Jalan takdir seseorang tidak ada yang tau, kita selalu berdo'a meminta yang terbaik tapi takdir Allah yang menentukan.
Dua hati yang memiliki rasa namun tidak bisa bersatu. Salah satu hati selau menolak untuk membalas perasaan itu. Ada alasan dibalik penolakannya, namun ia tak mau mengatakan alasan itu dan memilih memendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak percaya
Sayang, kamu gak pesen makanan?" Perempuan sexy yang ada dihadapan Gibran menanyai pemuda itu.
"Enggak. Aku masih kenyang," jawab Gibran tanpa mengalihkan dari gawai yang dipegang.
"Kalo gitu ada apa kamu ngajak aku ketemuan di sini?"
"Ada hal serius yang ingin aku bicarakan." Gibran menaruh gawai tadi di atas meja samping gelas jus mangga yang dipesannya.
"Apa sih? Bikin penasaran aja deh," sahut Raina tersenyum sangat manis di depan Gibran. Perempuan berkulit putih bersih dengan penampilan sexy itulah yang bisa menaklukan hati Gibran. Bukan, sebenarnya bukan hati, melainkan naf sunya.
"Tapi aku takut kamu marah." Gibran melirik ragu ke Raina yang mengerutkan dahi, bukti perempuan itu makin penasaran apa yang akan dibicarakan kekasihnya.
"Ck ... kalo gini malah tambah bikin penasaran. Cepetan cerita gih!" paksa Raina yang tidak jadi memakan spageti di depannya. Perempuan itu menaruh sendok dan garpu di atas piring. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada agar lebih seksama mendengarkan Gibran.
"Sebelumnya aku minta maaf. Papa masuk rumah sakit," ucapan Gibran terputus saat Raina menyahut.
"Papa kamu masuk rumah sakit? Kok kamu gak bilang sih? Tau gitu aku jenguk ke rumah sakit, dia, kan, calon mertuaku."
"Maaf, aku gak kepikiran. Dari kemarin udah sibuk nunggu papa di rumah sakit. Tapi ada hal serius dari ini."
"Apa? Ngomong aja, aku bakal dengerin."
"Papa ingin aku ngabulin permintaan terakhirnya."
"Apa tuh?" Raina masih menanggapi dengan santai, ia belum bisa menebak apa yang akan dibicarakan Gibran.
"Papa minta aku nikahin anaknya temen papa."
"Apa ... ?!" Sontak saja Raina terkejut sampai berdiri secara tiba-tiba. Bola matanya lebih besar dari kelereng dengan mulutnya yang terbuka lebar. Detik berikutnya perempuan itu terlihat melemas dengan kedua matanya berkaca-kaca. Raina menggeleng pelan, tak percaya dengan ucapan Gibran. Rintikan air mata kini berubah menjadi isak tangis. Bahu Raina tergoncang akibat tangisannya.
"Kita baru berapa hari kembali, tapi harus terpisah lagi? Bahkan perpisahan ini sangat jauh membentang jarak kita," ucap Raina saat menguasai kesedihannya.
"Dengerin aku. Enggak, kita gak akan berpisah walau aku udah nikah nanti. Wanita yang aku cintai hanya kamu, bukan perempuan lain. Statusku boleh menikah dengan Aisyah, tapi cintaku tetap hanya menjadi milikmu," jelas Gibran meraih kedua punggung tangan Raina untuk digenggam. Menenangkan perempuan di depannya yang masih saja terlibat tangisan.
•
"Maksud kamu?"
"Kami akan menikah pura-pura, demi kesembuhan Papa. Meski kami menikah, dia gak ada hak buat larang aku pacaran sama kamu. Ibarat, aku nikahi dia cuma karna ngejar status."
"Mana ada seperti itu?!" Raina tidak mudah percaya.
"Ada. Walau aku menikah, tapi nanti kita masih bisa pacaran. Aku masih tetep milikmu."
Raina mengernyit, meski Gibran sudah menjelaskan. Tetapi hatinya tidak mudah lega begitu saja. Hal ini tidak main-main karena menyangkut ijab qabul, dan juga status negara
"Tapi, aku berat untuk menyetujui. Kalau akhirnya kamu jatuh cinta sama perempuan itu. Aku bakal kamu tinggalin," ucap Raina.
"Gak akan! Kamu tau sendiri seleraku yang bagaimana. Gak bakal aku jatuh cinta sama cewek sok suci dan keras kepala seperti Aisyah."
"Aisyah? Kayaknya pernah denger nama itu?"
"Aisyah tuh perempuan kemarin yang aku kasih tumpangan.""Baiklah Pa, Gibran akan ngabulin permintaan Papa. Tapi Papa, juga harus nurut sama Gibran," ujar Gibran saat sudah berdiri di samping Haidar.
"Gimana maksud kamu? Papa gak paham," bingung Haidar.
"Gibran mau nikahin, cewek sok suci ... eh, Aisyah maksudnya," ralat Gibran.
"Benarkah?" Wajah sakit Haidar membuncah sedikit berbinar. Begitu senangnya hingga menyembulkan senyum bahagia. "Alhamdulillah, terima kasih, Iban. Terima kasih, kamu mau mengabulkan permintaan terakhir Papa. Terima kasih untuk baktimu, Nak. Papa bahagia," ucap Haidar terlihat sangat bahagia.
Gibran justru diam mengamati wajah papanya. Jarang, bahkan hampir tidak pernah melihat sang ayah bisa tersenyum cerah seperti saat ini. Mata Gibran berkaca meniti wajah bahagia papanya. Semala ini ia tak pernah memperdulikan apapun keadaan papanya, tetapi melihat Haidar terbaring lemah membuat hati Gibran diselimuti takut.
Di dunia ini hanya Haidar yang ia punya, jika papanya pergi ia tak sanggup lebih kesepian dari hari lalu.