NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Selepas Rangga pergi meninggalkan bar, Emily menyeringai. Ia berdiri di tengah ruangan yang mulai sepi, jari-jarinya meraih ponsel yang ia simpan di atas lemari di sudut ruangan. Sebuah ponsel yang selama ini ia gunakan untuk merekam segala percakapan penting.

Ia membuka folder rekaman video, mencari file yang baru saja ia simpan. Percakapan dengan Rangga. Semuanya. Dari awal hingga akhir.

"Jika itu maumu, baiklah akan kulakukan rencanaku!" desis Emily, suaranya dingin, seperti ular yang siap menerkam mangsa yang tidak curiga.

Jari-jarinya menari di atas layar ponsel. Ia mencari nama kontak yang sudah lama ia simpan. Nomor yang ia dapatkan dari komunitas kampus.

Dengan gerakan cepat, ia menekan tombol kirim.

File terkirim.

Emily tertawa sinis.

"Sekarang lihat siapa yang akan hancur, Meysa," gumamnya "Aku sudah kehilangan Rangga. Sekarang giliranmu yang kehilangan dia."

*

Di apartemen, Meysa baru saja hendak memejamkan matanya. Sejak Rangga pergi, ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, bertanya-tanya di mana suaminya berada, apa yang sedang ia lakukan?

Layar ponselnya bunyi..

Ting.

Meysa terbangun kembali. Ia meraih ponselnya dari atas meja samping tempat tidur, harap-harap cemas. Mungkin itu Rangga.

Tetapi pada kenyataannya, yang muncul adalah satu pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

"SELAMAT MENONTON!"

Alis Meysa mengkerut. Jari-jarinya gemetar saat membuka pesan itu. Di dalamnya ada satu video yang durasinya hampir lima belas menit.

Ia menekan tombol putar.

"Sebentar, Sayang. Jangan terlalu buru-buru..."

Meysa membeku. Darahnya terasa membeku.

Meysa mendengar semuanya.

Badannya gemetar. Dadanya terasa sesak. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, jatuh satu per satu ke layar ponsel yang masih menyala.

Dia berbohong. Dari awal semuanya bohong. Pernikahan ini hanya sandiwara. Anak yang hilang itu hanya korban dari skenario yang ia buat sendiri.

Meysa menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis yang ingin meledak.

Ia ingin berteriak, dan melarikan diri dari semua ini.

"Aku akan menceraikan perempuan kampung itu..."

Meysa duduk di tempat yang sama ketika pintu apartemen terbuka perlahan. Cahaya dari lorong menyelinap masuk, membelah gelap yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Tidak ada suara televisi, tidak ada musik, bahkan detak jam dinding terasa begitu nyaring di tengah kesunyian. Di tangannya, ponsel itu masih menyala, memperlihatkan layar yang baru saja memutar rekaman paling menyakitkan dalam hidupnya. Air matanya telah berhenti mengalir, bukan karena rasa sakitnya hilang, melainkan karena hatinya terlalu lelah untuk terus menangis. Ada saat ketika seseorang tidak lagi mampu menumpahkan air mata, sebab luka yang diterimanya sudah melampaui batas yang sanggup dijelaskan oleh tangisan.

Rangga melangkah masuk dengan senyum kecil yang perlahan memudar. Kantong martabak yang sejak tadi ia genggam terasa begitu ringan, sementara dadanya mendadak dipenuhi beban yang tidak terlihat. Ia belum memahami apa yang terjadi, tetapi tatapan Meysa sudah cukup menjelaskan bahwa sesuatu telah berubah. Tatapan itu bukan lagi tatapan perempuan yang sedang marah. Bukan pula tatapan seorang istri yang sedang kecewa. Tatapan itu adalah tatapan seseorang yang baru saja kehilangan tempat terakhir untuk dipercaya.

"Cha..." suara Rangga memanggilnya..

Meysa tidak menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya sedikit, memperlihatkan layar yang masih menampilkan akhir video. Tidak ada amarah yang meledak, justru diamnya membuat udara di ruangan itu terasa semakin sesak. Kadang, kemarahan yang paling menakutkan bukanlah yang keluar melalui suara, melainkan yang memilih tinggal di dalam hati.

Rangga membeku, ia benar-benar merasa takut. Bukan takut rahasianya terbongkar, tetapi takut kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam telah menjadi rumah bagi hatinya.

"Aku bisa jelaskan."

Kalimat itu keluar begitu saja, meski dirinya sendiri tahu penjelasan apa pun tidak akan mampu mengubah isi rekaman yang sudah didengar Meysa.

Perempuan itu akhirnya mengangkat wajah. Sorot matanya redup, seolah seluruh cahaya dalam dirinya padam hanya dalam waktu beberapa menit.

"Apa yang bisa dijelaskan, Mas?" suaranya tenang, terlalu tenang hingga terdengar menyakitkan. "Video itu tidak sedang meminta penjelasan. Video itu hanya memperlihatkan kenyataan."

Rangga kehilangan kata-kata.

Meysa tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.

"Dulu aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa hidupku seperti tidak pernah bahagia. Kenapa setiap kali aku mulai percaya, selalu ada sesuatu yang menghancurkan semuanya. Hari ini akhirnya aku tahu jawabannya."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Karena ternyata aku sedang hidup di dalam kebohongan."

Rangga menundukkan kepalanya. Seluruh keberaniannya seakan runtuh. Ia ingin meminta maaf, tetapi kata itu terasa terlalu kecil dibandingkan luka yang telah ia ciptakan.

Perlahan ia berlutut di hadapan Meysa. Bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan karena lututnya memang tidak lagi sanggup menopang tubuh yang dipenuhi penyesalan.

"Aku salah."

Hanya dua kata.

Tidak ada pembelaan, dan tidak ada alasan.

Sebab ia sadar, setiap alasan hanya akan terdengar seperti upaya melarikan diri dari kesalahan.

Meysa memejamkan matanya beberapa saat. Ada begitu banyak kenangan yang berdesakan di kepalanya. Senyum Rangga, perhatian kecil yang pernah ia berikan, pelukan yang membuatnya merasa aman. Semua kenangan itu bercampur menjadi satu, menciptakan luka yang sulit dibedakan antara cinta dan kehilangan.

"Mas..." lirihnya. "Aku memang mencintaimu."

Rangga mendongak. Harapan kecil kembali menyala di matanya.

Namun harapan itu langsung dipatahkan oleh ucapan berikutnya.

"Tapi setiap kali aku melihat wajahmu... aku juga melihat anak kita yang belum lahir kedunia ini."

Ruangan kembali sunyi.

Rangga menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar memahami bahwa penyesalan datang terlambat. Ada kesalahan yang bisa diperbaiki, tetapi ada pula kesalahan yang hanya bisa disesali seumur hidup.

Meysa berdiri perlahan. Ia melepaskan cincin di jari manisnya, lalu meletakkannya di atas meja.

"Aku tidak mengembalikan cincin ini karena berhenti mencintaimu."

Ia menatap Rangga yang masih berlutut.

"Aku melepasnya, karena aku ingin menyelamatkan sisa diriku sendiri."

Air mata kembali mengalir di pipinya.

"Cinta membuatku bertahan. Tapi hatiku memintaku untuk pergi."

Rangga menggeleng berulang kali.

"Jangan pergi..."

Meysa tersenyum pahit.

"Kalau aku tetap di sini, aku akan terus berharap semuanya baik-baik saja. Padahal kenyataannya, setiap sudut rumah ini mengingatkanku pada kebohongan."

Ia melangkah menuju kamar. Tidak lama kemudian ia keluar sambil membawa sebuah koper kecil. Isinya tidak banyak. Hanya beberapa pakaian, dokumen penting, dan sebuah foto USG yang selama ini ia simpan diam-diam.

Rangga buru-buru berdiri, berusaha menahan langkah istrinya.

"Tolong jangan mengejarku malam ini."

"Ke-kenapa?"

"Karena kalau kamu mengejarku sekarang..." suaranya bergetar, "...aku mungkin akan kembali hanya karena aku masih mencintaimu. Dan besok aku akan membenci diriku sendiri karena terlalu mudah memaafkan kesalahanmu."

Kalimat itu membuat tangan Rangga terlepas dengan sendirinya.

Meysa membuka pintu apartemen. Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

"Kalau memang suatu hari nanti kamu ingin menebus semuanya, jangan kejar aku dengan janji. Kejar aku dengan perubahan."

1
Humaira
APASIH emili dasar gak tau malu udah di buang juga sama si Rangga masih aja ngutilin 😏
Humaira
Hallo tor semangat jangan berhenti di tengah jalan
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
Syifa
lanjut kaka makin seru ceritanya
Alia Chans
hadir, cerita nya seru, semangat thor😉
Humaira
🤣🤣🤣🤣
ahs@
ternyata Rangga peminum Miras.. wkwkwk
ahs@
Emily merasa di beri celah dengan kedatangan Aditya untuk menjauhkan Rangga dari meysa...
MochiFlora: Huffttt, jadinya pen ngutuk jin dasim yang satu itu 😌
total 1 replies
ahs@
siapakah dia...🤣🤣
Humaira
Siapa lagi tuh Aditia 🤔
Humaira
Gawat Rangga mulai posesif
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
Emi Sudiarni
lanjut kak🤣🤣🤣
Emi Sudiarni
as nenek lampir
Emi Sudiarni
smangat buat rangga meysa untuk memulai hubungan dgn baik, wlaupun kedepan nya bnyak ujian. terutama dari mak Lampir emily
ahs@
wow,ternyata reader kena prangk C Rangga....wow,luar biasa actingmu Rangga...memuakan😡
Humaira
Lanjut
Emi Sudiarni
lanjut kak. seru
Emi Sudiarni
lah sdah thu meysa istri rangga ngapain renal dkat meyaa
partini
se Dam STUPID Rangga,aihh males Banggt aku nabung bab dulu yah Thor nanti balik lagi soalnya ada yg kaya gini ceritanya yg sama sudah mau end'
Humaira
Apa apaan ini ?
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
partini
ini siapa lagi ganggu ,renal atau di Kunti ganjen itu
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!