Zein Aditya Atmanegra seorang pemilik Perusahaan terbesar dan seorang Putera Mahkota dikeluarganya harus berhadapan dengan wanita yang sangat menyebalkan yang bernama Karren Puteri Pratama seorang Puteri dari keluarga yang sama kayanya dengan Zein.
Zein tidak menyadari kalau Karren adalah anak gendut yang selalu mengganggu dan mengikutinya dulu.
Bagaimana keseruan Zein dan Karren yang selalu tidak pernah akur ketika bertemu,akankah akhirnya mereka saling jatuh cinta?sementara keduanya saat ini sama-sama sedang menjalin hubungan dengan pasangan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Bulan Madu
👑
👑
👑
👑
👑
Setelah Daniel dibawa oleh Polisi, Romi dan Darren tampak duduk termenung di ruangan tamu apartemen itu mereka berdua tidak berani menghampiri Zein dan Karren.
"Romi cepat kesini," teriak Zein yang membuat Romi dengan sigap berdiri dan berlari menghampiri Zein.
Tok..tok..tok..
"Masuk..."
Romi pun membuka pintu kamar itu perlahan, dilihatnya Karren masih berada didalam dekapan Zein dengan menangis sesegukan. Karena tubuh Karren masih dibalut dengan jas milik Zein, Romi pun dengan tahu diri langsung menundukan kepalanya.
"Ada apa Zein? apa lo butuh sesuatu?" tanya Romi yang masih menundukan kepalanya.
"Tolong carikan pakaian buat Karren sekarang juga," seru Zein dengan dinginnya.
"Baiklah, kalau begitu gue pergi dulu."
Romi pun segera keluar dari kamar itu...
"Ada apa Pak Romi?" tanya Darren khawatir.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya disuruh membelikan baju buat Karren."
"Oh, ya sudah kalau begitu aku pun mau pulang saja, sekarang aku sudah tenang karena Karren sudah ada yang menjaga."
Romi dan Darren pun keluar apartemen itu bersama-sama. Sementara didalam kamar, Zein membawa Karren untuk duduk diranjang milik Daniel itu.
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu sudah aman," ucap Zein lembut sembari menepuk-nepuk punggung Karren.
Karren pun perlahan melepaskan pelukannya, terlihat matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.
"Terima kasih Kak, karena Kakak sudah datang tepat waktu kalau Kakak terlambat datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama aku," seru Karren.
"Sudah jangan bicara seperti itu lagi, ini sudah menjadi kewajiban aku untuk menjaga istriku," sahut Zein dengan menghapus air mata Karren dengan Ibu jarinya.
"Aku takut Kak, aku tidak menyangka kalau Daniel akan melakukan hal senekad ini, dia hampir saja m******** ku dan kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri dan Kakak juga pasti bakalan jijik melihat aku," seru Karren.
Tanpa aba-aba lagi Zein langsung m*****t bibir Karren, dia tidak mau mengingat perlakuan Daniel terhadap istrinya dan kalau semua itu sampai terjadi Zein akan merasa sangat bersalah.
Cukup lama Zein melakukannya, dia sangat emosi kala mengingat Daniel menyentuh istrinya. Karren diam saja mendapat perlakuan itu dari Zein, karena Karren tahu saat ini Zein sedang emosi terasa dari ciuman Zein yang sedikit kasar.
Zein melepaskan pungutannya karena dirasa mereka sudah kehabisan nafas. Zein menempelkan keningnya ke kening Karren dengan nafas keduanya yang masih ngos-ngosan.
Zein membuka matanya, dan dilihatnya Karren masih memejamkan matanya. Perhatiannya tertuju pada bibir Karren yang sedikit bengkak akibat perbuatannya barusan. Perlahan Zein mengusap bibir Karren dengan Ibu jarinya sehingga Karren pun akhirnya membuka matanya.
"Maafkan aku, apa barusan aku terlalu kasar?" tanya Zein yang terus mengusap bibir Karren.
"Tidak apa-apa, aku tahu kok pasti Kakak sedang emosikan?"
"Iya, mana ada suami yang tidak emosi melihat istrinya disentuh dan dipaksa seperti itu oleh laki-laki lain."
Tok..tok..tok..
"Sebentar aku buka pintu dulu," seru Zein.
"Ini Zein pakaian yang lo minta semoga ukurannya pas ditubuh Karren," seru Romi.
"Ok terima kasih Rom lo selalu bisa diandalkan, lo tunggu di lobi saja sebentar lagi gue sama Karren turun."
"Ok."
Romi pun segera pergi meninggalkan apartemen itu dan menunggu di lobi.
"Sayang, ini pakaiannya kamu pakai dulu dan kita segera pergi dari tempat ini," seru Zein.
Karren mengambil pakaiannya dan segera masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tidak membutuhkan waktu lama, Karrwn pun sudah berganti pakaian.
"Sudah."
"Pakaiannya sangat pas dibadan aku, Kak Romi emang the best," puji Karren.
"Apa? jadi kamu memuji si Romi terus suamimu ini yang tadi sudah menolongmu tidak dipuji sama sekali gitu," sahut Zein dengan melipat kedua tangannya didada.
"Astaga, kenapa suamiku sangat sensitif sekali aku kan cuma memuji wajar saja tidak berlebihan, lagipula kalau buat suamiku tidak perlu dipuji karena suamiku sudah yang palinh the best pokoknya," seru Karren dengan memgedipkan sebelah matanya.
"Oh ok, sekarang sudah berani menggodaku ternyata, apa perlu aku hubungi Romi suruh dia pulang duluan," sahut Zein dengan tatapan yang aneh.
"Idih apaan sih, ayo cepetan kita pulang aku ga mau lama-lama berada ditempat ini," ucap Karren.
Karren segera menarik tangan Zein, karena Karren tahu apa yang saat ini ada di otak Zein. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah kediaman Zein.
"Kak Zein, Kak Romi, aku mohon kejadian ini jangan sampai semuanya tahu ya, aku ga mau sampai semua orang khawatir dengan keadaan aku," seru Karren.
"Ok siiiip Karren," sahut Romi.
Zein hanya menganggukan kepalanya, Karren tampak menguap beberapa kali karena saat ini waktu sudah mulai memasuki malam juga.
"Kamu kenapa ngantuk?" tanya Zein.
"Sedikit."
"Kamu tidur aja, nanti pas rumah aku bangunin."
Akhirnya Karren pun menyandarkan kepalanya dipundak Zein dan mulai memejamkan matanya, sementara Zein tampak mengelus kepala Karren dan menciuminya berulang kali.
Zein baru sadar kalau dirinya memang sangat mencintai Karren, terbukti dari cara Daniel memperlakukan Karren membuat Zein sangat emosi dan kalau tidak ada siapa-siapa mungkin Zein tidak akan segan untuk membunuh Daniel.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai le rumah, Zein yang tidak tega membangunkan Karren akhirnya memutuskan untuk menggendong Karren. Karren yang memang mempunyai kebiasaan tidur kebo, tidak menyadari dengan apa yang dilakukan oleh Zein.
"Lho Zein, Karren kenapa?" tanya Mommy Kinan.
"Karren tidak apa-apa, cuma tadi didalam mobil dia ketiduran dan Zein ga tega buat ngebangunin Karren, ya sudah Zein ke kamar dulu."
Zein pun melangkah pergi meninggalkan Mommy dan Daddynya sementara Zia dia sedang berada dikamarnya.
Sesampainya didalam kamar, Zein membaringkan tubuh Karren secara perlahan dan memakaikan selimutnya, sedangkan Zein sendiri cepat-cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Zein dengan cepat menyusup kesamping Karren dam mulai mendekap tubuh istri cantiknya itu.
"Sampai saat ini aku masih belum percaya kalau pada akhirnya aku justru malah tergila-gila sama kamu Karren, padahal dulu aku mati-matian menghindari kamu sampai pada akhirnya aku harus merasakan sakit yang mendalam dan mungkin itu sebuah karma untukku karena sudah menyia-nyiakan kamu dan menyakiti hati kamu, aku sudah merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang sangat aku cintai, aku janji kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi," gumam Zein kemudian Zein mencium kening Karren begitu dalam hingga akhirnya Zein pun ikut terlelap dengan mendekap tubuh Karren.
***
Keesokan harinya...
Karren mulai menggerakan tubuhnya yang terasa sangat pegal, disaat Karren membuka matanya Karren tampak senyum-senyum melihat pemandangan yang sangat indah bagi Karren.
Perlahan Karren menyentuh wajah Zein mulai dari mata, hidung, dan terakhir bibirnya. Karren mengelus pipi Zein dengan lembutnya sehingga membuat Zein membuka matanya.
"Maaf sudah membangunkanmu," ucap Karren dengan lembutnya.
"Kenapa berhenti?"
"Apa?" tanya Karren bingung.
"Aku suka di elus-elus terasa nyaman."
Karren tersenyum dan mulai bangkit dari tidurnya..
"Eitttt...mau kemana?"
"Mau mandilah Kak."
"Sebelum mandi kita olahraga dulu, ini hukuman karena kamu sudah mengganggu tidurku."
"Hah...."
Tidak menunggu jawaban Karren, Zein langsung menerkam Karren dengan buasnya sedangkan Karren hanya bisa pasrah, melawan pun percuma karena Karren tidak akan bisa menolak Zein kalau sudah seperti itu.
Setelah menyalurkan nafsu di pagi hari, Zein pun merebahkan tubuhnya di samping Karren yang terlihat masih menetralkan nafasnya.
"Terima kasih Sayang," ucap Zein dengan mencium kening Karren.
Karren hanya mampu tersenyum tanpa bisa berkata-kata lagi, dengan sigap Zein langsung mengangkat tubuh Karren menuju kamar mandi. Lagi dan lagi Zein tidak bisa menahan hasratnya, hingga akhirnya ritual mandipun menjadi lama.
Keduanya keluar dari kamar mandi bersama-sama dengan senyum yang sangat mengembang di bibir Zein.
"Heran deh, tenaga Kakak kok kuat banget sih sampai ga ada capek-capeknya sama sekali, aku aja sampai lemas," ketus Karren yang saat ini sedang memakai pakaiannya.
Zein yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya menyunggingkan senyumannya kearah Karren. Kemudian Zein memeluk Karren dari belakang dan kembali menciumi leher Karren.
"Karena kamu selalu menggodaku, tubuhmu itu sudah menjadi candu buatku, tidak tahu kenapa saat dekat sama kamu juniorku bawaannya hidup mulu," ucap Zein dengan masih sibuk menciumi leher Karren.
Karren yang merasa tidak tahan lagi mendorong kepala Zein supaya berhenti melakukannya.
"Stop, ayo cepat pakai bajumu tuh aku sudah siapkan semuanya nanti kita terlambat lagi," seru Karren.
"Bisakah kita melakukannya sekali lagi, aku bisa libur ke Kantor hari ini," sahut Zein dengan senyum-senyum kearah Karren.
"Enggakkk...." teriak Karren dengan melotot kearah Zein.
Zein sampai mundur satu langkah dan memegang dadanya karena kaget dengan teriakan Karren.
Karren dengan cepat melanjutkan memoles wajahnya, sementara Zein dengan wajah yang cemberut langsung memakaikan baju yang sudah Karren siapkan.
Setelah Karren selesai dengan riasannya, Karren melihat Zein masih mengancingkan kemejanya dengan bibir yang manyun. Karren pun tersenyum dan mendekati Zein kemudian mengambil alih mengancingkan kemeja Zein dan memakaikan Zein dasi.
"Rentangkan tangannya," seru Karren.
Seperti anak kecil, Zein pun menurut dan merentangkan tangannya tapi dengan wajah yang masih cemberut. Karren memakaikan jas dan sedikit merapikannya.
"Astaga, tampan sekali suamiku ini," seru Karren.
Tapi Zein masih saja cemberut, Karren mendekati Zein dan mengalungkan tangannya ke leher Zein kemudian Karren sedikit berjinjit dan mencium sekilas bibir Zein.
"Jangan cemberut terus, jelek tahu."
"Bodo amat," ketus Zein.
"Idih ngambekan banget, masa Zein Aditya Gunawan yang terkenal dingin dan tegas sekarang malah ngambekan kaya gitu, kalau Karyawan Kakak tahu mereka bisa menertawakan Kakak," seru Karren.
Zein diam saja tidak berbicara...
"Beneran nih, Kakak marah sama aku? ya sudah aku pergi dan mau nginap dirumah Mama aja," seru Karren dengan cepat-cepat mengambil tas dan sepatunya.
Tapi dengan sigap Zein menarik tangan Karren dan langsung mendekap tubuh Karren dengan sangat erat seolah-olah Zein tidak mau kehilangan Karren.
"Ok, kamu menang dan aku ga bisa lama-lama marah sama kamu."
Karren pun tersenyum didalam dekapan Zein.
"Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Karren dengan melepaskan pelukannya.
"Aku mau pergi bulan madu."
Seketika mata Karren melotot dengan keputusan Zein.
"Apa? bulan madu? memang harus ya bulan madu?" tanya Karren.
"Ya haruslah Sayang, kita menikah sudah hampir tiga bulan tapi kita sama sekali belum melakukan bulan madu, ayolah..." rengek Zein.
"Tapi Kak, kalau untuk saat ini aku tidak bisa libur terlalu lama karena aku lagi sibuk banyak tugas."
" Ok aku akan meminta izin kepada pihak Kampus untuk memberimu cuti karena pas waktu nikah kamu kan tidak mengambil cuti sama sekali," tegas Zein.
Karren menghela nafasnya dalam, dia tidak bisa melawan seorang Zein, meskipun dia menolak keras.
"Baiklah, tapi aku bisa kalau pergi ke Luar Negeri waktunya terlalu mepet, aku ga bisa cuyi terlalu lama," sahut Karren.
"It's ok Baby tidak masalah yang penting kita bisa bulan madu, kita bisa pergi ke Bali saja bagaimana?" tanya Zein dengan antusias.
"Terserah Kakak saja," jawab Karren lemas.
Zein begitu sangat bahagia, raut wajah Zein yang cemberut tiba-tiba sumringah, Zein langsung menghujani ciuman diseluruh wajah Karren.
"Ayo kita turun, semuanya pasti sudah nungguin kita."
Dengan semangat 45 Zein menggandeng tangan Karren untuk turun kebawah. Semuanya tampak tersenyum saat melihat Zein dan Karren turun dari atas dengan bergandengan tangan.
"Hadehhh kayanya sudah mulai ada yang bucin nih," ledek Romi.
Zein dan Karren hanya senyum-senyum dan bergantian mencium pipi Zia.
"Kak Zein kenapa memegang tangan Kak Karren, takut Kak Karren jatuh ya," celetuk Zia dengan polosnya.
"Kak Zeinmu lebay Zia," seru Romi dengan santainya.
Zein dan Karren hanya terkekeh mendengar ucapan Romi, hari ini Zein sedang bahagia jadi dia tidak mau membalas ucapan Romi yang akan memancing emosinya.
"Zein apa kamu tidak berencana mengajak istrimu bulan madu?" tanya Daddy Zidan.
"Ya ampun Daddy tahu aja apa yang sedang ada dipikiran Zein," sahut Zein.
"Maksud kamu apa?" tanya Daddy Zidan.
"Zein sama Karren memang sedang merencanakan akan melakukan bulan madu Dad."
"Wah bagus itu, kalian rencananya mau bulan kemana?" tanya Mommy Kinan dengan antusiasnya.
"Kalian bilang saja mau kemana, Perancis, Belanda, Australia, atau kalian sudah punya tempat tujuan sendiri? tinggal bilang sama Daddy, biar Daddy yang urus semuanya," seru Daddy Zidan.
"Tidak Dad, kita tidak akan pergi ke Luar Negeri kita mau bulan madu ke Bali saja," sahut Zein.
"Lho kenapa?" tanya Mommy Kinan.
"Karren tidak mempunyai banyak waktu Mom, soalnya saat ini Karren sedang banyak tugas jadi ga bisa lama-lama cuti," sahut Karren.
"Oh ok terserah kalian saja yang penting kalian senang," ucap Mommy Kinan.
"Bulan madu itu apa Mommy?" tanya Zia dengan polosnya.
Semuanya melotot mendengar pertanyaan Zia, bagaimana menjelaskannya kepada anak berusia tujuh tahun.
"Kak Zein boleh Zia ikut?" tanya Zia kembali dengan polosnya membuat Zein melotot.
"No..no..no, Zia ga boleh ikut."
"Ih Kak Zein pelit, Zia mau minta sama Kak Karren saja, Kak Karren boleh ya Zia ikut?" rengek Zia.
Karren langsung menoleh kepada Zein, Zein melototkan matanya dan menggelengkan kepalanya kearah Karren. Timbulah ide jahil di otak cantik Karren.
"Boleh, Zia boleh ikut," jawab Karren dengan tersenyum jahil kearah Zein.
"Yeeeee....tuh kan, Kak Karren memang baik ga kaya Kak Zein pelit," sorak Zia.
"Sayang, kok gitu," rengek Zein.
Akhirnya semua pun tertawa dengan puasnya melihat raut wajah Zein yang tiba-tiba menjadi lemas.
👑
👑
👑
👑
👑
Jangan lupa
like
vote
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💜💜💜
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
aku mau baca berurutan sesuai yg disarankan. supaya ga bingung baca novel berikutnya.