entah kesialan apa yang menimpa Andriana hingga harus bertemu kembali dengan pria dingin dan galak itu, apalagi harus sampai menikah dengannya. Andriana yang awalnya membenci dengan CEOnya itu perlahan juga menyinpan perasaan yang sama. Namun perjalanan untuk menyatukan kedua perasaan tersebut terlalu banyak hambatan hingga membuat andriana berada dititik keputus asaan. .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
RONI
“Saya
masuk duluan ron, kau parkirkan dulu mobil. Nanti kau menyusul”
“siap
pak bos”
Akupun
segera memarkirkan mobil setelah pak bos keluar dari mobil dan masuk kedalam
restaurant lebih dulu. Setelah memarkirkan mobil, aku bergegas menyusul pak
bos. Karna terburu buru aku tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berjalan
keluar dari restaurant.
“Auuuu,
sial” wanita itu mengadu kesakitan ketika terjatuh.
“maafkan
saya nona, saya tidak sengaja” ucapku dengan mengulurkan tangan untuk
memabntunya berdiri. Namun dia menepisnya dan berdiri sendiri tanpa bantuanku.
“bapak
punya mata gak sih, kalau jalan itu liat liat, bapak pikir ini jalanan kakekmu”
“hei
nona, saya ini masih muda bukan bapak bapak. Bisakah kau memanggilku yang lebih
pantas” kataku sedikit emosi
“hellow,
ngaku muda tapi mata udah gak berfungsi. Lagian ya sebutan bapak lebih
mandingan dengan wajaah anda yaang sudah seperti om om”
“kau”
tunjukku
“apa?
Gak terima, sana ngadu sama mamamu. Anak manja” wanita itu lagi lagi membuatku
tambah emosi dengan ucapannya. Beberapa pasang mata kini memperhatikan kami
berdua.
“kau,
dasar wanita tua gila” kataku mengejek
“apa
matamu sudah rabun, wanita secantik ini kau bilang tua. Sebaiknya bapak
memeriksakan mata didokter hewan” beberapa orang tertawa mendengar perkataan
wanita ini, dia benar benar gila.
Dia
terus menatapku tajam dengan berdecak pinggang, tapi kalau diperhatikan dari
atas sampaai bawah dia terlihat cantik. Merasa diperhatikan diapun langsung
menginjak kakiku dan aku langsung berhenti memperhatikannya.
“hei om
om mesum, apa yang kau lihat. Ha’ “
Dengan
sedikit menunduk aku membisikkan sesuatu “kamu
memang cantik, tapi dadamu kurang besar”
lalu
meninggalkannya yang berdiri mematung.
“dasar
om om mesum gila” teriaknya dengan penuh amarah. aku bisa membayangkan bagaimana
wajahnya sekarang.
Aku
melangkah lebih cepat memaasuki restaurant, waktuku terbuang banyaak hanya
karena seorang wanita.dari jauh aku sudah melihat pak bos sendirian sedang
duduk memainkan ponselnya, aku berjalan dengan cooll menghampiri pak bos dan duduk disampingnya.
“kenapa
kau lama sekali memarkirkan mobil?” tanyanya padaku.
“sorry
pak bos, tadi ada harimau betina mengamuk didepan dan itu sangat menghambatku?”
ucapku dengan mengambil minum yang sudah dipesan pak bos untukku.
“harimau
betina?”
“iya pak
bos, harimau betina yang sangat galak. Dan pak bos tau harimau betina itu cukup
cantik”
“tererah
kamulah ron, semua wanita yang kamu temui semua kamu bilangin cantik. Tapi aku
perhatikan tak ada satupun dari mereka yang mau denganmu”
“yaelah
pak bos, bukan mereka yang gak mau denganku. Tapi aku yang tidak mau dengan
mereka”
“benarkah?”
tanya pak bos dengan menaikkan alisnya.
“tentu
saja pak bos, mana ada yang tidak terpikat dengan pesona roni” ucapku percaya
diri
“lihatlah
pak bos, wanita yang ada didalam retaurant ini mereka terus memperhatikanku
dengan tatapan kagum” lanjutku .
“Apa kau
yakin mereka memperhatikanmu?”
“tentu
saja, mereka........” ucapanku terhenti karna teriakan histeris seorang wanita
“aaaahhh itukan alexander, CEO tampan yang terkenal itu”
“iya benar, dia tampan sekali mau dong jadi istrinya”
“hehehehehe,
Cuma pesona pak bos yang bisa mengalahkan pesona roni”
Mendengar
perkataanku pak bos hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memainkan
ponselnya.
Selang beberapa
lama orang yang ditunggu pak bos pun datang siapa lagi kalau bukan Om Mark,
papahnya pak bos.
“selamat
siang Om” sapaku setelah om mark duduk dihadapan pak bos. Aku biasa memanggil
papahnya pak bos dengan sebutan om karna permintaan pak bos sendiri yang sudah
menganggapku sebagai keluarganya.
“siang
ron, bagaimana kabarmu ron?”
“baik
om, om sendiri gimana kabarnya? Ucapku balik menanyakan kabar.
“ya
seperti yang kamu lihat sekarang ro, tetap sehat dan tetap..”
“TAMPAN”
kataaku bersamaan dengan om mark dengan sedikit tertawa, itu adalah kebiasaan
kami berdua ketika bertemu.
“ada apa
mengajakku bertemu disini?” sahut pak bos yang menghentikan tawa kami berdua
“lihatlah
ron, pak bosmu itu tidak bisa meelihat orang lain tertawa”
“iyya
om, selera humor pak bos Cuma 0,05%” karna ucapanku pak bospun mnataapku tajam.
“hhehehehe,
ampun pak bos roni Cuma bercanda”
“diamlah”
tukasnya.
“sudah
sudah, papah pesan makan dulu son. Setelah papa makan siang baru papah
bicarakan apa yang ingin papah sampaikan padamu”
“apa sudah pesan makanan ron?”lanjutnya
menawariku.
“sudah
om, ini didepan saya om tadi dipesaankan pak bos” jawabku
“ok
baiklah”
Om markpun
memangggil pelayan dan memesan makanan, sambil menunggu pesanan om mark datang
kami berduapun mengobrol sekedar bercaanda dan hal itu tidak pernah membuat pak
bos tertarik bergabung dengnan candaan kita berdua.