NovelToon NovelToon
Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.7
Nama Author: Muni Haryani

Pernikahan sejatinya dilakukan atas dasar cinta sama cinta. Saling mengenal dan saling memahami karakteristik pasangan.

Tetapi bagaimana dengan mereka yang menikah tanpa pacaran?
Akan kah bertahan lama atau malah sebalik nya?

Sepasang suami istri melaksanakan akad nikah tanpa adanya rasa cinta.

Bahkan sang mantan kekasih selalu mengusik kehidupan rumah tangga mereka.

Di awal menjalani hidup bersama suasana terasa hambar. Tetapi setelah sekian lama mereka bersama, akhirnya hubungan mereka pun menjadi harmonis layak nya pasangan suami istri lain nya.


*****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muni Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita ular

Beberapa tamu yang hadir sudah terlihat meninggalkan pesta pernikahan Ahkam dan Zainab.

Kedua mempelai masih berada ditempatnya.

Waktu menunjukan pukul 21:00 wib.

Pesta pernikahan Ahkam dan Zainab pun sebentar lagi akan berakhir.

Zainab sangat terlihat kelelahan akibat seharian harus berdiri menyalami para tamu yang memberikan ucapan selamat pada pernikahannya dengan Ahkam.

"Zainab sayang.. Kau terlihat sangat cantik hari ini." Puji nyonya Ajeng pada menantunya.

Zainab tersenyum dan menunduk malu.

"Zain.. Abi sangat berterimakasih padamu karena kau telah rela menjadi istri putra pertama abi." Ucap tuan Ahmad seraya mendudukan bokongnya di kursi samping pelaminan Ahkam dan Zainab.

"Tidak usah berterimakasih pada Zainab, abi. Karena ini semua sudah menjadi kehendak Allah." Ucap Zainab sangat lembut.

"Kau memang wanita yang sangat tulus sayang." Ucap nyonya Ajeng penuh pujian.

Kedua orang tua Ahkam begitu terlihat bahagia dihari pernikahan putranya dengan wanita pilihan mereka.

Berbeda dengan Ahkam, dia nampak gusar dan tak tenang.

Sedari tadi dia melirikan matanya kesana kemari seperti sedang mencari seseorang.

Pada saat yang bersamaan sesosok wanita yang begitu cantik dengan long dress seksy berwarna merah dan mengenakan high heels yang lumayan tinggi begitu indah menopang kaki jenjangnya yang begitu mulus.

Sintia terlihat sangat cantik malam itu. Rambutnya yang bergelombang dia biarkan terurai dengan sedikit dihiasi jepit-jepit cantik.

Ahkam langsung menangkap sesosok wanita yang dia idam-idamkan.

Senyumnya mengembang diwajahnya.

Matanya berbinar-binar saat Sintia berjalan dengan seksy bagaikan seorang model mendekat ke arahnya.

Tuan Ahmad dan nyonya Ajeng tampak tak senang melihat kedatangan wanita licik itu.

"Hai.." Sapa Sintia pada keempat orang itu.

Ahkam tak henti-hentinya tersenyum dan matanya berfokus pada kecantikan Sintia.

"Hai.." Ucap Ahkam pelan.

Nyonya Ajeng dan tuan Ahkam tak begitu menghiraukan Sintia.

Mereka hanya tersenyum kecut pada wanita licik itu.

"Selamat ya.. Aku tak menyangka kau akan menikah dengan wanita seperti ini." Ucap Sintia penuh penghinaan.

Zainab hanya menundukan kepalanya saat ucapan Sintia begitu menusuk jantungnya.

"Ya.. Aku juga sangat tidak menyangka." Ucap Ahkam datar.

Nyonya Ajeng dan tuan Ahkam sangat muak mendengar hinaan Sintia pada menantunya.

"Jika kedatanganmu kemari hanya untuk menghina menantu kami, maka lebih baik kau pergi dari tempat ini!" Ujar nyonya Ajeng penuh penekanan.

Wajahnya begitu terlihat sangar pada wanita licik itu.

Sintia tersenyum sinis.

"Mohon maaf umi.. calon mertuaku.. oh bukan itu! Mantan calon mertuaku! Aku datang kemari hanya ingin memberikan sedikit kebahagiaan pada putra kalian." Ucap Sintia dengan berani.

"Aku rasa putra kalian sangat tidak menikmati hari pernikahannya. Dia nampak sangat terpaksa dan sangat tak bahagia. Maka untuk itu aku datang karena aku ingin membuat putra kalian bahagia atas kedatanganku. Betul begitu honey?" Ucap sintia yang semakin memanas-manasi keadaan.

"Jaga ucapanmu Sintia!" Bentak Ahkam yang mulai kesal karena Sintia telah berani sedikit membuka rahasia mereka atas hubungan mereka yang telah kembali membaik.

"Ups.. Sorry!" Ucap Sintia santai.

"Lebih baik sekarang kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!" Maki tuan Ahmad mengusir wanita licik itu.

"Tenang-tenang mantan calon mertua. Setelah ini aku akan pergi, karena tak ada gunanya diriku berlama-lama disini hanya membuang-buang waktuku saja." Ucap Sintia penuh keberanian.

"Honey... Aku pergi ya. Sekali lagi ku ucapkan selamat atas pernikahanmu dengan wanita kampungan ini. Semoga kalian tidak bahagia." Ucap Sintia begitu menantang.

Tiba-tiba..

"Plaaaaakkk.." Sebuah tangan melayang menampar pipi kanan Sintia.

Sintia menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan yang begitu keras.

Ahkam terkejut dengan tindakan uminya yang menampar pipi wanita yang dicintainya.

Dengan cepat Ahkam menahan uminya agar tidak melanjutkan aksinya.

"Beraninya kau bicara seperti itu pada pernikahan putra dan menantuku!" Ucap nyonya Ajeng penuh emosi.

Zainab hanya menunduk dan tak terasa buliran mutiara bening mengalir membasahi pipinya.

"Sorry mantan calon mertua. Aku hanya..." Belum sampai Sintia melanjutkan ucapannya tiba-tiba seseorang memotong ucapan Sintia.

"Kau hanya tak ingin melihat mereka bahagia. Kau hanya ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga kami! Kau benar-benar wanita licik!" Maki Arka yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

Sintia hanya berseringai jahat.

"Cih! Kau anak kecil yang terlalu banyak bicara." Ucap Sintia mencibir Arka.

"Sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini. Jika tidak maka aku akan panggilkan security untuk menyeretmu keluar dari tempat ini!" Ucap Arka mengusir Sintia.

"Cih! Tidak perlu kau usir pun aku akan segera pergi dari tempat yang memuakan ini." Ucap Sintia kasar.

"Sebaiknya kau segera pergi sekarang juga sebelum kesabaran mereka habis." Ucap Ahkam sedikit berbisik pada kekasihnya itu.

"Oke aku akan pergi. Aku sudah puas melihat wajah tampan kekasihku ini." Ucap Sintia mengandung cabe.

Semua mata tertuju pada Ahkam.

Raut wajah mereka terlihat penuh tanda tanya.

"Ck! Sebaiknya kau jangan mengarang cerita, Sintia! Apa kau lupa? Kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi." Ucap Ahkam bersandiwara.

Sintia hanya memutar bola matanya malas.

"Yah! Aku lupa!" Ucap Sintia santai.

"Sebaiknya kau segera pergi." Ujar Ahkam penuh penekanan.

"Yeah! Aku akan pergi honey. Ku mohon kau jangan sentuh wanita kampungan ini." Ucap Sintia penuh penghinaan.

"Syut.. Sudah sana! Jangan membuatku semakin kesal!" Ucap Ahkam yang mulai merasa kesal atas sikap berani kekasihnya.

Arka dan kedua orang tuanya hanya menatap Sintia dengan tatapan tajam dan tatapan tak suka.

Sedangkan Zainab masih menundukan kepalanya dalam-dalam.

Jantungnya kembali tertusuk saat beberapa kali Sintia menghinanya.

Sebelum Sintia melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu, Sintia mendekatkan bibirnya ke telinga Zainab.

"Ingat ya wanita kampungan! Ahkam tak pernah mencintaimu! Dia hanya mencintaiku. Secepatnya aku akan merebutnya darimu!" Bisik Sintia pada Zainab.

Setelahnya dia berpura-pura tersenyum dan mengucapkan selamat pada Zainab.

Zainab hanya tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya.

Sintia pun pergi dengan sejuta kebahagiaan dihatinya karena telah berhasil menghina Zainab dihadapan kedua orang tua Ahkam dan para tamu yang masih hadir di tempat itu.

"Kau benar-benar ceroboh Ahkam!" Ujar tuan Ahmad terlihat sangat emosi.

"Bagaimana bisa kau mengundang wanita licik itu!" Ucap tuan Ahmad penuh kekesalan.

"Sudah ku peringatkan untuk tidak mengundang wanita licik itu ke acara pernikahanmu, tapi kau selalu saja membangkang!" Ujar nyonya Ajeng yang tak kalah emosi.

"Sudah lah umi, abi.. Dia kan tidak berbuat apa-apa." Ucap Ahkam membela kekasihnya.

"Kau masih saja membelanya! Dasar anak tak tahu diri!" Maki tuan Ahmad seraya melangkahkan kakinya meninggalkan pelaminan putra dan menantunya.

Zainab hanya tertunduk lesu.

Air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.

Nyonya Ajeng merangkul menantunya dan berbisik di telinganya.

"Jangan dengarkan ucapan wanita tadi ya sayang. Kau harus kuat dan sabar." Ucap nyonya Ajeng penuh kelembutan.

Setelah itu dia pun melangkahkan kakinya menyusul suaminya.

"Kau harus ingat janjimu bang!" Ucap Arka penuh penekanan. Kemudain dia pun ikut pergi meninggalkan tempat itu.

Zainab tertunduk dengan perasaan yang sedih di hari pernikahannya.

*****

1
ayakaa dare?'
mangat trs thorr!!💐
ayakaa dare?'
aaaa Ahkam udh mulai baferr😂
ayakaa dare?'
semangat thorr💐
Anisatul Ulya
slmt dtg lg...aq bru lnjut...
Aramita Ardiya Mita
Hay👋🙋 salam kenal pendatang baru ni
ENDAH_SULIS
LG kau baca ternyata p.u nya laki berengsek yg suka jalang...hadehhh😒
Neng Ucell
mana fotony?
Anisatul Ulya
pnasara juga babynya....
Siti Nurhayati Yati
cantiq rupa tapi tak hatinya
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
Fatma Salim
kenapa jg zainab hrus menangisi lelaki berarti itu sih...? buang" tenaga aja iih jijik aq😡
Anisatul Ulya
yg ikhlas jaenab...pda suami...
Fatma Salim
iiih jijik banget sama kelakuannya Ahkam thoor😡
Fatma Salim
ini bru cocok sama si Ahkam.
zanab terlalu baik
Fatma Salim
sepertinya kurang cocok deh, terlalu kalem pilih wajahnya sedikit kelihatan seperti preman gitu bru cocok jd Ahkam sesuai kelakuan nya . 😅😅
Anisatul Ulya
sintia wanita yg nfsu nya gde bget,,,
pipi gemoy
mudahan tegas nya abadi
tidak oleng🙄
Erpiati Tanjung
Lumayan
Haikal Ispandi
aku suka karakter Zain
tegas gak lemah
Rosita
lanjut dong thorr crta yuna n noval nya.. plisss 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!