Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sinar matahari pagi di awal Juli memancar cerah, menembus celah-celah tirai jendela apartemen eksekutif di kawasan bisnis Jakarta Pusat. Hani berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah blazer abu-abu gelap yang dipadukan dengan kemeja putih bersih, pakaian yang dipilihkan langsung oleh Sarah untuk hari yang paling bersejarah dalam hidupnya ini.
Hari ini adalah hari pembuktian. Tepat pukul sembilan pagi nanti, tirai kebohongan yang menutupi kematian dan nama baik ayahnya selama bertahun-tahun akan disingkap sepenuhnya di hadapan publik.
Tok Tok, Tok.
Pintu apartemen diketuk dengan ritme yang teratur. Saat Hani membukanya, Sarah sudah berdiri di sana dengan senyum profesionalnya yang khas, memegang sebuah map kulit hitam dan segelas kopi hangat.
"Kamu terlihat sangat siap, Hani," puji Sarah tulus, menyerahkan kopi tersebut. "Konvoi pengawalan dari tim Pak Narendra sudah menunggu di basemen. Kita harus tiba di Baskara Group tiga puluh menit sebelum acara dimulai untuk pengondisian ruang tunggu."
Hani menerima gelas kopi itu, merasakan kehangatannya menjalar ke telapak tangannya yang sedikit dingin. "Terima kasih, Sarah. Bagaimana situasi di Baskara Group sekarang? Apakah jurnalis yang datang sangat banyak?"
Sarah mengangguk pasti seraya menuntun Hani berjalan menuju lift. "Lobi utama sudah dipadati oleh puluhan media nasional, baik cetak, elektronik, maupun daring. Berita penangkapan Surya Adiguna kemarin sore telah menjadi tajuk utama di semua media bisnis dan kriminal pagi ini. Publik menuntut penjelasan, dan hari ini kita akan memberikan kebenaran yang mutlak."
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan ibu kota, Hani hanya diam menatap ke luar jendela. Di dalam tasnya, buku harian cokelat milik almarhum Gunawan tersimpan rapi. Ia merasa seolah-olah roh ayahnya sedang duduk di sampingnya, ikut menyaksikan akhir dari perjuangan panjang yang menguras air mata ini.
Sementara itu, di kamar VIP 901 Rumah Sakit Pusat Medika, Reza Baskara sedang duduk bersandar di ranjangnya dengan sebuah televisi layar datar besar yang terpasang di dinding depannya menyala menampilkan siaran langsung breaking news dari lobi Baskara Group.
Meskipun laptop militernya telah disita oleh Sarah dan tim medis, Reza tetap memegang sebuah tablet digital kecil yang terhubung ke jaringan interkom internal lobi. Selang oksigennya sudah dilepas, digantikan oleh gurat kemandiriannya yang telah kembali, meski perban di tubuhnya masih membatasi ruang geraknya.
"Kamu pasti bisa, Hani," bisik Reza pada layar televisi yang menampilkan suasana lobi kantornya yang riuh oleh jepretan kamera dan kilatan lampu pemotret.
Di layar kaca, tampak podium utama telah disiapkan dengan latar belakang logo besar Baskara Group. Beberapa kursi di belakang podium telah diduduki oleh Komisaris Utama Pak Subroto, perwakilan dari Markas Besar Kepolisian RI, serta pejabat Otoritas Jasa Keuangan.
Di tengah-tengah mereka, Narendra Baskara duduk dengan ekspresi wajah yang tenang namun tegas, memancarkan wibawa seorang pemimpin tertinggi yang siap membersihkan rumahnya sendiri dari hama korporasi.
Tepat pukul 09.00 WIB, pintu samping ruang konferensi pers terbuka. Hani melangkah masuk didampingi oleh Sarah dan Pak Gibran yang lengan kanannya masih ditopang oleh arm sling.
Begitu sosok Hani dan Pak Gibran terlihat, suara riuh rendah dari para pemburu berita langsung pecah. Kilatan lampu kamera bertubi-tubi menyorot wajah mereka, namun Hani tetap melangkah dengan dagu terangkat dan pandangan mata yang lurus, persis seperti yang ia tunjukkan di ruang rapat pleno kemarin.
Narendra Baskara berdiri dari kursinya, menyambut Hani dengan anggukan penuh rasa hormat, lalu mempersilakannya duduk di kursi utama di samping podium.
Pak Subroto membuka konferensi pers dengan suara baritonnya yang jernih, menjelaskan secara kronologis temuan manipulasi keuangan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh mantan Direktur Operasional, Surya Adiguna.
Pihak kepolisian juga mengonfirmasi bahwa status Surya kini telah resmi dinaikkan menjadi tersangka dan ditahan di rutan markas besar untuk penyidikan lebih lanjut.
"Namun, agenda terpenting dari pertemuan hari ini bukan hanya mengenai penegakan hukum terhadap Saudara Surya Adiguna," tegas Pak Subroto, mengarahkan pandangannya ke arah seluruh jurnalis. "Melainkan pemulihan nama baik secara institusional dan moral terhadap salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Baskara Group, almarhum Bapak Gunawan, mantan Kepala Auditor Internal kita."
Pak Subroto kemudian mempersilakan Hani untuk maju ke podium.
Hani berdiri dari kursinya. Saat melangkah mendekati mikrofon, suasana di lobi megah itu mendadak hening seketika. Semua kamera kini merekam wajah jernih wanita muda yang selama ini identitasnya disembunyikan dan disalahgunakan sebagai pemilik rekening cangkang miliaran rupiah.
Hani mengatur napasnya, menatap lurus ke arah lensa kamera di depannya. Di dalam benaknya, ia tahu bahwa di suatu tempat di rumah sakit, Reza sedang menatapnya melalui layar yang sama.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan rekan-rekan media sekalian," buka Hani, suaranya terdengar jernih, stabil, dan bergaung kuat di seluruh sudut lobi.
"Nama saya Hani Adisa Putri. Saya berdiri di sini bukan sebagai perwakilan dari jajaran direksi, melainkan sebagai seorang putri yang selama bertahun-tahun membawa beban berat akibat fitnah keji yang ditimpakan pada almarhum ayah saya, Gunawan."
Hani mengeluarkan buku harian cokelat milik ayahnya dan meletakkannya di atas podium agar bisa dilihat oleh semua orang.
"Ayah saya wafat dengan meninggalkan reputasi yang dihancurkan secara sistematis oleh sistem yang korup di bawah kendali Surya Adiguna. Ayah saya dituduh merekayasa laporan keuangan, padahal beliaulah yang menolak keras menandatangi proyek fiktif yang digunakan untuk mencuci uang korporasi. Selama delapan tahun, bukti-bukti otentik ini harus disembunyikan di tempat terpencil demi melindungi nyawa saya dari ancaman orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Hani menjeda kalimatnya sejenak, menahan emosi haru yang mulai naik ke tenggorokannya, namun matanya tetap memancarkan ketegasan yang luar biasa.
"Hari ini, berkat keberanian kepemimpinan Pak Narendra Baskara, kesetiaan Pak Gibran, dan..." Hani tersenyum tipis, mengingat nama sosok yang paling krusial dalam hatinya, "...dan pengorbanan tanpa pamrih dari Pak Reza Baskara, seluruh bukti digital dan fisik telah diserahkan kepada pihak berwajib. Kebenaran tidak lagi bersembunyi. Ayah saya bukanlah seorang pengkhianat. Beliau adalah seorang profesional sejati yang menjaga integritasnya hingga napas terakhir."
Tepuk tangan yang riuh dan bergemuruh langsung pecah dari bagian belakang lobi, dipimpin oleh para karyawan senior Baskara Group yang dulu pernah bekerja di bawah arahan almarhum Gunawan. Beberapa jurnalis tampak mengangguk takzim, tersentuh oleh ketegaran dan keberanian wanita muda di atas podium tersebut.
Narendra Baskara kemudian maju, berdiri di samping Hani, dan memberikan sebuah dokumen resmi korporasi yang telah ditandatangani oleh seluruh dewan komisaris, sebuah surat keputusan pemulihan nama baik dan penyerahan seluruh hak kompensasi serta aset keluarga Gunawan yang sempat disita secara sepihak di masa lalu.
"Keadilan mungkin datang terlambat, Hani," bisik Narendra di sampingnya dengan nada suara yang sarat akan penyesalan masa lalu sekaligus kelegaan. "Namun, hari ini, ia tiba dengan cara yang paling terhormat."
Dari balik lensa kamera, Hani menatap langit-langit lobi Baskara Group yang tinggi menjulang. Di dalam hatinya, ia berbisik lirik, "Ayah, tugas saya sudah selesai. Nama Ayah sudah bersih. Kita sudah menang."
Fajar keadilan kini telah menyingsing sepenuhnya di atas langit Baskara Group, menyapu bersih sisa-sisa kegelapan dari intrik catur masa lalu yang melelahkan. Perjalanan panjang sang pion menuju tepi papan catur telah usai, dan kini saatnya menyongsong masa depan yang baru.