Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Olah Raga Pagi
Dan malam ini Dina benar-benar merealisasikan ucapannya. Dina sudah meringkuk tidur dengan pulasnya. Aldo hanya bisa mendengus melihat istrinya tertidur dengan pulasnya.
Aldo berusaha membangunkan Dina dengan menggoyang-goyangkan tangan Dina namun nihil saja Dina tetap tertidur. Aldo pun menyerah dan akhirnya tertidur dengan memeluk Dina dari belakang.
Pagi hari buta Dina terbangun karena ingin buang air kecil. Dina merasakan sesak dan ternyata lengan dan kaki Aldo menindih perut dan kakinya. Dina menyingkirkan tangan dan kaki Aldo perlahan karena takut membangunkan Aldo.
Setelah berhasil lepas Dina segera berlari ke kamar mandi. Aldo merasa kehilangan sesuatu dalam tidurnya. Aldo pun membuka matanya dan tak ada istri tercintanya.
"Sayang,,,,," Panggil Aldo.
"Hmm..." Jawab Dina dari dalam kamar mandi.
"Kenapa?" Tanya Aldo sambil mendekat ke kamar mandi.
Dina pun membuka pintu kamar mandi dan didapati suaminya tengah berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa sayang?" Tanya Aldo lagi karena pertanyaannya belum di jawab oleh Dina.
"Kebelet pipis Yang." Jawab Dina polos.
"Sudah?" Tanya Aldo lagi.
"Sudah. Yok tidur lagi masih terlalu pagi." Ajak Dina pada Aldo. Aldo pun menggandeng Dina kembali ke tempat tidur.
"Yang, olah raga pagi yuk." Ajak Aldo sedikit merayu istrinya.
"Iya ngga ya.." Goda Dina pada suaminya.
Tak butuh jawaban lagi Aldo pun langsung melancarkan aksinya. Dan terjadilah yang seharusnya terjadi. Yang sudah tertahan sejak semalam.
Aldo merebahkan tubuhnya disamping istrinya dan mengecup kening istri tercintanya. Dan mereka pun tertidur sambil berpelukan dibawah selimut.
Dina mengerjapkan matanya kala mentari pagi menerobos kedalam kamarnya. Dina mengumpulkan sisa-sisa nyawanya.
"Yang,, bangun. Udah siang nih." Ucap Dina membangunkan suaminya.
"Sebentar lagi sayang." Jawab Aldo masih dengan mata terpejam.
"Tapi aku laper Yang." Rengek Dina.
"Baiklah. Ayo kita mandi dulu setelah itu kita sarapan." Ajak Aldo.
"Tapi mandi aja ya Yang." Rengek Dina.
"Iya sayang." Jawab Aldo sambil mengusap rambut Dina. Lalu mengecup keningnya.
Mereka berdua pun segera masuk kedalam kamar mandi dan hanya mandi. Setelah mandi dan memakai pakaian rumahan mereka berdua pun turun ke meja makan.
Bibik pun segera menyiapkan makanan di meja makan. Mereka berdua pun makan dengan khidmat hanya ada dentingan sendok dan piring. Setelah makan keduanya bersantai di taman belakang.
"Sayang, nanti kalo Mas udah mulai kerja lagi kamu yakin mau di rumah aja?" Tanya Aldo sedikit serius.
"Emang boleh kalo Dina kerja?" Tanya balik Dina.
"Mas tidak akan memaksa kamu sayang."
"Dina di rumah aja deh Mas. Dina mau bercocok tanam saja disini boleh kan?"
"Boleh sayang. Tapi, jangan terlalu capek ya. Besok kita beli peralatan berkebun supaya kamu lebih nyaman."
"Makasih sayang. Ga malu kan istrinya berkebun?"
"Pastinya Mas akan senang dan bangga sama Kamu." Puji Aldo memeluk pinggang Dina.
Matahari semakin terik Aldo mengajak istrinya masuk. Aldo pamit ke ruang kerjanya sebentar untuk mengecek email yang masuk sementara Dina kedapur untuk menyiapakan makan siang bersama suaminya.
Dina berbincang ringan dengan Bibik yang bekerja di rumahnya. Karena Dina belum pernah bertemu sebelumnya. Mereka pun berbincang sangat akrab seolah sudah pernah bertemu sebelumnya. Para Bibik pun merasa nyaman dengan nyonya rumahnya.
"Kalian tidak perlu sungkan dengan saya ya Bibik-Bibik." Ucap Dina.
"Baik Nyonya." Jawab mereka kompak.
Dina pun tersenyum dan memeluk salah satu Bibik dan kedua Bibik yang lain ikut memeluk Dina dan terjadilah saling peluk memeluk.
Terima kasih yang masih setia membaca cerita kita. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen ya 🙏🙏🙏