Selama ini identik dengan pria yang melamar wanita. Namun ini sebaliknya. Ashimah setiap bertemu dengan pria yang bernama Dikau ia akan selalu meminta pria itu untuk menikahinya. Semua itu berawal karena Dikau yang pernah menciumnya, pria itu mencuri ciuman pertamanya tapi pria itu seolah-olah bersikap biasa dan memberi alasan jika ia tidak sengaja melakukannya. Tapi Ashimah bertekad menjadikan Dikau menjadi suaminya. Ia ingin Dikau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, walau hanya sebuah ciuman tapi menurutnya Dikau telah mencuri apa yang menurutnya sangat berharga.
Tag instagram @wgulla_ if you share this story quote
Created on 20 January 2019
Finished on
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ashimah bersyukur jika ponselnya tertinggal bersamanya di kasur pria itu. Itu artinya dia punya peluang besar untuk kabur dari tempat ini. Ia jadi punya cara untuk menghubungi Firman, sekertaris Dikau. Agar pria itu menyelamatkannya.
Mumpung Dikau entah pergi kemana. Ashimah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus pulang dan pergi dari sini sebelum ayahnya mencarinya. Ia tidak ingin ayahnya berpikir buruk dengan Dikau. Karena tidak memulangkannya.
To: Firman
Tolong aku dikunciin Mas Dikau di kamarnya fir.
From: Firman
Saya lagi di kantor mengurus beberapa berkas. Coba kamu keluar dari balkon kamar Dikau. Karena disana juga langsung terhubung sama tangga bawah.
Ashimah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung bergegas ke balkon. Apa yang dibilang Firman benar, bahwa balkon itu berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Karena langsung terhubung ke kolam renang dan tangga yang menuju bawah. Aneh sekali rumah yang dibuat Dikau apa pria itu tidak takut di maling. Mungkin saja biar lebih mudah jika memiliki dua tangga di dalam dan diluar.
Ashimah tersenyum senang kalau begini kabur bukanlah hal yang sulit. Baru saja ia ingin keluar, tangannya di cekal seseorang. Belum juga kabur tapi sudah ketahuan. Ashimah merutuki kebodohannya yang terlalu semangat.
"Mencoba untuk kabur?" Ashimah menelan ludahnya mendapati Dikau yang tidak tau sejak kapan masuk ke kamar. Ia menggeleng kecil.
"Bagus," Dikau langsung menutup pintu balkon itu lalu menguncinya. Dikau menarik tubuh Ashimah, menggotongnya lalu melempar Ashimah ke kasur dengan kasar.
"Mas, Aci mau pulang." Rengek Ashimah ketika jatuh di kasur. Ia takut jika Dikau akan melakukan hal yang lebih padanya. Berdua di dalam kamar dengan pria yang bukan mahram itu tidak baik. Ia takut Dikau lepas kendali.
"Saya sudah izin ayah kamu. Kalau kamu mau menginap disini." Mata Ashimah langsung membola mendengar itu. Bagaimana bisa ayahnya dengan mudah memberikan izin kepada Dikau? Apa yang Dikau katakan pada ayahnya? Ashimah menjadi panik.
"Tapi mas,"
"Jangan banyak bicara. Saya tahu kamu sedang berusaha untuk melarikan diri dari sayakan."
"Kalau ia kenapa?"
"Lagian kalau mas mau nikahi saya, mas punya apa? Mas pasti ngak bisa kasih nafkah aku. Aku ngak mau makan pake uang haram." Tantang Ashimah ketika Dikau semakin merapatkan tubuhnya ke Ashimah. Ia merasa terdesak merasakan jarak sedekat ini. Demi tuhan inikan ngak boleh, ini termasuk zina tidak? Ashimah menelan ludahnya menahan rasa takut. Takut jika Dikau akan berbuat lebih jauh.
"Siapa bilang semua uang saya haram? Perusahaan ayah saya hanya sebagian kecil dari harta yang saya punya saat ini. Jadi misal saya menjualnya tidak masalah kamu tidak akan hidup miskin." Ucapan Dikau telak membuat Ashimah terdiam.
Dikau menyeringai "Kalau begitu kita menikah lusa," ujar Dikau telak tanpa ingin di bantah.
"Apa?" Ashimah langsung mendorong dada Dikau kuat dengan tangannya ternyata berhasil. Ashimah langsung mundur ke sandaran ranjang. Bergerak menjauh dari Dikau.
"Kita menikah." Ucap Dikau sekali lagi. Ia berusaha untuk mendekat ke arah Ashimah.
"Tidak mau," Ashimah mencari ponsel yang tadi ia taruh di kasur tapi ia tidak menemukannya. Ia ingin menelpon siapapun untuk menyelamatkannya, sungguh ini kali pertama ia terjebak dalam situasi seperti ini.
"Bukannya dulu kamu yang mengejar-ngejar saya." Ashimah menelan ludah, bukannya ia tidak mau menikah dengan Dikau tapi ia tidak ingin menikah secepat ini. Ashimah mencari ponselnya kembali, ternyata gerakannya itu terlihat oleh Dikau.
"Mencari ini sayang," ujar Dikau menyeringai. Sedetik kemudian pria itu membanting ponselnya ke lantai.
"Tidakkkk," teriak Ashimah ketika melihat Dikau menghancurkan ponselnya. Itu satu-satunya ponselnya, tanpa sadar Ashimah menangis. Sekarang ia tidak punya ponsel lagi, padahal ayahnya membelikan untuknya susah payah, ia juga harus ikut membantu ayahnya mengangkat pasir hanya untuk bisa membeli ponsel itu.
"Kamu jahat hiks..hiksss.. aku benci kamu." Dikau seakan tak peduli dengan tangisan bahkan airmata dari Ashimah.
Dikau bergerak menghimpit Ashimah kembali. "Kamu tahu kenapa saya membanting ponsel kamu?" Ashimah menggeleng tidak mengerti ia terisak, ia takut melihat wajah Dikau saat ini. Yang tidak menunjukan wajah lembut tapi kasar dengan tatapan tajam. Ia juga masih marah karena pria itu menghancurkan barangnya, dia tahu dikau kaya bukan berarti pria itu bisa seenaknya.
"Karena kamu menghubungi Firman. Sekali lagi saya tahu kamu meminta tolong dia, maka saya tidak akan segan-segan menghancurkan Firman seperti ponsel itu." Ashimah menggeleng, ia tidak ingin itu terjadi. Ini salahnya dan Firman tidak salah apa-apa. Ia tidak ingin Firman menanggung kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat. Isaknya semakin kencang.
"Jangan lakukan itu, Firman tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya mau membantu Aci."
"Kalau begitu turuti apa kata saya. Jika kamu tidak ingin Firman celaka," ancam Dikau.
Ashimah mengangguk, ia merasa sesak napas karena Dikau begitu menghimpitnya. "Bagus, kalau begitu sekarang kita tidur."
Ashimah terdiam, ia masih mencerna apa yang Dikau katakan. Namun ia langsung tersentak ketika merasakan pelukan hangat tangan Dikau di pinggangnya dan hembusan nafas Dikau di bahunya.
"Kita tidur, dan jangan mencoba untuk kabur." Mau tidak mau Ashimah menurut. Ia tidak punya alasan untuk menolak. Walau jantungnya terus berdebar merasakan sentuhan Dikau. Ini kali pertama ada pria yang melakukan hal ini padanya. Tapi tubuhnya masih bergetar, ia masih memikirkan ponselnya yang bernasib malang disana.
"Tenanglah, saya tidak akan berbuat jauh. Kecuali jika kamu melawan saya. Maka saya tidak akan segan-segan membuat kamu hamil. Soal ponsel nanti saya berikan yang baru," ujar Dikau ketika ia melihat gerik mata Ashimah yang masih menatap ponselnya yang telah ia rusak.
Ashimah terdiam, ia bergidik ngeri mendengar ancaman Dikau. Ia tidak ingin hamil di luar nikah bagaimanapun alasannya. Pasti orangtuanya akan membencinya jika itu terjadi.
Ashimah hanya bisa pasrah, ia memejamkan matanya. Meski terasa sulit tapi ia tetap mencoba. Sayup-sayup ia mendengar suara Dikau bernyanyi. Ini kali pertama Ashimah mendengar Dikau bernyanyi. Merdu sekali suaranya. Walau Ashimah tidak tahu apa artinya, karena Dikau menyanyikan lagu daerah. Ashimah menikmati lagu itu. Hingga ia tidak sadar lagu itu membuatnya terlelap dalam dekapan Dikau.
"Biasonyo kito baduo
Diramang ramang malam ko"
"Cingkariak babunyi ditangah malam
Babisiak bisiak sayang"
"Jari manari galau pun pai
Den patiak gitar baok banyanyi
Untuang-untuang lai batamu sayang
Mandakek lah di hati"
"Den jago janji jo kato harok
Den timbang juo jo raso sayang
Nyampang kok hiduiak batamu elok
Usah lah cameh ondeh diak sayang"
"Harok-harok denai hiduiak di rantau
Samantaro adiak denai tinggakan
Lah bausaho denai pagi jo patang
Rasaki alun juo takambang"
"Lah bausaho denai mancari untuang
Padiah padiah juo malah kironyo
Pokok lah habiah galeh tauncang
Badan den sansai kama batenggang
Yo sansai... yo lenyai.. marasai"
"Kamu milikku Ashimah, hanya saya,"
jangan lupa mampir dinovel bidadari bumi.
. yg lbhmemilih kisahsehari".. pilihannya sama persis hehe
btw banyak sekali yang nanya udah end apa belum..
Mohon penjelasannya ya kak aouthor..
Emm aku suka kok karya kak author..
bahkan aku baca tanpa skip dan like dariku selalu ada buat novel ini..
semoga saja ada penjelasan dari kak author tentang novel ini..
agar tidak ada lagi yang sedikit resah karena tiba2 aja end😊.
Saya selalu menunggu balasan dari kak😊