Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Lelaki Bertopeng Hitam
Malam itu Arda tidak tidur.
Setelah percakapannya dengan Kael di ruang arsip, pikirannya seperti dipenuhi ribuan suara yang berbicara bersamaan.
Ia duduk di tepi ranjang.
Lampu kamar dimatikan.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Namun kegelapan tidak mampu menyembunyikan kekacauan di dalam kepalanya.
Isabella diburu.
Bukan korban.
Bukan kecelakaan.
Bukan sekadar orang yang terjebak dalam perang mafia.
Target.
Kata itu terus terngiang.
Semakin lama semakin menyakitkan.
Arda menundukkan kepala.
Tangannya masih menggenggam foto lama yang diam-diam ia bawa dari ruang arsip.
Foto dirinya bersama Isabella.
Saat itu usianya mungkin baru lima tahun.
Dalam foto itu mereka sedang duduk di taman.
Isabella tersenyum.
Sedangkan dirinya memegang es krim yang hampir jatuh ke tanah.
Arda menatap foto tersebut lama.
Sangat lama.
Ia hampir lupa suara ibunya.
Hampir lupa aroma parfum yang biasa dipakai Isabella.
Hampir lupa bagaimana rasanya dipeluk oleh seseorang yang membuat dunia terasa aman.
Namun malam ini semua kenangan itu kembali.
Dan justru membuat rasa kehilangan semakin besar.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku..."
gumamnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Dan rasa marah yang perlahan tumbuh dalam dadanya.
Kalau Silas benar-benar terlibat...
Kalau pria itu memang salah satu penyebab kematian Isabella...
Maka Arda tidak yakin dirinya bisa memaafkan.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Leon...
Ia mulai memikirkan balas dendam.
Dan pikiran itu membuatnya takut.
Karena ia tahu.
Balas dendam adalah jalan yang telah menghancurkan banyak orang.
Namun semakin ia mencoba menolaknya...
Semakin sulit untuk berhenti memikirkannya.
Pagi datang dengan langit yang suram.
Awan gelap menggantung di atas kota.
Udara terasa lebih dingin dibanding biasanya.
Di ruang kerja lantai bawah, Kael dan Ravian sudah duduk di depan tumpukan dokumen sejak subuh.
Meja besar dipenuhi arsip lama.
Foto-foto usang.
Laporan penyelidikan.
Dan catatan yang sebagian besar bahkan tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
"Kita melewatkan sesuatu."
ucap Kael sambil membaca satu dokumen.
Ravian mengusap matanya.
"Kita sudah memeriksa semuanya."
"Belum."
jawab Kael.
"Kalau Isabella benar-benar diburu..."
"...seseorang pasti melihat pelakunya."
Ravian tidak langsung menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia juga memiliki firasat yang sama.
Ada satu potongan yang hilang.
Satu bagian kecil yang selama ini tidak pernah mereka temukan.
Dan mungkin bagian itulah yang akan mengubah semuanya.
Ravian membuka sebuah map tua.
Map itu terlihat paling rusak dibanding yang lain.
Beberapa sudutnya bahkan sudah sobek.
"Aku menemukan laporan ini semalam."
ucapnya.
Kael mengangkat kepala.
"Apa itu?"
"Kesaksian penjaga rumah lama."
Kael langsung terdiam.
Ia mengenal nama tersebut.
Penjaga itu adalah satu dari sedikit orang yang selamat pada malam kematian Isabella.
Namun beberapa bulan setelah kejadian...
Ia menghilang tanpa jejak.
Ravian membuka halaman pertama.
Matanya bergerak cepat membaca isi laporan.
Kemudian ekspresinya berubah.
"Ini aneh."
gumamnya.
Kael langsung berdiri.
"Apa?"
Ravian membaca ulang bagian tertentu.
"Penjaga itu mengatakan dia melihat seseorang keluar dari area belakang rumah."
Jantung Kael berdegup lebih cepat.
"Lalu?"
"Dia tidak melihat wajahnya."
Kael mengepalkan tangan.
"Tapi?"
Ravian menarik napas.
"Lelaki itu memakai topeng hitam."
Ruangan langsung sunyi.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Topeng hitam.
Hanya itu.
Satu-satunya petunjuk yang tersisa dari malam kematian Isabella.
Namun bagi Kael...
Itu jauh lebih berharga daripada tidak ada petunjuk sama sekali.
"Masih ada?"
tanya Kael.
Ravian membalik halaman berikutnya.
Lalu menggeleng.
"Tidak."
"Hanya itu."
Kael menatap jendela.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia merasa mereka mulai mendekati kebenaran.
Dan entah kenapa...
Perasaan itu justru membuatnya semakin gelisah.
Sementara itu di halaman belakang rumah.
Darius sudah menunggu.
Dan seperti biasa...
Latihan dimulai tanpa belas kasihan.
BRAK!
Tubuh Arda menghantam tanah.
Debu beterbangan.
Belum sempat ia bangkit...
Darius sudah bergerak lagi.
Arda buru-buru berguling menghindar.
Pukulan Darius menghantam tanah.
"Bangun!"
bentak pria itu.
Arda berdiri.
Napasnya berat.
Keringat membasahi wajahnya.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Matanya.
Ada kemarahan di sana.
Kemarahan yang tidak ada sebelumnya.
Darius menyadarinya.
Dan ia tidak menyukainya.
"Serang."
ucapnya.
Arda langsung maju.
Pukulan kanan.
Pukulan kiri.
Tendangan.
Siku.
Semua dilakukan lebih cepat dari biasanya.
Namun juga lebih ceroboh.
Karena kemarahan mulai mengendalikan gerakannya.
BRAK!
Darius menjatuhkannya lagi.
Arda bangkit.
Menyerang lagi.
BRAK!
Jatuh lagi.
Menyerang lagi.
Jatuh lagi.
Sampai akhirnya Darius menghentikan latihan.
"Cukup."
ucapnya.
"Aku belum selesai."
balas Arda.
"Justru karena itu aku menghentikannya."
Arda menatapnya kesal.
Darius berjalan mendekat.
"Kau tidak sedang bertarung."
ucapnya.
"Kau sedang melampiaskan kemarahan."
Arda tidak menjawab.
Karena ia tahu itu benar.
"Kemarahan bisa membuatmu kuat."
lanjut Darius.
"Tapi juga bisa membuatmu bodoh."
Untuk beberapa detik mereka saling menatap.
Kemudian Arda memalingkan wajah.
Karena ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya mulai kehilangan kendali.
Sore hari.
Elena sedang membantu menyiapkan makan malam ketika Kael masuk ke dapur.
Pria itu terlihat lelah.
Sangat lelah.
Elena langsung menyadarinya.
"Kau menemukan sesuatu?"
tanyanya.
Kael mengangguk pelan.
"Lelaki bertopeng."
jawabnya.
Elena mengernyit.
"Apa?"
Kael menceritakan laporan yang ditemukan Ravian.
Semakin lama Elena mendengarkan...
Semakin serius ekspresinya.
"Kau pikir dia pembunuh Isabella?"
"Aku tidak tahu."
jawab Kael jujur.
"Tapi aku yakin dia terkait."
Keheningan menyelimuti dapur.
Sampai akhirnya Elena berkata pelan.
"Aku lebih khawatir tentang Arda."
Kael menghela napas.
"Aku juga."
"Dia berubah."
"Aku tahu."
Elena menunduk.
"Matanya berbeda sekarang."
Kael tidak membantah.
Karena ia melihatnya sendiri.
Semakin banyak rahasia yang terungkap...
Semakin besar kebencian yang tumbuh dalam diri Arda.
Dan Kael takut.
Bukan karena Arda akan kalah.
Melainkan karena Arda mungkin menang...
Dengan cara yang salah.
Menjelang malam.
Di atas bukit yang menghadap rumah persembunyian...
Seseorang berdiri diam.
Mantel hitam panjang menutupi tubuhnya.
Sarung tangan hitam menutupi tangannya.
Dan topeng hitam menutupi sebagian wajahnya.
Ia sudah berada di sana selama hampir satu jam.
Mengawasi rumah itu.
Mengawasi setiap jendela.
Mengawasi setiap pintu.
Dan terutama...
Mengawasi Arda.
Di tangannya terdapat tiga foto.
Leon Valdarez.
Isabella Valdarez.
Arda Valdarez.
Ia memperhatikan foto-foto tersebut satu per satu.
Lalu berhenti pada foto Arda.
Untuk waktu yang lama.
Sangat lama.
Angin malam meniup ujung mantelnya.
Namun pria itu tidak bergerak.
Tatapannya tetap tertuju pada foto tersebut.
Kemudian suara pelan keluar dari balik topeng.
"Mirip sekali."
gumamnya.
Entah yang ia maksud Leon.
Atau Isabella.
Atau keduanya.
Beberapa detik kemudian ia memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam saku.
Lalu berbalik pergi.
Namun sebelum menghilang ke dalam kegelapan...
Ia meninggalkan sesuatu.
Selembar kertas kecil.
Malam semakin larut.
Arda berdiri di dekat jendela kamarnya.
Ia masih belum bisa tidur.
Perasaan aneh terus mengganggunya sejak sore.
Seolah seseorang sedang mengawasinya.
Tiba-tiba.
Matanya menangkap sebuah bayangan.
Di luar pagar.
Di antara pepohonan.
Seseorang berdiri di sana.
Tinggi.
Diam.
Tidak bergerak.
Jantung Arda langsung berdetak kencang.
Ia berlari keluar kamar.
Menuruni tangga.
Melewati ruang tamu.
Dan keluar rumah.
Namun saat tiba di halaman...
Sosok itu sudah menghilang.
Hanya angin malam yang tersisa.
Dan selembar kertas di atas tanah.
Arda mengambilnya.
Di atas kertas itu hanya ada satu kalimat.
"KEBENARAN TIDAK SELALU MENYELAMATKAN."
Arda membeku.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia yakin.
Seseorang sedang membawanya menuju rahasia yang selama ini disembunyikan.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪