(update sesuai mood)
🚫SEBELUM MEMBACA ALANGKAH BAIKNYA FOLLOW DULU AKUN AUTHOR AMATIRAN INI🚫
______________________________
Bila kehidupan ini mengajarimu cinta, maka pengalaman mengajarimu siapa yang kamu cintai dan situasi mengajarkan siapa yang selalu mencintaimu. Begitulah kurang lebih kehidupan mereka saat ini.
Semesta buat mereka kembali bertemu. Menyatukan apa yang belum menjadi satu dan padu. Mengerti dan memahami masa lalu yang pilu. Ada yang membantu dan dibantu keluar dari rasa sakit yang tak pernah bersurai temu. Keduanya akan tetap menyatu walau permasalahan mengiringi kisah kedua insani itu.
____________________________
🚫Mohon maaf bila ada kesamaan tokoh, latar ataupun tempat. Karena itu murni ketidaksengajaan🚫
⛔DON'T COPY MY STORY⛔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itachi Nurjannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 35
Jika anda menyukai bagian ini, silahkan pertimbangkan utk memberikan Like, comment and VOTE boleh juga :)
...*...
...*...
...*...
Juan masuk rumah dengan terburu-buru saat mengetahui istrinya tak sadarkan diri dari menantunya, Yuki. Tadi, Juan sedang menemui teman bisnisnya di restoran yg berada disamping kantornya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan melihat bahwa yg mencalling dirinya adalah Yuki. Juan sendiri sempat-sempatnya berpikir 'tumben sang menantu menelpon' dan tanpa menunggu lama Juan pun menerima panggilan tersebut.
Juan mulai tidak fokus setelah mendengar keadaan istrinya yg tak sadarkan diri dirumah. Sebab hari sebelumnya, Juan sudah beberapa kali memaksa istrinya untuk menemui dokter. Tapi istrinya sangat keras kepala dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak sakit dan baik-baik saja.
Dan disinilah keberadaan Juan sekarang. Melihat menantu dan sang keponakan yg turut menjaga istrinya.
"Bagaimana keadaan bibi-mu sekarang michele?" cemas Juan.
"Bibi hanya kelelahan paman. Tidak ada kendala lain" Michele menjawab cepat untuk menghilangkan kerisauan Juan yg tercetak jelas di wajahnya.
Juan mengangguk dan beralih bertanya kepada menantunya, Yuki.
"Apa kabar mu dan Randy nak? Apa Randy menyusahkanmu?" tanya Juan
"Kabar Yuki dan Randy sangat baik, pi. Dan untuk mas Randy juga tidak terlalu menyusahkan. Hanya kadang-kadang mas Randy terlalu usil" jujur Yuki.
"Usil?" tanya Juan hampir tak percaya.
"Iya pi, mas Randy sangat usil, menyebalkan dan juga sedikit mesum" ujar Yuki pelan di ujung kalimatnya.
Juan dan Michele tertawa melihat Yuki yg sangat berterus terang kepada mereka.
'dia sangat polos' batin michele.
Hanya berselang beberapa menit mereka bercengkrama, Mikha mulai sadarkan diri dan melihat sekelilingnya. Saat menyadari istrinya sudah sadar, Juan langsung menghampirinya.
"Sayang, mengapa bisa seperti ini? Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu untuk tidak terlalu lelah dalam melakukan pekerjaan rumah. Jangan lagi menghabisi energimu sia-sia. Kan sudah banyak para pelayan yg akan mengurus dan membersihkan rumah ini" Juan berujar panjang kali lebar.
Mikha hanya menanggapi ucapan suaminya dengan tersenyum lemah dan sedikit mengangguk. Tatapannya beralih ke Yuki.
"loh, sejak kapan nak Yuki kemari?" tanya Mikha melihat sang menantu.
"Belum lama juga sih mi" jawab Yuki.
"Tidak bi, dia sudah lama menunggu bibi disini. Sedari awal Michele kemari, ia tidak henti-henti memantau pergerakan Michele. Bahkan saat Michele menyuruh menantu bibi keluar, ia malah ngotot untuk tinggal dan terus menerus mengawasi pergerakan Michele. Menantu bibi ini sangat berpikiran buruk tentangku dan melihatku seperti orang cabul" kata Michele berkeluh kesah kepada bibinya.
"T..ti..dak mih. Jangan percaya dia. Yuki hanya tidak mau mami kenapa-kenapa. Pasalnya di jaman sekarang, kita tidak boleh terlalu percaya dengan dokter yang satu ruangan dan berduaan dengan kita. Banyak dokter sekarang yg diam-diam mengambil kesempatan kepada pasiennya saat pasien tidak sadarkan diri. Yuki hanya tidak mau jika mami di grepe-grepe. Karena jika nafsu seorang pria sudah melunjak, dengan kambing pun jadi" Yuki menjelaskan pikiran negatifnya.
"Yuki... Yuki...
Pikiran mu ini terlalu jauh" ujar Mikha sambil tertawa.
"Tapi mami senang karena sudah bertambah pengawal baru yg menyandang status menantu di sisi mami" lanjut Mikha sambil memegang lengan suaminya.
*****
Sore hari Yuki telah tiba dirumah yang di tinggalinya bersama Randy. Terlihat pintu yang terbuka menampakkan Randy yg berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Yuki memperhatikan ekspresi wajah Randy yang tidak bisa di jabarkan oleh Yuki saat ini.
"Dari mana saja kau, Yuki?" tanya Randy sambil mengguncang-guncangkan bahunya.
Yuki terdiam memperhatikan sikap Randy yang sangat aneh.
"Kenapa kau diam? Jawab Aku!
Apa kau ingin kabur dan lari dari pernikahan ini! Sudah ku katakan kalau aku akan melepaskanmu saat waktunya tiba. Tapi lihatlah, kau yg sangat tak sabaran ini" ujar Randy
"Apa maksudmu, Randy? Siapa yg kabur?" Yuki masih belum mengerti.
Mendengar pertanyaan Yuki membuat Randy tidak bisa berkata-kata dan menurunkan kembali nada suaranya.
"Bukankah kau ingin kabur? Aku memanggilmu dan sudah mencarimu di semua ruangan. Tapi kau tidak ada dan rumah ini sangat sunyi. Jadi kau tadi kemana?" tanya Randy pelan.
"Aku ke rumah mami. Maaf tidak sempat meminta izin darimu sebelumnya, soalnya aku merasa sangat bosan sendirian dirumah ini dan aku pergi mengunjungi mami Mikha. Oh ya, aku rasa kita harus bersiap-siap sekarang juga karena malam ini kita akan menginap di rumah orang tua mu. Dan maaf juga, aku tidak mengabarimu tentang mami yg tidak sadarkan diri tadi, soalnya aku hanya takut itu akan membuatmu kehilangan fokus saat berkerja" jelas Yuki
Randy yang mendengar penjelasan Yuki langsung terdiam karena berperang dengan batin dan logikanya.
" Mami sakit apa? " hanya itu yg mampu terucap dari mulut Randy.
"Kelelahan.
Apa kita akan berbicara terus menerus? Kapan kita sempat bersiap-siap kalau begini terus jadinya" kata Yuki kesal karena sudah bermenit-menit berdiri di luar.
"Kalau begitu ayo kita masuk" jawab Randy ambigu
Mereka pun masuk dan berpisah ke jalur masing-masing. Dimana Randy ke lantai dua menuju kamarnya dan Yuki masuk ke kamar yg ada di lantai satu. Yuki tanpa berpikir panjang langsung ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yg sudah terasa lengket.
Setelah tubuhnya dirasa rileks dan segar, Yuki menyudahi acara mandinya dan bergegas memakai pakaian. Mata Yuki tertuju ke sebuah mini dress berlengan pendek dengan panjang baju selutut berwarna biru muda serta garis-garis yang juga turut menghiasi dan berbahan katun. Tanpa berpikir lagi, Yuki langsung mengenakannya.
Setelah itu Yuki menyisir rambut panjangnya dan yang terakhir memakai lip gloss untuk menutupi bibir pecah-pecahnya. Yuki sama sekali tidak memoles wajahnya karena sedang malas berurusan dengan bedak. Lagipula, ia bukan pergi untuk bersenang-senang, melainkan untuk menemani mami Mikha yang sedang sakit. Jadi, Yuki tidak perlu berdandan atau nanti mami Mikha akan merasa risih terhadap dirinya.
Yuki keluar kamar dan berjalan menuju sofa menunggu Randy. Sambilan menunggu, Yuki membuka instagramnya dan melihat foto kakaknya Adel dan Satria dengan pose kakak iparnya memegang perut kak Adel. Selanjutnya Yuki menggeser foto satunya lagi dimana kakak iparnya mencium perut kak Adel sedangkan kak Adel tertawa bahagia yang membuat Yuki juga ikut tertular kebahagiaan keduanya.
"Kenapa tersenyum aneh begitu? Kau juga pingin punya bayi seperti mereka" tanya Randy yg berdiri dibelakang Yuki.
"Yak! Kenapa kau selalu saja mengagetiku. Dan siapa pula yang pingin punya bayi? Aku ini masih muda dan belum berencana untuk punya bayi" jawab Yuki dengan kesal tak lupa mematikan ponselnya.
"Ooooo...
Kupikir kau juga menginginkan bayi" Randy berujar sambil memegang dagunya sok berpikir.
"Dan memangnya kenapa jika aku pengen punya bayi?" tanya Yuki penasaran.
"Kita berdua bisa membuatnya sekarang" jawab Randy serius dengan menatap dalam kedua mata Yuki yg mengerjap-ngerjap polos.
TBC
(^_^)😁