💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Wawancara
Tiga hari yang lalu, setelah Lusi memberi tahu Kay tentang berita tersebut, Kay yang gelisah segera memilih untuk pergi, memintanya untuk tidak mengungkapkan informasi tersebut untuk sementara waktu.
Lusi mengabulkan permintaannya, tetapi juga mengajukan permintaan, yang dengan mudah disetujui Kay sebelum bergegas pergi.
Saat dia sedang makan dengan santai, Rina menelepon untuk memberi tahu bahwa dia telah mempercayakan sebuah firma headhunting terkemuka di industri ini, Manpower Group yang dikunjunginya hari ini, untuk membantunya menemukan asisten pribadi yang cocok.
Awalnya, permintaan rekrutmen yang sederhana seperti itu akan sulit menarik perhatian Manpower Group. Namun, persyaratan yang ditambahkan Lusi kemudian menjadi semakin ketat.
Pada akhirnya, kualitas pribadi yang dituntut dari para kandidat sepenuhnya sebanding dengan kualitas sekretaris CEO di perusahaan Global Top 100.
Hal ini juga menyebabkan biaya komisi yang harus dibayarkannya meroket. Ditambah dengan pengeluarannya yang besar dan kesediaannya untuk menawarkan bonus komisi tambahan sebesar 10% setelah menemukan kandidat yang cocok, hal ini tentu saja menarik perhatian penuh Manpower Group.
Awalnya, Lusi berpikir bahwa bahkan Manpower Group mungkin memerlukan waktu untuk menemukan kandidat yang cocok berdasarkan standar yang dia usulkan.
Tanpa diduga, Lusi telah meremehkan nilai sebagai perusahaan sumber daya manusia terkemuka di kawasan Asia- Pasifik. Akibatnya, Yang Sheng Chao menghubungi Lusi tadi malam untuk menjadwalkan wawancara kandidat hari ini terlebih dahulu.
Mempekerjakan asisten pribadi yang setara dengan sekretaris CEO adalah keputusan yang diambil Lusi setelah mempertimbangkan banyak hal selama dua hari terakhir. Dengan adanya Bos Sistem, kekayaan Lusi di masa depan diprediksi akan meningkat pesat.
Dan seiring meningkatnya kekayaannya, tuntutannya terhadap kualitas hidup juga akan meningkat secara bertahap. Di masa depan, atau lebih tepatnya, mulai sekarang. Lusi akan mulai membangun tim pelayannya sendiri. Mengingat tingkat pertumbuhan asetnya saat ini, Old Ma sendiri pasti tidak akan mampu mengatasinya.
Selain itu, ia juga akan membutuhkan tim keamanan, tim medis, tim hukum, tim investasi, dan bahkan tim koki pribadi. Namun, pembentukan dan pengelolaan tim-tim ini di masa mendatang akan cukup merepotkan.
Oleh karena itu, Lusi membutuhkan seorang asisten pribadi dengan kemampuan luar biasa, kualitas unggul, dan pengalaman kaya untuk membantunya menangani masalah-masalah penting tetapi remeh ini.
Selain itu, untuk menyelesaikan tugas pengumpulan Bos Sistem, tentu dia tidak bisa menjadi orang yang menghubungi orang sendiri setiap waktu untuk mencari tempat membeli barang koleksi.
Sejak mendapatkan sistemhingga sekarang, dia belum pernah benar-benar menikmati hidup dengan baik. Tugas-tugas ini tentu saja membutuhkan bantuan seseorang. Untuk hal-hal yang bisa diselesaikan dengan uang, jangan memilih untuk membuang-buang waktu. Setidaknya, begitulah yang terjadi padanya sekarang.
Ditambah dengan rumah sakit yang baru saja diambil alihnya beberapa hari lalu dan yayasan yang belum dilihatnya, aset pribadinya telah melampaui USD 20 triliun.
Pada titik ini, tanpa tim yang lebih komprehensif, sulit untuk menjamin bahwa tidak ada yang akan mengambil risiko dan menargetkannya. Pikiran Lusi berkecamuk.
Kecerdasannya, yang berada di atas rata-rata, cukup memainkan perannya dengan baik, sementara kakinya mengikuti Yang Sheng Chao ke kantor Manpower Group.
"Tempat ini sudah sesuai."
Lusi duduk di sebuah ruangan luas, dinding kaca yang besar memperlihatkan pemandangan malam Ibukota. Gorden besar dan beberapa furniture hiasan ruangan.
"Saya senang anda merasa nyaman, para bos besar memiliki selera nya sendiri. Beberapa menginginkan ruangan seperti meja rapat atau pribadi untuk melakukan wawancara."
Lusi mengangguk, "ya, kita bisa memulai nya sekarang"
Yang Sheng Chao mengangguk dan kemudian keluar, setelah menunggu beberapa saat, hingga kandidat pertama masuk.
Seorang laki-laki paruh baya umur 40-an.
Lusi membaca pengalaman nya dan cukup takjub, ia seorang lulusan terbaik di kampus luar negri. Pernah bekerja di perusahaan besar luar negri selama lima tahun, kemudian lanjut S2 Manajemen dan S3 Marketing di kampus ternama luar negeri. Pengalaman terakhirnya adalah menjadi wakil direktur perusahaan Volkswagen.
Lusi berhenti membaca kemudian menatap nya. "Apakah saya boleh tahu kenapa ada berhenti dari perusahaan Volkswagen, tuan Mir?"
Perusahaan Volkswagen adalah perusahaan besar yang menempati peringkat 18 sebagai perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia. Dia sangat penasaran kenapa tuan Mir berhenti terlebih jabatan nya sudah termasuk yang tertinggi.
Laki-laki berjas rapi itu memperbaiki posisi kacamata nya dan menjawab. "Selama tujuh tahun terakhir, saya memberikan hampir seluruh waktu dan energi saya untuk perusahaan itu. Kinerja divisi yang saya pimpin selalu melampaui target, dan saya berhasil memimpin beberapa proyek strategis yang memberikan kontribusi besar bagi perusahaan."
Ia berhenti sejenak.
"Ketika atasan langsung saya mengundurkan diri tahun lalu, saya adalah kandidat yang paling kuat untuk menggantikan posisinya."
Lusi mendengarkan dengan saksama.
"Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh data, hasil evaluasi, dan sebagian besar rekan kerja saya."
Nada bicara Tuan Mir tetap tenang, tanpa sedikit pun kepahitan.
"Namun, pada akhirnya, jabatan itu diberikan kepada orang lain yang memiliki pengalaman lebih sedikit dibandingkan saya."
"Karena Anda bukan orang Jerman?" tanya Lusi langsung.
Tuan Mir mengangguk perlahan.
"Saya tidak ingin menyederhanakan semuanya menjadi masalah ras atau kewarganegaraan. Namun, saya harus mengakui bahwa ada batas tak terlihat yang sulit ditembus oleh orang luar."
Tatapannya beralih ke pemandangan malam di balik dinding kaca.
"Saya menyadari bahwa perusahaan tersebut telah memberi saya banyak kesempatan. Namun, itu bukan lagi tempat terbaik bagi perkembangan karier saya."
Ia kembali menatap Lusi.
"Saya ingin bergabung dengan organisasi yang benar-benar menghargai kemampuan dan hasil kerja seseorang, bukan asal negara atau latar belakangnya."
Nada suaranya menjadi lebih mantap.
"Ketika saya mendengar tentang posisi ini, saya melihat peluang untuk membangun sesuatu yang lebih besar bersama perusahaan Anda."
Lusi terdiam beberapa detik.
Ia menutup berkas di tangannya.
"Tuan Mir, saya rasa ada satu hal yang perlu saya luruskan."
Ekspresi Tuan Mir sedikit berubah.
"Posisi yang saya buka bukanlah sekretaris perusahaan."
Alis Tuan Mir terangkat.
"Bukan?"
"Saya sedang mencari asisten pribadi."
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, keterkejutan terlihat jelas di wajah Tuan Mir.
"Asisten pribadi?"
Ia sempat mengira dirinya salah dengar.
Persyaratan yang diberikan Manpower Group sangat tinggi. Ditambah lagi dengan paket kompensasi yang ditawarkan, semuanya setara dengan posisi sekretaris eksekutif di perusahaan multinasional kelas dunia.
Namun, ternyata posisi itu hanyalah asisten pribadi.
Lusi memahami reaksinya.
"Saya tidak memiliki perusahaan yang perlu Anda kelola sehari-hari."
"Tugas utama Anda nantinya adalah membantu saya mengelola urusan pribadi, aset, investasi, yayasan, dan koordinasi dengan berbagai tim profesional yang akan saya bentuk."
Ia melanjutkan dengan tenang.
"Dalam waktu dekat, saya akan membutuhkan tim keamanan, tim hukum, tim investasi, tim medis, dan tim layanan pribadi. Saya membutuhkan seseorang yang mampu mengoordinasikan semuanya."
Mata Tuan Mir sedikit menyipit. Sebagai mantan eksekutif senior, ia segera memahami skala tanggung jawab tersebut. Ini bukan sekadar posisi asisten biasa. Namun, bagaimanapun juga, inti pekerjaannya tetap berbeda dari apa yang ia cari.
"Saya mengerti sekarang."
Lusi mengangguk pelan.
"Sejujurnya, saya bisa memahami alasan Anda meninggalkan Volkswagen. Anda mencari panggung yang lebih besar untuk mengembangkan karier profesional Anda."
"Sedangkan saya membutuhkan seseorang yang bersedia bekerja di belakang layar."
Tatapan mereka bertemu.
"Visi kita berbeda."
Tuan Mir terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. Senyum itu tidak mengandung kekecewaan ataupun penyesalan, melainkan pemahaman.
"Anda benar, Nona Lusi."
Ia berdiri perlahan.
"Meski demikian, saya sangat menghargai keterbukaan Anda."
Lusi ikut berdiri dan mengulurkan tangan. "Terima kasih telah meluangkan waktu untuk datang."
Tuan Mir menjabat tangannya dengan sopan.
"Saya juga berterima kasih atas kesempatan ini."
Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan perasaan lain yang tak nyaman di hatinya.
semangat terus ya~~~/Slight//Slight//Slight/
semangat terus ya~~~😋😋😋