"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Salah Alamat
Pukul tujuh malam. Lavanya mulai gelisah. Di depannya, setumpuk file laporan masih menanti untuk "dijamah". Akhir bulan adalah masa keramat bagi tim perencanaan; masa di mana lembur menjadi makanan wajib.
"Vanya, lo kenapa sih? Cacingan?" celetuk Laila dari meja sebelah.
Lavanya menyodorkan ponselnya ke hadapan Laila. Setelah membaca pesan di layar, kening seniornya itu berkerut dalam.
"Maksudnya?"
"Mbak, please... bantuin aku," Lavanya menatap Laila dengan tatapan memelas yang paling dramatis. "Aku ada janji ketemu orang malam ini. Penting banget."
"Oh, oh, tunggu... Jangan bilang... Astaga!" Laila membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak kegirangan. "Kencan buta?"
"Bahasanya kek drakor aja, Mbak. Ini titah Ibu. Aku takut kualat kalau nggak dituruti."
"Ide bagus! Suka deh gaya nyokap lo. Kalau nggak digituin, sampai lebaran singa pun lo nggak bakal punya gandengan, Nya!" Laila terkekeh. Lavanya hanya bisa mendengus; kenapa juga "lebaran monyet" harus diganti jadi "lebaran singa"? Menyindir si Bos atau menyindir status jomblonya?
"Gimana, Mbak? Aku boleh cabut sekarang? Atau aku izin aja ya sama Pak Leo?" Lavanya melirik pintu kayu cokelat di ujung ruangan dengan ragu.
"Eits, jangan!" Laila menggeleng heboh. "Gue punya rencana. Lo lewat tangga darurat, biar gue yang handle si Raja Hutan."
🦁🦁🦁
"Maaf, membuat Anda menunggu lama."
Lavanya mengatur napasnya yang memburu. Demi Luhan ex-Exo yang fobia ketinggian, ide Mbak Laila benar-benar menguras tenaga. Ia harus turun tangga dari lantai 17 dan baru berani naik lift saat sampai di lantai 11—batas aman wilayah kekuasaan Leo.
Pria di depannya tersenyum ramah. "Tidak apa-apa. Silakan duduk."
"Terima kasih," balas Lavanya singkat. Ia segera memesan minuman dan makanan berat. Persetan dengan imej jaim, ia butuh tenaga setelah aksi maraton tangga darurat tadi.
"Saya Gema." Pria berkemeja hitam itu mengulurkan tangan.
"Lavanya"
"Saya kira kamu masih kuliah saat melihat fotomu," ucap Gema setelah Lavanya menghabiskan setengah gelas jus jeruknya dalam sekali teguk.
Maksud lo, foto gue menipu? batin Lavanya sewot. Ia menghela napas. "Jangan gampang percaya foto, Mas. Sekarang zaman editan."
Gema terkekeh, matanya menatap lekat. "Tapi aslinya jauh lebih cantik."
Lavanya mendengus. Fix, pria ini jenis buaya yang dibilang Mbak Laila. Harus dijauhi!
"Langsung saja, apa kamu menerima perjodohan ini?" Pertanyaan Gema membuat Lavanya makin dongkol. Ia tidak suka pria agresif, apalagi yang menatapnya dengan cara yang tidak sopan.
"Menurutmu?"
Gema tertawa percaya diri. "Jujur, saya berharap kamu menjawab 'iya'."
Jengah, Lavanya memalingkan wajah, mencari objek yang lebih menarik untuk dilihat daripada wajah penuh intrik di depannya. Namun, sedetik kemudian, wajahnya memucat. Di sudut restoran, sosok tinggi tegap dengan aura dingin sedang menatap ke arahnya.
Mampus! Pak Leo kok ada di sini?!
"Lavanya?" panggil Gema karena merasa diabaikan.
"Uhm, Mas Gema... saya ke toilet sebentar ya" Lavanya berdiri terburu-buru, mencoba kabur lewat pintu belakang. Namun, kesialan memang hobi membuntutinya. Karena terlalu panik, ia tidak melihat pramusaji yang membawa nampan minuman di depannya.
BRAKK!
Semua mata tertuju padanya. Lavanya terduduk di lantai yang basah, menunduk dalam-dalam untuk menutupi wajahnya yang semerah kepiting rebus. Pantatnya sakit, bajunya basah kuyup, dan harga dirinya hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mengangkat tubuhnya dengan mudah. Lavanya tertegun. Penciumannya langsung mengenali aroma parfum maskulin yang sangat familiar. Kemeja biru dongker menghalangi pandangannya.
"Laila bilang kamu sakit, taunya lagi pacaran," bisik suara dingin itu tepat di telinganya.
Lavanya berkeringat dingin. Sang Bos membawanya keluar dari restoran dengan menggendongnya—mengabaikan Gema yang terpaku heran. Leo mendudukkan Lavanya di kursi penumpang mobilnya dengan gerakan yang terlihat kasar namun sebenarnya hati-hati.
"Tatap saya kalau sedang bicara, Lavanya!" Leo mengangkat dagu gadis itu.
Mata mereka bertemu. Lavanya benar-benar mati kutu. "Dingin, Pak..." cicitnya pelan. Bajunya yang basah membuat tubuhnya menggigil ditiup angin malam.
🦁🦁🦁
Dan di sinilah ia sekarang. Di apartemen mewah sang atasan.
"Kamar mandi ada di sana," tunjuk Leo ke sebuah pintu putih.
"Pak, saya kedinginan karena baju saya basah. Kenapa malah dibawa ke sini? Saya mau pulang..."
"Sekali-kali otak kotor kamu dihilangkan bisa?" potong Leo pedas sambil melangkah menuju mini bar. "Mandi. Pakai baju saya yang ada di lemari."
Lavanya merengut, tapi tak berani membantah saat Leo memberikan pelototan tajam. Lima menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk, jantungnya berdegup kencang. Ia segera menyambar kaos oblong abu-abu milik Leo. Kaos itu sangat besar, menutupi tubuhnya hingga ke lutut.
Lavanya keluar kamar sambil menenteng baju basahnya. Di meja makan, Leo sedang menata makanan yang aromanya sangat menggoda.
"Bapak yang masak?"
"Ada orang selain saya di sini?" Leo balik bertanya tanpa menoleh. Lavanya melongok ke kanan-kiri, memastikan tidak ada istri atau simpanan yang tiba-tiba muncul.
"Makan," perintah Leo singkat.
Lavanya duduk dan mulai melahap paha ayam kecap di piringnya. Rasanya luar biasa enak. Sambil makan, ia mencoba peruntungan. "Pak, saya boleh izin nggak besok? Mau bantu sepupu saya, Vani. Dia mau nikah."
Leo berhenti mengunyah. "Nikahnya kapan?"
"Dua bulan lagi, Pak. Saya mau bantu bimbing dia cari kebaya."
"Bimbing? Kayak kamu pernah nikah aja," sindir Leo telak.
Lavanya mendengus, tekanan darahnya naik seketika. "Yaudah Pak! Kalau gitu saya izinnya pas saya nikah aja nanti. Sekalian saya tagih cuti-cuti saya yang hangus selama ini!"
"Boleh. Nggak kerja lagi juga boleh," sahut Leo santai.
Lavanya tercekat. "Maksudnya... Bapak pecat saya?"
Leo menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang misterius. "Biar fokus ngurusin suami"
Lavanya tersedak tulang ayam. Hah?!
🦁🦁🦁
love you author....