NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAK ISTIMEWA

Setelah berpamitan dari rumah Airin, El mengajak Diska untuk mampir ke rumah papanya. Langit sore sudah berwarna jingga ketika mobil mereka memasuki halaman rumah besar bercat putih itu. Rumah dua lantai dengan taman depan yang tertata rapi itu tampak megah, tapi suasananya terasa hening.

Begitu masuk, Diska menatap sekeliling. “Rumah papa kamu besar banget, El,” ujarnya pelan, suaranya terdengar takjub. “Tapi kok… terasa dingin ya?”

El tersenyum tipis, menatap ruang tamu yang penuh ornamen mahal tapi terasa sepi. “Iya, makanya aku lebih seneng tinggal di rumah nenek. Rumah ini terlalu sunyi.”

Diska menatap wajah suaminya dengan lembut. “Papa sama mama kamu nggak punya anak lagi, El?” tanyanya hati-hati.

El menghela napas. “Mama sempat hamil dulu, tapi keguguran. Sejak itu… mereka nggak pernah ngomong soal anak lagi.”

Diska diam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tapi mereka baik, ya?”

“Mama tiriku baik banget, Dis. Bahkan lebih baik dari mama kandungku dulu yang…,” El berhenti sejenak, menatap lantai. “Yang gak pernah perduli sama aku dari kecil.”

Diska mengulurkan tangan dan menggenggam jemari El, menatapnya penuh kasih. “Tapi kamu tetap tumbuh jadi laki-laki baik, El. Itu yang penting.”

El tersenyum menatap istrinya. “Ayo, ke kamar dulu. Sambil nunggu papa sama mama pulang.”

“Iya,” jawab Diska sambil mengikuti langkah El menaiki tangga.

Begitu masuk kamar, Diska langsung duduk di tepi ranjang besar yang berseprai abu-abu. Ruangan itu tampak modern, tapi tetap menyisakan sisi sederhana — foto El bersama Diska saat remaja dulu terpanjang di meja kerja dan rak buku yang tertata rapi.

“Aku mandi dulu ya,” kata El sambil mengambil handuk di lemari. Ia menatap Diska sambil tersenyum jahil. “Kamu nggak mau ikut, Dis?”

Diska mendelik sambil menahan tawa. “Nggak, ah.”

“Padahal gerah,” bisik El di telinganya, membuat Diska reflek mundur dengan wajah memerah.

“Enggak, El. Kamu mandi sana. Nanti aku nyusul gantian,” jawabnya cepat.

El tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu meskipun mereka sudah resmi menikah. “Iya, iya, calon mama anak-anakku,” candanya sebelum masuk ke kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Diska tersenyum sendiri. “Masih aja usil,” gumamnya, lalu matanya tertuju pada laptop El di atas meja kerja.

Dengan penasaran, ia mendekat. Seperti dugaannya, laptop itu dipasangi password. Tapi ketika ia mengetik tanggal jadian mereka saat SMP dulu, layar pun langsung terbuka.

“Ternyata benar, sama juga,” bisiknya tersenyum puas.

Ia membuka beberapa folder pekerjaan — laporan, grafik, dan dokumen bisnis yang membuatnya cepat bosan. “Kerjaan semua, gak seru,” gumamnya.

Namun pandangannya berhenti di satu folder bertuliskan ‘My ElDiska’. Ia mengkliknya pelan, dan detik itu juga wajahnya berubah lembut.

Di sana ada foto-foto lama mereka saat masih SMP: saat lomba band sekolah, saat jalan ke Dufan, hingga foto mereka berdua di kelas. Ada juga satu folder berjudul ‘Lagu untuk Diska’, berisi lirik-lirik lagu yang El tulis selama di Paris.

Saat Diska membuka salah satunya, suara pintu kamar terdengar terbuka.

“El, kamu…”

“El, kamu iseng juga ya?” El bersandar di pintu sambil menyeringai, tubuhnya masih basah dengan handuk yang tersampir di bahunya.

Diska langsung menutup laptop dan berpura-pura sibuk. “Kamu masih suka bikin lagu, El?”

El menghampiri dan duduk di sebelahnya. “Cuma iseng, Dis. Belum sempat aku sempurnakan.”

“Kenapa belum sempurna?”

“Waktu di Paris aku nggak pegang gitar. Jadi cuma bisa nulis lirik dari ingatan,” ucap El sambil melingkarkan lengannya di bahu Diska. “Udah, tutup laptopnya. Sekarang kamu mandi, gih.”

Diska berdiri. “Baju aku di mobil, El. Tolong ambilin ya.”

“Gak usah pakai baju aja gimana?” goda El sambil menahan tawa.

Diska langsung mencubit pinggangnya. “Dasar!”

El tertawa keras. “Iya, iya, aku ambilin. Tunggu sini.” Ia mengecup kepala Diska sebelum keluar kamar.

Saat ia berjalan ke arah mobil, ia bergumam sendiri sambil tersenyum, “Udah nikah aja masih aja malu-malu. Gemes banget sih, Dis.”

Menjelang malam, papa dan mama El pulang. Suasana rumah jadi lebih hangat. Mereka duduk makan malam bersama di ruang makan yang luas, lampu gantung kristalnya berkilau lembut.

“Sering-sering main ke sini, ya. Biar rumah ini nggak sepi,” kata papa dengan suara lembut.

“Iya, Pa. Nanti kalau Sabtu-Minggu, aku sama Diska nginep di sini aja,” jawab El. “Malam ini juga nginep, kok, Pa.”

Mama tersenyum ramah. “Senin kalian udah mulai kerja lagi?”

“Iya, Ma. InsyaAllah Senin kami mulai kerja seperti biasa,” jawab Diska sopan.

Papa menatap Diska dengan senyum bangga. “Papa mau promosikan kamu, Diska. Naik jabatan. Kamu kan sekarang bagian dari keluarga ini.”

Diska menatap El, kaget. Tapi El hanya makan dengan tenang seolah sudah tahu.

“Maaf, Pa,” ucap Diska pelan. “Diska nggak bisa terima.”

Papa mengernyit. “Kenapa menolak?”

“Pertama, Diska lebih senang kalau naik jabatan karena prestasi sendiri, bukan karena jadi menantu presdir,” jawabnya tegas namun tetap sopan. “Kedua, Diska belum siap. Takut nanti kerjaan makin banyak, terus gak punya waktu buat ngurus El.”

Mama tersenyum lembut. “Kamu memang beda, Diska. Profesional, rendah hati, dan tulus.”

“Pak Rudi juga sering bilang begitu,” tambah mama. “Katanya kamu pekerja keras dan sering bantu rekan satu divisi.”

Papa menatap El sambil tertawa kecil. “El, kamu gak salah pilih istri.”

El tersenyum santai. “Dari awal udah aku bilang, Pa. Pasti Diska nolak. Papa gak percaya.”

Papa mengangguk. “Ya sudah, Papa tetap dukung keputusan kalian. Tapi kalau nanti berubah pikiran, bilang ke Papa, ya.”

“Terima kasih, Pa. Ma, maaf kalau malam ini Diska malah bikin kecewa,” ujar Diska sopan.

“Enggak, Nak,” jawab mama hangat. “Kamu justru bikin kami bangga.”

Setelah makan malam, El dan Diska masuk ke kamar. El berganti pakaian di depan cermin tanpa canggung, sementara Diska buru-buru memalingkan wajah.

“El, ganti baju di toilet aja, kenapa sih,” ucap Diska gemas.

El mendekat tanpa memakai baju atasan, membuat Diska mundur sambil menutup wajah. “Udah nikah juga masih malu aja sih,” katanya menggoda. “Kamu kan udah lihat semuanya, Dis.”

“El, ih!” Diska langsung berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya.

Dari luar El tertawa, “Awas aja lo, Dis, manja banget.”

Beberapa menit kemudian, Diska keluar dengan piyama lembut warna biru muda. Ia duduk di tepi tempat tidur. “Tadi di rumah Airin, kamu ngobrol apa sih sama Bima?” tanyanya setengah curiga.

“Enggak ngapa-ngapain, Dis. Paling diledekin soal pengantin baru.”

“Jangan cerita-cerita hal pribadi, ya,” kata Diska menatapnya dengan mata tajam.

“Sayang, aku nggak cerita apa-apa kok, sayang,” balas El sambil menariknya ke pelukan.

Mereka berbaring bersama. El menatap wajah Diska yang mulai mengantuk. “Dis, malam ini… aku mau kamu,” bisiknya lembut di telinga istrinya.

Diska diam, pipinya memerah. Ia tak menjawab, tapi pelukannya pada El semakin erat. Ciuman El mendarat di kening, lalu di bibirnya. Setiap sentuhan terasa lembut, penuh cinta — bukan nafsu, tapi rasa yang tumbuh dari perjalanan panjang mereka berdua.

“Jangan malu-malu napa, Dis. Aku kan suami kamu,” ucap El sambil tersenyum.

“Aku belum biasa, El…” jawab Diska pelan.

El menciumi wajahnya lagi, membuat Diska tertawa geli. “Udah, El. Aku geli.”

El terkekeh. “Makin kamu kayak gini, makin cinta aku, Dis.”

Mereka kemudian berpelukan lama, dalam kehangatan yang sederhana.

“El,” panggil Diska lembut. “Kamu kok gak cerita kalau Papa mau naikin jabatan aku?”

“Soalnya aku udah tau kamu bakal nolak,” jawab El jujur. “Tapi bener kan Dis alasan kamu ga terima jabatan tadi karena kamu bilang takut gak punya waktu buat ngurus aku?”

Diska menatapnya lembut. “Iya, El. Aku takut waktuku tersita dan gak punya waktu untuk kamu.”

El merasa terharu. “Makasih ya. Kamu nggak pernah berubah.” Ia mencium kening istrinya.

Diska tersenyum. “Eh, aku belum telepon Ibu, lho. Belum bilang kalau kita nginep di sini.”

“Udah aku telpon tadi, pas kamu mandi,” kata El. “Ibu malah nitip salam buat Papa.”

Diska tersenyum lega. “Besok kita pulang ke rumah Ibu, ya.”

“Iya, Diska sayang,” jawab El pelan.

Hari Senin tiba. Mereka berangkat kerja bersama. Di mobil, Diska menatap El dengan wajah serius. “El, di kantor nanti jangan nyamperin aku mulu ya. Aku pengen kerja kayak biasa.”

El tersenyum jahil. “Tapi jam istirahat, kamu ke ruanganku, ya. Kita makan bareng.”

“Lihat nanti,” jawab Diska pura-pura cuek.

Begitu sampai kantor, semua orang langsung menatap hormat ke arah El, CEO muda yang karismatik itu. El mengantar Diska sampai depan divisinya, lalu pamit dengan senyum kecil.

“Gw kira lo resign, Dis,” kata Mira, teman satu divisi.

“Belum lah, gw masih betah kerja,” jawab Diska sambil menyalakan komputer.

“Lo gak honeymoon?” tanya Silvi penasaran.

“Ngapain honeymoon, tiap hari juga udah kayak honeymoon,” balas Diska santai. “Lagian cuti gue cuma seminggu.”

Mira menatapnya kagum. “Lo kan menantu presdir. Bisa kali cuti sebulan.”

“Gila lo. Di kantor ini gue tetap karyawan. Gak ada hak istimewa buat gue,” jawab Diska tegas.

“Hati lo terbuat dari apa sih, Dis,” kata Silvi tertawa. “Gak heran Pak El kelepek-kelepek sama lo.”

Diska ikut tertawa. “Gw sama dia udah kenal dari SMP, Sil. Dulu malah gak tau kalau dia anak pemilik Tama Group.”

“Serius? Yang di foto lo pake baju SMP itu ternyata dia?” tanya Mira sambil menunjuk pigura kecil di meja Diska.

“Iya, dulu dia pemain band di sekolah,” jawab Diska sambil tersenyum mengenang masa lalu.

“Wah, jodoh emang gak ke mana,” komentar Mira.

Tiba-tiba seseorang memanggil. “Diskaaa!”

Diska menoleh dan tersenyum. “Ryan? Lo jadi kerja juga di sini, Yan?” tanya Diska.

Ryan mengangguk. “Keren kan gue sekarang, Dis.” Lalu Ryan tersenyum. “Gimana, penampilan gue oke gak?”

Diska tertawa. “Oke banget. Sekarang tinggal cari cewek biar bisa dimintain pendapat tiap hari.”

Ryan ikut tertawa. “Nanti deh.”

“Eh, anterin gue ke ruangannya El dong,” pinta Ryan.

“Gak bisa, gue lagi kerja. Telepon aja dia.”

“Yaudah, gue nyusul sendiri. Met kerja, ya.”

Setelah Ryan pergi, Mira langsung menatap penasaran. “Siapa lagi tuh, Dis?”

“Ryan, sahabat SMP gue sama El. Sekarang kerja bareng El juga.”

“Ganteng,” komentar Mira.

Diska terkekeh. “Iya, tapi susah banget pacaran. Katanya belum ada yang klik.”

Saat jam istirahat tiba, El sudah menelepon empat kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya Diska pun membawa bekal makan siang yang ia siapkan sendiri pagi tadi dan berjalan ke ruang El.

“Boleh masuk?” katanya sambil mengetuk pintu.

El menatap jam di tangannya. “Lama banget, Dis. Aku udah kangen tau.”

“Maaf, El. Nanggung kerjaan tadi,” jawab Diska lembut.

“Kamu bawa apa tuh?” tanya El sambil menunjuk tas kecil di tangan Diska.

“Bekal makan siang kamu,” jawab Diska sambil tersenyum.

“Kapan belinya?”

“El, aku gak beli. Aku masak sendiri bareng Ibu pagi tadi.”

El menatapnya heran. “Serius? Kamu bangun jam berapa?”

“Jam empat subuh,” jawab Diska. “Waktu kamu masih ngorok.”

El tertawa kagum. “Hmm, kamu luar biasa banget, Dis.” Pujinya lalu membuka kotak makan, menghirup aromanya, lalu tersenyum lebar. “Wangi banget.”

“Cepet makan,” kata Diska sambil duduk di kursi depan meja El.

El menyendok sedikit dan mencicipinya. “Enak banget, Dis.”

“Serius?”

“Cobain sendiri deh,” katanya sambil menyuapi Diska.

Diska tersenyum malu. “Kamu suka?”

“Banget. Tapi kamu gak capek bangun pagi terus masak gini?”

“Enggak, El. Dulu kamu juga sering nyiapin sarapan buat aku waktu masih pacaran, walaupun cuma roti dan susu. Sekarang ganti aku yang ngurus kamu,” jawabnya lembut.

Mereka tersenyum berdua, tapi suasana santai itu mendadak pecah saat Ryan masuk.

“Wah, makan berdua aja nih?” katanya menggoda.

“Diska masak, Yan,” kata El bangga.

Ryan melongo. “Serius, Dis? Wah, makin beruntung aja lo, El.”

“Makanya lo cepet nikah, Yan. Biar ada yang ngurusin juga,” sahut Diska sambil tertawa.

Ryan terkekeh. “Iya, Dis. Nanti deh kalau udah nemu yang kayak lo.”

Ruangan itu dipenuhi tawa.

Kehidupan baru El dan Diska memang baru dimulai — tapi di balik canda dan tawa itu, keduanya tahu: kisah mereka bukan sekadar cinta lama bersemi kembali. Ini perjalanan dua hati yang tumbuh bersama, melewati jarak, waktu, dan kini… tanggung jawab baru sebagai suami istri.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!