Jeni seorang perempuan yang lemah lembut, sopan dan diberikan kelebihan memiliki paras yang sangat cantik. namun sejak dia berusia 4 tahun ayahnya pergi meninggalkan dia dan juga sang ibu untuk selama - lamanya
yang membuat ibunya harus banting tulang untuk menghidupi Jeni, sejak kecil Jeni terbiasa dengan kehidupan yang sederhana yang membuatnya selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki
tapi kehidupannya baru saja dimulai saat dia mulai beranjak dewasa cobaan silih berganti mendatanginya, akan kah Jeni tetap kuat menghadapi cobaan demi cobaan yang datang kepadanya
apa kah Jeni akan bahagia dengan pernikahan yang sangat tidak pernah dia duga sebelumnya, walau pun dia menikah dengan sahabat masa kecilnya namun tetap saja itu berbeda sekarang mereka sudah dewasa sudah tidak sama lagi dengan masa kecil mereka
kalau penasaran dengan ceritanya, silahkan dinikmati ceritanya
mohon maaf jika ada kekurangan didalam cerita ini, karena ini adalah karya pertama say
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenika Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita 34
karena dia ingin tahu, bagaimana pendapat Hendra dan juga Melinda, mengenai makanan masakannya
namun tidak dia sangka sama sekali saat dia telah tiba dimeja makan, dia mendengar kalau Rendy memuji makanan masakannya, yang membuatnya merasa malu
" kamu dengar sendiri kan Jeni, kalau Rendy suka dengan masakan kamu, jadi mulai sekarang, tugas kamu adalah memasak makanan untuk kita. bagaimana apa kamu siap " ujar Hendra
rendy pun terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Jeni
dan nampak lah Jeni yang berdiri dibelakangnya, ia melihat pipi Jeni yang memerah karena merasa malu, Rendy pun tersenyum melihatnya
" Jeni akan melakukan apa pun yang om perintahkan " ujar jeni, sambil tersenyum tipis kearah Hendra
Hendra, Melinda, dan Rendy pun terlihat melahap makanannya dengan sangat lahap, seperti orang yang sangat kelaparan
" kalau begitu, Jeni balik ke kamar dulu ya, om Tante, karena semua tugas Jeni sudah selesai " ujar jeni
hendra, dan juga Melinda pun hanya menganggukkan kepalanya, karena memang sudah tidak ada yang perlu Jeni kerjakan lagi
kemudian Jeni pun berjalan menuju kamar tempat dia beristirahat, setelah sampai di kamar tersebut, Jeni langsung membanting kan tubuhnya ke kasur
Jeni pun sejenak memejamkan matanya, melepas kan lelahnya setelah seharian bekerja, Namaun Jeni sudah terbiasa karena saat dia bekerja di cafe pun, dia selalu sibuk sepanjang hari, hingga membuatnya sudah terlalu lelah lagi
" ahhhh bagaimana kabar ibu sekarang ya, aku harus telpon ibu sekarang " ujar jeni
Jeni pun langsung bangkit dari posisi rebahan nya, dia langsung mengambil telponnya yang berada di atas meja, tidak jauh dari posisi nya duduk
ia langsung menghubungi nomer telpon sang ibu
" malam kak Jeni " ujar Tiara
" malam juga, kenapa tiba - tiba panggil aku kakak " jawab Jeni, sambil tersenyum kecil
" hallo nak, bagaimana kabar kamu " ujar Wati, dengan semangat dengan pertanyaan nya
" Jeni baik kok Bu, semuanya yang ada disini juga baik banget sama Jeni, kalau ibu bagaimana kabarnya " ujar jeni, kepada sang ibu
" ibu juga baik - baik aja kok nak, kamu nggak usah khawatir disini, ada Tiara yang jagain ibu, oh ya ibu juga mau bilang sama kamu, kalau mulai sekarang Tiara itu adik kamu, karena ibu sudah anggap Tiara anak ibu, jadi kamu juga anggap Tiara sebagai adik kamu ya nak " ujar wati, menjelaskan mengapa tiara memanggil Jeni dengan sebutan kakak tadi
" iya Bu " jawab Jeni
kemudian mereka pun mengobrol dengan waktu yang cukup lama, mereka saling melepaskan rindu walau hanya lewat telpon.
tanpa terasa waktu tidur malam pun tiba, Jeni pun menyuruh Sarah untuk segera beristirahat, lalu dia memutuskan sambungan telpon nya
" lebih baik sekarang aku mandi dulu, baru tidur deh " gumam Jeni
lalu Jeni pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya
################################
terlihat Rendy sedang duduk di atas tempat tidurnya, dengan laptop yang ada di atas kakinya
walau pun dia sudah tidak lagi berada di kantor, namun pekerjaannya masih tetap jalan walau dimana pun dia berada meski di rumah sekali pun
tuttt....ttuuttt.....tuttt...
suara telpon berdering
mendengar telponnya yang berdering, membuyarkan ke fokusan nya dengan laptop yang ada didepannya itu
Rendy pun langsung mengangkat telponnya, tanpa melihat nama siapa yang sedang menghubunginya itu
" siapa " ujar Rendy, dengan nada yang sedikit terdengar menggertak, karena mengganggu kerjanya
" kamu kenapa sih, emang aku punya salah apa sama kamu, kok kamu marah begitu " ujar orang yang menghubungi Rendy itu
Rendy pun kaget setelah mendengar suara orang yang menghubunginya itu, tentu saja dia sangat familiar dengan suara itu, karena dia adalah Devina sang kekasih
" Bu...Bu..kannya begitu sayang, aku nggak marah kok sama kamu, tadi aku nggak liat siapa yang telpon aku, aku kira orang lain " ujar Rendy, berusaha menjelaskan kebenarannya kepada Devina
" memangnya kamu lagi ngapain sampai, nggak liat orang yang telpon kamu " ujar Devina
" aku lagi nyelesaiin, pekerjaan aku " jawab Rendy
" kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaan kamu, sampai lupa sama aku, memangnya lebih penting aku atau pekerjaan kamu itu hah" ujar Devina, dengan nada marah - marah
nampaknya Devina sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya kepada Rendy, karena menurutnya Rendy tidak pernah memperhatikan nya lagi setelah Rendy menjadi CEO
bahkan hanya untuk menanyakan kabarnya saja Rendy sudah tidak pernah lagi, apa lagi datang untuk menemuinya
" Devina kamu kok ngomong seperti itu, bukannya waktu itu sudah kita omongin baik - baik, kamu pun sudah setuju kalau nanti aku sudah menjadi CEO maka aku akan jarang hubungin kamu " ujar Rendy
" iya tapi bukan seperti ini, kamu bahkan nggak pernah lagi kabarin aku, bahkan hanya sebentar, aku hanya takut kamu lupa sama aku " ujar Devina, dengan ter sedu - sedu dengan tangisannya
Rendy pun mendengar tangisan Devina dari dalam telpon itu, membuatnya merasa sangat bersalah
memang benar apa yang dikatakan oleh Devina, selama dia menggantikan jabatan sang ayah, dia tidak pernah lagi menghubungi Devina walau hanya sebentar
" iya...iya...aku minta maaf, aku janji nanti aku akan lebih sering kabarin kamu oke, sekarang berhenti nangis aku nggak bisa dengar kamu nangis sepeti ini " ujar Rendy
" kamu benar - benar nggak lupain aku kan, atau kamu sudah ketemu orang baru sampai - sampai kamu lupa sama aku " ujar devina, mengutarakan hal - hal yang mengganggu pikirannya selama ini terhadap kekasihnya itu
" nggak ada siapa - siapa kok sayang, aku benar - benar sibuk dengan pekerjaan aku, udah itu saja, kamu jangan berpikiran yang tidak - tidak seperti itu lagi ya " jawab Rendy, berusaha menenangkan sang kekasih
" bagus kah kalau itu cuman pikiran buruk aku saja " ujar devina, yang membuat perasaan yang tadinya gundah menjadi tenang, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy
" ya sudah sekarang kamu istirahat, ya sayang, besok pasti kamu harus ke butik kamu lagi kan " ujar Rendy
" iya aku akan istirahat, kamu juga jangan sampai nggak istirahat ya " jawab Devina, lalu memutuskan sambungan telponnya
################################
setelah dia memutuskan sambungan telponnya dengan Rendy, Devina pun langsung membaringkan tubuhnya di kasurnya
" hahhh akhirnya aku lega, sebaiknya sekarang aku harus bersikap lebih dewasa lagi, jangan sampai bikin Rendy nggak enak dengan sikap aku yang terlalu menuntut dia untuk terus kasih perhatian ke aku, bagaimana pun dia pasti sangat sibuk sekarang " gerutu Devina
" ohh ya kok aku ngerasa ada yang anehnya, tapi apa " ujar Devina bingung
TERIMA KASIH💜
bkin rendi mmbenci devina dn kluargax.. trus nikahi jeni dn hidup bahgia
smg ppax rendy tau lngsung hacurkan prusahanx tono