“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Detak Jam yang Berpacu dengan Waktu
Beberapa menit setelah langkah kaki Narendra tenggelam di balik keheningan lorong, ketukan berirama dua kali kembali terdengar di pintu kamar utama.
Rasti masuk dengan wajah tanpa ekspresi, membawa nampan perak berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap, segelas air hangat, dan sebutir pil zat besi berwarna merah tua.
Tanpa sepatah kata pun, Rasti meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping sofa tempat Alika bersandar.
Wanita paruh baya itu kemudian mundur dua langkah, berdiri dengan postur tegap, menatap Alika dengan sepasang mata sedingin es.
"Tuan Narendra memerintahkan saya untuk memastikan Nyonya menghabiskan seluruh makanan ini tanpa sisa," ujar Rasti, suaranya terdengar seperti mesin yang diprogram. "Beliau tidak ingin melihat ada makanan yang terbuang."
Alika menatap mangkuk bubur di hadapannya.
Rasa mual langsung melonjak ke kerongkongan. Aroma kaldu ayam yang biasanya menggugah selera kini tercium begitu anyir dan memuakkan di indra penciumannya yang supersensitif akibat flare-up.
Sekadar menggerakkan rahang untuk mengunyah sudah terasa seperti siksaan berat karena sendi-sendi di sekitar pelipis dan rahangnya ikut membengkak.
Di bawah tatapan intimidatif Rasti, Alika tidak punya pilihan.
Dengan tangan yang bergetar hebat—hingga sendok perak itu berdenting berulang kali menabrak pinggiran mangkuk—Alika menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.
Rasanya hambar, seperti menelan gumpalan kertas basah. Setiap kali menelan, otot-otot tenggorokannya menolak, memicu refleks ingin muntah yang harus ia tekan mati-matian di balik katupan bibirnya.
Setelah bersusah payah menghabiskan hampir setengah mangkuk, Alika meletakkan sendoknya dengan lemas. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya, melunturkan sisa-sisa foundation hijau yang menyembunyikan ruam malarnya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, Rasti. Perutku sangat perih," bisik Alika parau, matanya menatap memohon pada pelayan yang merangkap sipir penjaranya itu.
Rasti melirik sisa bubur di mangkuk, lalu beralih pada pil vitamin di atas cawan kecil. "Kalau begitu, silakan minum vitaminnya, Nyonya. Saya harus melaporkan kepada Tuan bahwa obat ini sudah masuk ke dalam tubuh Anda."
Alika meraih pil zat besi itu dengan jemari yang kaku.
Menelan pil itu dengan segelas air hangat terasa seperti menjatuhkan sebongkah batu bara panas ke dalam lambungnya yang kosong dan meradang. Efek samping obat zat besi yang keras berpadu dengan gastritis akut akibat stres langsung memicu rasa perih yang membakar di ulu hatinya.
Alika memejamkan mata erat-erat, meremas pinggiran sofa hingga kuku-kukunya memutih, berusaha menahan badai rasa sakit yang berkecamuk di dalam tubuhnya.
Puas melihat tugasnya selesai, Rasti mengangkat kembali nampan itu.
Sebelum melangkah keluar, ia menatap Alika sejenak. "Saran saya, Nyonya tidak perlu melakukan hal-hal yang membuat Tuan Narendra marah. Di rumah ini, tidak ada satu pun yang bisa luput dari perhatian beliau."
Pintu kembali tertutup dan dikunci dari luar.
Alika ditinggalkan sendirian dalam kegelapan sangkar emasnya.
Ia merangkak perlahan menuju ranjang, merebahkan tubuhnya yang terasa kaku dan panas membara. Suhu tubuhnya kian menanjak tinggi—sebuah tanda bahwa sistem imunnya kini sedang mengamuk tanpa kendali, menyerang organ-organ tubuhnya sendiri karena ketiadaan imunosupresan.
Setiap tarikan napasnya kini disertai bunyi gesekan halus di dalam dada, rasa nyeri akibat pleuritis kian menyiksa.
Dalam kondisi setengah sadar karena demam yang membakar, Alika hanya bisa menatap sayu ke arah langit-langit kamar, berharap dan berdoa agar pesan elektronik yang ia kirimkan melalui Smart TV tadi sudah mendarat di tangan yang tepat.
Sementara itu, di kompleks Rumah Sakit Medika Utama, suasana di ruang kerja dr. Raditya tampak tenang namun penuh konsentrasi.
Pria berjas dokter putih itu baru menyelesaikan visitasinya di ruang rawat inap dan kembali ke kubikel pribadinya untuk memeriksa beberapa berkas rekam medis.
Di sudut mejanya, sebuah laptop pribadi yang tidak terhubung dengan jaringan rumah sakit tampak menyala.
Laptop itu sengaja ia gunakan khusus untuk memantau alamat email rahasia yang ia buat bersama Alika beberapa bulan lalu—sebuah jalur komunikasi darurat yang mereka sepakati jika sewaktu-waktu kondisi Alika memburuk dan ia kehilangan akses komunikasi publik.
Ting.
Sebuah notifikasi kecil muncul di sudut kanan bawah layar laptopnya. Sebuah email masuk tanpa nama pengirim, namun subjek yang tertulis di sana seketika membuat darah Raditya berdesir beku: SOS Alika.
Raditya meletakkan bolpoinnya dengan kasar. Dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang, ia mengklik pesan itu dan membaca baris demi baris kalimat yang tertera di layar.
> Mas Radit, ini Alika.
> Narendra menyita ponsel dan aksesku. Aku dikurung bersama pengawas 24 jam. Obatku dihentikan total.
> Gejala memburuk parah. Rambut rontok, sendi meradang, pleuritis kambuh.
> Minggu depan Narendra menyuruh dr. Hendrawan mengambil darahku di sini untuk tes lab rutin.
> Jika hasilnya keluar, dia akan tahu, tapi dia tidak akan percaya autoimunku. Aku mungkin akan dipindahkan ke tempat yang tidak bisa kau temukan.
> Tolong. Lakukan apa pun. Cegah tes itu atau jemput paksa aku dari sini. Aku sekarat.
> Hapus pesan ini setelah dibaca.
Rahang Raditya mengeras hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang.
Matanya membelalak membaca kata "Obatku dihentikan total" dan "Pleuritis kambuh". Sebagai dokter spesialis yang memahami seluk-beluk penyakit Lupus, Raditya tahu persis bahwa menghentikan dosis kortikosteroid dan imunosupresan secara mendadak pada pasien yang berada dalam kondisi active disease sama saja dengan menjatuhkan hukuman mati secara perlahan.
Tanpa obat-obatan itu, antibodi Alika akan menghancurkan ginjal, paru-paru, bahkan sistem saraf pusatnya dalam hitungan hari.
"Narendra... bajingan gila," umpat Raditya jengkel, memukul permukaan meja kerjanya hingga vas bunga kecil di sudut meja bergetar.
Raditya berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Pria itu tahu ia tidak bisa langsung datang bersama polisi ke kediaman Pradipta.
Secara hukum, Narendra adalah suami sah Alika, dan tanpa adanya bukti fisik kekerasan dalam rumah tangga yang kasat mata, polisi tidak akan bisa menembus gerbang barikade penjagaan ketat rumah mewah itu.
Terlebih lagi, kekuasaan uang dan pengaruh politik yang dimiliki Artha Group bisa dengan mudah membalikkan fakta dan menuduh Raditya melakukan pencemaran nama baik atau percobaan penculikan istri orang.
Namun, membiarkan Alika menunggu hingga minggu depan sampai dr. Hendrawan datang adalah tindakan bunuh diri.
Dr. Hendrawan adalah dokter senior yang kolot; ia tidak akan memahami urgensi dari angka laju endap darah yang meroket pada pasien autoimun dan kemungkinan besar hanya akan meresepkan antibiotik atau pereda nyeri biasa yang justru akan memperberat kerja ginjal Alika.
Raditya berhenti melangkah.
Matanya menatap tajam ke arah hasil laboratorium orisinal milik Alika—tes ANA (Antinuclear Antibody) positif kuat yang sempat ia lakukan diam-diam di hotel tempo hari.
Sebuah rencana nekat mulai terbentuk di kepalanya.
Jika ia tidak bisa menjemput Alika secara paksa sebagai seorang teman, maka ia harus menggunakan otoritasnya sebagai dokter spesialis yang memegang bukti medis otentik mengenai kondisi fatal seorang pasien.
Ia harus menghadapi Narendra di areanya sendiri, membawa bukti tertulis yang tidak akan bisa dibantah oleh argumen hukum mana pun, dan memaksa pria arogan itu menghadapi kenyataan bahwa ia sedang mengarak istrinya sendiri menuju pintu liang lahat.
Dengan gerakan cepat, Raditya mencetak hasil laboratorium itu, memasukkannya ke dalam map medis resmi bersimbol Rumah Sakit Medika Utama, lalu menyambar kunci mobilnya.
"Tunggu aku, Alika. Jangan menyerah sekarang," bisiknya penuh tekad sebelum melangkah keluar dengan terburu-buru.
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kerja pribadinya yang bernuansa maskulin di lantai bawah rumah megah Pradipta, Narendra duduk di balik meja kerja kaca hitamnya.
Di hadapannya, layar iPad menampilkan laporan analisis pasar saham Artha Group yang mengalami kenaikan signifikan pasca konferensi pers yang dipimpin Alika siang tadi.
Namun, untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya, Narendra tidak mampu memfokuskan pikirannya pada angka-angka digital yang membawa keuntungan miliaran rupiah itu.
Fokusnya buyar.
Setiap kali ia mencoba membaca grafik, bayangan wajah pucat Alika dengan ruam merah yang melepuh di pipinya selalu terlintas di benaknya.
Narendra menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulitnya, mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
Ibu jarinya bergerak mengusap ujung telunjuknya sendiri—tempat di mana sisa kosmetik tebal Alika sempat menempel tadi siang.
Rasa ngilu dan getaran yang ia rasakan pada tubuh Alika saat ia menyentuh dagunya tadi memicu sebuah debaran aneh yang tidak menyenangkan di dadanya.
Apakah dia benar-benar sakit? Sebuah pertanyaan kecil tiba-tiba muncul di sudut terjauh pikirannya, mencoba meruntuhkan tembok arogansi yang selama ini ia bangun.
Namun, dengan cepat ego Narendra kembali mengambil alih.
Pria itu mendengus sinis, menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu. Tidak. Alika hanya sedang bermain drama.
Dia seorang Head of PR, dia tahu persis bagaimana cara memanipulasi opini dan emosi orang lain.
Dia sengaja memakai kosmetik yang salah untuk membuat wajahnya memerah, lalu bersikap seolah-olah dia menderita agar aku merasa bersalah dan mengembalikan ponselnya.
Narendra meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah bagian dari taktik Alika untuk memenangkan perselisihan di antara mereka terkait kontrak open marriage dan kedekatannya dengan dr. Raditya.
Bagi Narendra, mengakui bahwa Alika benar-benar sakit parah berarti mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar—dan seorang Narendra Pradipta tidak pernah salah.
Pria itu melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. Pukul 14.15 siang.
Ia memutuskan untuk kembali memeriksa laporan keuangan, mengabaikan firasat buruk yang kian pekat berputar di udara, tanpa menyadari bahwa di lantai atas, di dalam kamar yang terkunci rapat, waktu bagi Alika untuk tetap bertahan hidup kini sedang berdetak mundur dengan sangat cepat.