"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 34
Happy reading!
.
***
"Dan juga, dia pandai menyamar. Bukankah begitu, Mr. Kim?"
Bisikan itu diabaikan Diego tepat saat ponselnya berbunyi. Pemuda itu melirik Summer yang mematung, dengan senyuman khasnya, Diego mengangkat telepon dari seseorang yang saat ini pasti sedang mengumpati dirinya.
"Hello, Uncle. Selamat menyambut hari yang baru. Apa kabar?" ujarnya basa-basi sambil menahan tawa karena pasti si penelpon akan berteriak keras dan mengumpat seperti biasa.
"Kau sedang bahagia rupanya, Bocah nakal! Apa yang kau lakukan semalam?!"
Seperti perkiraan, tidak ada sapaan halus dari si Uncle melainkan suara keras layaknya waktu Diego masih kecil. Pemuda tampan itu terkekeh geli, sudah pasti wajah Uncle Silver-nya memerah.
"Apa ya?" Diego berpura-pura tidak paham. "Apa yang aku lakukan semalam? Aku sudah lupa, Uncle."
"Shaun Anthony!" Teriakan itu hampir saja didengar Summer jika saja Diego tidak langsung mengubah ke mode headset, dia bernapas lega. "Apa kamu merindukanku, Uncle?"
"Ada harga yang haru kamu bayar jika melanggar peraturan, Bocah."
Diego mengulum senyum sambil menatap punggung Alita yang sedang duduk terbengong di tempatnya. "Aku memang sengaja melakukannya. Biar kau melihat kemesraan kami," ujar Diego yang menambah kadar kekesalan Silver dari seberang.
Keduanya seperti tikus dan kucing yang selalu bekejaran apabila saling melihat, suka mengatakan omong kosong yang hanya bisa dipahami mereka. Dan tentunya saling bertengkar seperti pasangan kekasih. Silver yang bagaikan api, dan Diego seperti bensin yang siap menyiram agar api itu meluas. Pasangan sempurna.
Sebelum suara Silver melengking dan benar-benar meledakkan gendang telinganya, Diego langsung menutup panggilan itu tanpa bersuara. Dia tertawa setelah tahu Silver melihat kegiatan mereka semalam.
"Aku memang sengaja, Uncle," gumamnya.
Menyabotase cctv bukanlah hal sulit untuk Diego, tapi demi memulai perbincangan hangat dengan sang Uncle yang menyebalkan, Diego membiarkan seluruh rekaman cctv semalam sampai ke bola mata zamrud lelaki licik itu.
Bibirnya yang tertarik lebar ke atas harus terhenti kala melihat Summer yang masih setia mematut di sampingnya. "Ada yang ingin kamu tanyakan? Kalau soal telepon barusan, itu calon mertuaku," seloroh Diego dengan senyum lebar membuat Summer memutar bola mata jengah.
"Aku hanya memastikan kalau Mr. Kim hari ini benar-benar tidak masuk," ucap Summer datar sambil memandang keluar lewat jendela yang langsung memaparkan pemandangan halaman sekolah yang luas. Berpura-pura mencari kepastian dari kecurigaannya. "Sepertinya kamu belum pernah melihat Mr. Kim, karena setiap kali dia masuk, kamu bolos sekolah."
Diego tersenyum tipis kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar pada Summer. "Dia, bukan? Aku sudah tahu, Alita sering membicarakannya."
"Oh ...," ucap Summer masih dengan tampang datar. "Apa kamu tidak merasa familiar dengan mukanya? Sepertinya dia bukan orang asing."
"Tentu saja bukan orang asing, dia guru di sekolah kita," timpal Diego membuat Summer menahan kepalan tangannya. Niat untuk memancing Diego, kenapa dirinya yang malah kesal.
"Ternyata memang pandai menyamar," gumam Summer yang masih bisa ditangkap pendengaran Diego, tapi pemuda itu memilih diam saja. Cari aman.
Namun, Summet yang sudah kepalang kesal langsung berbisik lagi. "Jangan mengelak lagi, aku tahu kamu yang menyamar jadi Mr. Kim!"
Diego tertawa heboh bahkan sampai seluruh isi kelas mendelik tidak suka ke arahnya. Maklum, anak buangan dan tidak sukai kalau berulah akan menjadi bahan gunjingan. Miris!
"Kenapa tidak langsung berteriak? Apa kamu ingin mengujiku hanya dengan pancingan itu? Kamu tahu seberapa berkaratnya otakku dan juga julukan yang melekat, kamu pikir bisa memutarbalikkan fakta? All Zero tidak akan pernah dilirik dan akan tetap menjadi siswa terbodoh sepanjang sejarah di sekolah ini," ucap Diego dengan seringai yang tercetak jelas di bibir tipisnya.
Fakta bahwa Diego siswa terbodoh dalam sejarah sekolah Loyale High School membuat Summer terbungkam seketika. Tidak akan ada yang percaya bahwa Mr. Kim adalah Diego yang sering mereka hina. Malahan Summer yang akan dikatai culun dan tidak memiliki otak jika dia mengumbar fakta itu tanpa bukti akurat.
Summer mengepalkan tangannya erat. Entah kenapa setiap perkataan Diego membuatnya sangat marah. Bukan pada pemuda itu, tetapi pada dirinya sendiri yang langsung menyerang tanpa bukti. Semua hal butuh bukti, seperti kecurigaannya yang selama ini belum terjawab atas nama Shaun Anthony.
"Aku akan menemukan bukti bahwa kaulah Shaun Anthony dan Santiago Kim," desis Summer dengan nada yang mengancam.
Saat ini dia tidak bersandiwara sebagai orang yang baik lagi di hadapan Diego setelah kejadian yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Menjadi tersangka pembunuhan karena sebuah candaan menurutnya.
Diego tersenyum tipis lalu mengangguk paham. "Kalau kamu kesulitan, datanglah langsung padaku," imbuhnya menimbulkan kerutan di kening Summer bertambah dalam disertai seringai mengejek.
"Aku juga akan membuktikan langsung kalau kaulah pembunuh Mr. Michael sebenarnya." Summer mengepalkan tangannya dan berlalu dari sana.
Diego menatap punggung yang perlahan terhalang pintu, menghembuskan napasnya pelan dan bergumam, "Kamu tidak akan paham apa artinya cinta yang tersembunyi, Summer."
***
Setiap hari menjadi hari yang baru. Tapi tidak bagi Diego, harinya seperti neraka baru yang akan meledak setiap kali melihat senyum tengil yang selalu menyapa saat bangun pagi.
"Selamat pagi, Sa-yang ...."
Sapaan manja dan penuh arti itu kembali terdengar. Bahkan kini tangan kecil dan mungil melingkar di pinggangnya. "Dosa, Lele, jangan buat aku khilaf lagi," dengus Diego sambil berusaha melepaskan tangan Alita. Tapi si pemilik tetap kekeh dan keras kepala untuk hal yang satu ini.
"Aku suka kalau setiap hari melakukan dosa bersamamu. Aku tidak rela jika suatu saat nanti kita berpisah, satu ke Firdaus dan satunya lagi ke Hades."
Diego memutar badannya jengah. Meninggalkan tangannya yang hendak mengambil makanan untuk dua anak anjing menggemaskan. Setelah malam itu, setiap saat Alita akan mendatanginya dengan sapaan yang menyebalkan.
"Kamu yang akan pergi ke Hades," ketus Diego.
"Kita akan sama-sama ke sana. Kekekalan cinta, sama seperti Hukum Kekekalan Energi. Begitulah cintaku padamu, tidak akan hilang sampai kita pergi ke Hades," imbuh Alita menerbitkan seringai tipis di bibir Diego.
"Kamu tahu bunyi Hukum Kekekalan Energi?"
"Tidak tahu dan tidak ingin tahu. Aku hanya ingin memelukmu."
Alita tetap menempel meski Diego berulang kali melepaskan pelukan itu. Nyatanya, penolakan pemuda itu membuat Alita makin gencar untuk terus maju pantang mundur.
"Lele ...."
Alita menggeleng dan menyandarkan keningnya di dada Diego. "Tunggu sebentar, aku ingin mendengar suara jantungmu. Sungguh mainstream."
Diego menggeleng pasrah. Dia tidak berniat membalas pelukan itu atau pun menolak. Diego hanya berdiri mematung, membiarkan Alita menyusupkan kepala di dadanya dan pelukan itu makin erat.
"Kamu kenapa?"
Alita mendengus kecil dan mendongak agar melihat wajah tampan yang kusut di hadapannya. "Aku ingin kamu memelukku juga," tukas Alita lalu memaksa tangan pemuda itu untuk membalas pelukannya.
Diego tidak menolak. Dia membiarkan Alita melakukan sesukanya. "Sudah."
Hening sejenak. Alita masih mendengarkan suara jantung yang bertalu-talu milik Diego. Bibirnya selalu tersenyum lebar tatkala merasakan itu. Debaran jantung keduanya sama.
"Shaun, kamu memilih dicintai atau mencintai?"
Diego mengerutkan alisnya, bertanya bingung. "Apaan sih? Tidak jelas banget," sungutnya.
"Jawab aja, jangan banyak bertanya."
Pemuda itu menghela napas sebentar lalu memejamkan matanya merasakan kenyamanan yang sedang dirasakan sekarang.
"Seseorang bertanya seperti apa rasanya dicintai? Mungkin rasanya seperti sembuh dari segala sakit. Kemudian dia bertanya lagi, seperti apa rasanya mencintai? Mungkin rasanya seperti sakit, tetapi tetap tak ingin sembuh."
Alita dibuat bingung, namun bibirnya tersenyum tipis. Entahlah, apa arti kata-kata Diego, dia memilih untuk memahami saja tanpa bertanya lebih. Dan sekarang, yang paling utama adalah mengambil kesempatan yang sangat langka untuk didapatkan.
Kakinya sedikit berjinjit untuk menggapai wajah Diego, kemudian melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir yang menggoda itu. Masih ingat 'kan, kalau Alita pernah bilang ingin melakukan dosa setiap hari? Dan juga kalau bibir Diego ingin diciumnya? Setiap hari Alita selalu melakukannya.
Diego membuka matanya perlahan dan yang didapatkannya hanya cengiran khas anak remaja yang masih labil. Gadis kecil yang suka mencuri kecupan darinya. "Jangan marah, aku akan mengembalikannya nanti," ujarnya polos tanpa dosa.
"Kamu sangat suka mencuri."
"Setiap kesempatan adalah emas, itu yang dikatakan Daddy. Dia juga mengajariku untuk mencuri ciuman darimu."
Seketika mata Alita melebar setelah sadar karena membocorkan rahasia yang disuruh sang ayah untuk ditutup rapat sampai ke liang lahat.
"Apa?!"
Seringai lebar di bibir Diego seketika membuat bulu kuduk Alita berdiri. "Jangan lari! Lele! Lele!"
.
---
---
***