Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Putus Asa
Aina tampak terlihat bingung ketika Dav menanyakan masalah arloji yang saat ini berada di tangannya.
"Alee, kenapa kau meninggalkan arlojimu di sini, kau membuat masalah besar bagiku," gumam Aina dalam hatinya.
"Emmmm, i-itu," Aina memejamkan matanya rapat, ingin hati berbohong akan tetapi mulutnya tak bisa menyampaikan kebohongan tersebut.
Ia duduk. Tangannya mengepal rapat dan tak berani menatap wajah Davian yang terus menatap dirinya.
"Ada yang kau sembunyikan?" tanya Davian.
Melihat Aina masih gelisah, Davian segera mendekatkan tubuhnya pada tubuh istrinya.
"Ah, sudahlah itu tidak penting," tangannya mengusuk kedua pundak Aina dan mencium puncak rambutnya." Bagaimana bunganya, apa kau suka?"
"Eh, semudah itukah Davian melupakan siapa pemilik jam tangan itu?" batin Aina.
Aina mengangguk sedikit bingung.
"Syukurlah jika kau suka, aku akan sering membawakan bunga untukmu nanti, katakan saja kau ingin bunga apa. Kau tahu sendiri, seleraku tentang bunga sangat buruk. Aku juga tidak tahu wanita selalu suka bunga jenis apa dan warna apa!"
"Ini saja sudah cukup. I like it. Lagian, bukankah kau seharusnya sudah mengerti masalah bunga dari dulu, mengingat wanita yang dekat denganmu sangat banyak!"
"Baiklah, aku akan belajar pada mereka kalau begitu!" ucap Davian menggoda Aina.
Aina mengetatkan rahangnya dan menatap Davian tajam.
"Jangan membuatku marah, Vi!"
"Tapi aku suka kau marah,"
"Apa memang itu yang kau inginkan?"
Davian tergelak melihat istrinya yang emosi. Dengan dirinya yang seperti itu, ia bisa mengetahui istrinya mencintainya walau perasaan itu tak pernah ia ucapkan hingga saat ini.
Di luar kamar, bi Inah mengetuk pintu kemudian membukanya saat Dav mengizinkan dirinya masuk.
"Ini makan siangnya. Silakan di nikmati!" ucap bi Inah sembari menaruh nampan yang ia bawa di atas meja.
"Terima kasih, bi." Ucap Dav." Oh iya, minggu depan aku akan keluar kota bersama Abi dan Paman. Ada pekerjaan yang harus aku urus."
"Minggu depan?"
"Hmmm." Davian mengulurkan satu sendok makanan pada Aina dan wanita itu membuka mulutnya untuk menerima makanan tersebut." Aku tahu kau akan merindukanku. Jika aku tidak sibuk, aku pasti akan menelponmu."
"Percaya diri sekali. Berapa lama kau akan pergi?"
"Paling lama dua minggu,"
"What?" Aina tercengang mendengar kata' dua minggu'.
**
Menjadi orang yang tak berguna.
Itulah yang di rasakan Alee saat ini. Aina sudah tak menerimanya, ia juga sudah tak memiliki keluarga. Teman satu-satunya, yaitu Aluna juga sudah bersikap berbeda sekarang.
Apalagi yang akan ia lakukan, mungkinkah ia di rooftop sebuah gedung pencakar langit, atau di tepi jembatan dan terjun ke bawah?
Kini ia berjalan sendiri meratapi nasib. Tak peduli banyaknya kendaraan yang hampir menyenggol nya lantaran ia berjalan terlalu ke tengah aspal.
Beberapa orang sempat meneriaki nya, namun Alee tak peduli sama sekali.
Rasa putus asa sudah menjalar di hati dan sekujur tubuhnya. Mungkin mati akan lebih baik, pikirnya saat ini.
Tanpa terasa langkah kakinya semakin ke tengah aspal, dan hampir saja sebuah mobil menyenggol nya jika Aluna tak menarik lengannya secara paksa.
"Hei, apa yang kau lakukan, ha?" teriak Aluna yang menghempaskan tubuh Alee di trotoar.
Alee sempat terkejut. Ia merangkak berdiri dan mendengarkan Aluna yang sedang mengomel.
"Apa karena wanita kau hilang akal? Dangkal sekali pikiranmu, Alee!"
Aluna tak habis pikir ternyata pria bisa buta karena cinta, apalagi hingga tak menghargai nyawa sendiri seperti Alee barusan.
Dengan paksa Aluna menarik tubuh Alee dan mengajaknya duduk di sebuah taman yang ada di dekat jalanan tersebut.
"Please, jernihkan pikiranmu! Untuk apa kau menangisi satu wanita jika ada wanita lain yang mungkin akan bisa membuatmu bahagia!"
Alee mendongak mendengar ucapan Aluna.
"Mmmm maksudku, kau bisa mencari wanita lain, kau juga bisa menata hidupmu lebih baik lagi daripada saat ini, please!" Aluna memegang tangan Alee, berusaha memberi semangat pada pria putus asa itu.
"Thanks, Aluna," tangan Alee memegang kepala Aluna dan ia tersenyum pada gadis itu.
"Aku minta maaf tidak bisa membantumu mendapatkan Kak Aina, tapi aku akan selalu menjadi temanmu jika kau membutuhkan bantuan ku, seperti sebelumnya, aku konsultanmu kan?"
"Yah," Alee mengangguk. Ia belum sepenuhnya sadar, tapi ia berusaha menghargai bantuan yang selalu di berikan Aluna padanya.
Tanpa sadar Aluna menatap wajah Alee yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ada lingkaran hitam di mata pria itu, kumisnya mulai tumbuh dan janggutnya juga mulai di tumbuhi rambut-rambut lembut.
Sebegitu sedihnya kah pria ini hingga dia tak bisa merawat dirinya sendiri?
"Kau sudah makan?"
Alee hanya menjawab pertanyaan Aluna dengan senyum.
"Aku tidak tahu senyum mu itu menandakan kau sudah makan atau belum, tapi bisakah kau menemaniku makan saat ini? Aku ada janji dengan Yama, dia akan segera datang kemari, kita akan makan bersama!"
"Terserah kau saja!"
Tak ada semangat di setiap ucapan yang keluar dari mulut Alee. Sedikit khawatir, tapi Aluna akan berusaha menjaga pria itu semampunya.
Beberapa menit kemudian Yama datang. Aluna mengajak Alee masuk ke dalam mobil dan mobil yang dikemudikan Yama itu melaju ke arah restoran yang sering ia dan Aluna kunjungi.
Tidak terlalu mewah, namun tempatnya sangat nyaman. Di tambah lagi suara gemericik air dari air mancur yang berada di tengah kolam ikan yang tak jauh dari tempat mereka bertiga duduk.
"Aku akan pesankan makanan untukmu!" ucap Aluna pada Alee yang masih belum banyak mengeluarkan suaranya. Sedangkan tatapan Yama pada Alee sangat tajam dan ada emosi di dalamnya.
Mungkin Yama mengingat beberapa hari lalu saat pria di hadapannya ini membuat Aluna menangis di tengah lebatnya air hujan.
Ia juga mengamati Aluna yang masih begitu perhatian pada Alee.
"Aku harap yang aku pikirkan tentang perasaan Aluna pada Alee adalah salah." Batin Yama sambil mengamati keduanya dan yang jelas tanpa keduanya sadari.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..