Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13: Tea Party
Udara di taman kediaman Duchess Coral terasa sejuk dan wangi, dipenuhi aroma mawar dan melati yang ditanam rapi di sepanjang jalan setapak. Di tengah taman itu, di bawah naungan kanopi kain sutra berwarna krem, meja-meja panjang telah disusun indah, tertutup tapis renda halus dan dihiasi beragam penganan serta teko-teko porselen mahal. Pesta teh ini adalah ajang pertemuan para wanita bangsawan tertinggi di ibu kota—tempat di mana hubungan dipererat, persekutuan dibentuk, namun di sisi lain, tempat di mana reputasi bisa hancur hanya dengan satu kalimat yang dibalut senyum manis.
Amorette melangkah masuk dengan anggun, gaun biru keperakannya bergerak lembut mengikuti setiap langkahnya. Ia disambut langsung oleh Duchess Coral, wanita tua yang berwibawa namun memiliki senyum ramah yang menawan. Duchess itu menyambutnya dengan hangat, memegang tangannya dengan lembut dan membawanya ke kursi kehormatan di sebelah kanan nyonya rumah.
"Selamat datang, Putri Amorette. Sungguh suatu kehormatan memiliki putri sulung Kerajaan Elowen di sini. Kau terlihat sangat anggun hari ini," ucap Duchess Coral ramah.
"Terima kasih atas undangannya, Yang Mulia. Kediaman Ibu sangat indah, sungguh menyejukkan hati," jawab Amorette sopan, lalu duduk dengan tegak namun santai.
Namun, begitu ia duduk, suasana hangat itu perlahan berubah. Amorette sadar betul apa yang sedang terjadi. Ia tahu, di mata sebagian besar wanita di sini, ia masihlah gadis manja, pencemburu, dan berhati busuk yang suka membuat onar—gambaran yang melekat kuat akibat cerita-cerita yang tersebar luas, terutama yang disebarkan secara halus oleh Ratu Mirelle dan Elarise. Dan memang benar dugaannya: hari ini, ia adalah mangsanya.
Belum berlalu lima menit sejak ia duduk, Elarise datang dengan penampilan yang manis dan lembut, disambut dengan riang oleh banyak tamu. Ia duduk di sisi seberang meja, menatap Amorette dengan senyum yang tampak bersahabat namun matanya berkilat penuh rencana. Serangan pun dimulai, perlahan namun pasti, dibungkus kata-kata sopan yang tajam.
"Wah, Putri Amorette..." ucap seorang wanita bangsawan paruh baya sambil mengaduk tehnya pelan. "Kami semua sangat senang kau mau hadir. Dulu, kudengar kau lebih suka berdiam diri di kamar atau menangis jika hal tidak berjalan sesuai keinginanmu. Bahkan ada yang bilang kau membuang makanan karena tidak suka rasanya. Benarkah itu?"
Kalimat itu diucapkan dengan nada bertanya yang polos, namun seluruh meja terdiam, menunggu jawaban. Itu adalah serangan langsung pada masa lalu buruknya.
Amorette tetap tenang, wajahnya tidak berubah sedikit pun. Ia mengangkat cangkir tehnya perlahan, menyesap sedikit, lalu menatap wanita itu dengan senyum tenang.
"Dulu memang aku masih sangat muda dan belum mengerti apa-apa, Nyonya. Aku masih berpikir bahwa dunia berputar hanya di sekelilingku. Namun, bukankah kesalahan masa lalu adalah guru terbaik? Jika seseorang tidak pernah salah, ia tidak akan pernah belajar menjadi lebih baik. Aku bersyukur memiliki waktu untuk merenung dan menyadari betapa kekanak-kanakannya sikapku dulu. Dan untunglah, aku tidak lagi membuang makanan, karena sekarang aku justru sangat tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan bahan makanan dan tanaman."
Jawaban itu elegan, mengakui masa lalu namun mengubahnya menjadi bukti kedewasaan. Wanita itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi.
Namun serangan belum berakhir. Seorang gadis muda di sebelah Elarise menyambung pembicaraan sambil menatap Amorette tajam.
"Tapi memang luar biasa, Putri Amorette. Perubahanmu begitu drastis dalam waktu singkat. Dulu kau sangat cemburu dan selalu menyakiti Putri Elarise hanya karena semua orang menyayanginya. Dulu kau bahkan sampai memfitnahnya, bukan? Apa yang membuatmu berubah begitu saja... apakah kau sadar bahwa kau tidak akan pernah bisa mengalahkan kebaikan hati Putri Elarise?"
Elarise menundukkan wajahnya, berpura-pura sedih seolah mengingat penderitaan masa lalunya, membuat suasana semakin mendukungnya.
Amorette meletakkan cangkirnya pelan di atas piring kecil, bunyi 'ting' halus terdengar jelas. Ia menatap gadis itu, lalu beralih menatap Elarise dengan pandangan yang membuat gadis itu menegang.
"Kau benar, aku dulu sering bertindak tanpa berpikir panjang. Aku memang sering marah, sering iri, dan sering menyakiti Elarise. Tapi tahukah kau apa yang paling aku sesalkan? Bukan karena aku iri padanya, melainkan karena aku terlalu bodoh hingga mudah sekali terbawa emosi oleh hal-hal yang belum tentu benar adanya. Dulu aku berpikir Elarise jahat, ternyata aku yang salah. Dulu aku berpikir semua orang membenciku, ternyata aku yang menjauhkan diri dari mereka. Dan sekarang aku sadar... kebaikan hati tidak perlu diteriakkan atau ditunjukkan dengan menangis sedih. Kebaikan hati itu terasa dalam tindakan nyata. Aku berterima kasih pada Elarise, karena sikapnya yang sabar dulu itulah yang membuatku sadar betapa buruknya diriku. Tanpa dia, aku mungkin masih menjadi gadis bodoh yang sama sampai sekarang."
Kalimat itu seperti skakmat. Amorette mengakui kesalahannya, memuji Elarise, namun dengan cara yang membuat Elarise sendiri terlihat canggung dan pura-pura. Semua orang mengangguk kagum mendengar pengakuan yang dewasa itu, sementara Elarise menunduk makin dalam karena merasa semua pandangan kini tertuju padanya—mengharapkan dia juga berkata baik, padahal hatinya sedang mendidih marah.
Topik pembicaraan pun bergeser ke hal yang lebih baru, namun tetap tajam.
"Ngomong-ngomong, Putri Amorette..." sela seorang Countess berusia paruh baya dengan senyum menyelidik. "Kami semua melihat kejadian di pesta ulang tahun Elarise kemarin. Kau dan Pangeran Algernon terlihat sangat dekat, bahkan hampir tidak terpisahkan. Padahal kan... Pangeran Theodore adalah tunanganmu, dan Pangeran Theodore sangat dekat dengan Putri Elarise. Apakah kau dan Pangeran Algernon... memiliki hubungan khusus? Bukankah itu agak... aneh?"
Pertanyaan itu mengandung tuduhan terselubung: Amorette mendekati kakak kekasih saingannya, Amorette tidak setia, atau Amorette ingin merebut pria lain.
Amorette tersenyum tenang, matanya berkilat cerdas.
"Ah, soal itu. Memang kami dekat, namun hanya sebatas teman dan sahabat, Nyonya. Pangeran Algernon adalah orang yang sangat cerdas dan berwawasan luas. Aku banyak belajar darinya, dan kami memiliki pandangan yang sama mengenai banyak hal. Tidak ada hubungan lain selain itu. Dan mengenai tunanganku, Pangeran Theodore... aku sangat menghormati hubungan persahabatan yang terjalin erat antara Pangeran Theodore dan Putri Elarise. Aku tidak ingin dicap sebagai orang yang cemburu buta, atau lebih buruk lagi... dicap sebagai orang ketiga yang mengganggu kebahagiaan persahabatan mereka berdua. Aku percaya pada etika, dan aku percaya pada tempat masing-masing."
Jawaban itu membuat ruangan hening seketika. Tuduhan bahwa dia mendekati Algernon karena tidak dapat Theodore berbalik menjadi pujian atas kedewasaan dan rasa hormatnya. Dia bahkan mengangkat statusnya di atas Elarise dengan menyebutkan bahwa dia tidak mau menjadi pengganggu. Semua orang tertegun, mulut-mulut yang tadinya siap menyindir kini tertutup rapat.
Serangan telah gagal total. Kini giliran Amorette yang memegang kendali pembicaraan.
Suasana yang tadinya penuh ketegangan perlahan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi suasana akrab dan penuh rasa ingin tahu. Pembicaraan beralih ke hal-hal yang lebih ringan dan berfaedah.
"Ngomong-ngomong, kudengar kau sangat tertarik dengan tanaman belakangan ini, Putri Amorette?" tanya Duchess Coral dengan antusias, memecah kebisuan. "Kebetulan sekali, kami sedang membahas kesulitan mendapatkan tanaman obat yang ampuh namun aman untuk anak-anak. Banyak ramuan yang dijual di pasar justru terlalu keras efeknya."
Mata Amorette berbinar. Ini adalah medan pertempuran yang paling ia kuasai.
"Benar sekali, Nyonya Duchess. Aku memang menghabiskan banyak waktu di perpustakaan akhir-akhir ini, membaca buku-buku botani dan pengobatan kuno. Ternyata alam ini menyediakan banyak sekali solusi jika kita tahu cara mengolahnya dengan benar."
Amorette mulai berbicara. Ia menjelaskan berbagai jenis tanaman, cara menanamnya, waktu panen yang tepat, hingga cara mengolahnya menjadi ramuan yang aman. Pengetahuannya begitu luas dan rinci—hasil dari membaca buku berhari-hari dan ingatan masa lalunya sebagai dokter hewan—hingga semua tamu, termasuk Duchess Coral sendiri, terpaku mendengarkan. Elarise yang duduk di pinggir hanya bisa diam, sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
"Dan tidak hanya obat," tambah Amorette sambil tersenyum manis. "Tanaman juga bisa menjadi kenikmatan rasa. Aku juga suka bereksperimen di dapur."
Ia kemudian menyebutkan beberapa resep roti gandum yang sehat, kue kering yang dicampur ekstrak bunga yang menenangkan, hingga minuman herbal yang menyegarkan dan baik untuk pencernaan. Ia menjelaskan takaran, cara pembuatan, hingga rahasia agar rasanya tetap enak namun khasiatnya tidak hilang.
"Resep-resep ini sudah kucoba sendiri bersama pelayanku, Esther," ucap Amorette santai. "Ternyata rasanya sangat lezat dan membuat badan terasa lebih bugar."
Tepuk tangan kagum terdengar pelan, namun salah satu wanita muda bernama Melissa, seorang Baroness yang duduk dekat Elarise, menyeringai sinis dan bersuara cukup keras.
"Wanita bangsawan sejati dan berkelas tidak akan pergi ke dapur dan mengotori tangannya seperti pelayan, Putri. Dapur itu tempat yang kotor dan panas. Lebih baik kau menyuruh orang lain saja, agar statusmu tetap terjaga."
Kalimat itu seolah ingin merendahkan Amorette, menyebutnya tidak tahu diri atau bertingkah rendah.
Namun, Amorette hanya menatap wanita itu dengan tatapan dingin yang tajam, senyumnya hilang perlahan. Ia mencondongkan badannya sedikit ke depan, suaranya tenang namun penuh tekanan yang membuat bulu kuduk meremang.
"Kau berkata begitu seolah-olah mengetahui segalanya, Nona Melissa. Izinkan aku mengingatkanmu... bangsawan yang hanya tahu duduk diam, menikmati kekayaan leluhur tanpa tahu dari mana asalnya, dan menganggap segala hal yang berhubungan dengan kehidupan itu kotor... merekalah yang akan paling cepat jatuh miskin dan terbuang. Aku belajar mengolah makanan bukan karena aku harus bekerja, melainkan karena aku ingin tahu, aku ingin berkarya, dan aku ingin bermanfaat. Dan ingatlah baik-baik... aku adalah Putri Pertama dan sah dari Kerajaan Elowen. Gelarku ada di atasmu, wilayah kekuasaanku jauh lebih luas daripada Baronimu, dan kekayaan kerajaanku ratusan kali lipat dari milikmu. Kau berani mengajarkanku tentang kelas dan derajat? Kau pikir kelas hanya ditentukan oleh tangan yang bersih tapi otak yang kosong?"
Diam. Seluruh taman itu hening seketika. Semua orang bergidik ngeri mendengar jawaban tajam itu. Itu adalah skakmat yang paling telak. Melissa, yang hanya seorang Baroness kecil, wajahnya memucat pucat pasi. Ia menunduk dalam-dalam, menahan air mata karena malu dan takut, tidak berani mengangkat wajahnya lagi. Elarise di seberang meja menelan ludah dengan susah payah, merasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya.
Selesai sudah. Tidak ada lagi yang berani menyindir atau meremehkan Amorette.
Sisa waktu pesta teh berjalan dengan lancar. Amorette menjadi pusat perhatian, didatangi banyak tamu yang ingin bertanya lebih jauh soal tanaman dan resep makanan. Ia menjawab semua dengan ramah, cerdas, dan berwibawa.
Saat acara berakhir dan para tamu mulai berpamitan, enam orang wanita bangsawan dengan gelar terpandang—dua di antaranya adalah Marquise dan empat lainnya adalah Countess—mendekati Amorette. Wajah-wajah mereka tidak lagi penuh sindiran atau rasa curiga, melainkan tatapan hormat dan kekaguman yang tulus.
"Putri Amorette..." ucap salah seorang Marquise, wanita yang sangat berpengaruh di istana. "Kami sangat senang bisa berbicara denganmu hari ini. Kami akui, kami memiliki prasangka buruk sebelumnya, tapi kau telah membuktikan bahwa prasangka itu salah besar. Kau wanita yang luar biasa cerdas dan berani."
"Benar," sambung yang lain. "Kami ingin berkenalan lebih dekat. Mulai hari ini, jika kau butuh apa pun, atau ingin berkunjung ke kediaman kami... kau boleh datang kapan saja. Kami akan selalu menyambutmu dengan hangat. Kami ingin menjalin hubungan persahabatan yang baik denganmu."
Amorette tersenyum lebar, senyum yang penuh kemenangan dan kepuasan. Ia menjabat tangan mereka satu per satu dengan ramah.
"Terima kasih banyak, Nyonya-nyonya. Itu adalah kehormatan bagiku. Aku pasti akan mengunjungi kalian secepatnya," jawabnya dengan mata berbinar.
Saat berjalan pulang meninggalkan kediaman Duchess Coral, Amorette melangkah dengan kepala terangkat tinggi. Ia tidak hanya lolos dari perangkap sindiran hari ini, ia justru menaklukkan medan perang itu, memenangkan hati para wanita paling berkuasa, dan meletakkan batu pertama dari kekuasaannya sendiri. Di balik kipas yang ia buka perlahan, senyum kemenangan masih terlukis jelas di bibirnya. Rencananya berjalan sempurna.