NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Sebuah Keputusan

Rapat usai.

Genta dan Aira berjalan beriringan, tapi Genta memperhatikan Aira yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Tertarik dengan tawaran direktur?" tanya Genta memecah keheningan saat mereka masuk ke lift.

Aira mendongak. Ia tersenyum tipis.

"Masih galau, Dok," jawabnya singkat.

Genta mengerutkan dahi. "Bukannya salah satu daerah itu tempat suamimu bertugas ya?" tanya Genta dengan alis kanan yang dinaikkan.

Aira mengembuskan napas panjang. "Itu dia masalahnya. Saya, kan, sudah membulatkan tekad akhir tahun ini akan daftar spesialis. Kalau saya ikut pengabdian itu, artinya saya harus melewatkan rencana saya lagi," gumam Aira yang masih dapat didengar oleh Genta.

Lift berbunyi. Pintu terbuka dan Genta menatap Aira seraya menepuk pundaknya.

"Pikirkanlah dulu. Sekarang lebih baik kamu pulang, Aira. Istirahat dulu. Kalau badan sudah fresh, pasti bisa berpikir jernih."

Aira tersenyum seraya menatap Genta yang berjalan menjauh. Aira kembali ke ruang loker, ia membereskan barang-barangnya dan terkejut saat Sinta tiba-tiba sudah berdiri di balik pintu lokernya.

"Argh! Sin! Ngagetin aja!" teriak Aira kesal.

Sinta tertawa keras.

"Sorry, deh. Gue nggak maksud ngagetin, tapi lo aja yang jalan sambil ngelamun jadi nggak sadar kalau gue di sini. Ngelamunin apa sih?" tanya Sinta yang ikut duduk di samping Aira.

Aira membuang napas kasar. "Gue lagi galau."

Sinta mengerutkan dahi. "Eh, galau kenapa? Merindu sama mas danton ya?"

"Ih! Apaan sih! Enggaklah kalau itu."

"Udah dapat telepon dari Mas Bas?"

Aira menggeleng.

Sinta tersenyum, lalu menjentikkan jarinya.

"Itu dia! Lo kangen!"

Aira tertawa pelan. "Ini bukan soal kangen, Sin. Gue cuma lagi bingung aja."

Senyum Sinta memudar. Wajahnya pun dengan cepat berubah serius.

"Soal apa?" tanya Sinta mulai penasaran.

"Barusan gue ikut rapat direktur sama Dokter Genta. Ada tawaran pengabdian dari Kementerian Kesehatan. Jadi relawan untuk program pemerataan kesehatan, ada satu daerah yang sama dengan tempat Mas Baskara tugas."

"Nah, itu dia. Udah ada jalan lho buat nyusul."

Aira menggeleng. "Nggak segampang itu. Masalahnya, akhir tahun ini kampus buka program PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) gue udah membulatkan tekad mau daftar. Kalau gue ikut pengabdian, gue melewatkan kesempatan daftar spesialis."

Sinta terdiam. Ia menatap Aira, lalu menarik tangan Aira dan menggenggamnya.

"Lo harus berpikir jernih. Semua keputusan lo ada tujuannya. Kalau lo daftar PPDS, artinya lo bisa fokus sama masa depan dan impian lo jadi dokter spesialis, tapi misal lo lewat tahun ini, lo masih punya kesempatan tahun-tahun depannya.

"Kalau lo terima tawaran pengabdian, menurut gue nggak ada salahnya juga. Orang-orang di luar sana nggak semua beruntung bisa berobat sama dokter. Ada yang akses ke rumah sakit sulit. Ada yang nggak punya biaya. Kalau ke tempat pengabdian, mungkin lo akan bisa merasakan betapa berharganya lo sebagai seorang dokter. Berasa jadi malaikat mungkin lo. Dan tawaran ini nggak datang dua kali, Ra," ucap Sinta seraya tertawa pelan.

Aira menatap sahabatnya itu dengan dahi berkerut.

"Sejak kapan lo jadi bijaksana begini? Gue yang jarang ketemu sama lo atau emang ada sedikit perubahan dari lo?" tanya Aira penuh selidik.

"Gara-gara, Mas Panca."

Sinta menutup wajah. Tiba-tiba saja wajahnya memerah. Aira kembali menyelidiki, ada sebuah cincin emas melingkar di jari manis Sinta.

"Eh, cincin apaan, ni? Bukannya lo nggak suka pakai perhiasan?"

Sinta menggigit bibir. Ragu, tapi ia tidak bisa menahan senyumnya.

"Sin, ada yang nggak lo ceritain sama gue?"

Sinta kembali tersenyum lebar. Ia menahan napas sejenak sebelum berkata, "Mas Panca lamar gue!" ucapnya girang.

Mata Aira membulat, ia menatap Sinta tidak percaya.

"Ah! Astaga! Selamat! Kok ngga cerita-cerita, sih?" ucap Aira tidak terima.

"Baru juga semalam. Gue juga kaget. Dia ngajak diner, terus ngelamar. Sumpah gercep banget orang-orang berseragam itu!"

"Aww... i'am happy for you, Babe! Gue nggak nyangka kalau Letnan Panca sama lo ... serius."

Sinta menggeleng. "Awalnya nggak mikir ke arah sini juga gue. Cuma dia ngedeketin terus. Ya, lo tahu masa lalu gue, males banget kalau gue udah berharap, endingnya ditinggal nikah gara-gara cowok berengsek lo menghamili cewek lain! Erg! Ogah banget gue."

"Terus, gimana akhirnya bisa dilamar?"

"Ya, gue bilang aja sama Mas Panca, kalau gue nggak mau main-main, kalau emang serius ya langsung nikah aja. Eh, besoknya ngajak dinner terus dilamar. Dia bilang juga suruh gue siapin berkas-berkas buat pengajuan nikah. Gue,kan, syok!"

Aira tersenyum. "Tapi happy, kan?"

Sinta tak bisa menghilangkan senyum lebar di bibirnya. Ia pun mengangguk. Ia menggenggam tangan Aira dan menatap Aira penuh arti.

"Makasih buat lo, Ra karena selama ini lo selalu ada buat gue disaar gue hampir gila karena patah hati sampai detik kemarin gue masih diteror sama mantan brengsek gue itu. Lo selalu ada, support gue. Makasih juga suami lo udah kenalin gue ke Mas Panca. Gue memutuskan untuk daftar jadi ibu Persit, so, mohon bimbingannya."

Aira tertawa pelan. Ia menepuk pundak Sinta, lalu memeluk sahabatnya itu.

"Jangan kaget kalau persiapan nikah sama mas-mas berseragam itu prosesnya panjang. Waktu wawancara lo bakal ditanya kesiapan lo jadi pendamping mereka. Ya, gue merasakan pertanyaan itu sekarang waktu beneran kejadian harus LDR sama suami."

Sinta tersenyum. "Sekarang gue tahu kenapa lo galau."

Aira kembali mencubit perut Sinta sebelum ia beranjak dari tempatnya. Aira menenteng barang-barangnya dan pulang.

Hari ini, Aira memilih pulang ke rumah dinas Baskara sebelum beberapa hari lalu menginap di rumah Rahma. Aira membuka pintu, ia menghirup aroma khas rumah Baskara yang kini sudah membuatnya betah. Aira membuka tirai jendela dan meletakkan barang-barangnya di kamar. Ia menatap sekeliling rumah itu, semua masih rapi, sama seperti sebelum Baskara bertugas.

Aira melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Lelah, tapi matanya tidak juga merasakan kantuk. Aira mengusap gelang di tangannya, lalu kembali bangun untuk mengambil laptop.

Aira mengetuk-ngetukkan jari di atas meja menunggu laptop menyala. Ia menatap layar Universitas Pelita Nusantara, tempat pendaftaran PPDS dibuka. Beberapa menit Aira terdiam. Ia fokus menatap laman itu, tapi tak lama ia membuka laman pencarian baru.

Kabupaten Wamera.

Aira menatap layar laptopnya. Ia melihat gambar dan beberapa informasi mengenai Kabupaten Wamera.

Kabupaten Wamera merupakan kabupaten yang terletak pada ketinggian 1100 mdpl. Wamera merupakan kabupaten paling timur dari Provinsi Kalewa yang sebagian besar lokasinya adalah dataran tinggi.

Wamera terdiri dari lima distrik. Distrik terbesar dan sekaligus menjadi pusat wilayah administrasi Kabupaten Wamera adalah Kota Arawa.

Aira mengulir kembali foto-foto dan informasi lainnya. Ia mengerutkan dahi saat melihat sebuah artikel yang diunggah oleh seorang dokter relawan di laman web pribadinya berjudul : Tangisan Di Ujung Negeri.

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar tentang Kabupaten Wamera? Letak yang jauh? Fasilitas yang terbatas? Masyarakat yang hidup berkekurangan? Ya ... bayangan Anda tidaklah salah. Lalu, jika Anda bertanya pada saya, kenapa saya selalu kembali ke Wamera, saya akan dengan lantang menjawab, hati saya sudah tertinggal di sini.

Kehidupan yang menurut kita jauh dari sempurna ini menyimpan banyak kepahitan. Masyarakat di Wamera tidak pernah menuntut apapun meski : fasilitas kesehatan tidak memadai, dokter dan perawat dapat di hitung dengan jari, jalanan yang becek, dan masih banyak lagi.

Satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Rumah Sakit Daerah Arawa. Malam itu hujan turun sangat deras, kabut tebal menyelimuti, untuk pertama kalinya pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang tentara membawa ibu yang menggendong bayinya, menerjang hujan dan kabut selama delapan jam lamanya. Mobil tentara masih terparkir di halaman ruang IGD. Namun, saat gendongan itu dibuka, bayinya sudah tidak bernyawa.

Mereka memang berada di tempat yang jauh, akses, fasilitas, sarana, dan prasarananya memang jauh dari kata layak dan nyaman, tapi ... mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan harapan. Harapan pelayanan kesehatan berupa kehadiran seorang dokter.

Penulis, dr. Adrian Martadinata.

Aira terdiam sejenak usai membaca semua artikel mengenai Kabupaten Wamera. Ia membuang napas panjang.

Ia kembali mengulir, menatap beberspa foto yang ada di laman web pribadi milik Adrian. Tanpa terasa, senyum Aira mengembang. Ia mencoba mencari Adrian di laman media sosial. Beberapa foto saat berada di Wamera pun segera terpampang. Fotonya bersama anak-anak, ibu hamil, dan foto saat ia menolong persalinan di atas truk militer.

Harapan kecil menyelamatkan senyuman.

Satu kalimat Adrian yang membuat hati Aira tergerak. Bukan karena kasihan, tapi karena Aira memiliki prinsip yang sama dengan Adrian.

Sepertinya, aku sudah memutuskan, batin Aira.

***

Genta mendongak saat Aira menghadap pagi-pagi sekali. Ia menatap Aira dengan saksama.

"Kamu ... yakin, Dokter Aira?"

Aira mengangguk. "Setelah mencari tahu dan membaca artikel Dokter Adrian. Saya memutuskan untuk ikut pengabdian ini, Dok."

Genta mengerutkan dahi. "Tunggu dulu. Kamu bilang tadi, Dokter Adrian? Dokter Adrian Martadinata?"

Aira terdiam seraya mengangguk samar.

"Oh! Tuhan. Dia teman seangkatan saya. Saya dengar memang dia menjadi dokter relawan. Meninggalkan kehidupan hingar bingar kota untuk mengabdi. Saya nggak mengira dia ada di Wamera?"

Aira mengangguk.

Genta menatap Aira penuh arti. Ia tahu, ada satu hal dalam hati Aira yang sedikit mirip dengan Adrian, mereka sama-sama tidak keberatan untuk menanggung biaya rumah sakit demi pasien agar bisa mendapat perawatan.

Mengingat hal itu, Genta pun tertawa pelan.

"Sepertinya, kalian akan cocok jadi partner kerja. Kalian sedikit mirip. Ya, walau tidak dari emosinya."

Aira mengerutkan dahi. "Maksudnya, Dok?"

"Dokter Adrian hampir mirip dengan kamu. Dia merelakan gajinya untuk memberikan fasilitas pengobatan pada pasien yang butuh perawatan ekstra. Saya jadi ingat waktu pertama kali kamu tugas di IGD, ada tukang sayur terkena serangan jantung, tidak mau dirawat karena tidak ada asuransi dan biaya, lalu kamu mengajukan diri sebagai penjamin agar orang itu punya kesempatan mendapat perawatan.

"Saya rasa, semangatmu itu cukup untuk membawamu menjadi seorang dokter relawan, Aira. Yang perlu kamu ingat karena di sana adalah daerah terpencil, selain akses dan sarana yang terbatas, perlu kamu sadari fasilitasnya juga tidak sebaik yang ada di sini."

Aira mengangguk mantap. Membuat senyum Genta mengembang sempurna.

"Jadi, ke Wamera bukan karena suami?"

Aira mengernyitkan dahi, lalu tertawa kecil.

"Eh! Itu, sih cuma sepuluh persen, Dok. Suami saya saja nggak tahu kalau saya memutuskan mau berangkat kesana. Belum ada panggilan masuk dari dia juga. Biar jadi kejutan."

________________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!