NovelToon NovelToon
Me Before You

Me Before You

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:341.1k
Nilai: 5
Nama Author: RisFauzi

Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.

Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.

Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?

Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Jawabku Tidak!

Alya melangkah gontai menuju kamarnya, menutup pintu rapat lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Samar diingatnya bagaimana raut wajah penuh harap Rey saat memintanya untuk kembali bersama lagi.

   "Besok bakalan ketemu dia lagi, males banget." Alya menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan bayangan yang mengganggu itu dari pikirannya.

   Ting!

   Ponselnya berbunyi, ada pesan masuk. Alya mengerutkan keningnya lalu tersenyum kecil saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Bos jutek!

   Ada apa tiba-tiba menghubunginya malam-malam seperti ini. Sudah lewat jam sembilan malam, Alya bangun dan bersandar pada bantal panjang yang tersusun di belakang punggungnya.

   "Lusa Aku pulang."

   "Oh ya," balas Alya.

   "Kamu mau dibawain oleh-oleh apa, durian mau nggak? Kebetulan di sini lagi musim."

   "Nggak"

   Hening, tak ada chat balasan lagi. Alya mencoba memejamkan matanya, ponselnya masih berada dalam genggaman tangan kirinya. Ngantuk! Matanya mulai berair, sebuah kuap lolos dari mulutnya. Tapi Alya berusaha menahan kantuknya sambil menunggu balasan chat dari bos jutek-nya.

   "Iya, nggak, iya, nggak! Nggak ada yang lain gitu 🙄"

   "Nggak ada. Nggak suka durian, nggak usah bawain apa-apa," balas Alya lagi, matanya bertambah berat. Untung saja dia masih bisa membalas pesan Daffa.

   "Beneran nggak mau dibawain apa-apa?"

   "Ññmmmmmmkknm." Alya tidak lagi dapat menahan kantuknya, jatuh tertidur dengan ponsel masih berada di tangannya.

   Sementara Daffa yang sedang berada di depan kios buah bersama sang mama yang masih asik memilih durian, menatap ponsel di tangannya tak berkedip. Jawaban Alya dengan huruf tak beraturan di ponselnya membuat Daffa tersenyum masam.

   "Yakin ketiduran ini anak," katanya setengah berbisik lalu memasukkan ponselnya dalam saku celana panjangnya.

   "Gimana Fa, jadi beli buat oleh-oleh," tanya mamanya tanpa menoleh pada Daffa, masih sibuk memilah buah.

   "Nggak usah, Ma. Beli buat orang rumah saja," jawab Daffa beranjak mendekati mamanya.

   "Loh, kenapa?" tanya mama heran. "Bukannya tadi sore Kamu yang paling heboh ngajak Mama beli buah durian buat oleh-oleh."

   "Percuma, dia juga nggak suka."

   "Dia? Dia siapa, teman kantor?"

   "Ho oh."

   Mama tersenyum mengerti, membeli 2 buah saja lalu menyelesaikan pembayaran. Si penjual buah berbaik hati membawakannya sampai ke mobil dan mama tersenyum ramah mengganggukkan kepala mengucap terima kasih.

   "Makasih, Pak," kata mama dan Daffa bersamaan.

   "Sama-sama," jawab bapak penjual buah sambil membungkukkan badannya.

   "Ayok, Ma kita pulang," ajak Daffa sambil merangkulkan lengannya di bahu mamanya. Mama tersenyum mengangguk sambil menepuk tangan Daffa di bahunya.

   Saat berada di dalam mobil, sepertinya mama masih penasaran dengan seseorang yang Daffa sebut dengan dia.

   "Memang Daffa nggak tahu kalau dia nggak suka durian," mama sedikit menekan bicaranya saat mengucap kata dia.

   "Mama penasaran? Daffa cuman nebak saja, kali aja dia suka. Ternyata nggak suka. Biasanya kan cewek pada doyan," jawab Daffa tersenyum masam.

   Mama tergelak melihat raut wajah Daffa yang cemberut. "Nggak semua orang suka sama buah durian, sayang. Terkadang mencium aromanya saja banyak yang tidak tahan," sahut mama sambil mengucek rambut Daffa.

   Daffa meringis, "Iya, Ma," katanya membenarkan ucapan mamanya.

   Bayangan wajah Alya tiba-tiba saja melintas di benaknya, berlari menjauh sambil menutup hidungnya lalu mengibas-ngibaskan tangannya di udara. "Nggak suka, nggak mau. Bawa pulang sana!"

   Astaga! Daffa menepuk keningnya sendiri. Semakin ingin menghalau bayangan Alya dari pikirannya, justru semakin tercetak jelas wajah Alya dalam ingatannya.

   "Besok-besok Aku bawain siomay ekstra pedas level dewa, awas aja bilang nggak suka." Daffa mengingat makanan kesukaan Alya. Menjentikkan jarinya tersenyum rahasia. Tunggu saja kedatanganku besok Ay.

☆☆☆☆☆

   Jam 9 pagi di kantor.

   "Ay, dipanggil bos. Ada yang mau dibicarain sama Kamu. Penting katanya," kata Ola sambil duduk di depan meja, menatap Alya dengan bertopang dagu.

   Alya menghembuskan napas kesal, kali ini apalagi yang ingin dibicarakan Rey padanya. "Memang dia bilang apa?"

   "Panggil Alya, suruh ke ruangan saya. Penting, cuman gitu doang," jawab Ola mengulang pesan Rey padanya.

   "Males banget," sahut Alya tak suka. "Alasan saja."

   "Ada apa, sih. Kok jawabnya gitu?" tanya Ola heran.

   "Ya sudah, Aku ke sana dulu." Alya segera berlalu menuju ke ruangan Rey tanpa menghiraukan pertanyaan Ola padanya, meninggalkan Ola yang bengong menatap kepergiannya.

   Alya duduk kaku dengan punggung tegak di hadapan Rey, tatapannya lurus ke arah lelaki itu. Mencoba tidak terusik dengan sikap santai Rey, menunggu hal penting yang akan disampaikan padanya.

   "Rileks Ay, nggak usah tegang gitu." Rey tersenyum lebar. "Aku mau kasih ini, kwitansi pembayaran perbaikan motormu. Siang ini Kamu sudah bisa mengambilnya di bengkel," Rey menyerahkan selembar nota kwitansi pada Alya.

   Alya memeriksa jumlah yang tertera di nota, lumayan menguras isi dompetnya. "Terima kasih, silahkan potong gaji Saya untuk pelunasan perbaikan motor Saya."

   "Nggak perlu, Ay. Niat Aku tulus kok bantu Kamu." Rey kembali tersenyum. Matanya menatap intens pada Alya, "Bukan sesuatu hal yang besar buat Aku. Apalagi buat Kamu, lebih dari itu Aku bisa berikan buat Kamu."

  Alya memalingkan wajahnya, risih mendengar ucapan Rey padanya. Perlahan tangannya bergerak turun dari atas meja Rey. Sikap manis yang Rey tunjukkan padanya membuatnya muak, ingin secepatnya pergi dari ruangan itu.

   "Makin nggak jelas ini orang," gumam Alya yang sepertinya terdengar jelas di telinga Rey.

   "Ay, Kamu nggak perlu menjawab pertanyaan Aku semalam," kata Rey mulai bicara serius.

   "Tidak! Aku tidak bisa," jawab Alya cepat.

   "Masih banyak waktu, Ay. Kamu nggak harus jawab sekarang," sahut Rey mencoba meralat ucapan Alya.

   "Maaf, Saya harus kembali bekerja lagi. Sudah tidak ada hal penting yang harus dibicarakan lagi." Alya bangkit berdiri, balik badan lalu melangkah hendak keluar ruangan.

   "Satu lagi, Saya tetap akan pergi ke bagian administrasi untuk melaporkan kwitansi ini. Biar bagian admin bisa langsung memotong gaji Saya," Alya keluar dari ruangan Rey, menutup pintu di belakangnya dengan tegas. Meninggalkan Rey yang sekali lagi harus mengesah kecewa pada sikap Alya.

   "Masih banyak waktu, Ay. Aku nggak akan berhenti buat dapetin kamu lagi," tekad Rey dalam hati.

🌹🌹🌹

1
kidung mesra
nyicil dulu tor... Lik n pav nya sudah..
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
keren
Darah Biru (Bangsawan)
Miss you thor
RINDU ⭕
NEXT THOR
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
RINDU ⭕
Like 👍👍👍👍👍👍
RINDU ⭕
Love 💜💜💜💜💜💜💜
RINDU ⭕
Alya
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!