NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:25.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Terbongkar.

"Kau ingin tetap berada di sisiku, bukan? Maka, buktikan kau berguna."

Clara masih berdiri mematung di tempatnya. Kalimat yang baru saja Rendra ucapkan berdengung di telinganya, meruntuhkan semua logika yang ia miliki sekaligus keyakinannya jika Rendra mencintainya. Jari-jarinya gemetar pelan, sementara bayangan pria yang selama ini ia kenal perlahan runtuh di depan matanya.

Rendra merapikan jasnya seolah percakapan barusan tidak memiliki arti apa pun. Kembali duduk ke kursi kerjanya, lalu meraih meap di meja untuk ia baca ulang.

“Mulai sekarang,” ucapnya tenang tanpa mengalihkan pandangan dari map. “Jangan bertindak di luar perintahku.”

"Itu yang selalu aku lakukan untukmu, Ren. Apa masih belum cukup?" tanya Clara, netranya mulai berkaca.

"Bagus." ucap Renda tanpa beban, membuka lembar demi lembar berkas di tangannya. "Lanjutkan."

"Kamu jangan lupa, Ren." Clara mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. "Bukan kamu yang berada di posisi tertinggi di perusahaan ini."

"Aku tahu. Aku hanya bawahan," kata Rendra santai. "Dan jika kau berulah, semua orang akan melihat jejakmu lebih dulu sebelum melihat jejakku."

Clara menatap pria di depannya dengan mata merah. “Kamu... kamu benar-benar akan menyerahkan semua bebannya padaku?”

Wajah Rendra terangkat, tersenyum skeptis. “Orang yang meninggalkan jejak memang harus siap dimintai pertanggungjawaban.”

“Jejak itu kau yang memintaku buat, Ren!” jerit Clara tertahan.

“Dan kau menerimanya,” jawab Rendra santai.

Jawaban singkat itu membuat Clara kehilangan kata-kata. Jemarinya yang semula terkepal perlahan terurai, kedua lututnya melemas hingga ia terduduk di kursi, air matanya jatuh tanpa suara.

Clara mengunci wajah Rendra lama. Selama ini ia selalu menganggap Thalia sebagai wanita paling bodoh karena tidak sadar dimanfaatkan oleh Rendra. Kini ia justru bertanya pada dirinya sendiri...

Siapa sebenarnya yang lebih bodoh?

Dirinya...

Atau Thalia?

.

.

.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk."

Suara ketukan pintu yang disusul dengan sahutan dari dalam menggema di lantai eksekutif Dirgantara Group setelah Saka .

Saka meletakkan map pertama di atas meja.

“Ini masih terkait lampiran Amradita. Tapi bukan itu yang paling penting.”

Arkana mengangkat wajah.

“Lanjutkan.”

Saka meletakkan map kedua di hadapan Arkana.

“Saya menemukan pola di lima proyek terakhir yang dipimpin Rendra.”

Arkana membuka map itu.

Beberapa lembar laporan vendor tersusun rapi. Nama perusahaan berbeda-beda, tetapi tanda tangan persetujuan, alamat korespondensi, dan nomor rekening penerima tampak memiliki hubungan yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

“Masalahnya?” tanya Arkana.

“Semuanya memakai vendor pendukung yang berbeda di atas kertas,” jawab Saka. “Tapi tiga vendor memiliki rekening penerima yang terhubung ke satu grup usaha kecil.”

Arkana membaca lebih cepat.

“Pemiliknya?”

“Nama resmi berbeda. Namun setelah dicek, dua di antaranya menggunakan alamat yang sama dengan kerabat mantan staf keuangan yang pernah bekerja di bawah Rendra.”

Tatapan Arkana berhenti. “Markup?”

“Rata-rata delapan belas sampai dua puluh tiga persen di atas harga pasar.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Saka melanjutkan, “Di proyek sebelumnya, nilainya tidak terlalu mencolok karena tersebar di beberapa pos kecil. Tapi pada proyek ekspansi kali ini, angka itu membesar.”

Arkana membuka halaman berikutnya. Ada tabel perbandingan harga, vendor resmi, harga pasar, nilai kontrak yang diajukan, ddan selisih. Semua sangat rapi.

“Siapa yang menyetujui vendor ini?”

“Rendra sebagai ketua tim proyek. Di beberapa bagian, Clara ikut menyiapkan analisis pendukung," jawab Saka.

Arkana menutup halaman itu perlahan. “Jadi Clara bukan hanya muncul di revisi Amradita.”

“Tidak, Tuan. Namanya juga muncul di justifikasi vendor.”

Senyum tipis muncul di bibir Arkana, menyadari potongan terakhir dari puzzle yang ia susun mulai jatuh ke tempatnya.

“Rendra menyiapkan banyak pintu keluar.” ucap Arkana lebih ke pernyataan yang segera diangguki Saka.

“Lebih dari yang saya pikiran, Tuan,” jawab Saka. “Kalau lampiran Amradita bermasalah, Clara bisa disalahkan melalui revisi. Kalau vendor dipertanyakan, Clara juga terhubung sebagai penyusun justifikasi.”

“Dan dirinya?” tanya Arkana.

“Berdiri sebagai ketua tim yang hanya menerima rekomendasi,” jawab Saka.

Arkana tertawa dingin. “Cerdas. Licik. Awalnya, kupikir dia hanya ambisus, dan aku sangat puas dengan kinerjanya yang selalu rapi serta teliti."

“Tapi dia terlalu percaya diri,” lanjut Arkana. “Orang seperti Rendra selalu mengira jejak kecil tidak akan terlihat jika disebar cukup jauh.”

Saka meletakkan satu lembar lain di atas meja. “Ada lagi.”

Arkana mengambilnya. “Transfer pribadi?”

“Bukan langsung ke Rendra. Tapi ada pembayaran dari salah satu vendor ke rekening atas nama kerabat jauh Rendra. Nilainya tidak besar, tetapi tanggalnya selalu berdekatan dengan pencairan termin proyek.”

Tatapan Arkana menggelap. “Komisi?”

“Dugaan sementara... ya," angguk Saka.

“Bisa dibuktikan?”

“Perlu audit forensik. Tapi untuk tindakan internal, ini cukup untuk membekukan sementara kewenangan Rendra atas proyek kali ini," jawab Saka.

Arkana meletakkan kertas itu kembali ke meja. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Nama Thalia memang menjadi pintu pertama yang membuatnya menggali sampai sejauh ini.

Namun yang ia temukan sekarang jauh lebih besar. Rendra bukan hanya menggunakan nama istrinya, tetapi juga memakai perusahaan.

“Saka.”

“Ya, Tuan?”

“Siapkan audit internal terbatas tanpa pemberitahuan.”

“Baik.”

“Bekukan akses Rendra ke dokumen vendor setelah dia mengirim lampiran besok," kata Arkana lagi.

Alis Saka bertaut. “Setelah besok?”

“Ya.” Arkana menyandarkan punggungnya. “Aku ingin melihat dokumen apa yang dia pilih untuk diserahkan saat merasa tertekan.”

“Jika dia mengubah dokumen?”

“Lebih baik.” Arkana tersenyum.

Saka mengangguk, segera memahami maksud atasannya.

Jika Rendra mengubah dokumen setelah permintaan resmi keluar, kesalahannya akan semakin jelas.

“Bagaimana dengan Clara?”

“Jangan disentuh dulu.”

“Karena dia bisa bicara?”

“Karena orang yang merasa akan dikorbankan biasanya mencari tangan lain untuk dipegang.” pandangan Arkana tertuju pada berkas vendor. “Dan aku ingin tahu tangan siapa yang akan ia pilih.”

Saka mengangguk pelan.

“Ada kemungkinan Rendra mencoba menekan Nyonya Thalia untuk menandatangani dokumen baru.”

Arkana diam sejenak. Nama itu membuat atmosfer ruang kerja berubah lebih berat.

“Dia akan melakukannya,” ucap Arkana akhirnya.

Saka menambahkan. “Rendra butuh dasar persetujuan yang bersih.”

“Dan Thalia adalah satu-satunya cara untuk membuat dokumen kotornya terlihat bersih," lanjut Arkana.

Jari Arkana mengetuk meja satu kali dengan ketukan pelan. Namun cukup untuk membuat Saka tahu bahwa amarah atasannya sedang ditahan dengan sangat rapi.

“Apakah kita perlu memperingatkan Nyonya Thalia?” tanya Saka.

“Tidak.”

Saka terdiam.

“Kalau kita memperingatkannya, Rendra akan tahu ada yang bergerak dari pihakku. Biarkan Thalia membaca langkahnya sendiri,” jawab Arkana.

“Tapi jika Pak Rendra memaksanya?”

“Thalia sudah mulai melawan dengan bermain peran. Aku yakin kali ini dia tidak akan semudah itu ditekan. Tapi, tetap awasi dia.” Suara Arkana terdengar rendah dengan keyakinan terselip di dalamnya.

Namun di balik keyakinan itu, ada sesuatu yang lebih gelap: rasa ingin memiliki Thalia.

Bukan dengan cara menggunakan kekuasan untuk membuat satu keputusan, melainkan menggunakan kekuasaanya dengan bermain di belakang layar.

Saka menunduk. “Saya mengerti.”

Arkana kembali membuka berkas vendor. “Mulai sekarang, pisahkan dua jalur.”

“Dua jalur?” Saka mengerutkan kening.

“Amradita tetap menjadi jalur pribadi Thalia.” Arkana menatap daftar vendor di hadapannya. “Sementara vendor dan komisi menjadi jalur perusahaan.”

Saka mencatat cepat. “Dengan begitu, pencopotan jabatan Rendra tidak terlihat terkait urusan rumah tangga.”

“Bukan hanya tidak terlihat.” Arkana menutup map itu. “Memang tidak perlu terkait. Dan Rendra sudah memberi perusahaan alasan yang cukup untuk mencabut kewenangannya.”

.

.

.

Sore menjelang ketika Thalia akhirnya tiba di rumah yang segera disambut oleh Bu Ratmi seperti biasa.

“Nyonya sudah pulang." ujar Bu Ratmi seraya mengulurkan tangan untuk mengambil alih barang bawaan majikannya.

"Iya, Bu." Thalia tersenyum. "Apakah Rendra sudah pulang?"

Bu Ratmi menggeleng pelan. "Belum, Nyonya. Apakah Nyonya ingin saya buatkan sesuatu?"

"Tidak perlu," tolak Thalia halus. "Buat persiapan makan malam saja. Aku mau ke kamar."

"Baik." Bu Ratmi mengangguk.

Tahlia berlalu meninggalkan asisten rumah tangganya menuju kamar, mengunci pintu begitu ia berada di dalam, lalu mengeluarkan amplop yang diberikan Miranda.

Tangannya membuka perlahan. Kontrak kerja sebagai konsultan terbentang di hadapannya. Ia mulai membaca, menelisik tiap kata yang tertulis tanpa ada yang terlewat. Sampai, pandangannya terhenti pada satu bagian.

Kolom tanda tangan.

Thalia mengusap pelan bagian kosong itu.

Beberapa jam lalu...

Ia menandatangani surat kuasa untuk Merry. Sekarang... Ia diminta menandatangani awal kariernya sendiri.

Satu tanda tangan pernah dipalsukan untuk mengikat hidupnya. Dan kini...

Tanda tangan yang sama akan ia gunakan untuk mengambil kembali hidupnya.

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Zenun
bangak agendanya ya😁
Patrick Khan
tidakkkkk tidakkk mw sm ren ren 🤣🤣🤣bwt kak othor aja
mery harwati
Rendra kopi dulu nih, biar hidupmu gak pahit terus 💪🤭
mery harwati
Hooreee akhirnya duda juga statusnya, duda tampan tapi tidak mapan ekonominya & lebih dominan egoisnya sang duda 😛
Didiscount aja gak laku apalagi diobral 🤣
Sekarang pada nyarinya duda kaya raya 😀
Zhu Yun💫
Akhirnya 🤸🤸🤸
Reni Anjarwani
akhirnya sah cerai
MamDeyh
Akhirnyaaa
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Arkana 🤔🤔
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
aku berdoa semoga diambil Arkana 🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
curi-curi pandang si Arkana 😄
Reni Anjarwani
lanjut thor
azzura faradiva
terlalu berbelit²,mau cerai aja ribet terlalu lelet mengulur² waktu
〈⎳ FT. Zira: kaborr ahhh🤭🤣🤣... sebagian aku gunain jalur asli hukum dalam perceraian kak, makanya ribet.. besok aku trabas dehh.. ditunggu yak🤭
total 1 replies
mery harwati
Ngenteni dudone Rendra suwi men koyok ngenteni manten disunat 🤣
Suwi marine 😀
Semangat Rendra ya, ku tunggu dudamu karena aq udah nyiapin tim hore ini 😛💪
〈⎳ FT. Zira: besokk kak.. besokk🤣🤣 aku pngaks lagi jalur hukumnya biar gak kelamaan nunggu🤭
total 1 replies
Endah Puji Lestari
😍
Patrick Khan
sini palu nya q ambil pak hakim lama bgt sih🔨🔨😏🔨
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm/ besok kak... besok.. ketok palu, bawa palu masing masing yak🤣
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
yes... like pertama 💃💃💃
Patrick Khan: 🖐️tos mak
total 4 replies
Zenun
emang kelainan ni orang
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
makanya, Rania Arga aku buat tanpa sidang. 😃😃
mery harwati: Penting dudu nona nona rasane 🤣
total 10 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
bau baunya mau carmuk si Rendra ini🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
butuh buat memuluskan rencananya. iya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!