NovelToon NovelToon
The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Duniamasadepan / Zombie / Mutan / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aria Monteza

(Dalam mode edit)
Tahun 3035. Dunia yang dulunya damai kini berubah menjadi neraka. Virus mematikan, yang mereka sebut Ragen, mengoyak peradaban, mengubah manusia menjadi makhluk buas yang haus darah. Mereka bukan sekadar zombie, bukan sekadar mayat hidup. Mereka adalah Ragen, mimpi buruk terburuk umat manusia. Di tengah kekacauan, sekelompok pemuda berjuang untuk bertahan hidup, mencari perlindungan terakhir. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap pertemuan bisa menjadi akhir. Kehilangan adalah harga yang harus mereka bayar, luka dan duka menjadi teman setia. Mampukah mereka selamat dari kiamat ini? Akankah mereka menemukan harapan di tengah kegelapan? Perjalanan mereka baru saja dimulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35. Evacuation

Rutinitas makan bersama masih selalu dilakukan Leo dan teman-temannya, meski sekarang memiliki kesibukan berbeda. Seperti makan malam kali ini, mereka berkumpul bersama minus Selena yang masih istirahat di kamarnya dan Matthew yang bertugas jaga di ruang medis. Mereka terlihat sedang bercanda dan bercerita tentang pengalaman mereka hari itu sesekali terdengar tawa di sela cerita. Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Leo sesekali melihat pintu kantin berharap Selena datang dan bergabung bersama mereka.

“Kenapa di antara kita, yang paling istimewa cuma Selena?” Tanya Sania pada yang lain.

 “Istimewa bagaimana?” Tanya Austin bingung.

“Cuma dia yang tidak mendapat pekerjaan di sini” terang Sania.

“Kau pikir begitu?” Tanya Ignis sambil mengerlingkan matanya.

“Ya, dia bertugas hanya sekali sejak sampai di sini. Apa kau tidak merasa aneh?” gerutu Sania.

“Mungkin dia mendapat tugas hanya saja kita tidak mengetahuinya. Mr. Bhorton sering sekali bertemu dengannya,” jawab Ignis kalem.

“Benarkah? Apa dia menjadi agen rahasia?” berondong Sania.

Ignis yang ditanya hanya mengedikkan bahu, membuat Sania kesal dan menimpuk bahunya diikuti tawa yang lain.

“Ngomong-ngomong di mana Selena?” Tanya Jimmy.

“Dia sedang sakit,” jawab Leo.

“Sepertinya sudah sembuh,” sahut Tony yang melihat Selena memasuki kantin, ia baru akan melambaikan tangannya untuk memanggil temannya itu saat Balthier dengan cepat membawa ke mejanya. “Well, sepertinya pria satu itu suka sekali menculik teman kita,” lanjutnya.

Teman-temannya pun mengangguk menyetujui pendapat Tony. Leo masih memperhatikan Balthier dan Selena yang tengah membicarakan sesuatu, jarak yang cukup jauh membuatnya tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

“Apa mereka sedang bertengkar?” celetuk Sania yang juga masih memperhatikan Selena.

“Aku rasa begitu, mereka sering bertengkar,” jawab Ignis.

Leo yakin pertengkaran mereka tidak jauh dari masalah Matthew. Ia tahu betul Balthier tidak menyukai Matthew, meski tidak mengetahui alasannya. Baru kali ini Leo melihat Selena semarah itu dengan orang lain. Dihadapannya dan juga teman-temannya Selena selalu mengontrol emosinya meski semarah apapun.

“Selena menangis,” celetuk Tony membuyarkan lamunan Leo.

Selena telah pergi meninggalkan kantin meski Balthier sempat memeluknya untuk mencegah dia pergi. Leo yang memperhatikan sejak tadi semakin was-was apalagi Selena belum pulih benar. Setelah terdiam cukup lama, Leo memutuskan untuk menyusul Selena memastikan dia baik-baik saja.

***

Di dalam kamarnya, Selena kembali membuka Future Eye’snya untuk memperjelas vision yang baru saja ia dapatkan. Masalah besar sedang mengarah menuju camp, sesuatu yang belum pernah ia lihat selama ini. Setelah informasi yang didapatkannya cukup kembali Selena menutup penglihatannya itu, tetapi saat matanya belum sepenuhnya kembali normal terdengar suara ketukan pintu disusul dengan terbukanya pintu kamarnya.

“Selena, apa kau baik-baik saja?” Tanya Leo di ambang pintu.

Terkejut melihat Leo yang datang, Selena segera menunduk menyembunyikan matanya yang belum normal kembali.

“Iya aku baik-baik saja.” Selena langsung berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

“Apa kau yakin?” lanjut Leo dengan nada cemas.

Ia kini di dalam kamar Selena menunggu gadis itu keluar dari dalam kamar mandi. Leo bisa mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Sesaat kemudian pintunya kembali terbuka dan Selena kini keluar dengan wajah sedikit pucat.

“Tetaplah di situ,” perintah Selena melihat Leo hendak menghampirinya, saat Selena kembali menekan pangkal hidungnya. Ia berbalik memunggungi Leo, matanya belum berhasil ia kendalikan sepenuhnya. “Aku baik-baik saja,” lanjutnya.

Leo terpaksa hanya diam di tempatnya saat Selena melarangnya mendekat, ia khawatir dengan keadaannya sekarang.

“Aku harus berbicara dengan Mr. Bhorton sekarang,” kata Selena meraih jaketnya dari dalam lemari. “Apa kau mau mengantar?” Tanya Selena membalikkan badannya.

Leo mengangguk menyetujuinya tanpa banyak bertanya, meski dalam hatinya berkecamuk banyak pertanyaan. Sepanjang perjalanan menuju kediaman Mr. Bhorton mereka tidak banyak bicara, Selena tidak menjelaskan apa-apa pada Leo hanya memintanya untuk berjalan secepat mungkin. Sesampainya di depan tempat Mr. Bhorton, Selena dan Leo dihadang pengawal yang bertugas menjaga keamanan pimpinan camp tersebut.

“Maaf Nona, Mr. Bhorton tidak dapat diganggu sekarang. Beliau sedang rapat,” sergah salah satu pengawal itu menghalangi pintu mencegah Selena masuk.

“Ini penting. Aku harus bertemu dengannya sekarang,” pinta Selena gusar.

“Anda bisa bertemu dengan beliau besok,” kata pengawal yang satunya.

Dengan kesal Selena berbalik. “Kita semua sudah mati, jika aku harus menunggu besok,” gerutu Selena.

Leo yang mendengar perkataan Selena mengerutkan dahi bingung, belum sempat Leo bertanya pada Selena gadis itu kembali berbalik dan dengan cepat melumpuhkan kedua pengawal yang menghalangi jalannya. Masih dalam keadaan terkejut, Leo menatap kedua pengawal itu setengah tidak percaya. Selena melumpuhkan keduanya hanya dalam hitungan detik bahkan kedua orang tersebut tidak sempat mengelak ataupun membalas serangannya. Dengan cepat Selena menerobos masuk ke tempat Mr. Bhorton tanpa mempedulikan erangan kesakitan kedua pengawal tersebut. Leo pun buru-buru menyusul Selena masuk.

“Maaf Mr. Bhorton atas kelancangan saya mengganggu rapat anda,” ucap Selena dihadapan Mr. Bhorton dan beberapa kapten yang tengah mengadakan diskusi. Mereka semua tampak terkejut dengan kedatangan tamu tidak diundang dalam rapat mereka.

“Tidak apa-apa Nona. Apa ada hal yang perlu dibicarakan?” Tanya Mr. Bhorton setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.

Belum sempat Selena menjawab salah satu pengawal yang tadi terkapar telah berada di belakang Selena menyela pembicaraan mereka. “Saya sudah melarang mereka masuk Sir.” Lapor pengawal tersebut sambil menahan sakit diperutnya.

“Tidak apa-apa, keluarlah,” perintah Mr. Bhorton.

Pengawal itu hanya menunduk lesu, kemudian keluar masih mengerang kesakitan akibat pukulan dari Selena. Balthier pun tampak menyusul masuk ke tempat itu tepat saat pengawal tersebut keluar. Ia memandangi anak buahnya dengan tatapan bingung namun melihat Selena berada di sana pertanyaan dikepalanya terjawab sudah.

“Saya ingin melaporkan pergerakan yang mengarah kesini Sir. Serangan besar,” kata Selena yang sempat tertunda lagi.

“Dari arah mana Nona?” Tanya Mr. Bhorton menanggapi laporan Selena.

“Utara,” jawab Selena.

“Kalau begitu kita segera siapkan pasukan untuk menangkal serangan tersebut,” perintah Mr. Bhorton.

“Saya rasa kita tidak akan mampu mengatasinya kali ini, bahkan jika satu camp ini ikut berperang,” terang Selena gusar.

“Maksud anda?” Tanya Mr. Bhorton bingung.

 “Saya belum pernah melihat makhluk ini sebelumnya, mereka sangat banyak dan salah satu di antara mereka sangat besar,” jawab Selena.

Mr. Bhorton tampak semakin bingung mendengar penjelasan Selena begitu pun juga yang menyimak pembicaraan mereka. Dengan frustrasi Selena menatap Balthier meminta pertimbangan dengan bahasa isyarat, Balthier mengangguk setuju setelah mengerti maksud Selena.

“Bisa anda ulurkan tangan anda Sir, ini akan mempermudah anda mengerti maksud saya,” pinta Selena.

Walau sedikit ragu Mr. Bhorton mengikuti perintah Selena mengingat orang yang di depannya adalah Assassins 1st Class yang telah ia percayai. Kedua tangan Mr. Bhorton terulur kedepan disambut kedua tangan Selena yang terulur diatasnya.“Maaf ini akan sedikit pusing nanti,” ujar Selena agar Mr. Bhorton menyiapkan diri.  Mr. Bhorton yang tidak tahu apa yang akan dilakukan Selena mengangguk paham. Dalam hitungan detik mata Selena berubah menjadi kelam diikuti sentakan ringan di kedua tangan Mr. Bhorton. Kini kedua mata Mr. Bhorton tampak kosong menerima informasi yang diberikan Selena melalui transfer energi yang dilakukannya.

Bayangan makhluk-makhluk ganjil melakukan penyerangan pada camp segera berkelebat dihadapan Mr. Bhorton. Setelah dirasa cukup Selena segera memutus transfer energinya. Mr. Bhorton yang baru saja melihat informasi yang diberikan Selena masih terdiam terpaku, ia terlihat sangat shock. Benar apa yang dikatakan Selena, mereka tidak akan mampu mengatasi penyerangan kali ini.

Leo segera menangkap tubuh Selena yang hampir terjatuh setelah apa yang dilakukannya barusan. Ia membimbingnya untuk duduk di kursi terdekat, tanpa sengaja ia melihat kedua mata Selena yang hitam kelam dan darah yang mengalir di kedua kelopaknya.

 “Please jangan melihat mataku,” ucap Selena lirih.

Mendapat teguran dari Selena, Leo mengalihkan pandangannya untuk mencari tissue. Dengan cepat ia meraih tissue di atas meja mengabaikan Mr. Bhorton dan anak buahnya yang tengah berdiskusi.

“It’s okay,” kata Leo pelan menghapus darah yang mengalir di pipi Selena. Leo mencuri pandang untuk melihat mata Selena, baru kali ini ia melihat kejadian tersebut. Mata Selena yang biasanya kehijauan berubah menjadi hitam kelam meski sekarang berangsur kembali normal.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Leo pelan, diusapnya pipi Selena pelan untuk menghilangkan ketegangan di antara mereka.

Selena mengangguk pelan gugup dengan apa yang baru saja ia perlihatkan pada Leo. Ia menoleh pada Mr. Bhorton dan anak buahnya yang sedang menyusun strategi, dihadapan mereka terbentang map digital kota Solarcity. Selena bangkit dari duduknya untuk bergabung dalam rapat tersebut diikuti Leo di belakangnya.

“Kecepatan mereka konstan saat ini, tapi kita tidak bisa menunggu sampai besok pagi untuk keluar dari tempat ini. Mereka mungkin akan meningkatkan kecepatan pergerakan mereka,” ucap Mr. Bhorton memberitahu para kapten yang sedang mengamati citymap di depan mereka.

“Apa kita benar-benar harus keluar dari tempat ini, Sir?” Tanya kapten Jhoe ragu.

“Jika kita ingin selamat maka evakuasi adalah jalan satu-satunya.” Jawab Mr. Bhorton dingin. “Hei panggil dokter Raymond ke sini cepat,” perintahnya lagi pada salah satu pengawalnya.

Mr. Bhorton kembali mendiskusikan rencana evakuasi mereka dan memerintahkan para kaptennya untuk segera menyiapkan semua penghuni tak lupa semua peralatan yang mereka miliki harus bisa terbawa semua. Tidak seperti Mr. Bhorton, Selena meminta untuk memprioritaskan para orang tua dan anak sedangkan peralatan yang mereka bawa diutamakan yang terpenting. Setelah sedikit berdebat akhirnya Mr. Bhorton menyetujui usul Selena. Armada yang mereka miliki memang terbatas hingga harus pintar-pintar memanfaatkan yang ada. Leo yang hanya diam sepanjang diskusi diam-diam kagum dengan kemampuan menyusun strategi Selena. Meski terbilang paling muda tetapi dengan karismanya para kapten bahkan Mr. Bhorton sendiri mudah menerima saran yang diajukannya.

“Mungkin dia mendapat tugas hanya saja kita tidak mengetahuinya. Mr. Bhorton sering sekali bertemu dengannya.” Kata-kata Ignis saat makan malam tadi kembali tergiang-ngiang ditelinga Leo. “Mungkinkah ini tugas yang diberikan Mr. Bhorton padanya,” kata Leo dalam hati.

Kapten Jhoe yang berdiri di seberang masih sedikit tidak menyukai gagasan Selena yang dianggapnya hanya anak muda yang tidak tahu apa-apa. Pelan ia menyikut rekannya yang berdiri di sampingnya. “Kenapa Mr. Bhorton harus mendengarkan anak bau kencur macam dia?” bisiknya pada kapten Kain.

“Karena dia anggota Assassins 1st Class,” jawab kapten Kain sambil mengusap-usap hidungnya agar pembicaraan mereka tidak kentara. Kapten Jhoe terbelalak mendengar penjelasan temannya itu, ia menatap kapten Kain dengan rasa tidak percaya. Namun rekannya itu mengangguk meyakinkan jawabannya. Kembali kapten Jhoe memperhatikan Selena yang sedang menyusun rencana pengeboman jembatan penghubung antar kota yang akan mereka lalui jika para monster itu tetap mengejar.

Leo merasakan genggaman tangan Selena semakin erat ditelapak tangannya, sejak beberapa menit lalu memang gadis itu meraih tangannya dan menggenggamnya. Ia tahu betul Selena sedang cemas meski di luarnya terlihat sangat tenang. Penyusunan rencana evakuasi camp berlangsung cukup lama, tempat yang mereka tuju adalah camp lama yang sebelumnya pernah mereka tempati di kota Fox yang tak jauh dari Solarcity. Mereka berharap dikota itu masih aman hanya saja camp sebelumnya tidak sebesar yang mereka tempati saat ini.

Setelah rapat selesai, para Kapten segera membubarkan diri untuk segera melaksanakan tugasnya menyiapkan pasukannya untuk mengevakuasi para penghuni camp. Selena dan Leo pun ikut mengundurkan diri meninggalkan Mr, Bhorton, Balthier dan dokter Raymond yang masih mendiskusikan soal monster tersebut.

“Selena, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Leo hati-hati ditengah perjalanan mereka menuju kamar.

“Hemm,” angguk Selena.

“Apa yang terjadi sebenarnya, maksudku dengan kedua matamu?” lanjut Leo ragu-ragu.

“Aku bisa melihat masa depan,” jawab Selena membuat Leo memandanginya serius. “Aku hanya menggunakannya disaat tertentu atau kadang ia datang sendiri.”

“Dan yang tadi itu datang sendiri?” terka Leo.

“Ya begitulah.”

“Itukah sebabnya matamu berdarah?”

“Sekalipun aku sendiri yang membukanya kedua mataku akan tetap berdarah karena….” Terang Selena.

Leo yang mendengarnya berhenti berjalan melihat Selena tidak melanjutkan kata-katanya. “Karena apa?”

“Lupakan saja. Kita harus cepat berkemas dan jangan lupa memberitahu yang lainnya untuk bersiap pergi subuh nanti,” ucap Selena kembali berjalan.

Leo mengikutinya sambil terdiam, Selena tidak akan menjelaskannya lebih lanjut meski masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Mereka akhirnya hanya membisu tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga sampai di depan kamar.

“Leo bisakah kau…” ucap Selena ragu sebelum berpisah dengan Leo.

“Tenang, aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun,” potong Leo sambil tersenyum.

“Terima kasih,” kata Selena lega.

Keduanya pun berpisah untuk menyiapkan peralatan yang akan mereka bawa pergi esok hari.

***

Di dalam kamarnya, Matthew terlihat sedang duduk termenung di tepian tempat tidur. Sejak sore tadi ia merasa gelisah, sesuatu yang ditakutinya selama ini kembali merasuki dalam hatinya. Ia bisa merasakan kedatangan para monster itu menuju ke arahnya. Telah lama ia lari dan sembunyi dari kejaran orang-orang yang memburunya untuk mendapatkan serum yang ia ciptakan, namun kini mereka berhasil menemukannya. Dengan hanya satu serum di tangannya dan satu lagi ia sembunyikan.

Semuanya akan aman setidaknya mereka harus mendapatkan keduanya agar bisa memaksimalkan kerja serum ciptaannya. Satu hal lagi yang mengganjal pikirannya, Selena. Ia harus menjauhkan orang-orang itu dari Selena jika tidak kekasihnya itu juga dalam bahaya besar.

“Aku harus pergi tanpa Selena, mereka hanya mengincarku,” pikir Matthew. Ia segera menuju almarinya untuk mengemasi barang bawaannya.

Belum sempat Matthew meraih pakaiannya, pintu kamarnya telah terbuka lebar dan Selena menghambur ke dalam dengan wajah khawatir.

“Matt, syukurlah kau sudah kembali.” Selena mendekatinya, ia telah membawa perbekalan dan senjatanya di punggung membuat Matthew menatapnya heran.

“Ada apa, apa semua baik-baik saja?” Tanya Matthew gusar.

“Iya,” jawab Selena singkat, tetapi kemudian menggeleng cepat. “Tidak, kita harus cepat pergi. Semua penghuni camp akan dievakuasi malam ini juga, mereka sedang berkemas dan kau sebaiknya cepat berkemas,” lanjut Selena.

Matthew mengangguk dan segera mengemasi semuanya dalam diam. Tentu saja Selena tahu, ia bisa melihat masa depan, jika ia mau melakukannya.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Selena cemas melihat Matthew hanya membisu, di dekatinya kekasihnya itu untuk memastikan dia baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja,” jawab Matthew pelan.

“Tetaplah di dekatku, aku akan menjagamu,” pinta Selena menyentuh lengan Matthew.

“Tidak Honey, aku yang akan menjagamu.” Matthew membalikkan badannya, hingga saling berhadapan dengan Selena.

“Tidak Matt, aku akan menjagamu,” kata Selena bersikukuh.

Matthew hanya tersenyum mendengarnya dibelainya pipi Selena. “Kita akan saling menjaga.” Putus Matthew.

“Baiklah,” kata Selena mengerang menyerah.

Senyum Matthew melebar melihat Selena seperti itu. Diraihnya Selena dalam pelukannya dan menciumnya dengan lembut, lebih lembut dari biasanya. Matthew tidak ingin melepas Selena, ia begitu mencintainya dan berharap bersamanya selamanya, tapi mungkin sesuatu akan terjadi, entahlah. Ia hanya berharap bisa melihat Selena selamanya. Selena tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bermesraan mengingat waktu mereka singkat, namun ia juga tidak bisa menolak ciuman Matthew dan kali ini ia merasakan hal yang berbeda dengan kekasihnya.

“Matthew apa kau baik-baik saja, kau tampak berbeda?” Tanya Selena gusar setelah Matthew mengakhiri ciumannya.

“Tentu saja aku berbeda, aku benar-benar mencintaimu sekarang,” kata Matthew pelan, ditenggelamkan wajahnya ke dalam lekukan leher Selena. “Keluarlah dari tempat ini dengan selamat,” bisik Matthew.

“Kita akan keluar dari sini dengan selamat, Matt,” balas Selena, ia memeluk Matthew erat untuk menghilangkan gelisahnya. Ia merasakan dé javu.

“Iya.” Matthew mempererat pelukkannya. “Aku mencintaimu Selena, aku akan melindungimu apapun yang akan terjadi.”

--- TBC ---

1
Nuraishah❤💚
👍🏻
blueby
Itu tiap paragrafnya kenapa gitu., susah dibacanya.
Aria Monteza: nggak tau kak, soalnya dulu masih rapi
nggak mencar² kayak gitu paragrafnya
total 1 replies
Kaka Raffiana
keren bet ceritanya... maaf bru baca thor😅

season 2nya kak lanjutin
Kaka Raffiana
cloud adalah matthew yg dicuci otaknya
Kaka Raffiana
cool amat si leo ya!!! diliat dri foto visualnya
Kaka Raffiana
lebih suka sikap leo yg terlihat cool dan lebih santai...
Kaka Raffiana
keren sih respon Leo pas berantem ama si matthew.
Yurnita Yurnita
Thor nama visual nya
Aria Monteza: visual yg mana ya?
total 1 replies
Ahza Ahsanul
gue sukaaaaaaaaaaaaaa..
moon
he eh sepi
Z3R0 :)
yosh novel zombie lagi lanjut
RyanZxD
Lanjutt
Desi BA
hampir sama kayak zombie ya
moon
mattahew kah
moon
tegang tp seru
moon
waw pengendalian yang bagus mat
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
Esriyana Noviani
kapan publish novel ke duanya thor.....
NauraNazifaNauzan
gantung ini...
NauraNazifaNauzan
k 3x q baca novel ini... tp blm juga ada part 2 nya... sayang sekali pdahal cerita nya kereeeen....
Aria Monteza: lagi ngumpulin mood nulis 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!