NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Kantor Pengacara 2

Atmosfer dalam ruangan Merry mulai memberat. Merry mengambil lembar pertama. Matanya bergerak cepat membaca.

Surat kuasa. Nama Thalia Amradita. Nama Rendra Pratama. Izin penggunaan data aset keluarga. Dan tanda tangan di bagian bawah.

Merry berhenti cukup lama pada tanda tangan itu. “Ini tanda tangan Anda?”

“Bukan.”

Merry mengangkat wajah. “Yakin?”

“Yakin.” suara Thalia pelan, tetapi tidak goyah. “Itu dibuat mirip. Tapi bukan tanda tangan saya.”

Merry meletakkan dokumen itu di meja. “Di mana Anda menemukan ini?”

“Di ruang kerja suami saya. Di rumah.”

“Dokumen asli masih ada di sana?” tanya Merry lagi.

“Ya.”

“Bagus.” Merry mengambil pena. “Jangan ambil dulu.”

Maya mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena begitu dokumen asli hilang, pihak lawan bisa mengatakan Anda yang memindahkan, merusak, atau memalsukan konteksnya.” Merry menatap Thalia. “Untuk saat ini, biarkan dia merasa dokumen itu masih aman.”

Thalia terdiam.

Kalimat itu seperti membaca langkah yang sedang ia lakukan.

Merry melanjutkan, “Yang Anda punya sekarang foto?”

“Ya.”

“Foto cukup untuk petunjuk awal. Tapi, nanti kita tetap butuh cara yang lebih kuat untuk membuktikan asal dokumen, waktu pembuatan, dan siapa yang terlibat,” ucap Merry.

Thalia mengangguk.

Merry mengambil dokumen berikutnya. “Nama Clara muncul di sini.”

“Dia wanita yang dekat dengan suami saya.”

“Dekat sebagai rekan kerja atau sebagai selingkuhan?” tanya Merry tanpa basa-basi.

Maya melirik Thalia.

Thalia menahan napas sebentar. “Keduanya.”

Merry tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya menulis sesuatu di buku catatannya. “Anda punya bukti hubungan mereka?”

Thalia mengeluarkan beberapa foto dan tangkapan layar, termasuk video. “Sebagian.”

Merry memeriksanya satu per satu.

“Ini cukup untuk menunjukkan indikasi hubungan pribadi. Tapi untuk urusan surat kuasa dan penyalahgunaan nama keluarga, fokus utamanya bukan perselingkuhan. Fokus utamanya adalah pemalsuan tanda tangan dan penggunaan data tanpa izin.”

Thalia mengangguk pelan. “Jadi saya tidak boleh membawa masalah Clara dulu?”

“Boleh, tapi jangan jadikan itu pusat serangan pertama.” Merry meletakkan foto itu kembali. “Perselingkuhan bisa membuat emosi terlihat dominan. Sementara dokumen palsu membuat posisi Anda jauh lebih kuat.”

Maya mengangguk cepat. “Berarti jangan langsung minta cerai?”

Merry menatap Thalia lekat. “Anda ingin bercerai?”

Thalia diam. Pertanyaan itu sederhana, namun ketika diucapkan di ruangan ini, rasanya tidak lagi seperti luapan amarah di hadapan Rendra.

“Saya ingin keluar dari pernikahan itu,” jawab Thalia akhirnya.

Merry menutup penanya sebentar. “Kalau begitu, mulai sekarang cerai bukan lagi ancaman. Bukan lagi kalimat yang Anda ucapkan saat marah.” tatapannya menajam. “Cerai adalah langkah hukum. Dan langkah hukum harus disiapkan.”

Thalia menelan ludah. “Berarti saya harus menunggu?”

“Anda harus bersabar,” Merry mengoreksi dengan tenang. “Menunggu dan bersabar itu berbeda. Menunggu membuat Anda pasif. Bersabar membuat Anda tetap bergerak tanpa terlihat.”

Maya tersenyum kecil. “Nah, itu cocok untukmu.”

Thalia tidak membalas senyum itu. Pikirannya kembali pada Rendra. Pada cara pria menyentuh kepalanya semalam, senyum puas pria itu saat melihat kue ulang tahun, dan pada keyakinan Rendra bahwa ia masih bisa dikendalikan.

“Di rumah... ” ucap Merry, “Apakah suami Anda mulai curiga?”

Thalia mengangguk. “Sedikit.”

“Bagaimana sikap Anda sekarang?”

“Saya berpura-pura lunak,” jawab Thalia.

“Teruskan.” ucap Merry menyatukan kedua tangannya.

Maya menoleh pada Merry.

Merry berkata datar, “Selama tidak membahayakan keselamatan Bu Thalia, sikap itu menguntungkan. Saya tahu itu berat, tapi sangat membantu di hari berikutnya. Orang yang merasa lawannya sudah tunduk biasanya menjadi ceroboh.”

Thalia meremas jemari tanganya sendiri. “Saya harus melakukan apa setelah ini?”

Merry menyusun dokumen di meja menjadi beberapa bagian.

“Pertama, jangan sebut perceraian lagi di rumah. Jangan memancing kemarahan suami Anda sebelum kita punya pegangan yang cukup kuat.”

Thalia mengangguk.

“Kedua, simpan semua bukti di tempat yang tidak bisa diakses suami Anda. Jangan hanya di ponsel utama.”

“Sudah,” jawab Thalia. “Saya punya salinan lain.”

“Bagus.” Merry tersenyum.

“Ketiga, cari dokumen pembanding tanda tangan Anda. Yang resmi. Yang jelas tanggalnya. Semakin banyak, semakin baik.”

Thalia mengangguk. “Saya bisa cari.”

“Keempat, mulai catat semua kejadian. Tanggal, waktu, ucapan, siapa yang ada di sana. Jangan hanya mengandalkan ingatan.”

Thalia menunduk menatap tangannya. Selama ini, ia selalu mengira luka cukup disimpan dalam kepala. Ternyata, untuk melawan Rendra, bahkan luka pun harus disusun seperti bukti.

“Dan yang terakhir,” Merry melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Jangan biarkan dia tahu bahwa Anda sudah berkonsultasi dengan pengacara.”

Thalia mengangkat wajah. “Kalau dia tahu?”

“Dia akan bergerak lebih cepat dari Anda. Bukan tidak mungkin mengunci Anda lebih rapat dari sebelumnya.”

Ruangan kembali sunyi.

Maya menghela napas pelan.

Merry menatap Thalia lebih lama. Kali ini bukan hanya sebagai pengacara yang sedang memeriksa kasus, tetapi sebagai wanita yang melihat seseorang mencoba berdiri setelah terlalu lama ditekan.

“Bu Thalia,” ucap Merry, “Saya harus bertanya. Apakah ada kekerasan fisik?”

Thalia menggeleng. “Tidak.”

“Ancaman langsung?”

Thalia berpikir sebentar. “Tidak secara langsung. Tapi dia sering membuat saya merasa semua yang saya lakukan salah.”

Merry mengangguk pelan. “Itu tetap penting dicatat.”

Thalia menatap Merry dengan ekspresi bingung. “Bahkan jika tidak ada luka fisik?”

“Tidak semua luka perlu berdarah untuk disebut luka,” ucap Merry.

Kalimat itu membuat dada Thalia terasa sesak.

Maya menggenggam tangan Thalia erat di bawah meja, tersenyum lembut untuk memberikan dukungan.

Merry mengambil satu map kosong dari lemari di belakangnya, menulis nama Thalia di bagian depan, lalu membuka lembar formulir di hadapannya.

“Saya perlu persetujuan Anda.”

Thalia menatap namanya di atas map itu. "Apa yang harus saya lakukan?"

Merry meletakkan pena di depan Thalia. "Tanda tangani surat kuasa untuk saya sebagai pengacara Anda. Setelah itu, kita mulai susun gugatan hari ini."

Thalia menatap pena itu selama beberapa saat, kemudian mengambilnya, dan menorehkan tandatangan di dokumen itu. Satu goresan. Merry membuka lembaran lain, dan Thalia kembali menggoreskan tandatangan tanpa adanya beban.

Percakapan masih berlanjut beberapa menit setelahnya. Merry berbicara tanpa menghilangkan sisi profesionalismenya, memberikan arahan yang diperlukan, hingga dukungan mental yang tidak pernah Thalia dapatkan sebelumnya.

Percakapan berat itu akhirnya selesai. Thalia berpamitan, menjabat tangan Merry dengan hati lebih ringan dan pergi meninggalkan ruangan.

Beberapa saat setelah pintu tertutup rapat, Merry kembali duduk di kursinya.

Tatapannya jatuh pada map bertuliskan nama Thalia Amradita.

Untuk beberapa detik, wanita itu hanya diam. Ada banyak kasus rumah tangga yang pernah ia tangani. Banyak perempuan datang dengan luka, banyak pula yang datang hanya dengan amarah.

Namun Thalia berbeda.

Wanita itu datang dengan luka yang sudah terlalu lama dipaksa tenang.

Getar ponsel Merry tiba-tiba menyela, ia menatap nama yang muncul di layar, yang membuat tubuhnya sedikit menegak. Jemarinya menggeser layar, tanpa membuang waktu menerima panggilan itu.

“Ya?”

Suara di seberang terdengar rendah.

Merry mendengarkan tanpa menyela.

“Beliau sudah datang,” jawab Merry akhirnya.

Jeda singkat.

“Mulai hari ini, Bu Thalia resmi menjadi klien saya.”

Merry menatap dokumen di hadapannya, suaranya berubah lebih tegas.

“Tapi saya harus mengingatkan, Tuan. Setelah surat kuasa ditandatangani, saya tidak bisa membocorkan isi konsultasi klien saya kepada pihak manapun.”

Sunyi menyusup di antara sambungan telepon itu.

Merry mendengarkan jawaban dari seberang sana, lalu berkata pelan tanpa mengurangi ketegasan dalam suaranya.

"Bahkan kepada Anda."

Beberapa detik berlalu sebelum Merry kembali bicara.

“Kalau keinginan Anda hanya memastikan beliau mendapat perlindungan hukum yang tepat, maka ya. Itu sudah saya lakukan.”

Panggilan terputus beberapa detik kemudian.

Merry meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menatap nama Thalia di atas map itu sekali lagi.

“Sekarang,” gumamnya pelan, “Kita lihat siapa yang bergerak lebih dulu.”

. . . .

. . . .

To be continued....

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!