia melepas sepatu, menggantungkan mantel, lalu berjalan ke dapur seolah keberadaan Liora hanyalah bagian dari furnitur yang tidak perlu disapa.
“Kau pulang larut malam lagi ,” ucap Liora akhirnya.
Lucas menoleh sekilas. “Ada rapat.”
Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada nada meminta dimengerti.
Liora menatap punggungnya. “Kau bertemu Evelyn lagi?” tanya Liora lagi sepertinya ia ingin membuka percakapan.
Lucas berhenti menuang air. Gerakannya terhenti sepersekian detik cukup singkat untuk hampir tak terlihat, namun cukup lama bagi Liora untuk menyadarinya.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Terakhir kali,” lanjut Liora, suaranya terkontrol. “Kau menemuinya tanpa mengatakan apa pun padaku.” ucap liora sekuat tenaga menahan perasaannya agar tidak meledak dan tidak menangis .
Lucas meminum airnya. “Itu urusanku.”
Kalimat itu dingin. Bukan marah. Bukan defensif. Hanya garis batas yang ditarik dengan jelas.
“Dia tenang,” kata Liora tiba-tiba.
Lucas menoleh. Tatapannya datar. “Dan?”
“Dan itu menakutkan,” lanjut Liora jujur. “Karena aku tidak tahu apa yang masih kau rasakan.”
Lucas menghela napas pelan, seperti seseorang yang lelah menghadapi percakapan yang tidak ingin ia jalani. “Perasaan tidak selalu perlu dibicarakan.” ujar Lucas .
“Tidak,” balas Liora cepat. “Tapi ketidakpedulianmu membuatku bertanya-tanya apakah aku masih termasuk di dalamnya.”
oh ayolah liora butuh kepastian. Setidaknya ia tahu seberapa Lucas tidak lagi menginginkannya. Bukankah ini terlalu sakit ?
Lucas terdiam. Untuk sesaat, Liora berharap ada celah. Namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang rapih keheningan yang tidak memberi ruang.
“Aku tidak pernah berjanji menjadi hangat,” ucap Lucas akhirnya.
Liora tidak bisa berkata apa apa lagi . matanya yang mulai berair dan bibir nya yang menahan getar.ia hanya bisa tersenyum getir .
Dan lagi-lagi, tidak ada terima kasih, tidak ada penyesalan, tidak ada penjelasan.
Malam itu mereka tidur di sisi yang sama, namun dengan jarak yang terasa lebih lebar dari biasanya.
*****
Di tempat lain, Evelyn duduk di apartemennya, jendela terbuka menghadap kota yang mulai redup. Ia menaruh cangkir teh di meja kecil, lalu duduk dengan punggung lurus. Tidak ada kegelisahan di wajahnya. senyuman di wajahnya tercetak jelas menandakan seberapa senang nya dirinya saat ini.
Ia tahu Liora akan datang. Bukan karena ia memberi isyarat, melainkan karena ia pernah berada di posisi itu posisi perempuan yang ingin memastikan bahwa apa yang ia miliki benar-benar miliknya.
Evelyn menatap keluar jendela. Lucas tidak muncul di pikirannya sebagai rindu. Ia hadir sebagai ingatan penting, namun tidak lagi menguasai.
Ia tidak menunggu pesan.
Tidak berharap telepon.
Dan justru karena itulah ia merasa utuh.
' liora apa yang menjadi milik ku tetap lah selamanya milikku ' batin Evelyn.
******
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama, namun Liora mulai menyadari perubahan kecil pada dirinya sendiri. Ia lebih sering terdiam. Lebih jarang bertanya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut jawaban-jawaban Lucas akan semakin memperjelas sesuatu yang belum siap ia terima.
Di depan cermin, ia menatap dirinya sendiri. Ia cantik. Ia rapi. Ia adalah istri yang sah. Namun untuk pertama kalinya, semua itu terasa seperti gelar bukan jaminan.
Ia teringat tatapan Evelyn. Tidak menilai. Tidak membandingkan. Seolah berkata bahwa hidup tidak harus dipertahankan dengan genggaman yang terlalu erat.
Dan itu membuat Liora gemetar. ia tidak bisa menyalahkan evelyn.liora terlalu takut pada fakta jika suaminya lah yang memilih menyerah padanya .
Karena ia tahu, jika suatu hari Lucas pergi, ia tidak yakin apakah ia mampu tetap berdiri seperti Evelyn tenang, tidak menunggu, tidak meminta.
sementara itu Lucas berada di kantornya seperti biasanya . matanya yang setajam elang menatap layar tanpa benar-benar melihat.
Hingga beberapa menit kemudian Arga, asistennya, masuk membawa berkas dan meletakkannya di meja.
“tuan agenda besok sudah diperbarui,” ucap Arga singkat.
Lucas mengangguk. Tidak mengucap terima kasih.
Arga tidak tersinggung. Ia sudah terbiasa. Hubungan mereka bersih dari emosi seperti mesin yang bekerja dengan presisi.
Saat Arga pergi, Lucas bersandar di kursinya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri bukan tentang Evelyn, bukan tentang Liora melainkan tentang dirinya.
Mengapa ia selalu memilih diam?
Mengapa ia membiarkan jarak tumbuh tanpa berusaha menjembataninya?
Namun seperti biasa, pertanyaan itu tidak ia kejar. tersimpan didalam tenggorokan dan pikiran yang mulai tidak menentu .
Malam berikutnya, Liora berdiri di ambang pintu kamar, memandangi Lucas yang sudah bersiap tidur.
“Jika aku berhenti menunggu,” ucapnya pelan, “apa kau akan menyadarinya?”
Lucas menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Entah untuk pertama kalinya, atau mungkin terlambat, Lucas tidak segera menjawab.
Dan di keheningan itulah, Liora menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak
Persaingan itu belum selesai.
Namun kini bukan lagi antara dua perempuan.
Melainkan antara bertahan atau belajar melepaskan.
rajin update ya thor
ceritanya makin seru