"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
harapan
Bagian I: Detik Pertama dari Tiga Puluh Hari
Wush!
Samuel tersentak di atas kasur rumah sakit. Bau karbol dan antiseptik yang pekat langsung menyerbu indra penciumannya. Penglihatan yang semula buram perlahan mengumpul pada satu titik: jam dinding di ruang perawatan.
8 Juni 2025. Pukul 07.00 WIB.
Samuel menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan oksigen mengisi paru-parunya dengan cara yang berbeda. Dadanya tidak lagi sesak oleh beban takdir. Jiwanya tidak lagi didera oleh jam digital transparan yang berhitung mundur di pelupuk mata. Kontrak gaib itu telah diputus. Kekuatan kutukan waktu itu kini telah berpindah tangan kepada ibunya di dimensi lain.
Sebagai gantinya, ia memiliki tiga puluh hari. Tiga puluh hari yang bersih, tiga puluh hari yang mutlak, di mana setiap keputusannya tidak akan memicu efek kupu-kupu yang mematikan, dan setiap kematian tidak akan ditukar dengan nyawa orang berharga lainnya. Ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhirnya bergerak sebagai manusia utuh.
"Satu bulan," bisik Samuel pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal kuat, merasakan tulang-tulang jemarinya bergemeletuk. "Cukup untuk menyeretmu ke neraka, Mas Dimas."
Rasa lelah yang sempat menghancurkan mentalnya selama dua puluh satu kali pengulangan kini menguap, digantikan oleh kalkulasi dingin seorang penyelidik utama. Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan. Di lini masa sebelumnya, ia kalah karena bergerak terlalu cepat dan membocorkan informasi kepada Ahmad, yang memicu kepanikan massal di faksi internal. Kali ini, Samuel tidak akan menyentuh Ahmad. Ia tidak akan mendekati Rizki. Ia akan memotong langsung kepala ular dari konspirasi ini.
Pukul 09.00 WIB, Samuel memaksa tim medis untuk menandatangani surat izin keluar. Dengan setelan kemeja yang sedikit kusut namun langkah kaki yang kokoh, ia berjalan melewati lorong-lorong Biro Penyelidikan Jidat (BPI). Setiap staf yang berpapasan dengannya memberikan hormat, namun Samuel hanya membalasnya dengan anggukan datar. Fokusnya terkunci pada satu ruangan: ruang kerja Riza.
Sebagai atasan langsung dari tim penyelidik, Samuel melangkah menuju meja administrasi utama di lantai tiga. Di sana, seorang staf logistik tampak sibuk merapikan berkas.
"Pak Samuel? Anda sudah keluar dari rumah sakit?" Staf itu terkejut.
"Beri aku kunci cadangan ruangan kerja Riza," ucap Samuel tanpa basa-basi. Suaranya rendah, tidak menerima penolakan.
"Ah... tapi Pak, sesuai regulasi, ruangan penyelidik yang sedang cuti atau dinas luar tidak boleh—"
"Ini perintah operasional tingkat satu," potong Samuel, menatap mata staf tersebut dengan tatapan yang begitu mengancam hingga sang staf menelan ludah. "Beri aku kuncinya sekarang, atau kau yang akan aku periksa atas tuduhan menghambat penyidikan."
Tanpa suara, staf tersebut mengambil sebuah kunci bermata kuningan dari dalam laci besi dan menyerahkannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Samuel menyambarnya, lalu berbalik menuju koridor sayap barat.
Klek.
Pintu ruangan Riza terbuka. Ruangan itu tampak rapi, berbau kertas tua dan teh melati yang sudah dingin. Samuel segera melangkah menuju meja kerja Riza. Di lini masa sebelumnya, Dimas mengatakan bahwa dokumen tersebut disembunyikan di dalam jaringan sistem ID Food melalui Riza. Namun, Samuel tahu Riza adalah tipe orang yang selalu menyimpan salinan fisik berharga di tempat yang paling dekat dengannya.
Samuel mulai memeriksa laci-laci, meraba bagian bawah meja, hingga jemarinya membentur sebuah kompartemen rahasia di balik loker buku. Di sana, sebuah map kulit berwarna cokelat pekat dengan cap stempel merah bertuliskan "PROJECT PHOENIX: RESTRICTED" tergeletak membisu.
Samuel membawa map tersebut ke bawah pendar lampu meja. Ia membuka lembar demi lembar, membaca baris-baris kalimat yang diketik dengan format rahasia negara. Pada awalnya, dokumen itu hanya menjelaskan tentang isolasi zat aktif dari tanaman purba endemik yang mampu meregenerasi sel mati secara instan—dasar dari keabadian dan kesembuhan segala penyakit yang sempat diceritakan Dimas di dalam penjara besi.
Namun, ketika Samuel membalik halaman ke pertengahan dokumen, matanya mendadak membelalak. Tubuhnya membeku. Ada beberapa paragraf yang dicetak tebal dengan analisis medis tingkat lanjut.
"...Zat Phoenix yang berhasil disintesis tidak hanya menargetkan sel organ dalam, melainkan merestrukturisasi sistem saraf pusat dan organ sensorik subjek. Pada dosis optimal, subjek akan mengalami peningkatan mutasi genetika pada jaringan retina (tapetum lucidum buatan), memungkinkan efisiensi penyerapan foton hingga 98%. Efek samping langsung: subjek mampu mengidentifikasi ruang, pergerakan, dan objek dalam kondisi kegelapan total tanpa bantuan alat optik..."
Samuel mencengkeram pinggiran meja hingga kukunya memutih. "Ini dia..." bisiknya dengan gigi bergeletuk.
Teka-teki terbesar dari lini masa Gluttony akhirnya terjawab. Alasan mengapa Juan—si amatiran berumur 23 tahun itu—bisa mendeteksi pergerakannya di dalam kamar apartemen yang gelap gulita, menghancurkan kacamata night vision-nya, dan melumpuhkannya dengan akurat, bukan karena Juan seorang ahli bela diri taktis. Bajingan itu adalah kelinci percobaan. Dia adalah salah satu subjek yang telah menelan formula Operasi Phoenix. Pemerintah, atau lebih tepatnya faksi rahasia di dalam BPI, telah mulai memproduksi manusia dengan kekuatan super untuk dijadikan mesin pembunuh.
Samuel membalik lembar terakhir dokumen tersebut dengan cepat, mencari halaman krusial yang ia butuhkan: struktur organisasi dan aliran dana. Begitu matanya menemukan kolom otorisasi finansial, Samuel menarik napas tajam.
Di sana, tertera sebuah tanda tangan digital berkode enkripsi khusus, lengkap dengan nama asli pemilik rekening korporat tersembunyi yang menjadi donatur tunggal operasional Phoenix.
Pemimpin Otoritas Eksekutif: Dimas Satria.
Bukti itu nyata. Tidak bisa dibantah, tidak bisa dielakkan lagi. Guru yang membentuknya menjadi seorang penyelidik, pria yang mengajarinya cara menembak, memegang pisau, dan membaca gerak-gerik kriminal, adalah arsitek utama di balik hilangnya nyawa teman-temannya.
Samuel menutup map kulit itu dengan sentakan keras. Ia menyelipkannya di balik jaketnya. "Permainan selesai, Mas Dimas."
Bagian II: Aliansi yang Tak Terlihat
Pukul 21.00 WIB. Hujan gerimis mulai membasahi aspal jalanan ibu kota ketika mobil Samuel berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis di kawasan Jakarta Selatan. Itu adalah kediaman pribadi Dina, Wakil Ketua BPI sekaligus orang nomor dua di dalam institusi tersebut.
Samuel melangkah mantap, menekan bel rumah dua kali. Tidak butuh waktu lama hingga pintu kayu besar itu terbuka, menampilkan sosok Dina yang mengenakan pakaian santai rumahannya. Wanita itu tampak terkejut melihat siapa yang bertamu di jam seperti ini.
"Samuel? Ada apa? Bukankah kau seharusnya beristirahat setelah keluar dari rumah sakit?" tanya Dina, mengerutkan dahi.
"Kita harus bicara. Di dalam. Ini masalah hidup dan mati institusi," jawab Samuel dengan nada suara yang begitu dingin hingga membuat Dina terdiam sejenak sebelum akhirnya membukakan pintu lebih lebar.
"Masuklah."
Mereka duduk di ruang tamu yang temaram. Tanpa basa-basi, tanpa basa-basi protokol kedinasan, Samuel langsung melempar map kulit cokelat itu ke atas meja kaca di depan Dina. Brak.
"Dimas adalah pelakunya," ujar Samuel to the point.
Dina tersentak, wajahnya mengeras. "Samuel, jaga bicaramu! Kau tahu siapa yang sedang kau tuduh? Pak Dimas adalah Kepala BPI, seniormu, dan orang yang mengusulkan kenaikan pangkatmu menjadi Penyelidik Utama!"
"Baca dokumen itu, Dina. Jangan gunakan perasaanmu, gunakan matamu sebagai seorang penegak hukum," balas Samuel, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan.
Dengan tangan yang tampak ragu, Dina membuka map tersebut. Samuel membiarkan keheningan malam bekerja saat Dina membaca lembar demi lembar halaman Operasi Phoenix. Samuel memperhatikan perubahan raut wajah wanita itu—dari skeptis, menjadi bingung, hingga akhirnya pucat pasi ketika mencapai halaman otorisasi finansial yang mencantumkan nama Dimas Satria sebagai donatur utama sekaligus otak di balik manipulasi aset ID Food.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Dina, suaranya bergetar. "Pak Dimas mendanai proyek eksperimen ilegal menggunakan anggaran taktis dan jaringan logistik pertanian? Untuk apa?"
"Kematian Pejabat C, insiden kecelakaan di kafe yang melibatkan warga sipil, semuanya adalah skenario pembersihan yang dirancang olehnya untuk membungkam para saksi kunci yang mengetahui keberadaan tanaman Phoenix," Samuel menjelaskan dengan runtut, menggunakan seluruh ingatan dari dua puluh satu kali looping-nya sebagai basis argumen yang logis. "Riza, Yogi, Wisnu, dan Ahmad... mereka semua ditargetkan untuk mati karena mereka berada di dalam lingkaran sirkulasi data tersebut. Dimas ingin menciptakan faksi pembunuh abadi di bawah kendali pribadinya demi meraih puncak kekuasaan di pemerintahan."
Dina menutup dokumen itu dengan perlahan. Ia menatap Samuel dengan pandangan yang campur aduk antara tidak percaya dan ngeri. "Bagaimana kau bisa mendapatkan semua data seakurat ini dalam waktu sesingkat ini, Sam?"
"Itu tidak penting," jawab Samuel tajam. "Yang penting adalah, bukti ini valid. Jika kita bergerak melalui jalur birokrasi biasa, Dimas akan mengendus pergerakan kita dalam hitungan detik dan menggunakan unit bayangannya—seperti Juan—untuk melenyapkan kita berdua sebelum fajar."
Dina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kecamuk di dalam kepalanya. Sebagai Wakil Ketua BPI, ia tahu betul jika dokumen ini bocor ke publik tanpa penanganan yang tepat, negara ini akan mengalami krisis kepercayaan tingkat tinggi.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Dina akhirnya, menandakan bahwa ia telah berdiri di sisi Samuel.
Samuel memajukan tubuhnya, menatap Dina dengan mata yang berkilat tajam. "Kita buat skenario penangkapan. Kita tidak bisa menangkapnya di dalam kantor BPI karena di sana terlalu banyak mata dan telinganya. Kita harus menjebaknya di luar, di tempat di mana dia merasa paling aman dan memegang kendali penuh."
Mereka menghabiskan waktu hingga pukul tiga pagi, menyusun taktik penyergapan, memetakan personel militer luar yang bersih dari pengaruh BPI, serta mengunci seluruh akses pelarian Dimas. Tanggal eksekusi ditetapkan: 13 Juni 2025.
Bagian III: Perangkap untuk Sang Pemangsa
13 Juni 2025. Pukul 14.00 WIB.
Sebuah vila tua yang terisolasi di kawasan Puncak, Bogor, menjadi titik akhir yang dipilih. Skenario yang dibuat oleh Dina adalah mengadakan rapat koordinasi internal darurat tingkat tinggi yang hanya dihadiri oleh Kepala, Wakil Kepala, dan Penyelidik Utama guna membahas "kebocoran data krusial" terkait kasus Pejabat C.
Dimas tiba dengan pengawalan minimal, merasa di atas angin karena mengira rapat ini berada di bawah yurisdiksinya. Pria paruh baya itu melangkah masuk ke dalam aula vila dengan blazer hitamnya yang khas, wajahnya menampilkan senyum kebapakan yang selama puluhan lini masa telah menipu Samuel.
Di dalam ruangan, Samuel dan Dina sudah duduk menunggu di sebuah meja bundar.
"Pagi, Dina. Pagi, Sam," sapa Dimas ramah, mengambil kursi di hadapan mereka. "Jadi, data krusial apa yang membuat kita harus berkumpul di tempat terpencil seperti ini?"
Samuel tidak menjawab. Ia hanya menatap Dimas dengan pandangan yang kosong namun menusuk. Keheningan yang tak biasa itu membuat senyum di wajah Dimas perlahan memudar.
Dina mendorong sebuah komputer jinjing ke tengah meja, menampilkan siaran langsung dari markas pusat BPI dan beberapa kediaman pejabat tinggi kementerian pertanian.
"Rapat ini bukan untuk membahas kebocoran data, Pak Dimas," ucap Dina dengan nada resmi kedinasan yang dingin. "Rapat ini adalah penyerahan diri Anda."
Dimas mengernyitkan alis, lalu terkekeh pelan. "Dina, lelucon apa ini?"
"Saat ini, Detasemen Polisi Militer bersama unit kejaksaan agung yang didampingi personel bersih kita sedang menggeledah ruang kerja Anda, menyita seluruh peladen komputer terkait Operasi Phoenix, dan melakukan penahanan massal terhadap tujuh pejabat tinggi kementerian yang berada di dalam daftar donatur Anda," lanjut Dina tanpa ragu.
Mendengar kata "Operasi Phoenix", sorot mata Dimas mendadak berubah. Keramahan yang selama ini melekat di wajahnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi dingin, kejam, dan berdarah dingin—wajah asli sang monster bertopeng kucing yang dilihat Samuel di televisi sel penjara.
Dimas mengalihkan pandangannya dari Dina, menatap langsung ke arah Samuel. "Kau... ternyata kau bajingan kecil yang mencuri map itu dari ruangan Riza, Sam?"
"Aku bukan lagi anak kecil yang bisa kau tipu dengan lencana prestasi dari Makassar, Mas Dimas," jawab Samuel, suaranya terdengar sangat tenang namun bergetar oleh tekanan emosi yang ia tahan selama bertahun-tahun. "Permainanmu selesai. Seluruh asetmu dibekukan, unit bayanganmu di Bekasi sudah dikepung, dan kau tidak punya tempat lagi untuk lari."
Dimas terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tawa khasnya yang menggelegar pecah di dalam aula kosong itu.
"MUHAHAHA! Hahaha! Luar biasa... benar-benar luar biasa, Samuel! Aku tidak menyangka murid terbaikku bisa melangkah sejauh ini," Dimas berdiri dari kursinya, menepuk tangan dengan nada sinis. "Tapi apa kau pikir menangkapku akan menyelesaikan segalanya? Dunia ini butuh Phoenix baru! Negeri ini butuh fondasi yang abadi agar tidak runtuh oleh kebodohan moral manusia biasa! Aku melakukan ini demi kebaikan yang lebih besar!"
"Kau melakukan ini demi egomu sendiri, Dimas!" bentak Samuel, ikut berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Kau membunuh Ahmad! Kau memanipulasi Wisnu! Kau membantai Riza dan Yogi! Kau menghancurkan hidup orang-orang yang mempercayaimu hanya untuk sebuah ramuan keabadian sialan!"
"Mereka hanyalah martir, Samuel! Pertukaran yang setara untuk sebuah era baru!" Dimas berteriak, wajahnya memerah penuh amarah. Tangannya bergerak cepat menuju balik blazernya, mencoba menarik sebilah pistol pendek yang ia sembunyikan.
Brak!
Sebelum jemari Dimas sempat menyentuh gagang senjata, pintu-pintu aula vila dihantam terbuka dari luar. Selusin personel bersenjata lengkap dengan seragam taktis hitam dan senapan serbu merangsek masuk, mengunci moncong laras mereka tepat ke tubuh Dimas.
"JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN DI ATAS KEPALA!" teriak komandan regu penyergap.
Dimas membeku. Matanya bergerak liar melihat sekeliling, menyadari bahwa setiap sudut ruangan telah dikuasai oleh pasukan khusus yang tidak bisa ia kendalikan. Perlahan, dengan helaan napas kekalahan yang berat, Dimas mengangkat kedua tangannya ke udara.
Seorang petugas maju, merampas senjatanya, dan memasangkan borgol besi ke pergelangan tangan sang Kepala BPI.
Saat tubuhnya diseret melewati Samuel, Dimas menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Samuel dengan senyuman miring yang mengerikan, lalu berbisik dengan suara rendah yang mengintimidasi, "Kau mungkin menang hari ini, Samuel... tapi kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari takdirmu. Kau... terlalu rakus."
Samuel hanya berdiri diam, membiarkan tubuh pria itu dibawa keluar menuju mobil tahanan yang sudah menunggu di luar vila di bawah kawalan ketat.
Bagian IV: Fajar yang Sebenarnya
14 Juni 2025. Pukul 19.30 WIB.
Matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat Jakarta. Hujan deras yang biasanya mengguyur kota pada jam-jam ini di lini masa sebelumnya, entah mengapa tidak kunjung turun. Langit malam itu bersih, memperlihatkan gugusan bintang yang samar di balik polusi ibu kota.
Samuel berdiri sendirian di balkon apartemen pribadinya, memegang sebotol bir dingin yang belum dibuka. Di dalam ruang tengah, sayup-sayup terdengar suara televisi yang menyiarkan berita utama malam itu: penangkapan massal konspirasi korporasi kedinasan BPI dan kementerian terkait atas dakwaan penyalahgunaan wewenang, eksperimen ilegal, dan pembunuhan berencana. Nama Dimas Satria terpampang jelas sebagai tersangka utama.
Klek.
Pintu kamar tamu terbuka. Riza melangkah keluar dengan pakaian santai, menatap punggung Samuel yang berdiri mematung di balkon.
"Pak Samuel?" panggil Riza pelan.
Samuel menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis—senyuman yang kali ini benar-benar tulus, bukan lagi topeng hambar dari seorang pria yang putus asa. "Ya, Nyonya Riza?"
"Beritanya... semuanya sudah selesai, kan? Kita... kita aman sekarang?" tanya Riza, ada nada lega yang amat sangat di dalam suaranya. Di lini masa ini, Riza tidak pernah harus melarikan diri, tidak pernah harus melihat kepalanya sendiri pecah, dan tidak pernah harus menjadi buronan. Dia selamat.
Samuel membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap wanita itu dengan pandangan yang tenang. "Ya. Semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi yang mengejarmu. Tidak akan ada lagi yang terluka."
"Terima kasih, Sam. Terima kasih untuk semuanya," ucap Riza tulus, sebelum akhirnya pamit untuk kembali ke kamarnya demi beristirahat.
Setelah Riza menutup pintu, Samuel kembali mengalihkan pandangannya ke arah jam tangan digitalnya.
Pukul 19.31 WIB.
Waktu krusial itu telah lewat. Tidak ada tabrakan beruntun di depan kafe. Tidak ada tangisan histeris dari istri Ahmad. Tidak ada jasad Rizki yang termutilasi di dalam kamar apartemen yang bersimbah darah. Semuanya hidup. Ahmad sedang berada di rumahnya berkumpul bersama keluarganya, Wisnu sedang menemani adiknya yang aman dan sehat, Yogi dan Agus sedang menikmati malam libur mereka.
Samuel menurunkan kedua tangannya ke samping tubuh. Ia menatap telapak tangan kanannya yang kini bersih, tidak ada lagi distorsi ruang, tidak ada lagi tanda-tanda kemunculan mini black hole. Kekuatannya telah benar-benar lenyap, ditukar dengan satu bulan kedamaian mutlak yang berhasil ia gunakan untuk menulis ulang takdir dunia nyata dengan tangannya sendiri.
Rasa sakit, trauma dari dua puluh satu kali kematian, kepedihan saat terkurung di ruang gelap, dan hancurnya mental yang ia lalui di rute-rute dosa sebelumnya, kini terasa seperti sebuah investasi berharga yang terbayar lunas. Ia telah memutus mata rantai penderitaannya.
Samuel membuka tutup botol birnya, meneguknya sedikit, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat akan kebebasan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang terkutuk, Samuel bisa tersenyum lepas di bawah langit malam Jakarta tanpa perlu takut pada apa yang akan terjadi esok hari.
Ia telah berhasil menjadi apa yang ibunya inginkan. Ia telah menjadi perwujudan dari namanya sendiri: Harapan.
beberapa hari kemudian Samuel dan Riza bertemu dia sebuah taman dan melakukan kencan pertama di lini masa yang damai