Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Pengakuan mengejutkan Aruna.
Setelah acara after party selesai, dan semua tamu juga pulang. Aruna yang sudah benar-benar kehabisan tenaga, tak lagi sanggup menginjakkan kakinya di lantai. Dengan sikap manjanya yang luar biasa, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Axel dan mendongakkan wajah memelas.
"Axel... gendong akuuu... capek bangettt..." rengeknya manja, suaranya terdengar lembut dan sangat memikat.
Tanpa perlu diminta dua kali, tanpa perlu berkata apa-apa, Axel langsung menyambar tubuh istrinya. Ia mengangkat Aruna dengan sangat mudah, seolah-olah istrinya itu hanyalah bulu kapas yang ringan. Dengan langkah tegap dan penuh kasih sayang, ia membawa Aruna menuju kamar pribadi mereka.
Sesuai permintaan Aruna, kamar itu tidak dihias secara berlebihan sehingga terasa nyaman dan tidak sumpek. Hanya ada sedikit sentuhan bunga di bagian luar dan pencahayaan yang lembut yang membuat suasana terasa sangat intim.
Sesampainya di dalam, Axel dengan hati-hati membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur yang empuk dan besar. Ia mengunci pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada gangguan, lalu menyalakan penghangat ruangan agar suhu tetap nyaman.
Axel sendiri sebenarnya sangat lelah. Seharian penuh ia harus menyapa tamu, berdiri lama, dan menjaga citra dirinya. Dengan napas panjang, ia merebahkan tubuh kekarnya di atas sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur, memejamkan mata sejenak untuk beristirahat.
Namun... matanya tiba-tiba pemandangan di depan sana, membuat matanya terbuka lebar dan tak bisa berkedip lagi.
Di atas kasur, Aruna mulai bergerak. Dengan santai dan percaya diri, ia mulai melucuti setiap aksesoris mahal yang melekat di tubuhnya. Kalung, anting, gelang, dan mahkota kecil satu per satu dilepaskan.
Rambut indahnya yang tadi ditata rapi dan formal, kini ia uraikan sehingga jatuh tergerai bebas, terlihat sangat alami dan seksi.
Dan yang membuat jantung Axel seakan berhenti berdetak...
Aruna mulai membuka resleting gaun panjangnya. Gaun mewah itu pun melorot jatuh ke lantai, tertinggal di sana begitu saja.
Kini, yang tersisa di tubuh Aruna hanyalah setelan dalaman berbahan tipis dan licin. Pakaian itu menempel sempurna, memperlihatkan dengan sangat jelas bentuk tubuhnya yang bak jam pasir, dengan pinggang ramping, pinggul indah, dan dada yang menggoda.
GLEK!!
Axel sampai meneguk ludahnya dengan kasar. Matanya tak lepas menatap setiap inci kulit putih yang terpampang di hadapannya. Rasa lelahnya seketika menguap entah ke mana, digantikan oleh aliran darah yang memanas cepat.
"Capek ya sayang?"
Suara lembut itu memecah keheningan. Aruna tersenyum manis, lalu dengan gerakan lincah ia merangkak turun dari kasur dan berjalan mendekat ke arah sofa.
Dengan mudahnya ia naik dan duduk tepat di pangkuan suaminya. Tubuh mereka kini berhadapan sangat dekat.
"Ya capek..." jawab Axel jujur, suaranya terdengar serak dan berat. Matanya tak lepas menatap dada istrinya yang hanya tertutup kain tipis itu. "Tapi... lihat kamu begini... capeknya hilang semua entah kemana."
Aruna terkekeh pelan mendengar jawaban jujur itu. Wajahnya memerah namun ia terlihat sangat percaya diri malam ini.
"Ya... malam ini aku milikmu sepenuhnya sayang..." bisik Aruna tepat di wajah suaminya, napasnya hangat dan menggoda.
"Gak perlu ditahan lagi. Lakukan apapun yang kamu mau... semua ini milikmu Axel... seluruh tubuhku, hatiku... semuanya."
Tanpa rasa malu lagi, tangan kecil Aruna menarik kedua tangan besar suaminya, lalu menempelkannya dengan tegas tepat ke area dadanya yang hanya dibalut bra tipis itu.
"Tapi... aku punya syarat khusus sebelum itu..." ucap Aruna tiba-tiba, memecah suasana panas yang mulai melanda.
Axel mengerutkan kening sedikit kecewa, namun tetap sabar menunggu.
"Apa itu sayang? syarat apa lagi? apa mau minta mahkota atau istana lagi?" godanya pelan.
"Aku mau mandi dulu..." jawab Aruna santai sambil menunjuk arah kamar mandi. "Dan kamu juga harus mandi! Bau keringat dan parfum campur aduk gini gak enak lho! harus bersih dulu baru boleh manja-manja!"
Axel terkekeh mendengar aturan ketat dari istrinya itu.
"Hm... ya baiklah..." jawabnya pasrah namun masih berusaha mengajak. "Tapi gimana kalau... kita mandi bersama saja? biar lebih hemat waktu?"
Axel menatapnya dengan mata berbinar penuh harap.
"Oh tentu saja TIDAK BISA!" tolak Aruna tegas dan cepat sambil mendelik. "Aku mau me time dulu. Aku mau nikmati air hangat sendirian. Kamu tunggu di luar saja ya. Bye bye..."
Tanpa memberi kesempatan Axel untuk membantah atau merajuk lagi, Aruna segera mendekatkan wajahnya.
Cup!
Ia memberikan kecupan singkat, cepat, dan sangat manis tepat di pipi suaminya yang tajam itu.
Setelah itu, dengan langkah lincah dan sedikit menggoyang-goyangkan pinggulnya, Aruna langsung melompat turun dari pangkuan Axel dan berjalan tergesa menuju kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Axel hanya bisa terdiam mematung, lalu tersenyum lebar melihat tingkah istrinya yang super gemas dan unik itu.
Setelah Aruna selesai mandi dan keluar dengan tubuh segar, Axel gantian masuk ke kamar mandi.
Kini tinggal Aruna sendirian di kamar. Ia berniat mencari baju tidur yang nyaman, tapi anehnya... semua baju miliknya entah kemana.
"Hah... pasti kerjaan Mama atau Mama Mertua nih..." gumamnya santai.
Ia tahu persis, pasti ibunya atau ibu Axel yang menyembunyikan semua bajunya dengan sengaja. Tujuannya cuma satu: supaya Aruna terpaksa memakai baju tidur yang lebih seksi dan menggoda di depan suaminya malam ini. Karena hanya baju-baju itulah yang tergeletak di atas meja.
Aruna sebenarnya tidak terlalu peduli atau kesal. Ia hanya menghela napas pasrah, lalu mengambil salah satu setelan yang tersedia rapi di atas meja.
Dengan gerakan malas, ia mengenakan baju itu.
"Hm... norak banget sih modelan begini..." ucapnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar, sedikit mengejek diri sendiri. "Kurang bahan banget deh, tipis banget bahannya. Pasti gampang banget sobek kalau ditarik sedikit aja."
Tapi meski mengeluh, baju itu terlihat sangat sempurna di tubuhnya.
Baju model bodyfit tipis itu menempel ketat, melukis setiap lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Bagian dadanya menonjol keluar dengan indah dan menggoda, ukurannya pas, dan bentuknya sangat ideal membuat tampilannya terlihat seksi alami.
Sedangkan rok atau dress-nya sangat pendek, hanya menutupi sampai paha atas, memperlihatkan jelas kaki jenjang, putih, dan mulus miliknya.
Tepat saat Aruna sedang sibuk mengeringkan rambutnya...
Pintu kamar mandi terbuka.
Axel keluar dengan wajah yang masih basah Rambutnya sedikit lepek terkena air, dan tubuh kekarnya hanya ditutupi handuk yang melilit erat di bagian pinggang ke bawah.
Pandangannya langsung tertuju pada sosok istrinya yang berdiri di depan cermin.
Tanpa berkata apa-apa, dengan langkah pelan namun pasti, Axel berjalan mendekat.
Tangan besarnya langsung melingkar mengunci perut dan pinggang ramping Aruna dari belakang, menarik tubuh mungil itu hingga menempel sempurna ke dadanya yang bidang dan hangat.
Aruna berhenti mengeringkan rambutnya. Ia menoleh sedikit, lalu menatap Axel lewat pantulan cermin.
"Gimana? bagus gak?" tanyanya sedikit manyun. "Bajuku hilang entah kemana semua... cuma ada baju ini doang yang tersisa. Terpaksa deh pakai yang norak begini."
Axel tidak menjawab panjang lebar. Ia hanya menatap setiap inci tubuh istrinya di cermin itu dengan tatapan kagum dan hasrat.
"Sempurna..."
Jawabnya singkat, padat, dan terdengar sangat serak.
Dan tanpa menunggu lagi, Axel menundukkan wajahnya, lalu memberikan kecupan hangat, lembut, dan penuh sayang tepat di kening Aruna.
Membuat hati gadis itu meleleh seketika melihat ketulusan di mata suaminya itu.
"Axel..." panggil Aruna manja, suaranya terdengar lembut dan menggoda.
Dengan gerakan lincah, ia mengalungkan kedua tangannya yang lentik itu ke belakang leher suaminya, menarik wajah mereka menjadi semakin dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Kenapa sayang?" tanya Axel lembut, matanya menatap teduh manik mata istrinya, tangannya masih setia mencengkeram pinggang ramping itu erat-erat.
"Gimana kalau..." Aruna tersenyum nakal, matanya berbinar jahil. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Axel, lalu berbisik pelan namun jelas...
"...kalau aku bilang sama kamu, aku sudah nggak perawan lagi?"
Ucapannya itu terdengar manja dan seperti sedang menggoda, namun...
DEG!!!
JANTUNG AXEL NYARIS JATUH KE LANTAI.
Wajah pria itu seketika berubah drastis. Senyumnya lenyap seketika, matanya membelalak lebar tak percaya, dan tubuhnya yang tadi santai kini menjadi kaku dan tegang luar biasa.
Darahnya seakan berhenti mengalir. Pikiran Axel berputar kacau. Apa? Gak perawan lagi? Maksudnya... sudah ada orang lain yang sentuh sebelum aku?!
Rasa kaget, cemburu, dan syok bercampur menjadi satu membuatnya terpaku diam mematung di tempatnya, menatap Aruna dengan mulut sedikit terbuka, tak bisa berkata apa-apa.
***