Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Penyelamat yang Datang Tepat Waktu
Nadira mematung, dadanya naik turun menahan napas. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Adrian. Pria itu tampak sangat tenang, berbeda jauh dengan pasien gangguan jiwa yang selama ini ia rawat.
"Semua yang kamu katakan... benar?"
Adrian mengangguk pelan. "Aku bisa membuktikannya."
Belum sempat Nadira bertanya lebih jauh, tiba-tiba...
Drrrtt... drrrttt...
Ponsel yang berada di tangan pria bertopeng di ujung lorong menyala. Pria itu menyeringai setelah membaca pesan yang masuk.
Tangkap mereka hidup-hidup. Jangan biarkan mereka keluar dari rumah sakit.
Tanpa membuang waktu, ia menekan tombol pada dinding lorong.
Tiiit...
Alarm darurat langsung berbunyi di seluruh gedung.
"Waspada! Pasien berbahaya melarikan diri. Waspada! Pasien berbahaya melarikan diri!"
Suara itu menggema hingga ke setiap bangsal. Para petugas keamanan langsung berhamburan keluar.
Nadira menoleh panik. "Adrian... mereka mencarimu!"
"Bukan hanya mencariku." Adrian menggenggam pergelangan tangan Nadira. "Mereka juga akan menangkapmu."
"Ayo!" Tanpa menunggu jawaban, Adrian menarik Nadira berlari menuruni tangga darurat.
"Kita mau kemana?" tanya Nadira bingung.
Adrian tidak menjawab, dia terus melanjutkan langkahnya.
***
Di ruang Direktur...
Seorang petugas keamanan masuk dengan napas terengah-engah. "Pak! Pasien Adrian kabur!"
Direktur yang sedang duduk langsung berdiri. "Apa?"
"Dia sekarang bersama Suster Nadira."
Wajah Direktur berubah pucat. "Sial!"
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Nyonya Miranda, rencana kita gagal."
Suara dingin Miranda terdengar dari seberang telepon. "Tenang, kalau Adrian berhasil keluar... pastikan dia tidak keluar dalam keadaan hidup."
Direktur terdiam sesaat. "Baik."
Ia menutup telepon, lalu menatap seluruh petugas keamanan.
"Dengarkan baik-baik! Kunci seluruh gerbang rumah sakit! Jangan biarkan Adrian Mahendra keluar! Kalau perlu... lumpuhkan dia!"
"Baik, Pak!"
Belasan petugas langsung berlari ke berbagai arah.
***
Sementara itu...
Adrian dan Nadira berhasil mencapai ruang penyimpanan di lantai dasar.
Nadira masih berusaha mengatur napas. "Kita tidak mungkin bisa keluar. Semua pintu pasti dijaga."
Adrian memandang sekeliling ruangan. Tatapannya berhenti pada sebuah pintu besi kecil di belakang rak obat.
"Itu..."
Nadira ikut menoleh. "Itu jalur servis, dulu dipakai untuk mengangkut limbah medis. Aku pernah melihat petugas kebersihan melewatinya."
Adrian segera menarik pintu itu. Namun... pintu tidak bergerak. "Sial! Terkunci."
Nadira mulai panik. "Lalu bagaimana?"
Adrian memperhatikan gembok yang menggantung. Ia mengambil batang besi kecil yang tergeletak di dekat rak.
"Kamu mundur."
Nadira terkejut saat mendengar ucapan Adrian, ia pun mulai mundur.
Brak!
Sekali hantam, gembok bergoyang.
Brak!
Hantaman kedua membuat pengaitnya retak.
Brak!
Gembok akhirnya terlepas, pintu besi terbuka perlahan. Namun pada saat yang sama...
"Dia di sana!" Teriakan petugas keamanan terdengar dari ujung lorong. "Mereka ada di ruang penyimpanan!"
Sorot senter mulai mengarah ke arah mereka.
"Ayo!"
Adrian menggenggam tangan Nadira dan menariknya masuk ke lorong sempit di balik pintu besi. Mereka berlari menyusuri terowongan servis yang gelap dan lembap. Hanya cahaya lampu darurat yang sesekali menerangi jalan.
Di belakang mereka, suara langkah kaki para petugas semakin mendekat. "Kejar dia! Jangan sampai lolos!"
Nadira mulai kehabisan tenaga. "A-Adrian... aku tidak sanggup lagi."
Adrian menghentikan langkah. Ia melihat wajah Nadira yang sudah pucat dan napasnya tersengal. Tanpa banyak bicara, Adrian berjongkok.
"Naik."
Nadira menggeleng. "Tidak, nanti lukamu..."
"Cepat, mereka sudah dekat."
Dengan ragu, Nadira akhirnya naik ke punggung Adrian. Meski luka di punggungnya kembali terasa nyeri, Adrian tetap berdiri.
Ia menggertakkan giginya menahan sakit. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Kalimat itu membuat mata Nadira berkaca-kaca. Kini ia benar-benar merasa aman berada di sisi pria yang ia kira hanyalah seorang pasien gangguan jiwa.
Namun beberapa meter di depan mereka, terdengar suara besi bergeser. Seorang pria bertopeng muncul dari balik kegelapan sambil mengarahkan pistol ke arah mereka.
Lorong bawah tanah mendadak sunyi. Pria bertopeng itu berdiri tegak dengan pistol yang masih mengarah ke kepala Adrian.
"Permainan sudah selesai, Tuan Adrian."
Nadira yang masih berada di punggung Adrian langsung memucat. "Jangan... jangan tembak!"
Pria itu menyeringai. "Maaf, Suster. Ini bukan urusan Anda."
Jarinya mulai menekan pelatuk.
Dor!
Namun, suara tembakan yang terdengar bukan berasal dari pistol pria bertopeng itu. Peluru mengenai pipa besi di sampingnya hingga memercikkan bunga api. Pria bertopeng itu terkejut dan spontan menjatuhkan diri ke lantai.
"Siapa kau!"
Suara langkah kaki menggema dari ujung lorong. Tak lama kemudian, enam pria bertubuh tegap mengenakan setelan jas hitam muncul sambil mengarahkan senjata mereka ke arah para penyerang.
"Turunkan senjata kalian!"
Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun berjalan pelan di belakang mereka. Rambutnya mulai dipenuhi uban, tetapi sorot matanya masih tajam dan berwibawa.
Begitu melihat wajah pria itu, Nadira membelalak. "Om Gunawan...?"
Pria itu langsung menoleh. "Nadira!"
Ia segera menghampiri keponakannya. "Kamu tidak apa-apa?"
Nadira masih syok. "Om... kenapa Om ada di sini?"
Gunawan Prasetyo mengusap pelan kepala Nadira. "Om mendapat telepon dari seseorang, dan dia mengatakan kamu sedang dalam bahaya. Begitu tahu rumah sakit ini bermasalah, Om langsung datang."
Di belakang Gunawan, para pengawal telah melumpuhkan tiga pria bertopeng hanya dalam hitungan detik. Mereka diborgol dan dipaksa berlutut.
Adrian memperhatikan semuanya dengan tenang. Pria itu mengenali nama Gunawan Prasetyo. Salah satu pengusaha senior yang cukup disegani.
Gunawan kemudian memandang Adrian. "Kamu pasti Adrian Mahendra."
Adrian mengangguk.
"Terima kasih sudah melindungi keponakanku."
Adrian menjawab singkat. "Itu sudah seharusnya."
Gunawan tersenyum tipis. "Dari sorot matamu, aku yakin... kamu bukan orang gila."
Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Sudah lama sekali tidak ada orang yang mempercayainya.
Di halaman belakang rumah sakit... beberapa mobil hitam berhenti berjajar. Belasan pengawal masih berjaga dengan ketat.
Gunawan menoleh kearah Nadira. "Kamu ikut Om pulang."
Nadira langsung menggeleng. "Tapi Adrian... aku tidak mungkin meninggalkannya."
Gunawan menghela napas panjang. "Nadira. Om tahu kamu perawat. Tapi sekarang nyawamu juga sedang terancam."
Nadira menggigit bibirnya. "Aku tidak bisa membiarkan Adrian sendirian."
Gunawan memandang Adrian beberapa saat. "Lalu bagaimana menurutmu?"
Adrian menjawab dengan tenang. "Kalau Suster Nadira ikut saya... saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk melindunginya."
Tatapan Adrian begitu serius, tidak ada sedikit pun keraguan. Gunawan dapat melihat ketulusan dalam mata pria itu.
Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan. "Baik. Tapi mulai malam ini... kalian tidak boleh kembali ke rumah sakit."
Nadira terkejut. "Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?"
Gunawan tersenyum tipis. "Sudah tidak perlu dipikirkan. Karena mulai besok, Direktur rumah sakit itu akan berhadapan dengan om"
Nadira mengernyit. "Maksud Om?"
Gunwan menghela napas pelan sebelum menjelaskan. "Om memiliki sebagian saham di Rumah Sakit ini. Meski bukan pemegang saham terbesar, tetapi Om tetap memiliki hak untuk melakukan audit dan meminta penyelidikan jika ada dugaan pelanggaran."
Nadira membelalak. "Kenapa Om tidak pernah bilang?"
Gunawan tersenyum kecil. "Karena Om tidak pernah ingin mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaanmu. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda."
Ia menoleh kepada salah satu pengawalnya. "Hubungi tim hukum, mulai malam ini juga. Kumpulkan semua bukti penyalahgunaan wewenang, rekam medis palsu, dan dugaan suap yang terjadi di rumah sakit ini."
"Siap, Tuan."
Di saat yang sama, dari jendela lantai dua rumah sakit... Direktur melihat Adrian berhasil keluar bersama Nadira dan Gunawan.
Wajahnya memucat. "Tidak... ini tidak boleh terjadi." Tangannya gemetar, ia segera menghubungi Miranda Mahendra.
"Nyonya, Adrian berhasil kabur."
"Apa!" Suara Miranda terdengar penuh amarah. "Siapa yang membantunya?"
Direktur menelan ludah. "Gunawan Prasetyo."
Nama itu membuat Miranda terdiam, raut wajahnya berubah tegang. "Sial! Kenapa dia ikut campur."
Di sisi lain, mobil yang membawa Adrian dan Nadira perlahan meninggalkan Rumah Sakit itu.