NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghinaan Yang Menjadi Kebiasaan

BAB 2 — Penghinaan Yang Menjadi Kebiasaan

Pagi itu aku terbangun lebih dulu seperti biasa. Sinar matahari masuk lewat celah tirai, membuat ruangan tampak terang benderang. Saat menoleh ke sisi tempat tidur, tempat di mana Arga seharusnya berbaring, aku hanya mendapati tempat itu kosong. Ia sudah pergi lagi. Hal seperti ini sudah terlalu sering terjadi hingga aku tidak lagi merasa terkejut atau bertanya-tanya. Dulu aku masih sempat memikirkan ke mana ia pergi sebelum matahari terbit, namun kini aku bahkan tidak lagi memiliki tenaga untuk mencari tahu alasannya. Aku bangkit perlahan dan berjalan menuju kamar mandi, lalu berhenti sejenak di depan cermin besar yang memantulkan bayangan diriku. Wajahku masih terlihat cantik, kulitku masih terawat, dan usiaku masih muda, namun ada sesuatu yang hilang dari sorot mataku. Itu adalah mata seorang perempuan yang sangat lelah, bukan karena beban pekerjaan atau kelelahan fisik, melainkan karena terus berusaha mempertahankan sebuah hubungan yang sebenarnya sudah lama runtuh dan hancur berantakan.

Pukul sembilan pagi aku tiba di kantor pusat Grup Wibisono. Gedung megah ini berdiri kokoh sebagai simbol kerja keras ayahku selama puluhan tahun membangun bisnis dari nol. Semua yang ada di sini adalah hasil keringat dan pemikirannya, dan dulu aku percaya bahwa suatu hari nanti akulah yang akan meneruskan tongkat estafet ini. Setidaknya itulah rencana Papa sebelum kecelakaan parah itu menimpanya dan membuatnya terbaring koma hingga sekarang. Sejak saat itu, hampir seluruh tanggung jawab dan kendali perusahaan berada di pundakku. Aku yang harus menghadiri setiap rapat penting, mengurus proyek besar, bertemu dengan para investor, dan mengambil keputusan strategis yang menentukan nasib ribuan karyawan. Namun anehnya, semakin keras aku bekerja dan semakin banyak hasil yang kuberikan, semakin banyak pula orang yang menganggap Arga sebagai sosok di balik semua keberhasilan itu.

Baru saja aku melangkah masuk ke dalam lift, aku mendengar percakapan dua karyawan di belakangku yang tidak menyadari kehadiranku.

“Kabarnya proyek Aurora kembali berjalan lancar dan sukses besar.”

“Iya, Pak Arga memang luar biasa hebat. Perusahaan ini sangat beruntung memiliki menantu sepertinya.”

Senyum pahit terbit di bibirku. Proyek Aurora itu adalah gagasan dan konsepku sendiri. Aku yang menghabiskan waktu tiga bulan penuh melakukan negosiasi melelahkan, aku yang terbang ke berbagai kota hanya untuk meyakinkan para investor, dan aku yang memecahkan setiap masalah rumit yang muncul. Namun pada akhirnya, nama Arga lah yang dipuji dan dielu-elukan, sementara aku kembali tersisih dalam diam. Pintu lift terbuka, aku melangkah keluar tanpa sepatah kata pun. Sudah terlalu sering hal ini terjadi hingga rasanya sudah menjadi kebiasaan yang pahit.

Rapat direksi berlangsung hampir dua jam lamanya. Di depan semua pemegang saham dan pimpinan cabang, aku menjelaskan strategi ekspansi baru secara rinci, menyajikan seluruh data, analisis pasar, hingga perhitungan risiko yang sudah kupelajari mendalam. Aku mempresentasikannya sendiri dengan penuh percaya diri. Namun begitu rapat selesai, salah satu direktur senior justru tersenyum menuju ke arah Arga dan berucap, “Presentasi yang luar biasa dan sangat brilian, Pak Arga.”

Aku membeku di tempat. Padahal selama pertemuan berlangsung, Arga sama sekali tidak membuka mulut atau menyumbangkan satu gagasan pun. Namun lelaki itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Terima kasih banyak,” seolah memang dialah yang bekerja keras dan berhak menerima penghargaan itu. Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan siapa yang sebenarnya menyusun materi itu, tidak berniat mengoreksi kesalahan pandangan mereka, dan bertindak seolah pujian itu memang miliknya sepenuhnya. Aku menunduk menatap berkas yang ada di tanganku, merasakan rasa sakit yang biasa itu kembali menusuk dada. Entah mengapa aku masih bertahan di sini, mungkin karena sisa-sisa cinta yang masih ada, atau mungkin karena kebodohanku sendiri yang terlalu lama membiarkan hal ini terjadi.

Menjelang siang, ponselku berdering menampilkan nomor rumah keluarga, nama Leanor—ibuku tiri—tertera jelas di layar. Hati kecilku langsung tahu bahwa panggilan ini tidak akan membawa kabar baik atau percakapan yang menyenangkan.

“Halo,” jawabku singkat.

“Violet,” suaranya terdengar dingin dan kaku seperti biasanya. “Kami sedang makan siang di rumah besar. Datanglah sekarang.”

Sebenarnya aku enggan sekali untuk datang, namun aku tetap menyanggupi permintaannya. Sejak Papa terbaring sakit, hubungan antaranggota keluarga menjadi semakin rumit dan penuh ketegangan. Aku berusaha sekuat tenaga menjaga semuanya tetap berjalan baik, meski aku sadar hanya aku yang berusaha keras melakukan hal itu.

Rumah besar keluarga Wibisono masih sama persis seperti dulu, mewah, megah, dan berisi barang-barang berharga, namun tidak lagi memiliki kehangatan keluarga yang dulu kurasakan saat Papa masih sehat. Begitu melangkah masuk ke ruang makan, aku langsung melihat Leanor duduk di ujung meja dengan wibawanya yang dingin. Di sebelahnya ada Eliana, adik tiriku yang selalu tampak manis dan lembut. Dan di hadapan mereka, dengan santai duduk Arga. Aku mengernyitkan dahi heran, bukankah seharusnya suamiku berada di kantor saat jam kerja begini?

“Kak Violet!” seru Eliana sambil tersenyum lebar dan manis. “Lama sekali tidak bertemu.”

Aku hanya duduk di kursi yang tersedia tanpa banyak bicara. Para pelayan mulai menyajikan hidangan lezat ke atas meja, dan suasana tampak berjalan biasa saja hingga Leanor membuka mulutnya.

“Aku dengar kabar bahwa sampai sekarang kau masih belum hamil juga.”

Gerakan tanganku yang sedang memegang sendok langsung terhenti seketika. Aku sudah menduga topik ini akan muncul lagi. Selalu topik ini yang menjadi bahan pembicaraan setiap kali kami berkumpul.

“Aku dan Arga belum terburu-buru memiliki anak, Ma,” jawabku tenang.

Leanor tertawa kecil, suara yang terdengar meremehkan. “Tidak terburu-buru atau memang ada hal yang tidak bisa kau berikan?”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya tepat di mata. Tidak ada kehangatan di sana, tidak pernah ada. Sejak kecil, Leanor selalu menganggapku sebagai penghalang dan beban, hanya karena aku adalah anak perempuan dari istri pertama ayahku, bukti bahwa ayahku pernah memiliki kehidupan keluarga sebelum dirinya datang. Sebaliknya, Eliana adalah anak kesayangannya, gadis yang selalu ia banggakan di mana saja.

“Aku rasa hal itu adalah urusan pribadi kami berdua,” jawabku tegas.

“Justru hal ini adalah urusan seluruh keluarga,” bantahnya cepat sambil meletakkan sendoknya dengan suara agak keras. “Perusahaan sebesar ini membutuhkan penerus yang jelas dan pasti.”

Aku diam saja, tidak ingin terjebak perdebatan yang sia-sia, namun perempuan itu sepertinya belum puas dan melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin tajam.

“Kasihan sekali Arga.”

Dadaku langsung menegang kaku. “Apa maksud Mama dengan ucapan itu?”

“Mendapat istri sepertimu yang ternyata tidak bisa memberinya keturunan dan penerus.”

Suara benda kecil jatuh terdengar pelan. Aku menoleh sekilas dan melihat Eliana menunduk seolah kaget, namun sudut bibirnya terangkat sedikit, menyembunyikan senyum kemenangan yang ia nikmati saat melihatku dihina. Dan yang paling menyakitkan dari semuanya adalah reaksi Arga. Ia diam saja. Ia hanya duduk di sana, tenang dan santai, tidak berusaha membelaku sedikit pun, tidak membantah ucapan ibunya, dan bersikap seolah penghinaan itu benar adanya, seolah aku memang pantas menerima cacian itu.

“Sudah cukup, Ma,” ujarku berusaha menahan amarah dan tetap tenang.

Namun Leanor justru tersenyum sinis. “Kenapa? Kau marah?”

“Aku tidak marah.”

“Kalau begitu buktikanlah,” tantangnya.

Aku menatapnya tajam. “Membuktikan apa?”

“Membuktikan bahwa kau benar-benar pantas menjadi istri Arga dan menantu keluarga ini.”

Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Aku menoleh ke arah suamiku, untuk pertama kalinya sejak percakapan buruk ini dimulai. Aku berharap, setidaknya satu kalimat pembelaan keluar dari mulutnya, satu tanda bahwa aku tidak sendirian di sini, atau sekadar kata yang menunjukkan bahwa ia ada di pihakku. Namun Arga hanya menyesap kopinya pelan, lalu berkata dengan nada datar dan bosan, “Tidak perlu membahas hal ini lagi.”

Bukan membela, bukan membantah, hanya menghentikan pembicaraan karena ia merasa tidak nyaman. Perbedaan maknanya sangat besar dan menyakitkan, dan aku bisa merasakan betapa jauhnya jarak di antara kami saat itu. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini, aku merasa benar-benar sendirian dan tidak berdaya.

Setelah makan siang selesai dan semua orang bubar, aku berjalan kaki menuju taman belakang rumah besar itu. Aku butuh udara segar, aku butuh jarak yang jauh dari mereka semua, dari sikap dingin ibu tiriku, dari kepura-puraan adikku, dan dari ketidakpedulian suamiku. Namun baru beberapa menit berdiri menikmati angin sore, seseorang datang mendekat. Eliana. Tentu saja hanya dia yang selalu muncul di saat-saat seperti ini.

“Kak,” sapaannya lembut.

Aku tidak menoleh kepadanya. “Ada apa lagi?”

“Aku hanya khawatir dengan Kakak,” jawabnya dengan nada polos.

Aku hampir tertawa mendengarnya. Khawatir? Benarkah itu perasaan yang ia miliki? “Khawatir tentang apa?”

“Tentang hubungan pernikahan Kakak dan Kak Arga.”

Aku akhirnya menatapnya lekat-lekat. Eliana terlihat begitu tulus, begitu baik, dan begitu sempurna di mata orang lain. Itu adalah topeng yang selama ini selalu berhasil menipu semua orang, namun kini mulai terlihat retak di mataku.

“Kami baik-baik saja dan tidak ada masalah,” jawabku singkat.

“Syukurlah kalau begitu,” katanya sambil tersenyum manis, namun senyum itu terasa begitu asing dan penuh makna tersembunyi. “Aku hanya takut kalau-kalau Kak Arga merasa lelah dengan keadaan yang ada sekarang. Pria terkadang membutuhkan keluarga yang lengkap dan suasana yang bahagia.”

Jantungku berdegup lebih cepat. “Maksudmu apa dengan ucapan itu?”

Eliana langsung memasang wajah kaget dan bersalah. “Ah, maaf Kak. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku hanya bicara apa adanya.”

Aku tidak menjawab lagi. Namun untuk pertama kalinya, aku merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres. Bukan hanya masalah pernikahanku yang retak, bukan hanya tentang sikap Arga yang berubah, tetapi juga tentang Eliana. Ada hal yang janggal dalam cara gadis itu berbicara, dalam cara ia memandangku, dan dalam kebiasaannya yang selalu muncul di antara aku dan suamiku. Sesuatu yang selama ini sengaja tidak kusadari, atau mungkin aku pura-pura tidak tahu demi menjaga kedamaian.

Malam harinya aku kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan yang belum selesai. Saat berjalan melewati koridor lantai eksekutif, aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa karyawan yang sedang istirahat.

“Kalau tidak ada Pak Arga yang memegang kendali, mungkin perusahaan ini sudah kacau balau sejak Pak Surya koma.”

“Betul sekali. Bu Violet itu terlalu lembut dan tidak tegas.”

“Untunglah ada Pak Arga yang cerdas dan mampu mengatur segalanya.”

Langkah kakiku terhenti mendadak. Aku menoleh ke arah kaca besar di ujung lorong yang memantulkan bayangan diriku sendiri. Terlalu lembut? Mungkin iya. Terlalu bodoh? Itu pun mungkin benar. Selama dua tahun terakhir aku bekerja tanpa henti, membangun, menjaga, dan memperbesar aset perusahaan ini, sementara orang lain perlahan mengambil seluruh pujian dan penghargaan yang seharusnya menjadi milikku sendiri. Dan yang paling menyakitkan, akulah yang memberi mereka kesempatan itu dengan diam dan membiarkan semuanya terjadi.

Aku kembali masuk ke ruang kerjaku, menutup pintu rapat-rapat, dan duduk sendirian di balik meja besar itu. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku membuka laci meja kerja dan mengambil setumpuk laporan keuangan yang selama ini selalu ditandatangani dan diawasi langsung oleh Arga. Aku mulai membaca satu per satu dokumen itu dengan teliti. Awalnya hanya karena rasa kesal dan ingin mengalihkan pikiran, namun semakin banyak halaman yang kubuka dan kulihat, semakin banyak pula kejanggalan yang kutemukan. Ada transfer dana yang tidak jelas tujuannya, pengeluaran yang tidak tercatat dalam anggaran resmi, dan aliran uang perusahaan yang masuk ke beberapa rekening di luar negeri dalam jumlah yang tidak terlalu besar namun sangat sering terjadi.

Aku menatap deretan angka-angka itu cukup lama, perasaan tidak nyaman mulai merayap masuk ke dalam dada. Tanpa sadar, bayangan berbagai kejadian mulai berputar di kepalaku: senyum penuh kemenangan Eliana, sikap dingin dan rahasia Arga, penghinaan ibu tiriku, dan semua kebetulan yang terjadi terlalu sering hingga terasa dibuat-buat. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan ini, aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana jika semua ini bukan sekadar kebetulan belaka? Bagaimana jika selama ini ada sesuatu yang besar dan berbahaya yang sengaja disembunyikan dariku? Dan bagaimana jika orang yang paling aku percayai, orang yang tidur di sampingku setiap malam, justru adalah orang pertama yang sedang berusaha menghancurkan hidupku perlahan namun pasti?

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!