NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Pagi itu berjalan seperti biasanya. Rumah besar milik Mason masih terasa terlalu sunyi untuk ukuran rumah sebesar ini. Cahaya matahari musim gugur jatuh lembut di lantai kayu dekat jendela kamar, sementara aku duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel di tanganku.

Sudah beberapa hari sejak aku bertemu Justin di kafe. Dan entah kenapa, pagi ini aku tiba-tiba teringat kartu nama yang masih kusimpan di dalam laci meja samping tempat tidur.

Aku membukanya perlahan, lalu menatap nama yang tercetak rapi di sana beberapa detik. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku mengetik pesan singkat, hanya sederhana. Tidak ada maksud khusus selain membagikan nomorku karena waktu itu kami memang belum sempat bertukar kontak.

Jemari tanganku bergerak pelan di atas layar.

'Hai, Justin. Ini Hazel. Maaf karena baru menghubungimu.'

Aku membaca ulang pesannya dua kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Dan setelah itu, aku langsung meletakkan ponselku begitu saja. Seolah mencoba bersikap biasa. Padahal entah kenapa ada sedikit rasa canggung di dalam dadaku.

Mungkin karena aku sudah lama tidak menghubungi teman pria secara pribadi setelah menikah. Atau mungkin karena kehidupanku selama beberapa bulan terakhir terlalu berpusat pada Mason sampai aku lupa bagaimana rasanya berbicara santai dengan orang lain.

Aku tidak terlalu memikirkannya lagi setelah itu. Hari berjalan biasa seperti biasanya. Mason pergi bekerja sejak pagi, sementara aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa buku di perpustakaan rumah dan sesekali membantu pelayan mengatur ulang beberapa dekorasi ruang makan yang mulai membosankan bagiku.

Menjelang malam, udara Chicago mulai terasa lebih dingin. Aku baru selesai mandi ketika ponselku bergetar di atas meja kecil dekat tempat tidur. Nama Justin muncul di layar. Aku sempat menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Halo, Hazel.” Suara Justin terdengar hangat dari seberang sana. “Kupikir kau sudah melupakan keberadaanku.”

Aku tertawa kecil spontan mendengarnya. “Aku hanya...sedikit sibuk.”

“Alasan klasik.”

Aku kembali tertawa kecil. Dan anehnya, rasanya begitu ringan.

Aku berjalan keluar menuju balkon kamar sambil tetap menempelkan ponsel di telinga. Udara malam menyambutku pelan. Lampu-lampu kota Chicago terlihat indah dari kejauhan, sementara angin dingin mengibaskan ujung rambutku perlahan.

“Aku tidak menyangka kau benar-benar menghubungiku,” kata Justin lagi.

“Aku juga tidak menyangka kau akan menelepon malam-malam begini.”

“Aku hanya sedang bosan.” Ia tertawa kecil. “Dan kebetulan melihat pesanmu.”

Percakapan kami mengalir begitu saja setelah itu. Tentang pekerjaan Justin. Tentang Jake yang ternyata masih sering bermain basket dengannya sesekali. Tentang masa-masa sekolah kami dulu yang sekarang terasa sangat jauh.

“Aku masih ingat Jake pernah hampir memukul senior karena mengira dia menyukaimu,” kata Justin sambil tertawa.

Aku langsung menutup wajah dengan tangan sambil ikut tertawa malu. “Astaga… dia memang berlebihan.”

“Dia terlalu protektif padamu.”

“Aku tahu.”

Aku tersenyum kecil tanpa sadar. Membicarakan Jake selalu membuatku merasa nyaman. Kakakku memang selalu seperti benteng besar yang berdiri di depanku sejak kecil.

“Ngomong-ngomong,” suara Justin terdengar sedikit lebih hati-hati kali ini, “kau benar-benar terlihat menghilang setelah lulus. Bahkan media sosialmu hampir tidak pernah aktif.”

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu akhirnya berkata pelan, “Karena hidupku berubah cukup banyak.”

“Seberapa banyak?”

Aku memandang lampu kota di kejauhan sebelum akhirnya tersenyum kecil sendiri. “Justin, sebenarnya aku sudah menikah.”

Hening. Benar-benar hening selama beberapa detik. Aku bahkan sampai menjauhkan ponselku sedikit dan melihat layarnya untuk memastikan sambungan teleponnya belum terputus.

“Justin?”

“Aku masih di sini,” jawabnya cepat.

Namun nada suaranya terdengar berbeda sekarang. Sedikit tertahan. Sedikit terkejut.

“Kau… sudah menikah?”

Aku mengangguk kecil meski ia tidak bisa melihatnya. “Ya.”

“Wow…”

Aku tertawa kecil canggung. “Reaksimu seperti aku baru saja bilang kalau aku pindah ke planet lain.”

“Karena aku memang cukup terkejut.” Justin menghela napas pelan. “Kupikir… entahlah.”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Dan aku juga tidak bertanya lebih jauh. Namun beberapa detik kemudian, Justin kembali bicara dengan nada yang jauh lebih santai. Seolah sengaja memperbaiki suasana.

“Baiklah. Jadi siapa pria beruntung yang sudah menikahimu itu?”

Aku tersenyum kecil mendengar usahanya mengembalikan suasana agar tidak canggung. “Mason Roux.”

“Mason Roux, pengusaha mudah kaya raya itu,” gumamnya pelan. “Hmm, menarik.”

Aku langsung tertawa lebih keras kali ini. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar tertawa tanpa beban. Tanpa sadar. Tanpa berpikir terlalu banyak. Tanpa terus-menerus menjaga hati agar tidak terluka.

Aku terlalu sibuk tertawa kecil mendengar cerita Justin tentang Jake yang sekarang semakin galak pada orang-orang di sekitarnya.

“Serius,” kata Justin. “Kurasa Jake akan menjadi ayah paling menyeramkan suatu hari nanti.”

Aku menahan tawa sambil menggeleng. “Aku bahkan kasihan pada anak-anaknya nanti.”

Obrolan kami terus berlanjut cukup lama. Sampai akhirnya udara malam mulai terasa semakin dingin di kulitku.

“Justin. Sepertinya, kita harus sudahi obrolan malam ini. Aku sudah mulai mengantuk.” kataku akhirnya.

“Baiklah.” Nada suara Justin terdengar sedikit enggan. “Senang bisa bicara lagi denganmu, Hazel.”

“Aku juga.”

“Dan…” ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan pelan, “aku harap kau benar-benar bahagia.”

Dadaku terasa sedikit hangat mendengar itu.

Aku tersenyum kecil. “Terima kasih, Justin.”

Setelah panggilan berakhir, aku menurunkan ponsel perlahan. Lalu menghela napas panjang sambil memandangi langit malam Chicago beberapa detik. Aneh. Rasanya seperti baru saja mengingat kembali bagian diriku yang sempat hilang. Bagian diriku sebelum semua tentang pernikahan ini dimulai.

Aku akhirnya kembali masuk ke kamar tidak lama setelah itu. Malam itu aku tidur dengan perasaan sedikit lebih ringan. Meski aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa.

Lalu keesokan paginya, aroma kopi kembali memenuhi dapur rumah. Aku sedang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas ketika suara langkah kaki terdengar mendekat. Jennifer muncul dengan pakaian kasual mahal dan rambut panjang yang tertata rapi seperti biasanya.

“Aku mencari Mason,” katanya santai.

Aku mengangguk kecil. “Dia sebentar lagi turun.”

Jennifer duduk di kursi meja makan sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian, Mason benar-benar muncul dari tangga dengan setelan kerja abu gelap yang membuatnya terlihat terlalu sempurna untuk pagi biasa.

“Pagi,” ujar Jennifer lebih dulu.

Mason mengangguk kecil. “Ada apa sepagi ini kau sudah mencariku?”

“Mobilku bermasalah lagi.” Jennifer mendesah pelan. “Aku harus ke bengkel dan aku malas pergi sendiri.”

Mason menarik kursi tanpa banyak komentar. “Sarapan dulu.”

Jennifer tersenyum kecil puas lalu menurut begitu saja.

Sementara aku ikut duduk di meja makan bersama mereka. Namun seperti biasa, aku lebih banyak diam sambil memperhatikan percakapan mereka yang mengalir dengan mudah. Jennifer bercerita tentang apartemennya. Tentang kelas kampusnya. Tentang seseorang yang membuatnya kesal kemarin. Dan Mason menanggapi semuanya dengan cukup santai. Tidak banyak bicara memang. Namun jauh lebih hidup dibanding saat berbicara denganku.

Dadaku terasa sedikit sesak melihat itu. Namun aku buru-buru mengingat perkataan Linda untuk jangan terlalu fokus pada Jennifer. Aku mencoba memusatkan perhatian pada sarapanku sendiri ketika tiba-tiba suara Mason terdengar.

“Semalam kau menelepon cukup lama.”

Aku langsung mengangkat kepala refleks. Mason sedang menatapku sekarang. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Oh…” Aku berusaha terdengar santai. “Itu Justin.”

“Justin?”

Aku mengangguk kecil. “Teman lama. Aku bertemu dengannya beberapa hari lalu di kafe.”

Mason menatapku beberapa detik. Tatapannya sulit dibaca seperti biasa. “Kau tidak pernah cerita.”

Kalimat itu membuat dadaku langsung menghangat aneh. Aku bahkan hampir tersenyum sendiri. Entah kenapa, untuk sesaat aku merasa ia peduli. Atau mungkin, sedikit cemburu?

Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Jennifer lebih dulu menyahut sambil tersenyum tipis.

“Wah… teman lama pria yang menelepon sampai malam.” Nada suaranya terdengar ringan, namun ada sesuatu yang terasa menusuk di baliknya. “Terdengar cukup dekat.”

Aku langsung menoleh ke arahnya. Jennifer masih tersenyum santai sambil meminum kopinya.

“Mason tidak perlu khawatir,” kataku cepat sebelum suasana berubah aneh. “Justin hanya teman lama. Bahkan dia teman baik Jake.”

Jennifer tertawa kecil. “Aku yakin Mason tidak akan mengkhawatirkan hal-hal remeh seperti itu.”

Aku langsung terdiam. Sementara Mason sendiri tidak memberikan respons apa pun. Ia hanya melanjutkan sarapannya dengan tenang seolah percakapan tadi tidak penting. Dan justru karena itulah aku semakin tidak bisa membaca isi pikirannya.

Beberapa menit kemudian Mason berdiri sambil mengambil jasnya. “Ayo.”

Jennifer langsung ikut berdiri. “Baik.”

Sebelum pergi, Mason sempat menoleh padaku sekilas. “Sepertinya aku akan pulang malam.”

Aku mengangguk kecil. “Hati-hati.”

Dan setelah mereka pergi, rumah itu kembali sunyi lagi. Aku masih duduk sendiri di meja makan sambil memandangi cangkir tehku yang mulai dingin. Pikiranku terus memutar ulang percakapan tadi.

'Kau tidak pernah cerita.'

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, aku terus memikirkannya. Apa Mason benar-benar peduli? Apa ia sedikit terganggu mendengar aku tertawa bersama pria lain semalam? Atau, aku hanya terlalu berharap lagi?

1
Lili Inggrid
ceritanya bagus..lanjutkan dan tetap semangat 🙏🙏
Yellow Sunshine: Thank you. happy reading 🤗
total 1 replies
partini
hai dari awal kamu tuh masuk di antara mereka lah , betul" bebal kali kau zel dan ga tau diri
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
partini
ngapain natap Dengan kebencian zel kan kamu yang penghalang hubungan mereka kamu hadir diantara mereka ihhhj ga sadar diri kamu,,
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
Dew666: Hooh betul
total 1 replies
partini
yesss you DAM STUPID zel ,,di jelas kan kan bisa di lihat mereka lovely doply ❤️❤️❤️ ngapai di jelasin sih
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
Yellow Sunshine: Sabar ya kak 🤭
total 1 replies
partini
ehh bukan salah Manson lah kamu nya aja yg ga sadar diri zel ga usah terluka ini pilihan mu mencintai nya biarkan dia bahagia bersama orang dia cintai
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa
Dew666
Lagian dah dicuekin mulu msh aja bertahan kerja kek cari kesibukan aneh
Yellow Sunshine: Mungkin Hazel memang orangnya suka berprasangka baik 😄🤭
total 1 replies
partini
clue nya udah terang benderang kaya gitu masih aja ga yampe yah ,OMG she Damm stupid eeh
Yellow Sunshine: cinta tak harus memiliki, ya. terkadang cinta berarti membiarkannya pergi 🤗
total 6 replies
falea sezi
prett amat bloon
falea sezi
novel apaan MC nya belooon
falea sezi
bodoh di tolak mentah mentah cerai bloon🤣🤣🤣
Anonim
Kau hansel memang bodoh tolol murah juga
falea sezi
sejauh ini masih muter g sat set
falea sezi
bodoh endingnya pasti balek🤣 ketebak thor.. kenapa MC nya di buat menyee gk tegas 😒
Yellow Sunshine: susah memang ya kalau orang udah terlanjur cinta mati 🤭 udah ditolak, masih aja dikejar 🤭
total 1 replies
falea sezi
😒 kebanyakan flasback
Dew666
🍎
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Anonim: type kayak gitu biasanya CEWEK MASOKIS sih
total 5 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!