Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penginapan Teratai Emas
Gao Rui tentu pernah mendengar nama Penginapan Teratai Emas sebelumnya. Penginapan Teratai Emas dikenal sebagai penginapan paling mewah di seluruh Kekaisaran Zhou.
Konon, tempat itu bukan sekadar tempat bermalam. Ia adalah simbol status. Hanya orang-orang dengan kekayaan luar biasa atau latar belakang besar yang mampu menginap di sana. Bahkan banyak pejabat tinggi pun harus berpikir dua kali sebelum memesan kamar.
Gao Rui diam-diam melirik ke arah Lan Suya.
“…Bibi benar-benar tidak sederhana,” batinnya.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Mereka terus berjalan melewati jalanan kota yang ramai. Langkah mereka stabil, tidak tergesa-gesa, namun penuh tujuan. Bai Kai tetap berada tidak jauh dari Gao Rui, matanya sesekali menyapu sekitar dengan waspada.
Tak lama kemudian bangunan besar itu akhirnya terlihat.
Sebuah penginapan megah berdiri dengan anggun di tengah kota. Pilar-pilar tinggi berwarna emas kemerahan menopang bangunan utama. Ukiran berbentuk teratai menghiasi setiap sudut, terlihat hidup seolah benar-benar mekar. Atapnya berlapis-lapis dengan lengkungan khas arsitektur kekaisaran, berkilau terkena cahaya matahari.
Di bagian depan, papan besar bertuliskan “Penginapan Teratai Emas” terpajang dengan huruf yang diukir indah.
Gao Rui tanpa sadar berhenti sejenak.
“…Besar sekali,” gumamnya pelan.
Lan Suya melirik sekilas, tersenyum tipis, lalu melangkah masuk tanpa ragu. Mereka pun mengikuti.
Begitu sampai di depan pintu masuk, beberapa pelayan penginapan yang mengenakan pakaian rapi langsung membungkuk hormat.
“Selamat datang, Tuan, Nyonya.”
Sikap mereka sopan, gerakan mereka terlatih, dan senyum mereka terlihat profesional namun tetap hangat. Tanpa perlu banyak kata, mereka segera mempersilakan rombongan itu masuk.
Saat kaki Gao Rui melangkah ke dalam, ia kembali terdiam.
Interior penginapan itu bahkan lebih luar biasa daripada tampilan luarnya. Lantai marmer mengilap memantulkan bayangan dengan jelas. Lampu-lampu kristal tergantung indah di langit-langit tinggi. Aroma harum yang lembut memenuhi udara, memberikan kesan tenang sekaligus mewah. Setiap sudutnya terasa mahal.
Mata Gao Rui bergerak ke sana kemari, jelas tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Melihat itu, Lan Suya yang berjalan di depannya tiba-tiba tertawa kecil.
“Hehe…”
Gao Rui langsung menoleh. Lan Suya menatapnya dengan senyum tipis.
“Mulai sekarang,” katanya santai, “kau harus membiasakan diri melihat hal-hal seperti ini.”
Nada suaranya ringan, namun mengandung makna yang dalam.
Gao Rui terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“…Baik, Bibi.”
Mereka kemudian berjalan menuju meja depan penginapan. Seorang pelayan segera menyambut mereka dengan hormat, lalu tanpa banyak bertanya langsung menyiapkan segala keperluan. Jelas, kehadiran Lan Suya bukanlah sesuatu yang biasa.
Tak lama kemudian pelayan itu menyerahkan empat buah kunci kamar kepada Lan Suya. Lan Suya menerimanya, lalu berbalik.
Ia menyerahkan masing-masing satu kunci kepada Gao Rui, Bai Kai, dan Rou Xi. Satu kunci sisanya ia simpan sendiri.
Saat menerima kunci itu, Gao Rui sedikit ragu. Ia menatap kunci di tangannya, lalu mengangkat kepala.
“Bibi… apa kita tidak terlalu boros?”
Lan Suya mengangkat alisnya sedikit. Gao Rui melanjutkan perkataannya.
“Bukankah aku bisa satu kamar dengan Senior Kai?”
Bai Kai yang mendengar itu langsung berdeham pelan, hampir tersedak oleh kata-kata Gao Rui sendiri.
Lan Suya justru tersenyum. Senyum yang tenang namun penuh arti.
“Rui’er,” katanya lembut, “kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu.”
Ia sedikit mendekat, lalu menatap langsung ke mata Gao Rui.
“Kau harus mulai terbiasa berada di posisi atas.”
Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk membuat Gao Rui terdiam. Ia menunduk sedikit, lalu mengangguk.
“…Aku mengerti.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Lan Suya lalu bertepuk tangan pelan sekali, menarik perhatian mereka semua.
“Baik,” katanya ringan, “kalian bisa beristirahat terlebih dahulu. Bersihkan diri kalian.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Nanti malam, kita berkumpul di ruang makan penginapan.”
Semua mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi, mereka pun berjalan menuju kamar masing-masing.
Lorong-lorong penginapan itu panjang dan tenang, dilapisi karpet lembut yang meredam suara langkah. Pelayan berdiri di beberapa titik, siap membantu kapan saja.
Gao Rui berjalan sambil melihat-lihat sekeliling. Setelah beberapa saat, ia sampai di depan kamarnya. Ia menatap pintu itu sejenak lalu perlahan membuka.
Ceklek…
Pintu terbuka. Saat ia melangkah masuk, langkahnya kembali terhenti. Gao Rui hanya bisa terdiam. Matanya membelalak tanpa sadar.
Kamar di hadapannya… benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.
Ruangan itu luas, jauh lebih besar dari kamar mana pun yang pernah ia tempati. Dindingnya dihiasi ukiran halus dengan motif teratai yang elegan. Tirai sutra berwarna lembut menjuntai di sisi jendela besar, membiarkan cahaya matahari masuk dengan hangat namun tidak menyilaukan.
Gao Rui melangkah masuk perlahan, seolah takut merusak ketenangan tempat itu.
“…Ini… kamar?” gumamnya lirih.
Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur besar berdiri anggun. Seprai putih bersih terhampar rapi, tampak begitu lembut hanya dengan sekali pandang.
Tak hanya itu, di sudut ruangan terdapat meja kecil dengan teko dan cangkir dari porselen halus. Sebuah rak kayu memajang beberapa gulungan buku, sementara di sisi lain terlihat bak mandi besar yang dipisahkan oleh sekat ukiran.
Namun yang paling membuatnya tertegun… adalah aroma ruangan itu yang harum. Bukan sekadar harum biasa, melainkan wangi yang lembut dan menenangkan, seperti campuran bunga teratai dan dupa berkualitas tinggi. Aroma itu membuat pikirannya terasa ringan, bahkan napasnya menjadi lebih dalam tanpa ia sadari.
Gao Rui menarik napas perlahan.
“…Bahkan udaranya pun terasa mahal,” batinnya.
Ia berjalan mendekati tempat tidur, lalu tanpa sadar duduk di atasnya. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, ia langsung terdiam lagi, empuk.
Bukan empuk biasa, melainkan begitu lembut hingga tubuhnya seperti tenggelam perlahan ke dalamnya. Rasanya seolah seluruh lelah yang ia rasakan sejak beberapa hari terakhir langsung diserap oleh kasur itu.
Gao Rui kemudian merebahkan dirinya.
“……”
Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong selama beberapa detik.
“…Enak sekali,” gumamnya pelan.
Namun tak lama kemudian, ia menghela napas dan bangkit kembali.
“Tidak… kalau langsung tidur, tubuhku masih kotor.”
Ia duduk sejenak, lalu berdiri. Tatapannya beralih ke arah bagian kamar yang dipisahkan oleh sekat ukiran. Di sana, ia bisa melihat bak mandi besar yang telah terisi air jernih, bahkan tampak sedikit uap tipis mengepul di permukaannya.
Jelas… semua sudah dipersiapkan dengan sempurna. Gao Rui tidak membuang waktu lagi. Ia segera berjalan ke sana, melepas pakaian luarnya, lalu masuk ke dalam air hangat itu.
“Ah…”
Suara lega keluar dari mulutnya tanpa bisa ditahan. Airnya hangat, pas, seolah disesuaikan dengan suhu tubuhnya. Setiap bagian tubuhnya yang pegal perlahan terasa rileks. Otot-ototnya yang tegang mulai mengendur.
Ia menyandarkan punggungnya di tepi bak, menutup mata sejenak. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama… ia benar-benar merasa tenang.
Waktu berlalu tanpa terasa. Setelah selesai mandi, Gao Rui keluar dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Ia mengenakan pakaian bersih yang telah disediakan, lalu kembali ke arah tempat tidur.
Kali ini, tanpa ragu ia merebahkan dirinya kembali di atas kasur itu. Rasa lembut langsung menyambutnya, bahkan lebih terasa nyaman setelah tubuhnya bersih dan segar.
Gao Rui menarik selimut tipis, menutup sebagian tubuhnya. Matanya perlahan terpejam. Tak butuh waktu lama napasnya menjadi teratur. Ia pun akhirnya benar-benar terlelap, tenggelam dalam istirahat yang nyenyak di kamar mewah Penginapan Teratai Emas.
...******...
Malam akhirnya tiba. Langit di luar telah berubah gelap, dihiasi cahaya lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Suasana Penginapan Teratai Emas pun ikut berubah. Jika siang tadi terasa megah dan hidup, kini tempat itu justru terasa lebih tenang dan entah mengapa, lebih berkelas.
Gao Rui perlahan membuka matanya. Ia terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar. Rasa lelah yang sebelumnya menumpuk kini hampir sepenuhnya menghilang. Ia duduk perlahan di atas kasur, mengusap wajahnya sebentar.
“…Sudah malam rupanya.”
Ia melirik ke arah jendela. Cahaya bulan masuk samar melalui tirai tipis, menambah suasana tenang di dalam kamar.
Gao Rui kemudian mengingat sesuatu.
“Ruang makan…”
Ucapan Lan Suya sebelumnya kembali terngiang di benaknya. Mereka berjanji untuk makan malam bersama di sana.
Tanpa berlama-lama, Gao Rui segera berdiri. Ia merapikan pakaiannya, memastikan penampilannya tidak berantakan. Meski ia belum terbiasa dengan kehidupan seperti ini, ia tidak ingin terlihat memalukan.
Setelah itu, ia berjalan keluar dari kamar. Lorong penginapan masih sama seperti sebelumnya, tenang, bersih, dan dipenuhi aroma harum yang lembut. Beberapa pelayan terlihat berdiri di titik-titik tertentu, membungkuk hormat saat Gao Rui lewat.
Ia mengikuti petunjuk yang diberikan sebelumnya, berjalan menuju ruang makan utama. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai.
Begitu memasuki ruangan itu, seorang pelayan segera menghampirinya.
“Selamat malam, Tuan Muda,” ucapnya sopan.
Gao Rui mengangguk pelan. Pelayan itu kemudian dengan cekatan mempersilakannya masuk lebih dalam dan mengarahkannya ke sebuah meja kosong.
“Silakan duduk di sini, Tuan.”
Gao Rui menurut. Ia duduk perlahan, lalu tanpa sadar mulai memandang sekeliling ruangan itu.
“…Sepi.”
Itu kesan pertama yang muncul di benaknya.
Padahal ruang makan itu sangat luas dan mewah. Meja-meja tertata rapi, lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat, dan aroma makanan samar tercium di udara. Namun… hampir tidak ada orang. Selain dirinya, hanya ada satu meja lain yang terisi.
Di meja itu duduk beberapa orang, sekitar empat orang yang tampaknya sedang berbincang cukup santai.
Gao Rui tidak terlalu memedulikan mereka pada awalnya. Ia hanya duduk tenang di meja yang bersebelahan, menunggu minuman yang disediakan oleh pelayan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan meletakkan secangkir teh hangat di hadapannya.
“Silakan, Tuan Muda.”
Gao Rui mengangguk singkat. Ia mengambil cangkir itu, meniup pelan, lalu menyeruput sedikit. Hangatnya langsung terasa menenangkan.
Sambil menunggu, matanya kembali bergerak, mengamati sekeliling. Namun tanpa ia sadari… pendengarannya justru menangkap sesuatu. Suara dari meja di sebelahnya.
“…Haha! Kali ini aku benar-benar akan semakin kaya!”
Suara seorang pria terdengar cukup jelas. Nada suaranya penuh kepuasan, bahkan sedikit sombong. Gao Rui tidak bermaksud menguping, namun jarak mereka terlalu dekat untuk diabaikan begitu saja.
“Tanahku yang berada di pusat kota itu… sebentar lagi akan laku dengan harga tinggi!” lanjut pria itu.
Orang-orang di mejanya tampak ikut tertawa kecil.
“Benarkah? Secepat itu?”
“Tentu saja!” pria itu menjawab mantap. “Hari ini saja sudah ada yang datang menawar!”
Ia berhenti sejenak, lalu tertawa meremehkan.
“Dan kau tahu siapa yang datang?”
“Siapa?”
“Kepala toko Ji Un!”
Nama itu membuat Gao Rui sedikit mengangkat alisnya. Pria itu melanjutkan dengan nada merendahkan.
“Hah! Benar-benar orang bodoh. Entah kenapa hari ini dia tiba-tiba datang menghadapku, mengatakan bahwa Kelompok Harta Langit akan segera membeli tanah milikku!”
Orang-orang di mejanya terlihat terkejut.
“Kelompok Harta Langit?”
Ia meneguk minumannya dengan santai.
“Selama mereka mau membayar mahal, siapa pun yang datang… tetap akan kujual.”
Tawa kembali terdengar dari meja itu.
Sementara itu di meja sebelah, Gao Rui terdiam. Cangkir tehnya berhenti di udara.
“…Kelompok Harta Langit?”
Matanya sedikit menyipit. Bukankah itu milik Bibi Lan Suya?
Ia menurunkan cangkirnya perlahan. Raut wajahnya berubah sedikit serius.
Gao Rui tidak berkata apa-apa, namun pikirannya mulai berputar. Ia tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi namun satu hal jelas. Pembicaraan itu bukan kebetulan biasa.