Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap yang Basah
Kegelapan di dalam saluran utilitas tua itu terasa mencekam, namun bagi Althea, itu adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup kencang,
ia meraba-raba dinding semen yang dingin dan lembap. Di belakangnya, gema suara bentakan Rm dan langkah kaki taktis Jungkook yang ritme cepat memantul di dinding-dinding koridor, menandakan bahwa mereka tidak tertinggal jauh.
Begitu berhasil mendorong pintu keluar besi di ujung saluran, udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya.
Langit malam yang semula bersih dengan cahaya bulan purnama kini mendadak bergolak. Rintik-rintik hujan mulai turun, membasahi bumi dan dengan cepat berubah menjadi hujan deras yang mengguyur taman labirin 'mansion'.
Gaun beludru hijau tua yang dikenakan Althea terasa semakin berat karena menyerap air hujan. Ia berlari menyusuri lorong-lorong tanaman pinus yang tinggi, mengabaikan duri-duri tajam yang menggores lengan dan wajahnya. Air hujan mengaburkan pandangannya, membuat taman labirin itu terasa sepuluh kali lebih membingungkan daripada sebelumnya.
“Althea! Berhenti!”
Sebuah suara berteriak di antara gemuruh suara hujan. Itu suara Jimin, tidak lagi terdengar lembut atau menggoda, melainkan sarat akan keputusasaan dan kemarahan yang pekat.
Althea menoleh sekilas dan melihat siluet beberapa pria berjas hitam bergerak cepat di antara celah-celah tanaman pinus.
Mereka memisahkan diri, mencoba mengepung Althea dari berbagai arah. Tanpa sistem kamera Hoseok yang mati akibat korsleting tadi, mereka mengandalkan insting berburu mereka sendiri.
*KRETEK.*
Althea berbelok tajam ke kanan, namun langkah kakinya mendadak terkunci. Di ujung lorong labirin yang buntu, berdiri Jeon Jungkook.
Seragam taktis hitamnya basah kuyup, dan sepasang mata bulatnya berkilat tajam di bawah guyuran air hujan seperti seorang predator yang berhasil menyudutkan mangsanya.
"Sudah kukatakan, Althea," Jungkook melangkah maju perlahan, memotong seluruh ruang gerak Althea. Wajahnya datar, namun ada kekecewaan yang mendalam di matanya. "Jika kau mencoba terbang, aku sendiri yang akan mematahkan sayapmu."
Althea melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada dinding tanaman yang berduri.
"Jungkook, kumohon... biarkan aku pergi. Tempat ini bukan rumahku!"
"Tempat ini adalah satu-satunya rumahmu!" Sebuah suara berat menyela dari arah belakang Jungkook. Kim Namjoon berjalan menembus hujan tanpa payung, kacamata yang biasa ia kenakan telah dilepas, menampilkan sorot mata penuh obsesi mutlak yang selama ini ia sembunyikan.
Di sampingnya, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, dan Taehyung ikut bermunculan, mengurung Althea di titik buntu labirin tersebut.
Jin melangkah maju dengan wajah yang pucat karena amarah. "Aku sudah menyiapkan teh terbaik untukmu, Althea. Aku sudah merawat mu dengan tanganku sendiri. Kenapa kau tega mengkhianati kami?"
"Kau tidak bisa lari dari kanvas yang sudah ku tulis dengan darah, Althea ku," bisik Taehyung dengan senyuman miring yang bergetar di bawah rintik hujan. "Kau harus abadi bersama kami."
Althea menatap ketujuh pria yang kini berdiri melingkar di hadapannya, persis seperti posisi mereka di dalam foto tahun 2010 dan di dalam lukisan Taehyung. Hujan deras menghapus air matanya yang mengalir. Ia menyadari, tidak ada jalan keluar secara fisik dari tempat ini jika mereka semua telah menutup jalurnya.
Namun, Althea melihat sesuatu di saku jas Rm yang basah ujung map kulit cokelat berisi dokumen tahun 2010 menyembul keluar.
Dengan keberanian terakhir yang tersisa, Althea tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah mata Rm dan yang lainnya. "Kalian bilang kalian mencintaiku karena aku adalah anak perempuan yang mengobati luka kalian di panti asuhan itu? Kalian bilang aku malaikat kalian?"
Ketujuh pria itu terdiam di bawah guyuran hujan, terpaku oleh perubahan drastis dari sikap Althea.
"Malaikat yang kalian ingat tidak akan pernah mau tinggal di dalam sangkar yang dibangun dari darah dan manipulasi!" Althea berteriak, suaranya membelah suara gemuruh guntur.
"Jika kalian benar-benar mengingat anak perempuan itu... kalian akan tahu bahwa dia lebih memilih mati daripada menjadi boneka pajangan di rumah gila ini!"
Sambil berkata demikian, Althea melangkah cepat ke arah jurang pembatas dekoratif di ujung labirin taman sebuah tebing buatan yang di bawahnya mengalir sungai arus deras yang menjadi sistem pembuangan air *mansion*.
"Althea, JANGAN!" teriak Suga dan J-Hope bersamaan, kepanikan massal seketika pecah di wajah ketujuh pria tersebut saat mereka menyadari apa yang akan dilakukan gadis itu.
Sebelum tangan Jungkook yang terulur sempat mencengkeram pergelangan tangannya, Althea memejamkan mata dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, terjun bebas ke dalam kegelapan sungai di bawah sana, membiarkan arus deras membawanya pergi jauh dari sangkar emas Septem Foundation.
Bersambung~