Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Beberapa detik kemudian terdengar suara seorang perempuan. "Tolong... jangan...!" Tangis anak kecil menyusul dari luar.
Darwin bangkit lebih dulu. "Aku akan lihat apa yang terjadi di luar."
Baru selangkah, suara Kinan menghentikannya.
"Tunggu."
Darwin menoleh.
"Kita belum tahu apa yang terjadi."
"Tapi ada yang minta tolong."
"Kau juga tidak tahu siapa yang berteriak."
Darwin terdiam. Kinan berjalan mendekati jendela. Tirainya disingkap sedikit. Sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan salah satu rumah yang letaknya tak jauh dari kontrakan mereka.
Dua pria sedang mengangkat sesuatu ke atas bak mobil. Seorang perempuan berusaha menghalangi sambil menangis. Di sampingnya, seorang anak kecil memeluk kaki ibunya erat-erat.
Suara mereka tidak terdengar jelas. Hanya sesekali diselingi isak tangis. Tak lama kemudian mobil itu melaju pergi. Gang kembali sunyi.
Pintu-pintu rumah di sekitarnya tetap tertutup.
Seolah tidak ada seorang pun yang melihat kejadian itu.
Darwin memandang ke arah rumah-rumah di sekitar. "Aneh."
Kinan melepaskan tirai. "Kita lanjutkan makan."
"Kau tidak merasa ada yang janggal?"
"Merasa."
"Kalau begitu?"
"Kita baru datang." Nada suara Kinan tetap tenang. "Jangan membuat orang mengingat wajah kita pada hari pertama."
Darwin tidak membantah. Ia kembali duduk.
Mi di dalam mangkuk sudah tidak lagi mengepulkan uap. Mereka melanjutkan makan dalam diam.
Menjelang sore, Darwin keluar sebentar ke halaman. Ia memasang tali jemuran yang sejak tadi hanya tergeletak di sudut teras. Kinan mencuci piring dan panci bekas memasak.
Tak banyak percakapan di antara mereka.
Sesekali, perhatian mereka sama-sama mengarah ke rumah yang tadi siang sempat ramai. Pintunya kini tertutup rapat. Tak ada seorang pun terlihat keluar.
Malam turun perlahan.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Kontrakan kecil itu kini jauh lebih rapi dibanding pagi tadi. Kompor sudah berada di sudut dapur. Peralatan makan tersusun di rak.
Beras diletakkan di dalam ember plastik kecil.
Sebelum lampu dimatikan, Darwin tiba-tiba membuka suara. "Kinan."
"Ya?"
"Kalau nanti terjadi lagi..."
Kinan menoleh.
"...apa kita tetap diam?" Ruangan mendadak hening.
Beberapa saat kemudian, Kinan mematikan lampu. "Kita lihat besok."
Gelap memenuhi ruangan. Namun pertanyaan Darwin tidak ikut menghilang. Ia tetap menggantung di antara keduanya, bersama suara benturan siang tadi yang masih teringat jelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Cahaya matahari pagi merayap masuk melalui celah jendela.
Darwin membuka mata lebih dulu. Ia melirik ke sisi lain ruangan. Guling pembatas masih berada di tempatnya. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Semalam, tidak ada lagi insiden seperti malam pertama.
Ia bangkit, melipat selimut, lalu membuka pintu depan. Udara pagi yang sejuk langsung menyambut wajahnya. Namun pandangannya segera tertuju ke rumah yang kemarin siang sempat ramai.
Pintunya terbuka. Beberapa perabot rumah tangga terlihat tidak lagi berada di tempatnya.
Seorang perempuan menyapu halaman dengan gerakan pelan. Di sampingnya, seorang anak laki-laki duduk di anak tangga sambil memeluk tas sekolah.
Tidak ada tangisan. Tidak ada keributan. Justru ketenangan itu terasa janggal.
Darwin memperhatikan beberapa saat.
"Sudah bangun?" Suara Kinan terdengar dari dalam.
Darwin menoleh. "Iya."
"Kita berangkat bersama?"
Darwin mengangguk.
Tak lama kemudian mereka berjalan keluar kontrakan. Saat melewati rumah itu, perempuan yang sedang menyapu sempat mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu sesaat.
Perempuan itu buru-buru menunduk kembali.
Tidak mengucapkan salam. Tidak tersenyum.
Seolah takut berbicara dengan orang asing.
Darwin sempat melambat. Namun Kinan tetap berjalan. "Darwin."
"Hm?"
"Jangan menatap terlalu lama."
"Kenapa?"
"Orang yang sedang menyembunyikan sesuatu biasanya lebih mudah panik."
Darwin menoleh kepadanya. "Kau seperti sudah sering menghadapi orang seperti itu."
Kinan terdiam sepersekian detik. "Lagi pula..."
Ia segera mengalihkan pembicaraan. "...kita terlambat kalau terus berdiri di sini."
Darwin tidak melanjutkan pertanyaannya. Mereka kembali berjalan. Beberapa langkah kemudian, jalan mereka bercabang. Satu menuju TK. Satu lagi menuju puskesmas.
"Semoga hari ini lebih tenang," ujar Darwin.
Kinan memandang lurus ke depan. "Aku rasa... justru sebaliknya."
Mereka berpisah.
Kinan tiba di depan gerbang TK beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi.
Beberapa anak sudah berlarian di halaman.
"Bu Guru!" Dito melambaikan tangan dari kejauhan.
Kinan membalas dengan anggukan kecil. "Selamat pagi."
"Pagi, Bu Guru!" Anak-anak segera berbaris ketika bel berbunyi.
Namun mata Kinan menyapu satu per satu wajah mereka. Dito. Naya. Rafi. Sasa belum datang.
"Kita mulai dulu, ya." Pelajaran berlangsung seperti biasa. Anak-anak menyanyi. Menggambar. Belajar mengenal huruf.
Hingga hampir satu jam berlalu...Pintu kelas terbuka pelan. Sasa berdiri di sana. Seragamnya masih sama seperti kemarin. Tas kecil tergantung di bahunya.
"Masuk, Sasa." pinta Kinan.
Anak itu mengangguk pelan. Ia berjalan menuju bangkunya tanpa menatap siapa pun. Saat meletakkan tas, Kinan melihat sesuatu. Ada memar kebiruan di pergelangan tangan kecil itu.
Hanya terlihat sesaat. Lalu tertutup kembali oleh lengan seragamnya.
Kinan tidak bertanya. Ia hanya melanjutkan pelajaran. Namun sepanjang pagi, pandangannya beberapa kali kembali tertuju ke arah Sasa.
Saat bel istirahat berbunyi, anak-anak berlarian keluar kelas. Hanya Sasa yang tetap duduk.
Kinan mendekatinya. "Hari ini tidak bermain?"
Sasa menggeleng.
"Pergelangan tanganmu sakit?"
Sasa spontan menarik lengan bajunya hingga menutupi memar itu. "Aku... tidak apa-apa."
Suara itu nyaris tak terdengar.
Sebelum Kinan sempat berkata lagi, seorang guru memanggil dari luar. "Bu Kinan, Kepala Sekolah mencari Ibu."
Kinan menoleh. Ketika kembali melihat ke arah Sasa...Anak itu sudah menundukkan kepala lagi, memeluk boneka kainnya erat-erat.
Ruang kepala sekolah tidak terlalu besar. Lemari arsip memenuhi satu sisi ruangan.
"Bu Kinan, duduk dulu."
"Baik, Bu."
Kepala sekolah menyerahkan beberapa berkas.
"Minggu depan akan ada penilaian dari dinas. Aku ingin kamu membantu menyiapkan administrasi kelas."
Kinan membuka berkas itu sekilas. "Saya kerjakan hari ini."
"Terima kasih."
Percakapan berlangsung singkat. Saat Kinan hendak keluar, kepala sekolah tiba-tiba berkata,
"Oh ya... kalau bertemu Sasa, jangan terlalu banyak bertanya soal keluarganya."
Langkah Kinan terhenti. "Memangnya kenapa, Bu?"
Perempuan paruh baya itu menarik napas pelan.
"Ibunya sedang banyak masalah."
"Masalah apa?"
"Kami juga tidak tahu pasti." Ia menggeleng. "Di desa ini, orang lebih suka berbisik daripada bercerita."
Kinan mengangguk tipis. Ketika kembali ke kelas, bangku Sasa sudah kosong.
"Bu, Sasa dijemput," kata Dito.
"Siapa yang menjemput?"
Anak-anak saling berpandangan.
"Bukan ibunya," jawab Naya pelan.
"Laki-laki besar."
"Lalu Sasa ikut?"
"Iya."
Kinan memandang ke arah pintu kelas yang terbuka.
Angin siang menggerakkan tirai tipis di dekat jendela.
Entah mengapa, bayangan mobil bak terbuka yang dilihatnya kemarin kembali muncul di benaknya.