NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Proyek Rahasia

"Heisler itu memang tentara paling kaku di gerbang depan. Oh, ya! Aku belum mengenalkan diri secara resmi, kan? Namaku Avnan. Panggil saja Avnan, jangan pakai 'Dokter' atau 'Pak', rasanya aneh sekali di telinga. Aku tahu kamu setahun lebih tua dariku dari berkas digital yang dikirim Direktur Utama kemarin, jadi santai saja!"

Laki-laki berambut keriting itu terus mengoceh tanpa membiarkan atmosfer di sekitar mereka hening bahkan untuk satu detik pun. Tangannya yang bebas masih mencengkeram lengan jaket Carson, menyeretnya melewati jalanan Sektor Militer yang lebar dan dilewati oleh beberapa kendaraan berlapis baja.

Carson hanya bisa mengembuskan napas pendek, mencoba mengimbangi langkah Avnan yang cepat dan acak-acakan.

'Cerewet sekali anak ini,' batin Carson mulai merasa pening.

Di laboratorium pusat, Carson terbiasa dengan keheningan kubikelnya yang menenangkan, atau paling tidak, obrolan Rey yang masih tahu batas. Sementara Avnan? Dia adalah definisi dari gangguan audio berjalan.

"Kamu tahu tidak?" Avnan tiba-tiba menoleh, matanya berbinar-binar penuh gosip. "Di Sektor Militer ini, semua hal harus dijadwalkan. Waktu makan, waktu buang air, bahkan waktu untuk menggaruk kepala saja mungkin ada regulasinya! Untung saja kita agak 'dibebaskan' karena kita dibutuhkan oleh mereka. Jadi, selama kita memberikan hasil, mereka tidak akan peduli meskipun aku memakai jubah laboratorium yang kancingnya selang-seling begini."

"Avnan," potong Carson akhirnya, mencoba merebut kembali kendali atas lengannya. "Bisa lepaskan tanganmu? Aku bisa berjalan sendiri. Dan ke mana sebenarnya kita akan pergi?"

"Ah! Maaf, maaf," Avnan melepaskan cengkeramannya sambil terkekeh tanpa rasa bersalah, lalu menepuk pundak Carson dengan keras hingga Carson agak terguncang. "Kita hampir sampai. Lihat gedung abu-abu di ujung jalan itu? Yang ada menara pemindai termal di atasnya? Nah, itu tempat bermain kita."

Gedung yang ditunjuk Avnan tampak sangat masif, dibangun dengan beton bertulang yang dicat abu-abu gelap, tanpa jendela sama sekali di lantai-lantai bawahnya. Di atas gerbang masuknya yang berlapis baja tiga lapis, terdapat logo geometris Sektor Militer yang berdampingan dengan lambang Divisi Riset Bioteknologi Otoritas Pusat.

Begitu mereka mendekati pintu masuk, pemindai otomatis di atas kusen langsung menembakkan sinar hijau, mengenali kartu akses yang dipegang Avnan dan Carson. Pintu bergeser terbuka dengan desisan hidrolik yang halus, mengembuskan udara dingin beraroma antiseptik pekat yang langsung menusuk hidung.

"Selamat datang di Pusat Penelitian Bioteknologi Militer, Carson!" Avnan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan gaya teatrikal, mengabaikan dua penjaga bersenjata yang berdiri di dekat meja resepsionis.

"Di sini dingin sekali," komentar Carson pendek, melirik ke sekeliling lorong yang dilapisi panel logam putih bersih.

"Tentu saja! Percayalah, ketika sudah berhadapan dengan rumitnya proyek bioteknologi ini, otak kita akan sering kepanasan. Itu sebabnya kita butuh udara super dingin ini. Sebentar lagi, kamu akan merasakannya sendiri, Carson," sahut Avnan sambil berjalan mendahului Carson, tangannya bergerak aktif menunjuk ke kanan dan ke kiri seiring langkah mereka.

"Oke, biar kuberi tur singkat," lanjut Avnan penuh semangat. "Lorong sebelah kanan ini, semuanya adalah Ruang Uji Coba Fase Satu dan Dua. Di sana ada beberapa subjek uji—maksudku, hewan lab dan simulasi organ buatan yang disuntikkan formula bioteknologi terbaru untuk melihat reaksi mutasi selnya. Jangan pernah mengintip lewat kaca kecil di pintu kalau kamu tidak mau kehilangan selera makan."

Carson mengangguk pelan, matanya menyipit memperhatikan papan digital di setiap pintu yang berkedip menampilkan kode-kode biner yang rumit.

"Lalu, kalau kita lurus terus ke bawah lewat lift barang di sana, itu adalah Ruang Penyimpanan Sampel Kritis dan Ruang Isolasi Bahan Mentah," Avnan menurunkan volumenya menjadi bisikan yang masih terdengar jelas. "Di situlah semua komoditas organik dari luar disimpan."

Mendengar perkataan Avnan, jantung Carson berdegup satu kali lebih kencang. Ia menatap ke arah lift barang yang ditunjuk Avnan dengan tatapan jeli.

'Jadi di sana tempatnya,' catat Carson dalam hati.

"Nah, sekarang kita ke lantai dua, tempat laboratorium utama dan ruang kepala riset," Avnan menekan tombol lift konvensional di dekat mereka. "Aku harus mengenalkanmu pada bos besar. Ingat, Carson, kalau bersamaku kamu bisa bicara apa saja, tapi kalau di depan beliau... sebaiknya kamu hanya bicara kalau ditanya. Mengerti?"

"Siapa dia?" tanya Carson.

"Profesor Malikh. Kepala riset proyek ini sekaligus orang yang paling ditakuti di gedung ini, bahkan oleh para jenderal," jawab Avnan, wajah cerewetnya mendadak berubah agak serius saat pintu lift terbuka.

Lantai dua memiliki langit-langit yang lebih tinggi dengan dinding kaca tebal yang memperlihatkan belasan ilmuwan lain yang sedang sibuk di depan mikroskop elektron dan tabung-tabung inkubator raksasa. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu—satu-satunya benda non-logam yang Carson lihat sejak menginjakkan kaki di Sektor Militer.

Avnan mengetuk pintu itu tiga kali dengan sopan, lalu membukanya perlahan. "Profesor, teknisi data dari Laboratorium Pusat sudah tiba."

Ruangan di balik pintu itu sangat sunyi, kontras dengan dengung mesin di luar. Di balik meja kerja besar yang dipenuhi dengan buku-buku fisik bersampul tebal, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan, mengenakan kemeja abu-abu rapi tanpa jubah laboratorium. Wajahnya tegas dengan garis-garis keriput yang dalam di sekitar mata dan dahinya, menyiratkan kelelahan sekaligus aura yang dominan.

Pria itu, Profesor Malikh, mendongak. Matanya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada Carson. Suasana di dalam ruangan seketika terasa mencekam.

"Masuk," ujar Profesor Malikh. Suaranya berat, sangat pelan, namun memiliki penekanan yang tidak bisa dibantah.

Carson melangkah maju dan membungkuk hormat dengan sikap profesional. "Selamat siang, Profesor. Saya Carson, teknisi data yang ditugaskan untuk membantu proyek bioteknologi militer."

Profesor Malikh tidak langsung menjawab. Ia menutup buku fisik yang sedang dibacanya dengan pelan, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Carson lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

"Direktur Utama memujimu," kata Profesor Malikh, bicaranya singkat dan tanpa basa-basi. "Dia bilang kamu cepat dan bersih dalam bekerja."

"Saya hanya melakukan tugas saya dengan baik, Profesor," jawab Carson tenang, menjaga agar suaranya tidak bergetar.

"Bagus. Aku tidak butuh orang yang banyak bicara. Aku butuh hasil," Profesor Malikh melirik Avnan sekilas dengan tatapan menegur, membuat pria berambut keriting yang sialnya adalah asistennya itu langsung salah tingkah dan merapikan kerah jubahnya yang berantakan. Profesor Malikh kembali menatap Carson. "Sistem pusat yang memuat seluruh informasi terkait proyek ini mengalami anomali enkripsi dalam tiga hari terakhir. Avnan akan menunjukkan terminal utamanya padamu. Aku ingin sistem itu kembali normal dan terkunci rapat sebelum besok malam, Bisa?"

"Bisa, Profesor. Saya akan langsung memeriksa struktur kodenya hari ini," sahut Carson lugas.

"Satu hal lagi," Profesor Malikh memajukan badannya sedikit, matanya menyipit dingin. "Segala sesuatu yang mengalir di dalam server itu adalah rahasia tingkat tinggi. Jangan menganalisis apa yang tidak perlu kamu analisis. Kerjakan tugasmu, lalu pulang."

Ancaman tersirat itu sangat jelas. Carson tahu Profesor ini bukan orang yang bisa diajak bercanda atau dikelabui dengan alasan-alasan konyol seperti yang ia berikan pada Rey tadi pagi.

"Tentu saja, Profesor. Fokus saya hanya pada keamanan enkripsi data, bukan isinya," jawab Carson dengan senyum formal yang sempurna.

Profesor Malikh mengangguk sekali, sebuah isyarat pengusiran yang mutlak. "Avnan, bawa dia ke ruang server utama."

"Baik, Prof! Kami permisi dulu!" Avnan buru-buru membungkuk, lalu dengan cepat menarik pundak Carson untuk keluar dari ruangan dingin itu seolah-olah ia baru saja lolos dari kandang singa.

Begitu pintu kayu itu tertutup rapat di belakang mereka, Avnan langsung bersandar di dinding lorong dan mengembuskan napas panjang dengan dramatis, mengusap dadanya. "Hah! Rasanya jantungku mau meledak. Kamu lihat sendiri, kan? Profesor Malikh itu seperti zombi yang bisa membunuhmu hanya dengan tatapan mata. Tapi tenang saja, selama kamu tidak berbuat macam-macam, kamu aman bersamanya."

Carson tidak terlalu mendengarkan keluhan Avnan. Pikirannya justru tertuju pada kata-kata sang Profesor dan pemandangan ruang penyimpanan bahan organik di lantai bawah yang sempat ditunjukkan tadi.

Tugasnya adalah menangani permasalahan yang terjadi pada sistem pusat. Itu artinya, Carson akan memegang kunci dari seluruh informasi tentang proyek ini.

Sebuah senyum tipis yang tak terlihat oleh Avnan muncul di wajah Carson saat mereka berjalan menuju ruang server.

'Jangan menganalisis apa yang tidak perlu, ya?' batin Carson menantang. 'Maaf, Profesor, tapi kali ini aku harus melanggar aturanmu.'

1
Rudy satria
kapan avnan di rekrut jadi anggota tim cari jalan kapur carson,jangan lama²😅
Rudy satria
semoga carson bisa menemukan jalan keluar,supaya kita bisa ketemu emm tapi kalo udah keluar jangn ke negara Konoha ya carson pemerintah nya sama,sama² menindas rakyat🤭🤭
ririma: waduh, kayaknya carson juga bakal mikir dua kali kalau mau pindah ke sana kak😅
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir bg
Rudy satria
mudah²n kalo
i ini panglima berbuat baik
Rudy satria
semakin kuat kalo avnan mau di ajak gabung,hancurkan negara yang memiliki peraturan di luar loh 😅😅😅
Rudy satria
iiih ternyata teman👏👏
ririma: yeayy👏🏻
total 1 replies
kabur ke luar negeri aja🤭
berati udah gak ada lagi hiburan model gituan, hambar banget idupnya, apa maen sendiri juga bakal kena pasal?🤭
berati orang-orang di sini gadak yang nikah juga kah?
ririma: yap,,
total 1 replies
jadi buron dong ya
ririma: iya kalau ketahuan tapi kak, untungnya sejauh ini masih aman kak
total 1 replies
wkwk, baru juga pembukaan🤭
halo kak, aku mampir🤭
Rudy satria
nah bylla itu penuh misteri yang tak terduga,mudah²n si dia kekasih avnan,mereka berempat kalo bersatu bisa semakin kuat dan mungkin mereka bisa menembus pertahanan pemerintah
Rudy satria
mudah²n si itu bylla,dan juga mudah²n bylla mendukung dan tidak menangkap Nessa+carson
Rudy satria
👏👏🥳🥳keren, sebelum nya saya slalu baca yang retingnya sudah tinggi atau pembacanya banyak itu di pastikan bagus,nggk sengaja ngeklik novel yang mungkin author nya baru merintis sungguh karyamu keren Thor semoga saya bisa ngawal sampai kamu sukses,saya yakin dengan cerita yang rumit saja bisa di pahami saya yakin kamu bakal sukses semangat terus Thor🥰🥰🥰🥰
ririma: maaf kak, irl lagi sibuk soalnya, sekarang uda up kok, bisa langsung di cek yaa😊
total 3 replies
Rudy satria
benar² pejabat yang kurang teliti pantes gampang di tipu,selamat carson semoga bisa dapat jalan keluar👏👏
Rudy satria
astaghfirullah ikut deg,deg,degan aku,untung komandan militernya masih keturunan Konoha jadi bisa di tipu😅😅😅
Rudy satria
apakah panglima,beneran percaya atau malah sudah menuju apartemen carson
Devi..
seru dan unik ceritaanya thor..semoha bisa berlanjut smpai selesai ceritanya😊
ririma: terima kasih banyak kak🥰, aamiin semoga ya kak
total 1 replies
Devi..
serius kyk d konoho TNI.nya diistimewakan..😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!